Monday, October 12, 2009

Apakah ini Cinta???

Hadoh baru nulis judulnya aja dah pengen ketawa...serasa ABG ngomongin cinta. Tapi yah apa mau dikata, lagi pengen nulis hal ini ya nulis aja, toh yang baca juga nggak tahu kan saya masih ABG apa nggak, heu...heu padahal mah dah pasti ketahuan yaaa....tuh di sebelah ada foto buntutnya.....

Huwaa Cinta...buat yang merasa ABG...coba jawab ya...kapan kalian tahu kalo ada yang mencintai??

Dikirim bunga??
Dikasih kado kejutan??
Diperhatiin dah makan apa belum? Dah bobo apa belum?
Dikasihani ketika sakit...atau kecapean??
Diucapkannya sejuta kata cinta???

Wiii gitu yak????

Aku juga dulu begitu, kebanyakan nonton film Indiaaaaa

Nyatanya temanz, ternyata setelah ngobrol sama temen-temen yang dah menikah, ada juga yang nggak mengalami aksi-aksi cinta kayak tadi sama sekali.

???

Loh masa sih??

Bukannya dah halal, masa malu-malu untuk mengatakan cinta??? untuk kirim bunga??? untuk bikin puisi??? untuk merhatiin dengan sejuta kata cinta???

Terus gimana donk, jangan-jangan tidak dicinta?

Oo jangan salah ternyata tanda-tanda cinta itu ada...

Seperti yang diceritakan si cantik ini...begini katanya

"Bagaimana aku tidak yakin dia cinta...
Kalao di pagi hari, sambil mengantuk dia masih mau membantu pekerjaanku. Memandikan anak-anak, menyiapkannya sekolah.

Menjawab semua pertanyaanku dari yang paling bodoh sampe yang paling canggih. Kadang memang mentertawakan kebodohanku atau memarahiku, tapi teuteup dia jawab kok...

Helpfull... selalu support apa yang ku mau.

Membantuku jika ada kesulitan

Memberikan yang terbaik yang dia bisa berikan

Di tengah lelahnya, di akhir pekan. Dia mau menemaniku dan mengikuti semua agenda yang aku mau. Jalan kemana aja dia mau.

Jika aku dan anakku sakit, ia selalu jadi suami dan ayah siaga. Siap Antar Jaga, kayak di iklan-iklan itu tuh. Ikut begadang, sampe kuminta tidur baru ia tidur.

Besoknya dia masih penuh energi,melintasi perjalanan yang jauh menuju tempat kerja, bekerja dan pulang lagi di malam hari.

Jadi gimana aku bisa ragu,akan cintanya?

Dan tahu tidak?? Semalam dia membuatku yakin akan cinta.

Begini..aku dan dia sama-sama lelah. Kemarin memang sangat melelahkan. Lagi lelah begitu, anak-anak banyak tingkah. Nggak mau cepet-cepet tidur.

Aku menyerah, ku masuk ke kamar, kutarik selimut, memejamkan mata. Dah males berkata-kata, terserah kalian aja deh mau apa.

Tapi surprise banget...wiih inilah kado kejutan yang kesekian kalinya yang pernah aku dapet

Masih sempat kulihat tatapan matanya. Menatapku dengan teduh. Lalu kudengar dia membujuk anak-anak, meminta mereka ke kamar mandi, menyiapkan mereka tidur.

So sweet kan???...lebih manis dari kata-kata cinta yang pernah kutahu....

Jadi mana mungkin aku meragukan cintanya...

Huu....huuu...cerita yang mempesona batinku...

Numpang nanya ya..: Apa dalam lubuk hatimu yang terdalam, tidak ingin mendapat kata cinta...sekuntum bunga...kado-kado indah...seperti di iklan kosmetik atau film-film itu tuh???

Jawabnya: Ya sejujurnya, pasti ada ya, tapi kuyakin jika nikmat ini aku syukuri semuanya, suatu saat nanti nikmat ini akan bertambah. Allah Subhanahuwata'ala yang Maha Mengatur segalanya.

Lagipula bukankah aku juga harus menunjukkan cinta? Dengan menerima dia apa adanya, seperti juga dia menerima aku apa adanya

Oooow....apakah ini cinta?
Read more...

Read more...

Tuesday, June 30, 2009

SBY banget...JK banget...

Ini bukan tulisan politik sebenernya, cuman tulisan iseng hasil obrolan sama suami.

Dari mengamati gaya bicara...bahasa tubuh... dan pernyataan2 mereka, banyak yang menyimpulkan bahwa SBY adalah sosok yang slowly but sure (CMIW), sedang JK adalah sosok yang serba cepat seperti slogannya lebih cepat lebih baik. Nggak tahu kenapa, kami malah menjadikannya sebagai guyonan ketika melihat pola tingkah anak-anak kami.

Ma'af sebelumnya ya buat pak SBY dan pak JK. Kami tak begitu mengenal beliau berdua. Tapi kami iseng aja menjadikan beliau berdua label personality, mudah-mudahan tidak tersinggung ya. Untuk tim sukses juga jangan tersinggung loh:)

Akmal adalah anak yang penuh perhitungan. Dari sejak dalam kandungan, terasa banget niy anak slowly but sure:), gerakan dalam perutku terasa tenang, tak terasa ada gejolak yang berarti. Proses kelahirannya juga begitu lambat. Dua hari dua malam, kontraksi selama 5 menit sekali, nggak ada perkembangan. kadang dia bergerak, kadang tidak. Apa Akmal tidur...heu...heu...nggak tau deh. Alhamdulillah akhirnya lahir juga.

Di masa balita, dalam kesehariannya, dia slowly juga. Selalu serba penuh perhitungan. Berjalan dengan tenang atau terkesan lambat. Tekun menyelesaikan pekerjaannya, walau dah keluar dari waktu yang diberikan. Hasil pekerjaannya, seperti mewarnai sangat bagus. Walau dia harus kehilangan waktu bermain dengan temannya ketika istirahat, karena belum selesai mewarnai,dia tetap tenang dan terus tekun menyelesaikan pekerjaannya, karena dia bahagia dan senang jika pekerjaannya selesai. Guru TK nya sempat khwatir kalau nanti di SD dia akan mengalami kesulitan, karena di SD kan, waktu menjadi ukuran prestasi juga.

Kemarin di usianya yang sudah hampir 7,5 th, kami sekeluarga mengikuti acara famgath kantor Ayahnya. Di sana ada flying fox. Hmm, seperti yang kami duga, dia mengamati lama tali flying fox itu, dan dia memilih tidak naik. Benar-benar penuh perhitungan :)

Kadang kami gemas melihat perilakunya. Tapiii kemarin kami hanya tergelak tertawa...ketika aku bilang: "Yah, Akmal, SBY banget ya? Slowly (mudah-mudahan) but sure :) Ya inilah personality yang aku rasa perlu kita pahami dan kita terima dari Akmal. Karena pada perkembangannya nanti, siapa tahu dia akan menjadi tokoh besar dengan personality seperti itu.

Walau memiliki personality Slowly (mudah-mudahan) but Sure itu, bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Alhamdulillah secara akademik, dia cukup berprestasi, nilai-nilainya bagus. Walau memang feedback dari gurunya,s eandainya dia lebih cepat dan lebih konsentrasi, prestasinya bisa jauh lebih baik.

Secara sosial juga, dia cukup nyaman, walau memerlukan waktu lama beradaptasi dalam lingkungan baru, tapi teman-temannya cukup merasa aman berteman dengannya, karena jarang dia menyakiti teman-temannya. Sebagai kakak, dia juga bisa dipercaya menjaga adik.

Bageurlah pokokna mah...(anak baik gituloh)

Hanif...sebaliknya dari Akmal.
Hanif dalam melakukan segala hal, nggak pake mikir. Action dulu baru mikir, atau nggak "mikir" sampe akhir:). Nggak mikir ini bukan berarti dia tidak cerdas. Maksudnya lebih kepada nggak mikirin resiko. Atau selalu menganggap gampang sesuatu.

Sering banget kehilangan sandal, karena pergi pake sandal, pulang nggak pake, dan lupa di mana dia taruh. Dia lebih senang jalan nggak pake sandal. Kalau lagi jalan-jalan, sering banget baru ketahuan di jalan kalau dia pake sandal jepit. Anaknya nggak mau repot. Nggak mau juga pake baju yang bikin ribet. Dia senang menggulung celananya. Males pake kaos dalem.

Anak yang santai, senang bercanda, dan senang membuat orang tertawa.

Ketika Famgath kemarin. Hanif minta naik Flying Fox. Flying Fox yang dirancang untuk orang dewasa, tinggi dan panjang. Hanif santai aja, kita, orangtuanya yang mikir. Di matanya tercermin, "apa sih yang menakutkan, cuman flying fox:). Hanif selalu menganggap gampang segala hal. Jarang sekali dia bilang sesuatu itu susah. Tapi memang dia bisa menyelesaikannya sih. Seperti waktu Flying fox, dia sampai dengan tenang, tak ada tangisan atau ketakutan.

Hanif, orangnya konsekuen dan konsisten. Kalau dia bilang mau, akan terus mau. Walau dia melihat ada anak yang jauh lebih besar menangis setelah naik flying fox, dia tidak gentar (padahal masnya dah nakut-nakutin sambil nujukin anak yang nangis itu).

Karena keberaniannya dalam mencoba, kadang-kadang ada resiko yang harus diambil, tapi dia tidak pernah mengeluh, karena dia tahu itulah resiko yang harus diterima:)

Dan kamipun kembali tergelak ketika menyimpulkan kalo Hanif itu JK banget, Serba cepat, nggak terlalu dipikirin, nanti gimana-nanti gimana. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan lincah.

Akhir kata, saya mau menyimpulkan. Kalo itulah gaya Akmal dan Hanif, yang perlu kami terima dengan baik, dan memahami dengan baik. Tidak ada yang jelek diantara keduanya.Insyaa Allah mereka akan berprestasi dengan warna personality masing-masing, yang membuat mereka akan unik dan saling melengkapi. Membuat dunia menjadi dinamis:)

Read more...

Read more...

Friday, May 29, 2009

Bahkan Al Qur'an pun Tidak Punya

Hati ini rasanya kering, mungkin karena terlalu banyak bicara tanpa ilmu. Terlalu banyak maksiat. Terlalu.....

Ingin rasanya hati ini disentuh, supaya lebih lembut.

"Bun, panggilan sayangku pada tetangga, hatiku kok rasanya kering ya..."
"Sini kubasahin..."katanya dengan nada bercanda
"Kuguyur ya...."

Hm, aku hanya tersenyum. Duh, tetangga, memang nikmat punya tetangga orang beriman, berada di dekatnya rasanya nikmat.

"Iya, Bun, pengennya sih dibasahin, diguyur, tapi nggak mau juga nih dikasih yang nggak enak2 (musibah/ujian)" Yach namanya manusia pengen enaknya ajah.

Tak lama berselang. Bunda, tetanggaku nelfon. Walau rumah kita sebelahan, dia suka berkomunikasi by phone juga. Yah hari hini, yang praktis2 aja kali ya, daripada ngetok pintu.

Akupun masuk sambil berpikir, apa ya yang bisa bikin hati ini basah.

Tak lama berselang, telfon berbunyi. Ow, ternyata Bunda. Ya, walau bersebelahan, Bunda sesekali menelfonku. Hari gini, praktis2 aja kali ya, dari pada ngetuk pintu:)

"Teh," sapanya. "Teh Eka nelfon, dia cerita, kalo dia kan suka ngisi pengajian ibu2. Katanya keempat ibu-ibu itu belum punya Al Qur'an Terjemahan, barangkali teteh punya lebih?"

Aku termangu. Ya, Rabb, beginilah kondisi umat saat ini. Kita bisa berkoar-koar ini dan itu. Tentang peradaban Islam, tentang penegakan syari'at, tentang politik, tentang kemenangan, tentang segala rupa yang ideal.

Tapi....nyatanya...di sini...di kampung ini....Al Qur'an pun mereka tidak punya. Bagaimana mereka bisa mengenal Rabbnya. Bagaimana mereka bisa mengenal Dienul Islam.

Ya Rabb....Hatiku basah....mengetahui secuplik mozaik kehidupan seperti ini.. Ketika di dalam pikiranku penuh dengan urusan dunia. Ternyata disekitarku sedang haus menanti ilmu tentang Islam. Ternyata mereka yang rindu pada Rabbnya ini tidak memiliki Al Qur'an. Ternyata mereka dengan serba keterbatasan, lebih semangat daripadaku. Tidak malukah kamu? Read more...

Read more...

Thursday, May 14, 2009

Manusia Pasir (part II)

Apa respon saya ketika Hanif menjadi manusia pasir?
Marah! Walau masih terkendali, tapi sempet juga ngomel-ngomel
Yang mendorong diri untuk marah adalah kekhawatiran akan kesehatan utamanya sih.
Membayangkan kuman-kuman yang di pasir itu masuk ke perut. Terus gimana kalo mencret.
Gimana kalo abis mencret nanti dehidrasi...wah rawat inap nanti.

Itu ya...mikir dah jauh amat. Akhirnya tarik nafas aja dan berdo'a mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa.
Terus setelah hanif mandi, kita sepakat (Atau maksa Hanif sepakat?), kalo sampe besok pagi Hanif bermain di dalam rumah dulu. Cooling down.Mengajak anak belajar berpikir dulu. Soalnya kemarennya dah dibilangin bahayanya maen pasir kok ya dilakukan lagi. Ada keinginan untuk... jangan diulang lagi deh De...

Dari beberapa keinginan anak untuk berekspresi...seperti melempar genteng rumah tetangga pake batu. Saya jadi mikir kayaknya tidak semuanya keinginan anak perlu kita iyakan. Karena bagaimanapun anak perlu memahami mana yang benar atau salah...tepat atau tidak.

Lantas bagaimana dengan hasratnya bereksplorasi. Apakah dengan melarangnya kita sudah menghambat keinginannya?

Ya! selama kita tidak memberikan alternatif bentuk eksplorasi lainnya.

Ketika anak melemparkan batu...di mana sensasinya....batunya atau melemparnya?
Maka saya pun berteriak pada mereka (hanif dan kelompok mainnya hanif): "Teman-teman ibu punya bola!"
Selembar kertas bekas saya remas dan menjadi bola kertas. Mata mereka berbinar-binar, antusias. Meremas kertas. Wah seru banget. Begitu mata mereka bicara.
Lalu "Teman-teman seberapa tinggi kamu bisa melempar!" teriak semangatku.
Wah mata mereka semakin berbinar-binar.
"Bisa sampe ke langit nggak???"
Semakin berbinar-binarlah mata mereka
Lalu mereka menghampiri, mengambil kertas bekas, meremasnya, menjadi bola kertas, dan melemparnya. Hore! Seru!
Setelah puas! Bermain seberapa tinggi dan seberapa jauh. Kita istirahat sambil ngobrol.
"Teman-teman, kalo batu itu berat atau tidak? Keras atau tidak?"
"Berat!" "Keras!"
"Kalau kertas? ringan atau tidak?"
"Ringan"
"Kalau menurut teman-teman, bagaimana jika batu dilempar dan terkena kepala orang lain?"
Begitulah terus sampe mereka paham benda apa yang boleh dilempar dalam permainan.
Demikian pula dengan kertas, sehingga mereka paham kertas bekaslah yang boleh diremas-remas.

Karena itu saya kurang bisa memahami ketika ada ibu yang bercerita, kalo ia baru saja bersama anaknya melukis sprei. Sprei???? Dengan alasan anaknya ingin melukis sprei. Sprei yang masih dipakai.
Demikian pula dengan dinding rumahnya yang penuh dengan coretan.

Orangtua biasanya beralasan bahwa itulah dunia anak. Apakah benar dunia anak adalah mencoret-coret dinding? Sebenarnya yang mana yang menjadi dunia anak-anak, mencoret dinding atau mencoret-coret?.

Bagaimana jika yang kita lakukan adalah mengajak mereka untuk mencoret-coret...baik yang menggunakan alat tulis, atau finger pai ting, melukis dengan sedotan, dll di media yang layak untuk digunakan, seperti kertas karton besar, dan lain-lain

Bermain pasir...kalo pasirnya bersih ok. Tapi saya mencoba berempati pada sensasinya adalah di menaburkan. Kalau diganti terigu gimana ya? Dikasih judul bermain salju? Atau menyobek kertas sampe kecil-kecil lalu berpesta dengan kertas-kertas kecil itu.

Bermain tanah...bagaimana jika disubsitusi dengan bermain adonan. Campuran terigu, air dan minyak goreng. Uh anak-anak seneng banget kalo dah diajak maen begitu.

Banyak permainan yang akan memenuhi anak untuk mengeksplorasi, tapi tetap aman.

Jika mereka berinisiatif mencoba hal yang beresiko, idealnya kita tidak berkata "Jangan!" tapi bertanyalah "De senang ya kamu....., menurutmu bermain apa ya yang kamu senangnya sama dengan ketika.....tapi tidak bahaya."

Begitu kata buku yang pernah saya baca:). Kalau saya kadang praktek kadang tidak, masih seingetnya dan gimana mood. Tapi ketika itu dipraktekan...bener loh dialog yang efektif, dan Insyaa Allah tidak merusak dunia anak. karena kebutuhan mereka tetap berusaha terpenuhi.
Read more...

Read more...

Manusia pasir (part 1)

"Bu...Badanku penuh sama pasir...."
Pfh....Hanif...again?

"Ayo mandi!"

Kemaren dia dah maen pasir sama temennya. Penuh dari ujung rambut sampe ujung kaki sama pasir. Hari ini lebih parah lagi. Pasirnya lebih tebel....jadi manusia pasir deh dia.

Marah...dah pastilah. Bohong banget deh kalo aku bilang saat itu bisa nggak marah
Yang bikin marah itu karena khawatir dia sakit. Apalagi setelah menyadari kalo di giginya juga ada pasir.

"Hanif...kamu makan pasir????" setengah berteriak...(atau teriak yah...ah sama ajalah teriak2 juga)

Setiap ada kesempatan alias sedang maen tidak didampingi, ada-ada saja tingkahnya , maen pasir, masuk got, manjat pohon mangga sampe atas, ngelempar genteng rumah orang sama batu, nyebur ke kolam ikan di rumah tetangga. Hu...hu... nggak pernah kebayang kalo anakku bisa gitu.

Mau didampingi terus juga, rasanya kasian anak, kurang eksplorasi. Karena setiap gerakan biasanya akan memancing teriakan: JANGAN!

NAKAL? Lazimnya tingkah laku anak seperti itu dianggap begitu ya...

Mungkin kita sering menjudge anak yang lagi seru-serunya itu dengan sebutan NAKAL. Tapi sering denger kan Orang Sukses yang cerita masa kecilnya yang penuh dengan hal-hal seru

Maka akhirnya aku pikir, biarlah dia dengan keseruannya. Dan kelak dia akan bercerita tentang masa kecilnya yang seru.

Apa salahnya? Selama aku tetap konsisten menerapkan nilai-nilai yang perlu diterapkan seperti perlunya menjaga kesehatan, tidak mengambil barang punya orang, dll

Ya nggak sih?
Read more...

Read more...

  © Blogger template AutumnFall by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP