Dalam sebuah seminar tentang pornografi,saya tersadarkan oleh fakta, betapa dahsyatnya tantangan pengasuhan saat ini. Tidak hanya tantangan dari lingkungan luar, tetapi juga tantangan dari oramg yang paling dekat dengan anak, yaitu: orang tua.Setiap kali slide menayangkan fenomena permasalahan pada anak, terutama permasalahan di ranah pornografi, narasumber bertanya: Kemanakah Ayah dan Ibu mereka? Sehingga anak memiliki akses pada lingkungan yang merusak mereka, dan menimbulkan perilaku negatif sedemikian dahyat? Narasumber tersebut menjawab: Ayahibu ada tapi tiada.
Ayah Ibu Ada tapi Tiada
Saat anak berada di usia emas, sebenarnya anak bertemu dengan berbagai kesempatan emas untuk melesat menuju titik optimal tumbuh kembang mereka. Di usia 0 - 2 tahun, menurut Ericson, ahli perkembangan anak, adalah masa trust versus mist trust. Pada masa inilah anak akan memaknakan apakah lingkungan di luar dirinya adalah hal yang aman atau tidak. Jika aman menurut persepsi anak, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, tidak banyak kecemasan yang melekat pada dirinya. Wajar karena ia tidak memaknakan lingkungan sebagai hal yang tidak aman dan mengancam dirinya. Trust pada lingkungan dapat diperoleh dengan segera terpenuhinya kebutuhan anak. Saat ia menangis karena lapar dan haus, pengasuhnya segera memberikan ASI padanya. Saat ia tidak nyaman karena popoknya basah, segera diganti. Saat ia kedinginan, segera diselimuti. Saat ia gelisah dan memerlukan dekapan dan ayunan, ia segera memperolehnya. Sayangnya di masa itu kerap kali orang tua (atau saya?) lalai berperan sebagaimana mestinya. Saat menyusui mungkin yang saya lakukan adalah melamun, atau kerennya berpikir, hal-hal yang menjadi urusan orang dewasa. Memikirkan pekerjaan, baik pekerjaan domestik atau pekerjaan lainnya. Memikirkan masalah-masalah rumah tangga yang sebenarnya adalah masalah saya, bukan masalah anak saya.
Di usia 2-4 tahun, saat perkembangan bahasa melaju pesat. Anak senang bertanya ini dan itu. Senang bercakap-cakap dengan kita, orangtuanya. Namun lagi-lagi, ketika anak dalam masa euforia untuk bicara karena baru saja bisa bicara, kita (atau saya?) masih sibuk dengan diri sendiri. Saat anak mengajak bicara, saya masih sibuk menatap layar, apakah itu layar hp ataupun layar laptop. Bukan sibuk menatap wajah mereka, dan menyambut mereka untuk bicara. Lama-lama anak bosan tidak ditanggapi, dan kita juga lama-lama mencari hal yang bisa menghibur mereka, yaitu televisi. Jadilah anak berhadapan dengan layar pertama mereka. Berjam-jam anak betah berada di depan layar televisi, dan "lupa" berbicara dengan kita. Merasa kurang dengan memberikan layar televisi, kita juga memberikan layar laptop pada mereka, memperkenalkan games menarik, supaya anak-anak merasa senang. Semakin sibuklah anak-anak kita dengan aktivitasnya, kita pun demikian. Anak dan orangtua sibuk dengan urusan masing-masing. Lupa untuk saling bicara.
Ayahibu ada tetapi tiada. Anak-anak yang sedang berada dalam puncak memerlukan perhatian. Namun Ayahibunya lupa memberikan perhatian. Sibuk dengan dunianya sendiri. Sehingga tidak heran kalau anak mencari perhatian dengan menunjukkan perilaku sulit atau yang kerap kita katakan sebagai perilaku "nakal". Karena hanya dengan perilaku tersebut, kita menghampiri mereka dan memberikan perhatian, walau perhatiannya dalam bentuk "marah", tetapi mereka cukup puas mendapatkan perhatian tersebut
Moment untuk saling bicara dan berinteraksi berlalu begitu saja. Sampai tibalah masa anak mengenal lingkungan yang lebih luas, teman sebayanya. Rasa ingin tahu yang sejatinya ditanyakan pada orang tua mereka, mereka tanyakan pada teman. Informasi yang diperoleh menjadi tidak akurat. Kebutuhan akan kasih sayang yang sejatinya mereka peroleh dari orangtua, akhirnya mereka peroleh dari teman sebayanya juga (atau kekasihnya?), sehingga mereka mau melakukan apa saja untuk mendapatkan kasih sayang tersebut, karena itu memang kebutuhan mendasar dari seorang anak.
Ayahibu ada tetapi tiada. Sedih...ketika saya merenungkan diri saya sendiri saat ini. Masa anak-anak adalah masa yang sangat singkat. Akankah dengan kelalaian saya di masa emas ini, saya akan termasuk ke dalamnya, menjadi Ibu yang Ada tetapi Tiada?
Sigap membuka dan menutup pikiran yang tidak berhubungan dengan anak, saat berinteraksi dengan mereka, adalah hal mendesak yang perlu saya lakukan saat ini. Mungkin dengan demikian, saya menjadi "lambat" untuk menyeleaikan urusan saya. Namun ini adalah invetasi yang besar dalam kehidupan ini. Jika saya terus sibuk dengan urusan saya, dan lupa untuk berinteraksi secara berkualitas dengan anak-anak saya, maka suatu hari saya akan "kehilangan" mereka, dan saya sangat tidak mau hal itu terjadi.




Tulisan yg bagus....jadi pengen pulang aja peluk anak-anak
Alhamdulillah semoga bermanfaat mba:)