
Terdengar ketukan pintu dan ucapan salam. Seorang ibu, yang saya hormati karena lebih senior dari saya, berkunjung untuk berkenalan dengan Naurah. Ibu tersebut masuk dan kemudian bersandar di kursi tamu.
"Fiuh...ma'af bu saya baru ke sini sekarang, baru sempat, duh saya itu tiap hari sibuk, bla...bla...bla" Ternyata ibu ini akhirnya mencurahkan isi hatinya tentang lelahnya menjadi ibu. Curahan hati yang kesekian kali saya dengar. Ya setiap kali saya berkesempatan untuk bertemu, lagi-lagi yang dicurhatkan adalah betapa lelahnya menjadi seorang ibu.
Makin lama beliau bercerita, sikap tubuhnya makin menunjukkan kelelahan hati dan pikirannya. "Saya sekarang sering merasa bodoh..." ucapnya.
Merasa Bodoh
Ketika mendengar ucapan ibu tersebut tentang "merasa bodoh", refleks saya mengangguk-angguk. Merasa bodoh...saya baru saja mengalaminya.
Jelang kelahiran Naurah, adalah masa-masa saya bersemangat untuk belajar. Banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak menulis. Setelah melahirkan Naurah, dengan kelelahan fisik yang ada, saya merasa sangat lambat dalam berpikir. Entahlah, apa benar atau tidak, rasanya otak ini bekerjanya lebih lambat. Seperti situasi "loading..." kalau kita lagi browsing tuh, muter...muter...aja ngga muncul-muncul hasil browsingannya". Otak diajak mikir kayak ngga mau.
Saat situasi seperti itu, perasaan saya adalah sedih dan merasa tidak bahagia. Lelah dan ingin situasi itu cepat berakhir. Saya paksakan untuk menulis, dengan harapan, kelambatan ini bisa segera berakhir. Tetapi nyatanya, apa yang saya lakukan tidak menghasilkan apa-apa, saya tetap lambat dan merasa bodoh.
Merebahkan badan dan berpikir, sambil memandangi Naurah. Apa yang sudah saya lakukan? Memaksakan diri. Sementara Allah sudah memberikan mekanisme recovery yang luar biasa. Masa nifas adalah masa recovery. Sudah ada tanda-tanda dari sang Pencipta, bahwa 40 hari setelah melahirkan adalah masa beristirahat.
Menarik nafas panjang, menerima keadaan, dan berdamai dengan diri. Ya, tidak perlu maksalah..rasa lelah ini ngga perlu dilawan, beri ruang yang cukup untuk beristirahat.
Satu minggu...dua minggu...tiga minggu...Alhamdulillah dengan istirahat yang cukup, fisik saya kembali hampir seperti semula.
Setelah cukup pulih, betapa banyak yang ingin saya lakukan. Tetapi waktunya sangat sempit, maklum bayi baru lahir, aktivitasnya kadang tidak terduga. Saat seperti ini kalo saya paksakan lagi diri saya untuk mengejar keinginan, hanya akan membuat saya desperate. Karena nyatanya hal itu belum memungkinkan.
Merebah, berpikir sambil memandangi Naurah. Sosok bayi selalu penuh kedamaian. Dianugrahi seorang puteri, adalah sumber kebahagiaan. Kenapa rasa bahagia ini perlu berkurang, hanya karena di waktunya saya mengasuh, saya malah memikirkan hal lain. Apakah tidak lebih baik saya fokus saja menemani Naurah.Membaca pola aktivitasnya, mengenali kapan waktu yang tepat bagi saya untuk bisa beraktivitas untuk diri saya sendiri.
Malam hari ternyata Naurah cenderung lebih tenang, dia tidur lebih nyenyak, ada waktu dua-tiga jam bagi saya untuk me time. Konon pukul 11 malam- 2 malam, adalah waktu puncak pembentukan sel darah merah. Maka di waktu tersebut, saya harus tidur. Sebelum jam 11, saya akan segera tidur, supaya kalau malam Naurah bangun, saya dalam kondisi fit. Nah kalau saya mau beraktivitas itu dimulai sekitar jam dua malam deh.
Apa yang saya kerjakan pertama, di jam dua malam, menulis? Wah kala itu, menulis terasa begitu berat. Menghasilkan kata perkata, itu berat. Saya pilih yang paling ringan saja, browsing, dan membaca. Membaca adalah aktivitas yang ringan, tidak perlu menuntut untuk segera memahami isi bacaan, memangnya mau ujian? Hehe...ya baca asal baca sajalah. Dimulai dari yang paling simpel, membaca blog. Dua blog langganan saya yang pertama saya baca, blognya sahabat: Ier dan Mita . Blog ini Alhamdulillah, memberikan energi positif buat saya. Situasi seperti saat ini, membuat saya juga enggan berfesbuk ria. Karena kerap kali muncul status yang menebar energi negatif, seperti status curhat suami selingkuh, status kecewa pada suami, status marah pada anak. Halagh...duh emak, apa ngga ada media yang lebih bagus atau lebih elegan, daripada status yang lugas apa adanya. Aktivitas lain yang ringan adalah mendengar, mendengar rasanya juga tidak perlu energi besar. Mendengarkan kajian yang diperdengarkan oleh suami, juga memberikan energi positif. Akticitas lainnya lagi adalah berbicara, ini juga ringan-ringan saja toh...ngobrol yang ringan dan berat, itu menghibur hati, chatting adalah solusi. Malam-malam chatting...hey...hey sama siapa...ya ternyata memilih waktu malam untuk me time, juga dilakukan oleh emak-emak lainnya:
Seiring dengan fisik yang membaik, maka aktivitas me time semakin meningkat. Hal ini menciptakan kebahagiaan bagi saya.
Mengenali Titik Bahagia
Menjadi seorang istri dan ibu, memang penuh tantangan. Lelah hati, lelah pikiran, dan sering juga lelah fisik. Seorang istri dan ibu, memang banyak mencurahkan waktunya untuk menjadi mitra suami dan anak-anaknya. Rasanya 24 jam kurang, bagi seorang ibu. Namun sebenarnya menjadi istri dan ibu dengan segudang aktivitasnya, adalah happy problem. Masalah yang berunsurkan kebahagiaan, atau kebahagiaan yang bisa menimbulkan masalah. Kebahagiaan ini menimbulkan masalah ketika kita tidak memegang kunci-kunci pengelolaan diri.
Menjadi istri dan ibu adalah titik bahagia yang kita pilih, dan Alhamdulillah Allah memberikan kita kesempatan. Di saat ada yang mungkin belum berkesempatan menjadi istri ataupun ibu. Sudah selayaknya kita bahagia dengan kesempatan ini. Mengeluh yang berlebihan, hanya akan membuat kita seakan tidak bahagia, dan berkuranglah energi kita untuk menciptakan kebahagiaan.
Kepandaian mengelola waktu adalah salah satu kunci yang perlu kita pegang. Namun masih ada kunci-kunci lain yang perlu kita miliki, salah satunya adalah mengenal titik-titik kebahagiaan kita.
Titik-titik kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Kalau saya, beberapa titik kebahagiaan adalah membaca, berdiskusi, menulis. Ketika saya "aware" bahwa ada sesuatu yang hilang dari diri saya, dan saya merasa sedih. Maka yang dilakukan adalah menelusuri hati seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Merebahkan badan, memandangi Naurah, dan menelusuri hati, mengenali diri, titik-titik kebahagiaan apa yang hilang, dan menyusun strategi bagaimana mencapainya kembali.
Hasilnya adalah seperti yang sudah saya ceritakan tadi yaitu memutuskan untuk menikmati titik kebahagiaan yang lain terlebih dahulu,menikmati masa-masa pembentukan bonding dengan Naurah. Setelah fisik pulih barulah saya menyusun strategi bagaimana caranya agar saya dapat kembali mencapai titik-titik kebahagiaan yang lain.
Mengapa "desperate" bisa terjadi?
Setelah saya reflek mengangguk-angguk tanda saya memahami apa yang dirasakan oleh ibu tersebut, saya coba berbagi tips.
"Iya bu, saya juga pernah kok merasakan hal seperti itu...bla..bla...bla"
"Kalau saya bu, pertama adalah tidak melawan badan, kalau cape ya tidur, kalau lapar ya makan, kalau tak sempat, sempatkan, karena ini penting. Walau mungkin pada saat itu ada pekerjaan rumah yang sedikit terbengkalai."
Ibu tersebut berujar: "Nah kalau saya ngga bisa, saya ngga bisa tuh kayak gitu, kalau saya malah susah makan, susah tidur"
Hmm, ya begini ini repot. Kebutuhan paling rendah dari manusia itu ya sekitar fisiologis, seputar makan dan tidur. Kalau ini sudah sulit terpenuhi, maka bagaimana kita bisa survive menciptakan kebahagiaan. Kita mengeluh, tapi kita tidak mau keluar dari keluhan. Pengorbanan? Hmm entahlah, rasanya kurang pas jika seperti itu. Mencari solusi dari situasi sulit seorang istri dan ibu saya kira lebih baik, daripada sekedar mengeluh. Mengeluh boleh-boleh saja selama keluhan itu untuk mengenali masalah dan kemudian mencari solusinya.
Menciptakan Kebahagiaan
Konon entah menurut siapa kebahagiaan itu bukan dicari, tetapi kebahagiaan itu diciptakan. Happy Mom Happy Kids




very very very like this ...
Very very like this too --karena ada nama sy;D btw. Mantep nih tampilan blognya...pake apa?
seneng deh liat kalian seneng:D