Label:

Sering saya mendengar rekan-rekan yang memilih berkarir, mengungkapkan aktualisasi diri sebagai alasan utama pilihan tersebut. Karir yang saya maksud bukan hanya bekerja di kantor, tetapi semua hal di luar tugas domestiknya seorang ibu, apakah menjadi pebisnis, penulis, trainer, dan lain sebagainya.


Saya pun demikian. Dulu waktu zaman kuliah, mengikuti berbagai aktivitas di luar perkuliahan dengan alasan aktualisasi dri. Lucunya, sebenarnya saya tidak begitu paham apakah aktualisasi diri itu:). Tepatnya...hanya ikut-ikutan orang latah mengucapkannya.


Entah mengapa saya dulu mengidentikkan aktualisasi diri dengan eksistensi di ranah publik. Kalau saya bisa hadir di ruang publik, berinteraksi dan memberikan manfaat pada orang banysk, itulah bayangan saya tentang aktualisasi diri. Karenanya ketika saya harus berada penuh di rumah, tanpa aktivitas lain di luar tugas domestik, saya merasa ada yang kurang pada diri saya. Saya bertanya-tanya, apa sih yang kurang, dan lagi-lagi aktualisasi diri adalah jawabannya.

Tetapi saat ini saya teringat pada beberapa rekan ibu yang full di rumah, tanpa aktivitas lain di luar tugas domestiknya. Tampaknya mereka damai, bahagia, menjalani tugas mereka sepenuh hati.

Apakah bagi ibu yang full tinggal di rumah, tanpa aktivitas lain di luar tugas domestiknya adalah kondisi yang kurang optimal, dan harus memperjuangkan diri untuk "keluar" dari kondisi tersebut? Apakah mereka belum beraktualisasi diri dan perlu memperjuangkan aktualisasi diri mereka?

Apakah aktualisasi diri itu?
Mengingat-ingat konsep aktualisasi diri, saya teringat pada dua orang, Maslow dan Rogers.

Carl Rogers mengungkapkan aktualisasi diri dalam teori kepribadiannya, sedangkan Maslow mengungkapkan aktualisasi diri dalam hirarki kebutuhan manusia yang ia cetuskan.

Browsing-browsing menelusuri artikel tentang teori mereka, ternyata keduanya menyimpulkan hal yang relatif sama, aktualisasi diri adalah hasrat untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki oleh diri.

Mengoptimalkan segala potensi diri. Hmm...jadi refleksi diri. Pantaslah saya dulu gelisah memikirkan aktualisasi diri yang rasanya belum terpenuhi. Saya memang sangat payah saat menuntaskan tugas domestik, masak tak enak, nyetrika lama. Berkutat dalam tugas-tugas tersebut seharian (karena kurang ahli jadi perlu waktu seharian), membuat saya tidak menjadi diri saya. Ada potensi diri yang terabaikan.

Namun jika saya adalah seorang wanita yang ahli dalam memasak, dan menata rumah. Mungkin ceritanya jadi berbeda. Saya akan lebih optimal di area domestik, karena itu keahlian saya, dan mungkin saya merasa tidak bahagia jika harus berjibaku di ranah publik.

Teringat cerita, pertama dari seorang suami yang berkata kalau istrinya tidak mau bekerja atau beraktivitas di luar tugas domestiknya. Kedua, dari seorang istri yang merasa bingung karena di minta suaminya bekerja, bukan sekedar untuk membantu suami, tetapi suaminya menginginkan dirinya beraktualisasi diri.

Jika mereka, para istri tersebut memilih untuk berkarir dengan alasan aktualisasi diri, sementara dirinya justru lebih bahagia dengan berada di rumah, bagaimana ya? Apa yang akan terjadi?

Aktualisasi diri berakar dari konsep diri. Konsep diri berakar dari pengenalan diri. Apa kelebihan dan kekurangan saya? Apa yang membahagiakan saya. Oleh karenanya saya berpikir, pada dasarnya mau seperti apapun bentuk aktualisasi diri kita, tidak perlu kita saling menilai mana yang lebih baik. Selama apa yang kita pilih adalah benar-benar sesuai dengan potensi diri kita. Bahagia dengan menjadi diri kita sendiri. Itulah pilihan kita.

Comments (0)