Saya.... Saya takut...heuheu. Tiga tahun selalu memiliki "mba" sebagai asisten rumah tangga, ternyata membuat saya dependent pada mereka. Sehingga ketika mba permisi untuk berhenti karena sudah terlalu banyak tidak masuk dikarenakan sakit, saya cukup "panik". Melihat setumpukan PR, yang biasanya dikerjakan mba.

Segera saja saya berusaha menepis rasa takut dengan berbagai cara. Pertama mengajak chatting sahabat untuk sekedar curhat, mencari solusi dan semangat. Ternyata sahabat-sahabat saya tidak punya mba juga, dan mereka asik-asik aja, maksudnya bisa asik bergaul, tak kekurangan sesuatu apapun:). Mereka masih bisa nulis, baik status maupun note plus beraktivitas di luar tugas kenegaraan (cuci baju, piring, setrika, dlsb).

Waduh gimana caranya ya? Saya masih ingat bagaimana kacaunya saya ketika tidak ada mba, anak-anak dan suami biasanya kekurangan baju karena belum disetrika, rumah seperti depresi hancur lebur dari depan sampai belakang, kurang tidur, cape, pegel-pegel, heu...heu...

Kok bisa sih kalian tetap berhaha hihi hepi?

Kata mereka:
1. Ya...kerjakan saja, ngga usah dipikirkan
2. Sebelum tidur dah beres dulu, jadi besoknya ngga terlalu berat PRnya
dan yang agak panjang ini:
3. "jaga ke-happy-an Lita, jangan sampe jenuh apalagi mengeluh.
Jauhi hal-hal sepele yang kira-kira malah memberatkan pikiran. Dan minta pengertian suami dan anak-anak kalo ada hal-hal yang gak beres secara fisik di rumah...
Saya mah da membagi waktu misal dengan bikin joblist, lebih ke menjaga biar saya hepi dan gak jenuh, tapi kerjaan beres. Kalo gak beres ya biarin aja. Kan yang penting hepi.. :)"

Hemm, boleh juga di coba
"ngga usah dipikirkan, yang penting hepi!"

Baiklah..

Tetapi ternyata susah ya prakteknya....

Waktu saya mulai mau mengeluh saya mengingat2 ibu-ibu yang lain, sekedar penyemangat. AYO KAMU JUGA BISA :D

Ada seorang ibu dengan lima buah hati. LIMA! Duh, saya ngga kebayang, lima...tanpa asisten. Apalagi yang terakhir adalah bayi, yang lahir 4 bulan lebih dulu dari Naurah. Bayi umur 6-7 bulan mah lagi lucu-lucunya, tapi lagi repot-repotnya, karena mulai aktif bergerak. Sudah mah tanpa asisten, beliau bekerja pula sebagai guru TK, pergi pagi pulang sore. Gimana caranya??? Beliau bisa tetap tersenyum dan bergembira bersama anak-anak didiknya. Tidak terlihat lelah di wajahnya.

Ada lagi seorang ibu dengan anak tiga. TIGA dengan anak terakhir berusia 1 tahun. Tetapi jarak anaknya dempet-dempetan, alias beda usianya dikit-dikit. Eh dah gitu sekarang lagi hamil 4 bulan. Beliau istri seorang marbot mesjid. Tentu saja semua serba terbatas, tetapi itu senyum, selalu mengembang. Kalau lihat beliau ya, seperti Oshin. Tahu kan Oshin? Sambil menggendong anaknya yang terakhir, dia sapu sekitar mesjid, dengan senyumnya yang mengembang. Selalu sigap menyapa orang-orang yang ia kenali, diajak ngobrol dengan penuh semangat.

Ada lagi seorang teman, anaknya empat. Anak pertama 4 tahun, kedua 3 tahun, ketiga 2 tahun, keempat 1 bulan. Tanpa pengasuh bagi anak-anaknya. Beliau masih bisa beraktivitas sebagai psikolog, tentu dengan senyum yang mengembang.

Senyum itu selalu mengagumkan. Senyum tanda bahagia. Bahagia tanpa Mba, ternyata bisa ya....

Ah kalau mengingat mereka saya jadi ikut tersenyum, tersemangati.

O,ya kalau saya lagi nyetrika, dan ngelamun, saya suka inget mamah saya. Mamah itu menjadikan menyetrika baju sebagai hobi. HERAN TAPI NYATA hehe, dan ini terbukti kembali ketika kemarin Mamah ke rumah. Melihat setrikaan menumpuk, beliau dengan suka cita membantu. Padahal baru sampai rumah saya. Benar-benar baru sampai! ckckck

Pagi-pagi jelang shubuh, beliau pegang lagi setrikanya, dan menyetrika baju-baju itu dengan suka cita, biar badan hangat katanya. Ah, Mamah, bisa aja.

Mamah menyemangati "Ayo pasti bisa, mamah dulu juga bisa, ngasuh Ratna (adik saya yang dulu mah bayi), sambil kamu dan kakak kamu sekolah" (Ihik iya Mah, Aamiin saya bisa). Padahal dah pasti zaman mamah dulu lebih sulit dari zaman sekarang. Sekarang mah nyuci tinggal masukin ke mesin cuci, sabun cucinya juga sekarang mah canggih dan wangi. Setrika juga alatnya ringan, pake pelicin pakaian lebh ringan lagi. Duuh...jauhlah...tapi semangatnya kok banyakan punya Mamah ya?

Duuh inget Mamah kenapa saya suka pengen nangis ya...semangatnya selalu bikin saya nangis terharu. Beliau teh meni tangguh, jauh pisan sama saya, yang sedikit-sedikit curhat soal PR yang bertumpuk.

Rasa senang mengerjakan, tanpa keluh kesah itu yang perlu saya copas dari Mamah. Rasa senang sepertinya diawali dengan rasa mampu bisa mengerjakan. Jadi memang perlu untuk belajar bagaimana mengerjakannya dengan efisien. Jadi aja kemaren saya berguru ke Mamah, berguru semangat dan berguru cara mengerjakan. Memang waktu dulu, saya kurang dilibatkan dalam tugas domestik, lebih banyak di suruh belajar aja yang bener. Di sangkana saya mau jadi manager meureunan nyak, hehe, jadinya mah ibu rumah tangga aja. Ceuk mamah teh, tahu gini mah kuliah teh jurusan Tata Boga we atuh...hihi.

Hmmm...jadi sampai hari ini saya masih semangat, ngga tahu kalau besok-besok. Satu hal saya selalu mengingat apa kata sahabat saya untuk menyingkirkan pikiran-pikiran tidak penting. Yang termasuk tidak penting menurut saya adalah, berharap datangnya bantuan. Apakah dari suami atau dari anak-anak. Tidak penting berharap dan berangan-angan mereka akan sukarela berempati dan segera membantu saya, yang penting adalah meminta mereka membantu. Heu.heu..ya...lebih baik berkomunikasi asertif meminta tolong mereka untuk membantu secara jelas dan rinci bentuk bantuannya daripada...ngelamun memimpikan keajaiban mereka membantu tanpa diminta.

Lalu untuk mempraktekkan tips supaya tetap hepi adalah dengan menjaga ME TIME. Selama saya masih ada ruang untuk menulis dan chat dengan teman-teman tampaknya saya akan tetap hepi.

Begitulah, saya ngga tahu sampai kapan saya nggs punya mba, sampai kapan saya masih semangat, sampai kapan saya tetap hepi.

Walau belum pasti saya sukses tanpa mba, catatan ini saya tetap saya buat, siapa tahu ada teman-teman yang sedang mencari atau menjaga semangatnya.

Yuk aaah semangat!!!

Comments (0)