Label:


Semingggu lalu Akmal libur hampir sepuluh hari. Dia riang gembira mengetahui kalau dirinya dapat libur. Senang bukan main. Sisi lain Ia mendapat sederet PR yang harus dikerjakan selama liburan. Banyak sekali, tetapi ia masih riang saja, santai. Begitulah di hari pertama.

"Bu, PRnya banyak...belum selesai" lamat-lamat terdengar Akmal mengajak saya bicara. Besok adalah hari terakhir dia mengumpulkan PR liburannya itu. Saya mengantuk. Saya melihat jam, wew jam 1/2 11 malam! Saya gelisah....apa? jam segini anak saya belum tidur karena PR?


Siapa yang salah? Gurunya atau ibunya? Gurunya wajar memberi PR banyak karena libur panjang ini sesungguhnya bukan libur panjang tetapi belajar d rumah, maka sang guru memindahkan target belajar d sekolah ke rumah dalam bentuk PR. Kejar tayang ceritanya mah...jiga sinetron. Tetapi kewajaran ini seperti bola yang dilemparkan kepada saya, dan saya tidak bisa menangkapnya. Alias teu sanggup euy...dan pikiran saya jadi kusut.

Ya,walau saya empati pada pola pikir guru, tetap sulit bagi saya untuk melihat anak duduk berkutat dengan seabrek soal-soal. Menyicil? Klise tapi sulit, kecuali saya galak. Ya liburan begene...temen-temennya nyamper terus-terusan ngajak main, kalau PRnya bisa beres dalam waktu satu jam mah okeh, tapi tampaknya sih ngga mungkin sejam.

Ah kenapa saya gundah? Karena bukan begini impian saya mah. Saya kebayangnya anak saya, di masa kecilnya pengennya seperti cerita Dani Badra di asahasuh.com. Sekolah dengan senang, tanpa tekanan :D

Huff...soal PR yang menumpuk sebenarnya hal kedua di hari ini yang bikin hati risau. Hal pertama adalah PR PPKNnya....

Akmal diminta mencari gambar tentang pakaian adat, upacara adat, senjata,dll sesuai dengan suku bangsa ayahnya.

Kalau Akmal sekolah di SD negeri mungkin saya ngga mikir...tetapi berhubung sekolah di SD Islam Terpadu, saya jadi gundah...karena pakaian adat pan ngga nutup aurat, upacara adat syirik semua...huhu...buat apa atuh ya...anakku belajar itu semua....kecuali di akhirnya dikasih feedback kalo itu syirik loh...haduh kalau gurunya ingat, kalau nggak?

Jadi ngelamun...pengen bikin sekolah untuk anak-anak saya. Saya ajarin 8 pelajaran aja...

1. Aqidah
2. Praktek Ibadah
3. Adab/ Akhlak
4. Tahfidz
5. Membaca
6. Menghitung
7. Menulis
8. Sains

Selebihnya anak saya ikut sertakan dalam klub english conversation, klub renang, dan klub futsal.

Untuk mengajar ini saya perlu 2 guru saja....satu untuk diniyahnya...satu untuk calistung + sains. Waktu belajarnya juga ngga perlu banyak-banyak...setengah hari juga cukup kayaknya...heuheu...ngarang....

Saya ingin anak saya belajar 8 pelajaran itu dengan konkrit dan sistematis. Bukan segudang teori yang ngga dipraktekkan.

Target belajarnya juga sederhana aja yang penting tuntas dan nyata anak menguasai.

Membaca:

Kelas 1: Anak mampu membaca buku berteks singkat dengan benar, dan memahami ceritanya. Bisa menceritakan kembali isi buku yang ia baca
Kelas 2: Anak mampu membaca buku berteks panjang dengan benar, dan memahami isi bacaannya. Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan isi bacaan.
Kelas 3: Anak mampu membaca buku berteks panjang dengan benar, intonasi yang tepat, dan mampu memetakannya dalam mind mapping atau teknik2 resume lainnya.

Menghitung:
Kelas 1: Menguasai konsep penjumlahan dan pengurangan. Apa itu penjumlahan dan pengurangan, serta prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
Kelas 2: Menguasai konsep perkalian
Kelas 3: Menguasai konsep pembagian, dan mengenal bangun datar.


Begitulah cukup sebaris aja kompetensinya...heuheu

Ah demikian lah lamunan saya...di tengah malam, cukup sekian...tampak ngagantung namanya juga ngalamun, sambil ngantuk, setengah ngetik, setengah ngimpi. Biarlah...siapa tahu suatu saat terwujud:)

Comments (3)

heuheu...aya nu curcol..aammiin teh...aammiiin....:)

saya jg ngelamunin gitu klo pulang ke Ina, maunya anak sekolah sampe jam 12 aja, selebihnya untuk bahasa & tahfiz, ya mungkin di tempat lain, dg guru privat ato ulama *ngimpi.com*

qiqiqiq......amiiiiinn....mun lita bkn sklh anak2 sayah nitip diditu nyaaa....xixxi