Pagi kemarin untaian ceramah tentang dzikir terdengar. Hati terketuk dan berbisik"Ya Rabb akhir-akhir ini hati terasa kering dalam berucap dzikir. Hampa"

"Mba, jariku sakit" terdengar sekilas Hanif berucap. Hati ini terkesiap. Dari sejak kemarin entah kenapa hati ini sering terkesiap. Mendengar anak menangis di luar, langsung gelisah. Sedikit mendengar hal yang tidak menyenangkan langsung gelisah. Ringkih hati ini.

Segera saya menghampiri Hanif. Dengan seksama kulihat jarinya. Ya Allah, jarinya terluka dalam, kukunya termasuki benda kotor, entah kotoran atau apa, tapi bengkak. Perasaan saya mengatakan ini serius. Saya coba bersihkan ternyata sudah bernanah. Hiks.

"Bu ini kukunya harus dicabut." Batin ini melayang. Dokter menjelaskan ini hal yang biasa, ringan, tapi perlu hati-hati karena anak yang menjalani.

Prosesnya sebentar, berjalan baik Alhamdulillah. Kembali saya disamping seorang anak untuk memberikan dukungan bahwa semua akan baik-baik saja Nak. Serpihan kayu sudah menancap ke dalam kuku hanif, serpihan yang besar.

Saat itu bibir terucap dzikir-dzikir dengan dalam penuh hayat. Ya Allah...segala permohonan...kuucapkan. Permohonan ampun...permohonan pertolongan...permohonan kemudahan.

Sang dokter banyak bertanya tentang imunisasi DPT, dari wajah dokter terbaca kekhawatiran akan tetanus. Huff, dada ini terasa sesak. Tetanus?

Saya menjawab yakin imunisasi Hanif lengkap. Dokter mengangguk-angguk. "Ya bu nanti kalau terkena pun mudah-mudahan ngga parah karena sudah imunisasi."

Semua proses di rumah sakit selesai. Setelah semua beres. Hanif sudah makan, minum obat dan kemudian tidur. Saya seperti biasa mencari informasi. Dalam hati saya ragu, nge browse atau jangan. Saya tahu, saya adalah pencemas, artikel kesehatan di internet kadang kerap berlebihan. Tetapi akhirnya saya nge browse juga dengan pertimbangan, supaya tahu sedikit untuk antisipasi.

Bismillah...saya cara kata kunci "tetanus", dan benar saja artikel yang ada membuat saya mual.

Ya ini penyakit berat dan mematikan, dan luka yang dialami Hanif memang rentan terkena penyakit ini.

Berkelebatan rasa takut menghampiri jiwa. Gelisah....

Saat itu hanya dzikir yang menenangkan hati. Ya, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Walau luka ini benar-benar menampar hati. Menciptakan mother guilt yang amat sangat. Ya Allah, ampuni hamba yang lalai. Yang terlalu banyak menoleh pada dunia, hingga anak terabaikan.

Beberapa hari ini hati saya memang terlalu sibuk dengan urusan dunia saya...asik dengan diri saya sendiri. Tak terperhatikan anak, dari ujung jari sampai ujung rambut. Hingga anak lukapun saya tidak tahu.

Sungguh perih ketika menghayati kalau Hanif malah bercerita pada mbanya. Ya Allah sebegitu jauhkah saya sampai anak bercerita pada orang lain akan kesusahannya. Padahal saya ada, stay at home mother! Plak! Benar-benar rasanya ditampar habis-habisan.

Mother guilt...berkecamuk dalam jiwa saya. Hanya dzikirlah yang membuat hati ini lebih tenang.

Mohon do'a sahabat semoga semua dimudahkan. Hanif terjaga dari hal yang buruk. Begitupun semua putra putri kecil kita. Aamiin.

Comment (1)

wah, hanif...kok teteh gak ceritaaa :( syafakallah, mudah mudahan hanif sehat...