Kemarin saya menulis tweet yang lumayan banyak dibanding hari lain. Sungguh saya kemarin sedang ingin bicara banyak, tetapi bicara sama siapa. Akhirnya nge tweet sambil ngelonin Naurah. Kenapa nge-tweet? Ya karena itu yang paling mungkin. Kalo nge-blog sambil ngelonin mah susah
Dipikir-pikir maksa sekali ya menulis sambil ngelonin. Ya mau bagaimana lagi, menulis adalah kebutuhan bagi saya saat perasaan tak menentu. Mau bicara banyak lewat chatting curhat sama suami. Dipikir-pikir kasihan da dia teh lagi kerja. Walau saya tahu dengan senang hati suami akan menanggapi.
Percaya tidak percaya kadang-kadang seharian saya kirim chat ke suami. Jadi walau suami sedang di kantor, rasanya ada di samping saya. Heuheu....maksa
Saya juga kadang heran, karena dulu di sekolah semua orang bilang saya pendiam, tetapi kenapa saya cerewet sama suami...sama anak...dan sekarang sih bisa cerewet sama semua orang yang saya pikir bisa saya cereweti.
Tapi dipikir-pikir bicara memang sudah jadi kebutuhan. Saya ingat dulu waktu belum nikah, saya suka sengaja duduk di ruang keluarga, ngobrol sama bapak saya. Kalau ngga ngobrol rasanya kayak belum sarapan:D
Ketika menikah ternyata saya juga perlu demikian, sampai sekarang juga masih. Merasa nyaman ngobrol di pagi hari sebelum suami berangkat kerja. Tampaknya sih suami juga senang kalau saya banyak bicara, dan suka sengaja nyuruh saya bicara seperti sedang menyalakan radio katanya.
Herannya sudah begitu masih banyak saja yang mau ditumpahkan lewat bicara, tapi sama siapa? Sama suami dah banyak, anak apalagi.
Sama sahabat.... Akhirnya saya bisa ada ruang lagi dengan ngobrol bersama sahabat. Karena sekarang teknologi juga dah mendukung, ngobrol sama sahabat bisa dilakukan nyambi-nyambi kerjaan lain.
Nah kalau ngobrol terus-terusan sebenernya cape...padahal masih banyak yang mau dibicarakan...kebanyakan ide...kebanyakan topik...atau kadang ada topik yang terlalu berlebihan kalau dijadikan topik obrolan. Siapapun akan males diajak ngobrol topik tersebut. Seperti inilah...mana ada yang mau diajak ngobrol tentang pentingnya menulis untuk wanita.
Kalau sudah begitu, jika ada waktu saya menuls di blog atau di Asahasuh. Biasanya ada kenyamanan setelah menulis. Ketegangan menurun. Otak jadi terasa lebih lapang, siap diisi lagi.
Selain menumpahkan kapasitas 20000 kata yang wanita miliki. Menulis bagi saya juga bermanfaat untuk marital adjustment.
Dulu waktu awal-awal nikah, ada saat-saat sulit mengungkapkan rasa tidak nyaman. Pola komunikasi juga kan masih dipelajari. Rasa-rasanya kalau diingat-ingat yang membuat proses adjustment itu lancar adalah karena saya menulis.
Dari tulisan saya, suami bisa menelusuri apa yang sedang saya inginkan, apa yang saya pahami. Misal tentang pengasuhan anak. Kalau tidak ditulis, mungkin agak susah kan membicarakannya dengan suami. Bisa jadi kalau dibicarakan jatuh-jatuhnya tampak kita "Menggurui", dan tentu saja "Cerewet" atau "Melawan" alias "Ngeyel". Hal-hal yang kayaknya paling ngga disukai para suami.
Tetapi kalau lewat tulisan, kita bisa lebih santun....lebih sistematis menjelaskannya...Suami juga bisa membaca dengan tenang tanpa merasa diserang, dan mengerti pola pikir kita pada akhirnya. Lewat tulisan suami juga ngga melihat deraian air mata ketika kita menulis, cemberutnya kita, merah padamnya muka kita karena marah. Hal ini lumayan mengurangi potensi konflik daripada kita langsung menumpahkan 20000 kata itu ke suami apa adanya tanpa pengolahan.
Kerap kali ada konflik-konflik yang bisa kami selesaikan lewat chatting daripada bicara langsung. Sepertinya ya karena lebih sistematis, dan itu tadi pesan tersampaikan dengan baik, karena suami tidak melihat bahasa tubuh kita yang menunjukkan kita sedang kesusahan.
Bahasa tubuh yang kesusahan seperti menangis berderai-derai, suara naik turun, muka merah padam itu...untuk para suami (pada umumnya kalau tidak merasa ya tidak apa-apa) ditangkap sebagai tanda-tanda penyerangan dan penilaian "kamu jadi suami jahat banget sih, istri kamu nih sampai menangis berderai-derai. Kamu jadi suami gimana sih ngga bisa ngebahagiaan istri" dan ujung-ujungnya bukannya empati sama istri (padahal istri nunggu empati), yang ada malah kadang-kadang jadi marah. Agak ngga nyambung memang antara stimulus dan respon, tetapi memang begitu.
Hal itu terjadi karena pada dasarnya memang pria kurang memiliki potensi untuk peka terhadap emosi. Respon terhadap suatu emosi yang diharapkan wanita itu harus dikomunikasikan. Ngga bisa tiba-tiba bisa sendiri begitu.
Misal pernah sahabat saya bilang ke suaminya "Mas kalau saya menangis tolong peluk saya dari belakang". Kalau misal sahabat saya itu ngotot pengen suami ngerti sendiri, kalau dia lagi sedih meluk dari belakang. Dijamin 99% ngga akan kejadian sampai kapanpun.
Begitulah rasa, dan pikir saya bisa tersalurkan lewat menulis. Plus bonusnya proses adjustment yang lebih lancar Alhamdulillah. Jadi wanita...menulislah...
Dipikir-pikir maksa sekali ya menulis sambil ngelonin. Ya mau bagaimana lagi, menulis adalah kebutuhan bagi saya saat perasaan tak menentu. Mau bicara banyak lewat chatting curhat sama suami. Dipikir-pikir kasihan da dia teh lagi kerja. Walau saya tahu dengan senang hati suami akan menanggapi.
Percaya tidak percaya kadang-kadang seharian saya kirim chat ke suami. Jadi walau suami sedang di kantor, rasanya ada di samping saya. Heuheu....maksa
Saya juga kadang heran, karena dulu di sekolah semua orang bilang saya pendiam, tetapi kenapa saya cerewet sama suami...sama anak...dan sekarang sih bisa cerewet sama semua orang yang saya pikir bisa saya cereweti.
Tapi dipikir-pikir bicara memang sudah jadi kebutuhan. Saya ingat dulu waktu belum nikah, saya suka sengaja duduk di ruang keluarga, ngobrol sama bapak saya. Kalau ngga ngobrol rasanya kayak belum sarapan:D
Ketika menikah ternyata saya juga perlu demikian, sampai sekarang juga masih. Merasa nyaman ngobrol di pagi hari sebelum suami berangkat kerja. Tampaknya sih suami juga senang kalau saya banyak bicara, dan suka sengaja nyuruh saya bicara seperti sedang menyalakan radio katanya.
Herannya sudah begitu masih banyak saja yang mau ditumpahkan lewat bicara, tapi sama siapa? Sama suami dah banyak, anak apalagi.
Sama sahabat.... Akhirnya saya bisa ada ruang lagi dengan ngobrol bersama sahabat. Karena sekarang teknologi juga dah mendukung, ngobrol sama sahabat bisa dilakukan nyambi-nyambi kerjaan lain.
Nah kalau ngobrol terus-terusan sebenernya cape...padahal masih banyak yang mau dibicarakan...kebanyakan ide...kebanyakan topik...atau kadang ada topik yang terlalu berlebihan kalau dijadikan topik obrolan. Siapapun akan males diajak ngobrol topik tersebut. Seperti inilah...mana ada yang mau diajak ngobrol tentang pentingnya menulis untuk wanita.
Kalau sudah begitu, jika ada waktu saya menuls di blog atau di Asahasuh. Biasanya ada kenyamanan setelah menulis. Ketegangan menurun. Otak jadi terasa lebih lapang, siap diisi lagi.
Selain menumpahkan kapasitas 20000 kata yang wanita miliki. Menulis bagi saya juga bermanfaat untuk marital adjustment.
Dulu waktu awal-awal nikah, ada saat-saat sulit mengungkapkan rasa tidak nyaman. Pola komunikasi juga kan masih dipelajari. Rasa-rasanya kalau diingat-ingat yang membuat proses adjustment itu lancar adalah karena saya menulis.
Dari tulisan saya, suami bisa menelusuri apa yang sedang saya inginkan, apa yang saya pahami. Misal tentang pengasuhan anak. Kalau tidak ditulis, mungkin agak susah kan membicarakannya dengan suami. Bisa jadi kalau dibicarakan jatuh-jatuhnya tampak kita "Menggurui", dan tentu saja "Cerewet" atau "Melawan" alias "Ngeyel". Hal-hal yang kayaknya paling ngga disukai para suami.
Tetapi kalau lewat tulisan, kita bisa lebih santun....lebih sistematis menjelaskannya...Suami juga bisa membaca dengan tenang tanpa merasa diserang, dan mengerti pola pikir kita pada akhirnya. Lewat tulisan suami juga ngga melihat deraian air mata ketika kita menulis, cemberutnya kita, merah padamnya muka kita karena marah. Hal ini lumayan mengurangi potensi konflik daripada kita langsung menumpahkan 20000 kata itu ke suami apa adanya tanpa pengolahan.
Kerap kali ada konflik-konflik yang bisa kami selesaikan lewat chatting daripada bicara langsung. Sepertinya ya karena lebih sistematis, dan itu tadi pesan tersampaikan dengan baik, karena suami tidak melihat bahasa tubuh kita yang menunjukkan kita sedang kesusahan.
Bahasa tubuh yang kesusahan seperti menangis berderai-derai, suara naik turun, muka merah padam itu...untuk para suami (pada umumnya kalau tidak merasa ya tidak apa-apa) ditangkap sebagai tanda-tanda penyerangan dan penilaian "kamu jadi suami jahat banget sih, istri kamu nih sampai menangis berderai-derai. Kamu jadi suami gimana sih ngga bisa ngebahagiaan istri" dan ujung-ujungnya bukannya empati sama istri (padahal istri nunggu empati), yang ada malah kadang-kadang jadi marah. Agak ngga nyambung memang antara stimulus dan respon, tetapi memang begitu.
Hal itu terjadi karena pada dasarnya memang pria kurang memiliki potensi untuk peka terhadap emosi. Respon terhadap suatu emosi yang diharapkan wanita itu harus dikomunikasikan. Ngga bisa tiba-tiba bisa sendiri begitu.
Misal pernah sahabat saya bilang ke suaminya "Mas kalau saya menangis tolong peluk saya dari belakang". Kalau misal sahabat saya itu ngotot pengen suami ngerti sendiri, kalau dia lagi sedih meluk dari belakang. Dijamin 99% ngga akan kejadian sampai kapanpun.
Begitulah rasa, dan pikir saya bisa tersalurkan lewat menulis. Plus bonusnya proses adjustment yang lebih lancar Alhamdulillah. Jadi wanita...menulislah...




Hahaha... (maaf bukan bermaksud kasar!) Tapi saya senang sekali membaca tulisan ini. Tulisan ibu seperti... seperti... dekat dengan gaya saya yang rada blak-blakan, transparan (terbuka), jujur dan apa adanya (namun tidak mengurangi kewibawaan)! Hahaha...saya jadi ingin bisa menulis tipikal tulisan seperti ini. Seandainya ibu ialah teman sejawat dan bergender sama dengan saya, tentu sudah saya jabat erat tangan ibu. ^^ Makasih Bu... Jazakillah khair katsiro.