Label:

"sok atuh bu...biar aku yang nungguin"

Pernah saya dengar harapan Ayahibu untuk dikaruniai anak perempuan agar mendapat perhatian dari anak-anaknya. Katanya anak perempuan lebih dewasa, lebih bisa empati. Nyatanya memang begitu ya...anak perempuan atau perempuan atau wanita, tampak lebih matang dari sosok laki-laki.



Alhamdulillah, tak lama setelah menikah saya langsung hamil, dan janin yang ada dalam rahim saya adalah laki-laki. Senang, bahagia tentu. Karena mendapat titipan seorang calon pemimpin.

Sisi lain saya merasa perlu ekstra mendidik mereka agar tidak menjadi laki-laki biasa. Laki-laki biasa? Seperti apa?

Ya laki-laki yang seperti dikeluhkan para istri pada umumnya. Laki-laki yang "gila" gadget sampai lupa anak istri. Laki-laki yang hobi tidur sampai lupa anak istri. Heuheu...lebay sekali saya menilai laki-laki. Tetapi ya...gimana...saya sering mendengar hal itu, dan saya tidak mau itu terjadi pada anak-anak saya.

Oleh karenanya saya selalu membiasakan mereka untuk peka terhadap kebutuhan orang lain. Mungkin tidak akan se super kepekaannya seperti anak perempuan. Tetapi saya ingin mereka lebih dari anak laki-laki pada umumnya.

Mengajak berbincang tentang perasaan orang lain. Banyak melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari. Tidak selalu setiap hari, hanya sekali-kali.

Seperti kemarin, ketika Ayahnya sakit, saya benar-benar kerepotan. Saya yang biasa berbagi pengasuhan dan perawatan anak dengan Ayahnya, merasa benar-benar sendiri. Sampai tak sempat melakukan aktivitas untuk diri saya sendiri.

Saya berbagi dengan anak-anak yang kebetulan adalah laki-laki. "Ibu sakit nih, belum sempat mandi lagi, bla...bla...bla" ngomel sebenernya sih...wanita mana bisa bicara sedikit:)

"Sok atuh bu...kalau mau mandi mah...sini aku yang jagain (Naurah bayiku)"

Huaaa sungguh terharu...dan segera saya mandi...pas selesai...pas rewel si baby.

Alhamdulillah tidak hanya segar di badan, tetapi segar di hati.

Comment (1)

Maaf Bu kalau keseringan dapet koment baru dari saya. Maklum fans baru ^^.

"ngomel sebenernya sih...wanita mana bisa bicara sedikit:)"

Saya penasaran dengan sedikit kata2 tulisan di atas. Saya dulu juga bisa memberikan komentar riang dan 'jenaka' seperti di atas (seperti gaya Lupus). Tapi entah kenapa kok tiba2 ga bisa lagi yah... Apakah gaya menulis seseorang berubah sesuai dengan pengalaman yang dialaminya...? Jadi lebih serius atau...emang itu pembiasaan saja ?!

Ups... terima kasih Bu. Saya benar2 tersenyum terkadang tertawa sendiri membaca tulisan ataupun komentar-komentar usil ibu itu.