Jelang ramadhan ada perasaan tidak menentu bagi diri saya. Siapkah saya? Ramadhan bulan suci yang hadir hanya satu kali dalam satu tahun ini, apakah bisa saya jalani dengan baik? Bukan hanya sebagai saya pribadi, tetapi saya sebagai seorang ibu dari dua anak yang perlu saya latih untuk berpuasa
Hari-hari semakin dekat, saya semakin deg-degan. Apa yang bisa saya siapkan? Alhamdulilah ada pengkondisian dari suami untuk mengikuti pengajian. Siraman ilmu yang disampaikan ustadz sudah banyak membantu saya untuk menggenapkan mental semangat menyambut bulan suci ramadhan.
Ternyata langkah pertama dalam menyiapkan diri jelang ramadhan adalah ilmu. Walaupun ramadhan sudah berkali-kali di temui, ilmu untuk menjalaninya selalu seakan menjadi baru. Kabar berita gembira tentang bulan suci ini dikupas satu persatu oleh orang yang berilmu rasanya "nyes" ke dalam hati.
Sepulang dari pengajian tersebut. Semangat ini terkumpul dan siap diolah dan dipancarkan pada hati anak-anakku tercinta. Memberi mereka kabar gembira yang ada di bulan suci ini.
Bahasa tubuh...bahasa lisan...yang terintegrasi dalam sebuah bahasa semangat, membuat anak-anak turut bersemangat. Alhamdulillah.
Selanjutnya saya berbincang-bincang tentang target ramadhan yang akan dicapai oleh anak-anak. Mau berpuasa sampai jam berapa? Untuk Hanif yang berusia 6 tahun, ia tidak berani bertarget, jawabnya "ngga tahu bu, sekuatnya". Untuk Akmal yang berusia 9 tahun tentu bertarget sampai maghrib. Setelah itu target bergulir pada bacaan Al Qur'annya mau berapa banyak sehari, target sholatnya, target tarawihnya, dibicarakan pelan-pelan tetapi tetap dengan penuh semangat. Saya sendiri berharap target muncul dari mereka. Saya sebisa mungkin menghindari doktrin, dan lebih senang memancing semangat itu muncul dari diri mereka. Toh mereka masih dalam taraf belajar.
Setelah target masing-masing jelas, saya mendiskusikan teknis sahur yang diinginkan. Bangun sahur adalah tantangan tersendiri bagi seorang ibu. Maka diskusipun dimulai...mau seperti apa? Diusap dengan air, begitu kesepakatannya. Lalu makanan apa yang diinginkan saat sahur? "Kurma" jawab Hanif. Baiklah. Segera kami menyiapkan kurma. Memakan kurma adalah sunnah, hampir saja kami terlupa kalau anak-anak tidak menyebutnya dalam diskusi tersebut.
Jelang sahur,saya bangun lebih cepat. Khawatir Bayi kecilku Naurah akan terbangun. Karena biasanya jam 3-4 adalah waktunya Naurah terbangun karena lapar. Menyiapkan masak dengan menu sayur dan lauk seperti biasa. Lalu mulailah saya membangunkan Hanif dengan usapan air dan bisikan "sahur...kurma sudah siap". "Mana kurmanya ..." jawabnya lirih masih dengan mata terpejam. Selanjutnya Akmal, lebih mudah karena usianya sudah membuat dia lebih siap.
Alhamdulillah waktu sahur terlalui dengan baik, benar Naurah bangun, tetapi semua sudah siap sahur. Lega rasanya...kerepotan yang tadinya sempat membuat saya deg-degan akankah sahur terlaksana dengan lancar...tidak terjadi Alhamdulillah.
Setelah sahur. Segeralah mereka pergi ke mesjid, sholat kemudian bermain bersama teman-temannya. Jelang jam delapan pagi...rengekan "lapar..." mulai terdengar...:) Entah sampai jam berapa mereka kuat, yang penting tetap semangat, dan mereka berpuasa dengan senang bukan karena paksaan.
Hari-hari semakin dekat, saya semakin deg-degan. Apa yang bisa saya siapkan? Alhamdulilah ada pengkondisian dari suami untuk mengikuti pengajian. Siraman ilmu yang disampaikan ustadz sudah banyak membantu saya untuk menggenapkan mental semangat menyambut bulan suci ramadhan.
Ternyata langkah pertama dalam menyiapkan diri jelang ramadhan adalah ilmu. Walaupun ramadhan sudah berkali-kali di temui, ilmu untuk menjalaninya selalu seakan menjadi baru. Kabar berita gembira tentang bulan suci ini dikupas satu persatu oleh orang yang berilmu rasanya "nyes" ke dalam hati.
Sepulang dari pengajian tersebut. Semangat ini terkumpul dan siap diolah dan dipancarkan pada hati anak-anakku tercinta. Memberi mereka kabar gembira yang ada di bulan suci ini.
Bahasa tubuh...bahasa lisan...yang terintegrasi dalam sebuah bahasa semangat, membuat anak-anak turut bersemangat. Alhamdulillah.
Selanjutnya saya berbincang-bincang tentang target ramadhan yang akan dicapai oleh anak-anak. Mau berpuasa sampai jam berapa? Untuk Hanif yang berusia 6 tahun, ia tidak berani bertarget, jawabnya "ngga tahu bu, sekuatnya". Untuk Akmal yang berusia 9 tahun tentu bertarget sampai maghrib. Setelah itu target bergulir pada bacaan Al Qur'annya mau berapa banyak sehari, target sholatnya, target tarawihnya, dibicarakan pelan-pelan tetapi tetap dengan penuh semangat. Saya sendiri berharap target muncul dari mereka. Saya sebisa mungkin menghindari doktrin, dan lebih senang memancing semangat itu muncul dari diri mereka. Toh mereka masih dalam taraf belajar.
Setelah target masing-masing jelas, saya mendiskusikan teknis sahur yang diinginkan. Bangun sahur adalah tantangan tersendiri bagi seorang ibu. Maka diskusipun dimulai...mau seperti apa? Diusap dengan air, begitu kesepakatannya. Lalu makanan apa yang diinginkan saat sahur? "Kurma" jawab Hanif. Baiklah. Segera kami menyiapkan kurma. Memakan kurma adalah sunnah, hampir saja kami terlupa kalau anak-anak tidak menyebutnya dalam diskusi tersebut.
Jelang sahur,saya bangun lebih cepat. Khawatir Bayi kecilku Naurah akan terbangun. Karena biasanya jam 3-4 adalah waktunya Naurah terbangun karena lapar. Menyiapkan masak dengan menu sayur dan lauk seperti biasa. Lalu mulailah saya membangunkan Hanif dengan usapan air dan bisikan "sahur...kurma sudah siap". "Mana kurmanya ..." jawabnya lirih masih dengan mata terpejam. Selanjutnya Akmal, lebih mudah karena usianya sudah membuat dia lebih siap.
Alhamdulillah waktu sahur terlalui dengan baik, benar Naurah bangun, tetapi semua sudah siap sahur. Lega rasanya...kerepotan yang tadinya sempat membuat saya deg-degan akankah sahur terlaksana dengan lancar...tidak terjadi Alhamdulillah.
Setelah sahur. Segeralah mereka pergi ke mesjid, sholat kemudian bermain bersama teman-temannya. Jelang jam delapan pagi...rengekan "lapar..." mulai terdengar...:) Entah sampai jam berapa mereka kuat, yang penting tetap semangat, dan mereka berpuasa dengan senang bukan karena paksaan.




Comments (0)
Post a Comment