Tidur bersamanya
Pergi bersamanya
Beraktivitas bersamanya
Menggendong dan menyusui kapan saja dia memerlukannya.
Di situ ada saya, di situ juga ada Naurah....sampai ketika saya perlu berkonsultasi dengan orangtua, dan Naurah sedang ingin bersama saya. Saya berujar "ma'af saya bersama tim" Tim itu tak lain tak bukan yaaa Naurah.
"Saya jarang menggendongnya..."
"Saya latih dia, kalau menangis saya usap-usap, kalau masih menangis saya ajak jalan-jalan pakai kereta dorong, kalau menangis saya...." Begitu ujar seorang Bunda kepada saya memberikan tips bagaimana supaya bayi tidak tergantung pada kita, sehingga akan banyak yang bisa kita lakukan, walau punya bayi.
"Weh enak juga kayaknya ya..." pikir saya. Saya pernah mendengar cara mengasuh bayi seperti itu. Pernah juga mendengar untuk melatih bayi tidak menyusu di malam hari, tentu dengan membiarkannya menangis, hingga dia belajar tidak ada susu kalau malam-malam.
Tetapi yaaa...saya males melatih bayi yang belum bisa bicara. Bisa sih memang seperti layaknya melatih tikus. Pakai teori behaviorisme. Tetapi saya yakin walaupun belum bisa bicara, bayi bisa merasa. Ngga kayak tikus.
Bisa merasa, belum bisa bicara. Saya malah lebih ingin berhati-hati pada seorang bayi. Inginnya dia merasa nyaman saja, merasa tenang, tidak bingung dengan perlakuan lingkungan sekitarnya. Merasa aman karena lingkungan selalu menjaganya, selalu memenuhi apa yang ia perlukan.
Sampailah saya pada buku Menangani Anak 'rewel' nya Dr.Sears dan istrinya. Dr. Sears adalah seorang Pediatri, istrinya seorang perawat. Anak mereka delapan! Penting banget ya buat saya cerita anak mereka delapan...hehe. Secara saya tiga saja merasa sudah banyak.
Buku ini menarik, dan saya lebih tertarik lagi karena mereka menyetujui pola asuh saya. Maksudnya isi buku itu memaparkan pola asuh bayi persis seperti yang saya lakukan. Dr.Sears mengistilahkannya sebagai Pola Asuh Kelekatan.
Menurut beliau pola asuh inilah yang tepat bagi bayi. Pemaparannya tentu saja panjang setebal tiga ratusan halaman. Beli saja ya bukunya, ehm, ngga rugi punya buku ini.
Pola asuh kelekatan hadir dengan menggendong, menimang bayi kapan saja mereka membutuhkan, dan segera menyusui begitu terlihat tanda mereka membutuhkan. Masih banyak sih yang bisa dilakukan untuk bayi. Yang intinya apa yang bayi perlukan itu yang kita berikan. Di situ ada bayi, disitu juga ada ibunya, seperti tidur bersama, di malam hari, tidak meletakkannya di box bayi. Konon inilah yang sebenarnya diperlukan pada bayi.
Sebelum bertemu buku ini, saya hanya memegang teorinya Ericson. Masa bayi sama dengan masa penciptaan rasa percaya pada lingkungan. Masa pembetukan persepsi bahwa lingkungan aman baginya.
Bayi perlu digendong ya gendonglah...bayi perlu menyusui ya susuilah. Kelak mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak cemas akan lingkungan sekitarnya. Begitulah kira-kira.
Oleh karenanya, dari begitu beragamnya pilihan mengasuh bayi, saya pilih cara mengasuh seperti ini. Cape dong? Tak mengapa, karena saya bahagia melakukannya:)
Pergi bersamanya
Beraktivitas bersamanya
Menggendong dan menyusui kapan saja dia memerlukannya.
Di situ ada saya, di situ juga ada Naurah....sampai ketika saya perlu berkonsultasi dengan orangtua, dan Naurah sedang ingin bersama saya. Saya berujar "ma'af saya bersama tim" Tim itu tak lain tak bukan yaaa Naurah.
"Saya jarang menggendongnya..."
"Saya latih dia, kalau menangis saya usap-usap, kalau masih menangis saya ajak jalan-jalan pakai kereta dorong, kalau menangis saya...." Begitu ujar seorang Bunda kepada saya memberikan tips bagaimana supaya bayi tidak tergantung pada kita, sehingga akan banyak yang bisa kita lakukan, walau punya bayi.
"Weh enak juga kayaknya ya..." pikir saya. Saya pernah mendengar cara mengasuh bayi seperti itu. Pernah juga mendengar untuk melatih bayi tidak menyusu di malam hari, tentu dengan membiarkannya menangis, hingga dia belajar tidak ada susu kalau malam-malam.
Tetapi yaaa...saya males melatih bayi yang belum bisa bicara. Bisa sih memang seperti layaknya melatih tikus. Pakai teori behaviorisme. Tetapi saya yakin walaupun belum bisa bicara, bayi bisa merasa. Ngga kayak tikus.
Bisa merasa, belum bisa bicara. Saya malah lebih ingin berhati-hati pada seorang bayi. Inginnya dia merasa nyaman saja, merasa tenang, tidak bingung dengan perlakuan lingkungan sekitarnya. Merasa aman karena lingkungan selalu menjaganya, selalu memenuhi apa yang ia perlukan.
Sampailah saya pada buku Menangani Anak 'rewel' nya Dr.Sears dan istrinya. Dr. Sears adalah seorang Pediatri, istrinya seorang perawat. Anak mereka delapan! Penting banget ya buat saya cerita anak mereka delapan...hehe. Secara saya tiga saja merasa sudah banyak.
Buku ini menarik, dan saya lebih tertarik lagi karena mereka menyetujui pola asuh saya. Maksudnya isi buku itu memaparkan pola asuh bayi persis seperti yang saya lakukan. Dr.Sears mengistilahkannya sebagai Pola Asuh Kelekatan.
Menurut beliau pola asuh inilah yang tepat bagi bayi. Pemaparannya tentu saja panjang setebal tiga ratusan halaman. Beli saja ya bukunya, ehm, ngga rugi punya buku ini.
Pola asuh kelekatan hadir dengan menggendong, menimang bayi kapan saja mereka membutuhkan, dan segera menyusui begitu terlihat tanda mereka membutuhkan. Masih banyak sih yang bisa dilakukan untuk bayi. Yang intinya apa yang bayi perlukan itu yang kita berikan. Di situ ada bayi, disitu juga ada ibunya, seperti tidur bersama, di malam hari, tidak meletakkannya di box bayi. Konon inilah yang sebenarnya diperlukan pada bayi.
Sebelum bertemu buku ini, saya hanya memegang teorinya Ericson. Masa bayi sama dengan masa penciptaan rasa percaya pada lingkungan. Masa pembetukan persepsi bahwa lingkungan aman baginya.
Bayi perlu digendong ya gendonglah...bayi perlu menyusui ya susuilah. Kelak mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak cemas akan lingkungan sekitarnya. Begitulah kira-kira.
Oleh karenanya, dari begitu beragamnya pilihan mengasuh bayi, saya pilih cara mengasuh seperti ini. Cape dong? Tak mengapa, karena saya bahagia melakukannya:)




Comments (0)
Post a Comment