Bermodalkan buku pinjaman dari Mitha, saya mencoba mendalami soal Otak. Bukunya berjudul Brain Rules, John Medina. Hampir semua bab dalam buku ini menarik, kecuali bagian yang membahas soal evolusi. Kenapa? Ya karena saya tidak sepaham dengan teori evolusi.

Dari sekian banyak banyak bab, saya sangat tertarik pada bagian multitasking. Yeah karena saya merasa bahwa saya terlalu multitasking. Dari sejak dulu sih, dari zaman sekolah. Jarang fokus mengerjakan satu hal saja. Belajar ngga bisa duduk anteng fokus di meja belajar, pastinya di depan tv.




Sampai sekarang, hingga ada yang menegur dengan bahasa halus, ketika saya ngobrol dengan orang lain, sekaligus sambil chattingan. Awalnya sih berasa canggih ya bisa sekaligus, tetapi ternyata hal itu hanya membuat orang tidak diperhatikan, dan saya rada ngga nyambung dengan topik pembicaraan.

Terus diajak bicara sama anak sambil menatap laptop. Heu euh, ya, mmm, ya cuman geremengan yang saya berikan, sambil mengangguk-angguk. Saya baru sadar hal itu setelah anak komplen!

Kejadian lain yang sering terjadi adalah masakan gosong. Gyahaha, ini sebenarnya sudah dicereweti mamah sejak kecil. "Hei, kalau masak jangan ditinggal-tinggal". Yaaa karena saya masak sambil hilir mudik, dapur, ruang tengah, antara masak, ngobrol dan nonton. Pikir saya ngga asik banget masak doank, ngga efisien gitu. Lebih asyik sambil apa, sambil apa sampai semuanya beres. Eh tapi bener sering accident, gosong! Kalau akhir-akhir ini yang sering kejadian gosong adalah ketika memasak sambil online! Yihaa!

Dalam buku Brain Rules itu John Medina bilang Otak bekerja secara serial bukan paralel/ multitasking. Memang kita dapat berjalan sambil berbicara, makan sambil ngobrol. Tetapi yang dimaksud John Medina, tidak bisa multitasking adalah saat aktivitas itu membutuhkan kita mencurahkan perhatian. Kemampuan mencurahkan perhatian tidak bisa multitasking

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang terganggu perhatiannya memerlukan waktu 50 persen lebih lama dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Bukan hanya itu kesalahannya juga akan 50 persen lebih banyak.

Masih menurut John Medina, beberapa orang, terutama orang yang lebih muda, lebih baik dalam beralih aktivitas. Apabila aktivitas atau pekerjaan itu sudah akrab dengan diri kita, memang waktu dan kesalahannya lebih kecil dibanding aktivitas atau tugas yang baru saja dikenali.

Dalam buku ini juga diilustrasikan hasil penelitian yang menunjukkan efek pengalihan perhatian ponsel dari aktivitas yang dilakukan, misalnya mengendari mobil. Efeknya sama dengan orang yang sedang menyetir sambil mabuk. Orang yang berbicara di ponsel lebih lambat setengah detik dalam menginjak rem pada keadaan darurat. Lebih dari 50 persen tanda visual yang dilihat pengemudi yang awas dilewati oleh pengemudi yang sangat mabuk.

Karenanya setelah membaca buku itu, saya jadi mengevalusi diri. Mengingat aktivitas mana yang bisa multitasking, karena sudah "akrab" tea. Mana yang perlu perhatian khusus, yang jika multitasking hanya akan membuat menurun kualitasnya 50 persen. Namanya ibu-ibu kalau semuanya harus serial,ya kapan selesainya itu pekerjaan segudang. Jadi ada pekerjaan-pekerjaan yang harus dibuat mahir, sampai kata suami berdasarkan buku NLP mah, pekerjaan yang sudah bisa dikerjakan bawah sadar.

Menyadari bahwa kualitas menurun 50 persen saat multitasking, juga membuat saya menset waktu khusus untuk anak dan suami. 100 persen kopi darat kata Ier mah. Maksudnya dah jelas ada waktu-waktu saya yang bersama mereka sambil multitasking, maka sediakan lah waktu khusus tanpa multitasking supaya kualitas kebersamaan, kehangatan dan kelekatannya 100 persen.

Demikian juga untuk pekerjaan-pekerjaan yang menyedot konsentrasi lebih, tunggulah sampai anak dan suami tidur. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang ringan dan lucu, ya kerjakan saja bersama-sama.

Begitulah ternyata multitasking yang dulu saya kira efisien itu sebenarnya kurang efektif. Menata aktivitas, menset kapan dan bagaimana efektif dilakukan, menjadi strategi manajemen waktu saya saat ini. Bagaimana dengan strategi teman-teman? Yuk saling berbagi cerita.

Referensi: Brain Rules, John Medina

Comments (0)