Label:

"Saya pikir kalau menikah itu masih bisa kayak gadis, mau makan...makan, mau jalan...jalan...ternyata..." tatapan mata sang ibupun meredup lalu mengalihkan pandangannya ke langit.

Sungguh sesak hatinya, saya raba demikian. Begitu menyesakkan kah kehidupan rumah tangga itu, sampai seperti merenggut seluruh hidupnya dalam kesedihan?

Bergulirlah cerita betapa penat dirinya dengan urusan rumah tangga. Suami tak mengizinkan untuk beraktivitas di luar urusan rumah tangga. Kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.



Menikah semestinya menjadi jalan kebahagiaan. Namun nyatanya tidak semua berujung pada kebahagiaan. Penyebabnya beragam, tetapi seringkali merupakan hal sederhana, yang tidak terpikir sama sekali sebelum menikah. Salah satunya kehilangan waktu untuk sendiri.

Mungkin sebelum menikah para istri dengan jiwa yang lembut dan penuh pengorbanan, siap mendedikasikan seluruh waktu kita pada suami dan anak-anak. Terbayang kita memasak dengan penuh cinta dan suka cita. Duduk bersama minum teh, seperti di iklan-iklan teh itu. Ngobrol santai, sambil dikelilingi anak-anak yang sedang bermain.

Sebelum menikah, mungkin tidak terpikir akan bantuan suami untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Istri siap menjadi superwoman. Tetapi setelah menikah? Bisa sangat berbeda ceritanya. Mungkin istri menjadi amat sangat rindu pada waktu untuk sendiri, bahkan beberapa berujung pada rasa tidak bahagia, karena merasa kehilangan kehidupannya. Mungkin istri penuh harap dibantu oleh suami, hingga menimbulkan kegelisahan tersendiri ketika bantuan itu tak kunjung datang. "Mana cintanya, saya repot...dia tidur?" bisik sang istri dalam benaknya.

Begitupun suami, tidak pernah terpikir sebelum menikah, kalau menonton tv akan diiringi dengan kicauan merdu omelan istri untuk bergegas membantu istri. Begitupun dengan acara tidur, bisa bebas kapan saja, tanpa dering alarm suara istri yang nyaring, membangunkan untuk segera bermain dan menjaga anak-anak. "Cerewet banget sih...ngga tahu aku capek apa" pikir sang suami.

Manajemen waktu menjadi kunci bagi hadirnya kebahagiaan dalam berkeluarga. Sebelum menikah, jika manajemen waktu kita keliru, maka yang merugi hanyalah kita, plus sedikit orang yang berelasi dengan kita. Namun setelah menikah jika kita gagal menata waktu, maka dampaknya lumayan panjang, dan semakin lama semakin membuat kehidupan rumahtangga menjadi berat.

Keseimbangan peran adalah salah satu cara untuk menata waktu. Kita memang siap untuk mendedikasikan hidup kita pada keluarga. Namun secara alami, saya sendiri misalnya, tetap merasa memerlukan watu untuk sendiri. Hening tanpa interaksi. Aneh tapi nyata, itu memang demikian. Karenanya perlu ada waktu yang diset untuk diri sendiri, walau itu mungkin mengambil jam malam kita. Saya sendiri Me Time di malam hari, saat semua sudah tertidur. Saya bebas berada di depan laptop, atau buku. Siang? Tidak ada Me Time. Seluruh waktu pagi, siang hingga jelang malam adalah Your Time!

Your Time, waktuku adalah waktu untuk kalian. Ya, sepanjang, pagi, siang hingga jelang malam, saya mengurangi harapan untuk ada waktu untuk sendiri. Kalaupun ada, itu bonus! Karena kalau berharap, sering tidak terjadi, malah membuat lelah.

Your Time! Minimalkan laptop, minimalkan gadget. Kecuali hanya hal-hal yang ringan misal jawab sms, telp, chat yang tidak terlalu menyita perhatian. Kecuali anak sedang asyik main dengan temannya di luar rumah, atau semuanya sedang terlelap tidur. . Dulu saya tidak begitu. Entah kenapa saya sekarang merasa perlu menata hal ini. Mungkin karena merasa perlu saja. Eh? Alasan yang ngga jelas hehe.

Setelah diberi kesempatan untuk Me Time oleh suami, jangan lupa berikan juga kesempatan bagi suami untuk Me Time. It's your time! Bisikkan hal itu saat melihat suami leyeh-leyeh nonton tv, menatap laptop, tidur atau melakukan hobinya.

"Wah suami kan dah kerja, dah banyak Me Time nya donk!" Yea, jangan salah! Me Time bukan sekedar beraktivitas sendiri tanpa interaksi keluarga. Me Time adalah waktu berasyik-asyik sendiri dengan kebebasan memilih aktivitas yang dilakukan tanpa gangguan (definisi karangan saya:). Sementara bekerja adalah waktu yang didedikasikan suami untuk anak dan istri. Bekerja mencari nafkah itu amanah yang berat. Ada "beban" tanggungjawab yang harus dipikul. Belum stress macet di jalanan. Belum permasalahan dengan rekan kerja. Belum target pekerjaan yang harus dikejar. So, sekali-sekali istri memberikan waktu untuk suami leyeh-leyeh, tidur, atau aktivitas santai tanpa diganggu gugat, hingga waktunya tiba untuk Our Time!

Our Time! Di sini semua berkumpul, Ayahibu dan anak-anak. No laptop, no gadget, kalau perlu no tv, kecuali memang mau main games atau nonton bareng. Our Time tidak harus lama, juga tidak harus mahal ataupun rumit. Cukup berkebun bersama, masak bersama, bercengkrama, bercanda, gulat-gulatan, saling cerita, membaca buku sama-sama. tebak-tebakan lucu. Hal-hal ringan dan lucu yang bisa dilakukan bersama.

Keseimbangan Me Time, Your Time, Our Time bisa tercipta dengan adanya kematangan. Kadang sikap egois yang membuat keseimbangan itu tidak hadir. Suami yang membatasi istri hingga tidak berkesempatan untuk Me Time, demikian pula sebaliknya, istri yang menuntut suami saat di rumah terus menerus bersamanya atau anak-anak. Keseimbangan juga sulit hadir ketika tidak ada komunikasi antara pasangan, tentang hal yang dirasakan berkaitan degan waktu tersebut, plus kapan waktu yang tepat untuk me time, your time dan our time.

Setiap keluarga adalah unik. Tidak selalu apa yang saya lakukan akan bisa dilakukan di keluarga yang lain. Begitulah cara saya menata waktu untuk saat ini. Mungkin besok bisa berubah lagi. Bagaimana dengan teman-teman? Bagaimana cara kalian menata waktu? Berbagi cerita yuk di sini....

Comment (1)

Hoo... ternyata selalu ada waktu me time untuk diri sendiri, bahkan setelah menikah pun...
^^ terima kasih terima kasih, konsep sederhana yang sgt mencerahkan. Kebetulan saya memang belum menikah. Jadi... begini toh rasanya setelah menikah itu...