"Kamu kalau dikasih tahu, bantah terus!" konon kata-kata ini cukup umum diterima oleh para istri. Pertengkaran kerap disertai kemarahan suami, karena istri membantah pendapatnya. Sisi lain, istri berpikir keras, bingung, kenapa argumennya dikategorikan membantah. Bukankah berpendapat itu adalah sah-sah saja bagi istri?
Sebelum menikah terus terang saya membayangkan bahwa sungguh mudah mendapatkan pahala. Hanya dengan mencuci, mengepel, mengurus anak dapat pahala. Berduaan dengan suami dapat pahala juga. Asik banget! Heuheu...maka siapa yang tidak mau menikah?
Nyatanya? Ow betapa sepanjang hari adalah keluhan dan rasa malas. Aktivitas yang semestinya menjadi ladang pahala itu terasa beraaat. Memasak jadi aktivitas langka, apalagi pekerjaan rumah tangga lainnya. Mengasuh anak hanya menjadi sumber kepenatan baru. Perilaku anak yang sulit di atasi, menimbulkan permasalahan yang membingungkan.
Hal lain yang lazim sulit dipraktekan adalah TAAT! Yap, saya merasakan sendiri. Perlu waktu untuk sampai titik berlapang dada untuk taat. Sampai sekarangpun umpan balik bahwa saya kadang-kadang menunjukkan ketidaktaatan masih saya terima. Artinya proses belajar taat masih berjalan hingga kini.
Entah apa yang menyebabkannya. Karena merasa pintar? Mungkin. Dididik menjadi wanita smart yang pandai beragumentasi? Mungkin. Ya semua serba mungkin. Yang pasti untuk taat itu perlu mengalahkan satu hal: EGO.
Awalnya saya mengikuti rasa pintar, apalagi merasa pintar bicara. Saya diskusi dengan suami, hingga mencapai hal yang saya harapkan. Beberapa kali seperti itu. Hingga akhirnya kesadaran itu hadir, setelah saya evaluasi rasanya tidak pernah hal yang saya negosiasikan dan kemudian diiyakan oleh suami (dikarenakan suami bermaksud memuliakan) bisa berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya katakanlah: gagal!
Ya jarang sekali berhasil kalau tidak dikatakan nyaris semuanya gagal. Duh!
Setelah menghayati hal tersebut. Kini saya dengan penuh kesadaran, lebih cenderung ingin mengikuti pendapat suami. Kenapa saya masih menulis "lebih cenderung ingin" bukan "selalu", karena ya itu saya masih suka lupa. Masih berusaha keras untuk selalu taat, katakan demikian.
Ternyata taat yang saya perkirakan hal yang mudah itu, berat untuk dipraktekan. Pantaslah kalau pahalanya besar.
Saya pikir-pikir pendapat suami itu, lebih sering berhasil, mungkin karena kemudahan dan berkah yang dianugrahkan.
Karenanya jika teman-teman mengalami hal yang sama: masih penuh perjuangan untuk taat. Yuk taat yuk! Insyaa Allah lebih berkah
Sebelum menikah terus terang saya membayangkan bahwa sungguh mudah mendapatkan pahala. Hanya dengan mencuci, mengepel, mengurus anak dapat pahala. Berduaan dengan suami dapat pahala juga. Asik banget! Heuheu...maka siapa yang tidak mau menikah?
Nyatanya? Ow betapa sepanjang hari adalah keluhan dan rasa malas. Aktivitas yang semestinya menjadi ladang pahala itu terasa beraaat. Memasak jadi aktivitas langka, apalagi pekerjaan rumah tangga lainnya. Mengasuh anak hanya menjadi sumber kepenatan baru. Perilaku anak yang sulit di atasi, menimbulkan permasalahan yang membingungkan.
Hal lain yang lazim sulit dipraktekan adalah TAAT! Yap, saya merasakan sendiri. Perlu waktu untuk sampai titik berlapang dada untuk taat. Sampai sekarangpun umpan balik bahwa saya kadang-kadang menunjukkan ketidaktaatan masih saya terima. Artinya proses belajar taat masih berjalan hingga kini.
Entah apa yang menyebabkannya. Karena merasa pintar? Mungkin. Dididik menjadi wanita smart yang pandai beragumentasi? Mungkin. Ya semua serba mungkin. Yang pasti untuk taat itu perlu mengalahkan satu hal: EGO.
Awalnya saya mengikuti rasa pintar, apalagi merasa pintar bicara. Saya diskusi dengan suami, hingga mencapai hal yang saya harapkan. Beberapa kali seperti itu. Hingga akhirnya kesadaran itu hadir, setelah saya evaluasi rasanya tidak pernah hal yang saya negosiasikan dan kemudian diiyakan oleh suami (dikarenakan suami bermaksud memuliakan) bisa berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya katakanlah: gagal!
Ya jarang sekali berhasil kalau tidak dikatakan nyaris semuanya gagal. Duh!
Setelah menghayati hal tersebut. Kini saya dengan penuh kesadaran, lebih cenderung ingin mengikuti pendapat suami. Kenapa saya masih menulis "lebih cenderung ingin" bukan "selalu", karena ya itu saya masih suka lupa. Masih berusaha keras untuk selalu taat, katakan demikian.
Ternyata taat yang saya perkirakan hal yang mudah itu, berat untuk dipraktekan. Pantaslah kalau pahalanya besar.
Saya pikir-pikir pendapat suami itu, lebih sering berhasil, mungkin karena kemudahan dan berkah yang dianugrahkan.
Karenanya jika teman-teman mengalami hal yang sama: masih penuh perjuangan untuk taat. Yuk taat yuk! Insyaa Allah lebih berkah




Alhamdulillah...mampir juga!
Mampir ya Bu, ikut baca2. Tulisannya bagus2 ! Banyak pengalaman, pelajaran, konsep yang bisa ditarik ^^.
Oh ya saya bisa mampir ke sini karena... hehe... diblok oleh seorang kawan ga boleh baca tulisannya. Mungkin karena belum izin kali yah. Minta izin tuk membaca Bu... dan salam kenal.