Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Label:

Bibirku tergigit, sambil terucap Innalillahi wa inna illaihi raji'un, mendengar berpisahnya pasangan suami istri yang sepertinya sudah melewati tahun keduapuluh pernikahan. Bagaimana bisa? Kenapa Bisa? Pertanyaan yang tak akan kuperoleh jawabannya.

Mengapa perpisahan yang dipilih? Tidak adakah cara untuk merajut cinta kembali? Pertanyaan yang lagi-lagi tidak terjawab.
Read more...

Label:

Konon angka perceraian di Indonesia meningkat luar biasa. Entahlah apa yang menyebabkannya. Apakah karena wanita saat ini lebih mandiri, sehingga kapan saja ia merasa perlu melepas pasangannya, ia dapat segera melakukannya? Ataukah kemampuan para suami untuk berkomunikasi dengan baik pada pasangan semakin berkurang? Atau begitu banyaknya godaan di luar sana, karena pergaulan yang semakin permisif antara pria dan wanita? Atau keliru memilih?Karena begitu banyak pasangan yang bercerai dengan alasan: tidak cocok.

Mungkin masih banyak penyebab lain, tapi saya sedang tertarik pada alasan yang terakhir saya sebutkan. Tidak cocok. Menarik! Kenapa saya tertarik? Karena terus terang saya penasaran, bagaimana ketidakcocokan itu muncul? Apakah sejak pertama kali mengenalnya, di awal pernikahan atau di tengah jalan pernikahan?

Jika mengenal ketidakcocokan di awal, kenapa menikah? Hmmm....bisa jadi karena ketika sebelum menikah ketidakcocokan itu tidak disadari.....artinya keliru mengenal pasangan!

Ya, begitu banyak pasangan yang tidak menyadari bahwa antara dia dan pasangan mengalami ketidakcocokan yang sangat prinsip, bisa jadi karena ketika masa perkenalan, memang tidak dibicarakan hal-hal yang penting untuk dibicarakan, lebih banyak ngaler ngidul nggak karuan, atau lebih banyak membicarakan hal-hal romantis, daripada hal yang prinsip.

Lantas, bagaimanakah cara kita mengenal pasangan sebelum memutuskan untuk menikahinya?


Pertama, adalah kenalilah diri kita. Siapa kita? Apa yang kita inginkan? Apa yang membuat kita bahagia? Tahukah kita akan hal tersebut? Banyak pasangan yang menikah hanya karena cinta sesaat, bahagia karena rayuan cinta, lalu diterimalah pinangannya. Masalahnya apakah benar, setelah menikah, kita akan tetap bahagia hanya dengan rayuan cinta?

Kebahagiaan sedikit banyak tercipta dari terpenuhinya kebutuhan kita. Menurut Maslow, kebutuhan ada 5 tingkatan.

1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, hadiah, dan lain-lain

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuai dengan bakat dan minatnya


Dimanakah kita berada? Apakah pasangan kita dapat memenuhi kebutuhan tersebut?

Jadi teringat pada masa-masa ta'aruf. Ketika itu saya menyadari bahwa rasa aman dan cinta adalah kebutuhan bagi saya. Saya tidak bisa hidup dengan pasangan yang terus menerus "meneror" saya dengan kemarahan. Saya mendambakan pasangan yang lembut dalam bertutur, dan sabar dalam mendidik. Saya tidak mau hidup dengan pasangan yang kasar dan mengancam saya. Maka saya mencari informasi tentang ini, sebelum saya memutuskan untuk menikah.

Hal lain, bagi saya beraktualisasi diri, juga adalah kebutuhan. Hanya dengan pemahaman bahwa seorang istri itu sebaik-baiknya berada di rumah, maka saya sudah membuat formula bagaimana saya bisa beraktualisasi diri dari rumah. Rumah adalah pusat aktivitas saya. Namun tentunya hal ini tetap memerlukan dukungan dari pasangan. Maka saya mengecek bagaimana kesiapan pasangan untuk mendukung niatan tersebut.

Kenali dan kenali terus kebutuhan kita. Kadang suatu pernikahan tidak mencapai kebahagiaan karena ketidaksesuaian antara kebutuhan dengan pemenuhan kebutuhan. Istri senang dicurhati, suami tidak pernah curhat. Istri senang bercanda, suami serius sekali.

Semakin banyak kita mengenali kebutuhan-kebutuhan tersebut, tentu semakin banyak yang akan kita cek, kita tanyakan pada sabahat dan keluarganya, tentu dengan cara-cara yang cerdas, supaya calon pasangan kita tidak kabur:P

Kedua, bagaimana pengalaman dan pemahaman agamanya? Saat ini banyak sekali pemahaman-pemahanan yang nyeleneh dan aneh. Tentu kita akan sulit berdampingan dengan pasangan yang pemahamannya berbeda dengan kita. Karena agama adalah hal yang prinsip, yang akan mewarnai segala hal, baik ibadah maupun dalam keseharian. Mengetahui ustadz siapa yang sering menjadi tempat calon pasangan mencari ilmu, buku apa yang sering dijadikan rujukan oleh calon pasangan, dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana pemahamannya. Diskusi hal yang prinsip dari mulai pemahaman akidah, cara sholat sampai isu-isu kontemporer, juga baik untuk dilakukan.

Ketiga, bagaimana keluarganya? Kepribadian seseorang, sebagian besar terbentuk di masa kecilnya. Masa kecil berarti tercermin dari seperti apakah keluarganya? Apakah keluarga yang over convident sehingga tercipta calon pasangan yang dominan? Apakah keluarga yang permisif sehingga tercipta calon pasangan yang lebih mencari hak daripada menjalankan tanggungjawab? Apakah keluarga yang otoriter sehingga tercipta calon pasangan yang kurang inisiatif dan miskin kemampuan berkomunikasi? Walau tidak menutup mata bahwa di tengah perjalanan kehidupan, seseorang bisa berubah, karena adanya hidayah. Tapi melihat bagaimanakah pola asuh yang secara umum terjadi dalam keluarga tersebut, akan memberikan pemahaman kepada kita, seperti apakah sosok pasangan kita tersebut.

Keempat, seperti apakah sifat-sifat kita? Seperti apakah sifat pasangan kita? Apakah bisa hidup bersama?

Kelima, seperti apakah visi dan misi hidup calon pasangan ke depan? Apakah visi dan misi tersebut kita sukai? Apakah kelak kita akan dapat mendukungnya? Apakah sesuai dengan visi dan misi hidup kita?

Phew...banyak sekali ya...yang perlu dikenali, apa nggak BT tuh calon pasangan kita. Hehe, teringat pada berlembar-lembar surat perkenalan saya kepada calon suami, plus rentetan pertanyaan yang saya berikan pada calon suami. Alhamdulillah waktu itu ia mau menjawabnya, dengan baik.

Kami tidak pacaran, kami hanya ta'aruf selama tujuh hari. Tujuh hari yang melelahkan karena harus membicarakan hal-hal yang berat. Setiap harinya mengalami H2C (harap-harap cemas) yang amat sangat. Alhamdulillah tujuh hari yang melelahkan itu, terus membawa manfaat positif hingga kini.

---

Apakah pasangan akan menikah hanya jika dia cocok 100%? Bisa ya, bisa tidak, tergantung Anda? Yang saya alami adalah menilai apakah ketidak cocokan itu masih bisa saya hadapi atau tidak? Karena tentu sulit menemukan yang 100% sesuai dengan keinginan hati.

Semoga tulisan ini menambah semangat bagi Anda yang sedang mengenali pasangannya. Bukan menambah kebingungan yang sedang Anda rasakan:)

Label:

Sebelum saya memutuskan menikah di tahun 2001, jauh-jauh hari sebelumnya, kira-kira ketika saya SMA, saya sudah memikirkan suami seperti apa yang saya harapkan. Maklumlah, masa pubertas mulai menghampiri.

Kala itu, tidak hanya masalah sifat pasangan yang saya perhatikan, tetapi juga masalah keluarga calon pasangan saya, mertua dan kakak ipar. Terlalu serius mungkin untuk ukuran remaja saat itu. Tapi yah itulah saya:P

Entahlah apa yang membuat saya memikirkan hal tersebut. Mungkin karena terlalu sering mendengar cerita sulitnya para istri beradaptasi dengan keluarga suaminya. Membuat saya ngeper duluan. Secara saya dah mengukur kemampuan diri baik lahir maupun batin. Saya bukanlah tipikal yang tangguh menghadapi konflik.

Sekedar mengenang pola pikir saya jaman dahulu. Saya teringat kala itu saya berpikir akan memilih pasangan yang bukan" anak mami". Saya ingin pasangan hidup yang dekat dengan ibunya lahir dan batin, tapi mandiri dan tangguh. Membayangkan pasangan yang sedikit-sedikit merengek pada ibu....atau sedikit-sedikit membandingkan istrinya dengan ibunya....huaaa...tidak...tidak....itu bukan tipe yang saya idam-idamkan.

Saya juga tidak ingin mertua yang terlalu dominan, baik memanjakan maupun mengatur anaknya. Saya ingin pasangan yang memiliki figur ibu tapi bukan figur yang dominan.

Selain itu ada harapan yang saya simpan di lubuk hati terdalam, jika memungkinkan di awal pernikahan, posisi saya tinggal tidak terlalu berdekatan dengan mertua. Bukan apa-apa, lagi-lagi saya mengukur kelemahan saya dalam menangani konflik. Plus tipikal saya yang sangat takut pada figur otoritas. Berada di dekat figur otoritas bisa membuat prestasi saya anjlok....kkk...

Nah yang jadi masalah adalah bagaimana saya bisa mensortir calon dengan syarat demikian. Padahal saya tidak pacaran. Huff ngimpi kali ye....

Ah jujur...merasa bahwa saya gadis yang biasa-biasa saja...bukan kembang desa...saya lebih banyak bersikap pasrah daripada berusaha dengan keras untuk mensortir....heu...heu...

Tapi Alhamdulillah saya pernah berani untuk membuat keputusan, walau dengan takut-takut (takut nggak ada yang minat lagi...fiuh), karena menangkap gejala yang tidak enak berkaitan dengan hal ini.

Akhirnya saat itu datanglah....sebuah perkenalan dengan seorang pria yang membuat saya jatuh hati di pandangan pertama...huahaha...entahlah dengan dia...

Semua hal saya cocok dengannya, tinggal saya berdo'a dengan kuat bahwa keluarganya sesuai dengan yang saya harapkan.

Tidak banyak usaha yang bisa saya lakukan. Karena proses perkenalan yang kami pilih, tidak mudah bagi saya untuk mengenal keluarganya secara langsung. Keluarganya berada diluar propinsi, dan kami sudah membuat keputusan di hari ketujuh perkenalan kami, akan melanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak. Lalu bagaimana saya bisa yakin jika ia dan keluarganya bisa sesuai dengan harapan saya?

Terus terang kala itu saya banyak menggunakan do'a, asumsi, dan feeling. Mandiri dan tangguh, saya asumsikan ia demikian berdasarkan status anak kostnya. Karena calon suami kala itu berstatus anak kost dari sejak SMA sampai ia kuliah. Saya mengasumsikan dia adalah sosok yang mandiri dan bukan anak yang manja. Padahal mah belum tentu ya....ah dasar saya maksa aja kali biar cocok...hah...

Asumsi lain saya dapat dari cara dia memposisikan keluarga saat membuat keputusan untuk menikahi saya. Dia berani memutuskan sebelum keluarganya bertemu dengan saya. Entahlah kenapa kala itu saya bisa menjadikan ini sebagai keyakinan bahwa dia sosok yang tidak terlalu dependent pada keluarganya.

Langkah lain adalah dengan bertanya pada sahabatnya, yang pernah berkunjung ke keluarganya. Sahabatnya memberikan gambaran tentang kehangatan keluarga calon suami.

Alhamdulillah, proses yang lebih banyak dipengaruhi do'a, asumsi dan feeling itu, membuahkan hasil yang luar biasa.

Saat ini saya bisa menjalani kehidupan keluarga yang harmonis, tanpa pernah mengalami adanya campur tangan keluarga suami sedikit pun. Bahkan di saat-saat sulit yang kami alami, yang ada adalah pertolongan dan dukungan. Padahal dari urutan lahir, suami adalah anak bungsu dan laki-laki satu-satunya dalam keluarga, yang kalo menggunakan prediksi, kemungkinan ia adalah sosok yang dimanjakan kedua orangtuanya.

Di sisi lain, saya adalah sosok menantu yang serba tidak bisa. Apalagi jika dibandingkan dengan skill kedua ipar saya....jauuuuh.....tapi subhanallah mereka hanya tersenyum melihat saya berbuat kesalahan ini dan itu. Malah saya yang sering ketakutan sendiri...takut kalau mereka menyesal punya menantu dan adik ipar seperti saya...hikz...

Berdasarkan pengalaman ini, saya sudah membayangkan, jika saya dikarunia umur yang panjang, hingga bisa mendampingi anak-anak sampai kelak mereka menikah nanti. Saya ingin mempersiapkan anak-anak saya, agar kelak mereka bisa menjadi sosok yang mandiri dan tangguh, tanpa terbayang-bayangi oleh sosok saya sebagi ibu mereka. Secara kedua anak saya adalah lelaki, dan saya tidak suka lelaki yang terlalu berlebihan mengidolakan ibunya, hingga sering membanding-bandingkan istrinya dengan ibunya, atau mencari calon istri yang seperti ibunya...oh...tidak...tidak....jangan sampai.

Saya juga ingin meniru mertua saya, yang saya tahu pasti beliau selalu mengkhawatirkan kondisi anaknya. Apakah diurus dengan baik oleh istrinya atau tidak. Tapi sangat bisa mengendalikan perasaannya itu dan berpikir positif.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, maka usahanya ada pada penempaan kemandirian anak-anak saya, dan melatih kemampuan saya untuk berpikir positif. Melepas mereka sedikit-sedikit untuk menjadi sosok yang mandiri. Memberi kesempatan bagi mereka untuk membuat keputusan sendiri. Tidak menjadi sosok ibu yang dominan. Sekali-sekali menampakkan ketidaksempurnaan diri, sekedar untuk membuat mereka mengerti bahwa ibu mereka juga memiliki kelemahan.

Label:

Menyelaraskan minat kita dan pasangan dalam ruang yang namanya berkeluarga, bukanlah hal mudah. Demikian pula pada diri kami. Sudah 7 tahun menikah, tapi ketidaknyambungan minat dan hobi masih terjadi, dan mungkin akan terus terjadi ya..

Saya adalah kolektor buku, artinya senang ngmpul-ngumpulin buku, bacanya urusan belakangan lah..he... Namun suami nggak terlalu suka akan hobiku ini, konkretnya beliau tak pernah menawari saya untuk membeli bahan bacaan, dan kalau diriku meminta izin membeli, beliau lammmaa sekali untuk mengizinkan.

Akhir-akhir ini harga bukusemakin merangkak naik, dengan demikian semakin sulitlah diriku mengoleksi buku. Padahal lagi kepengen banget baca buku Asma Nadia, bu Ira, dan buku-buku lain yang menarik.

Kadang-kadang ngelamun,membayangkan beliau bisa berubah. Bermimpi, sepulang kantor dia memberikan kejutan berupa buku-buku. Ah....bener-bener deh...impian yang terlalu impian.

Sampai akhirnya ada kejadian lucu kemarin. Hari sabtu,kita ke margo city depok, dengan bujuk rayu akhirnya kita bisa masuk ke toko buku gunung agung. Ah sayang, buku yang ingin ku baca, tak ada sampelnya, semua masih disegel. Hik.

Kubilang pada misua "Yah, pengen banget baca buku Asma, tapi mahal banget ya" Ngarep-ngarep beliau berkata "Ya,nggak pa-pa beli aja" He....ngimpi, nyatanya beliau berkata singkat "Iya" Glek!

Esoknya kala aku mencuci piring, suami lagi duduk di meja makan, di dekatku.Ia berkata:
" Bu, nanti ke toko buku yang besar yuk"
"(Wow, duh ngimpi apa aku semalam, kataku dalam hati). Toko buku mana ya, yah? Gramedia Matraman?"
"Heh, bukan, di juanda."
"Juanda? Memang ada toko buku?" Ting Nong...o ow...sebentar.... sepertinya.....apa aku salah? "Eh toko pupuk ya?" aku tersadar akan kesalahan pendengaranku dan menebak-nebak apa yang seharusnya ku dengar.
"Iya toko pupuk yang itu lho, yang....bla...bla...bla..."
Gubrak dah ternyata aku salah dengar....saking berharapnya.........

Yah begitulah...aku sang kolektor buku...dan suami sang kolektor tanaman.....kapan kita bisa sama-sama menjadi kolektor buku dan tanaman??? Who Knows?