Seorang anak gelisah saat orangtuanya sedang mengikuti arisan keluarga. Ia terus menerus merengek minta pulang.

"Ayo Ayaaaah...pulang"
"Sebentar nak..."

Begitu berulang-ulang, sang anak merengek meminta pulang, dan sang Ayah membujuknya untuk bertahan.

Kami yang mendengar percakapan itu tentu bertanya, ada apa gerangan? Ternyata sang anak teringat pada Playstation miliknya, dan ingin memainkannya.

Berapa usia anak tersebut? Kurang lebih baru berusia 4 tahun!

Bagi saya di usia 4 tahun, usia pra sekolah, seorang anak merengek meminta pulang dari acara sosialisasi untuk permainan yang sifatnya individual, sungguh mengusik perasaan.

Bermain bagi anak adalah senjata utama untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya secara seimbang dan optimal, baik aspek perkembangan motorik, bahasa, kognitif, sosial dan emosi. Tapi permainan seperti apa?

Beberapa permainan individual, jika itu sangat dominan dilakukan justru akan mengurangi kesempatan motorik, bahasa, sosial dan emosinya berkembang. Contohnya adalah play station tadi.

Apa yang dilakukan oleh anak saat bermain playstation? Apakah ia berlari, memanjat, melompat? Apakah ia berkomunikasi dengan teman sebayanya? Apakah ia belajar untuk berbagi? Belajar menguasai emosi saat teman merebut mainannya? Sayangnya, tidak demikian! Ia hanya duduk dan berpikir, plus sedikit menggunakan otot tangannya.

Anak memang tampak cerdas. Ini yang terkadang menjadi sasaran orangtua. Anak seakan "canggih", melek teknologi dan cerdas. Tapi melihat betapa begitu banyak aspek perkembangan yang kehilangan untuk kesempatan untuk berkembang, bagi saya kecerdasan itu menjadi tidak bermakna.

Hal lain yang patut diwaspadai orangtua adalah masalah ketergantungan. Konon segala hal yang menyenangkan akan mengkondisikan otak untuk memproduksi suatu zat, yang mengakibatkan kecanduan. Kecanduan...ketergantungan
...seperti kitalah yang kecanduan fesbuk:)). Begitu kira-kira yang dirasakan anak yang sudah berkenalan dengan play station. Jika orangtua tidak cukup cerdas memberikan aturan atau batasan waktu bermain, maka anak akan teringat terus pada permainan tersebut, dan meminta untuk bermain dan bermain lagi.

Bagi saya pribadi, satu menit bagi anak adalah sangat berharga. Jika ada pilihan 1 menit itu digunakan untuk permainan yang menstimulasi seluruh aspek perkembangannya, dengan permainan yang hanya menstimulasi aspek kognitif, saya lebih memilih pilihan pertama.

Menjadi prinsip bagi saya memperkenalkan terlebih dahulu permainan yang sifatnya berkelompok, daripada permainan individual. Secerdas apapun permainan individual tersebut. Secanggih apapun permainan individual tersebut. Biarlah anak bermain bebas bersama teman-temannya terlebih dahulu, hingga kelak, jikakalau ia mengenal permainan individual pasif yang menyenangkan, minatnya tidak akan terlalu besar. Karena tubuhnya memintanya untuk lebih bergerak.


Masa kanak-kanak adalah masa singkat. Namun di masa inilah sesungguhnya masa emas untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya secara seimbang dan optimal. Bukan hanya kognitif, tetapi juga motorik, bahasa, sosial dan emosinya. Kapan lagi seseorang ingin balapan lari dengan teman-temannya, dengan penuh kesenangan, keceriaan, bukan karena kompetisi yang membebani? Kapan lagi seseorang tidak malu bermain petak jongkok, petak umpet, dan lain sebagainya. Masa kanak-kanak adalah masa emas untuk mengembangkan motoriknya. Motorik mempengaruhi banyak hal dalam perkembangan jiwa anak. Ia tumbuh menjadi sosok yang percaya diri, dan memudahkannya dalam beradaptasi di lingkungan sosial.

Di usia kanak-kanak inilah anak mulai belajar untuk berkomunikasi, untuk mendengar temannya dengan penuh keceriaan, tanpa manipulasi. Anak belajar jujur dalam bersikap. Karena teman-temannya yang masih kanak-kanak, sama-sama masih memiliki jiwa yang suci. Naluri mereka akan mengetahui siapa teman yang santun, pandai berkomunikasi dan enak diajak berteman. Anak menjadi belajar diterima dalam lingkungan sosial.

Masa emas yang jangan sampai terlewatkan karena buahnya ingin kita petik di masa depan. Sosok dewasa yang matang, bukan hanya usianya, tapi juga jiwanya. Bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga pintar secara sosial dan emosii.

Bulan Maret saya mengalami terlambat menstruasi. Karena kalau menurut siklus haid yang biasanya, saya semestinya mendapat menstruasi paling lambat 1 Maret, eh ternyata 1 maret nggak dapet juga. Mulai deh menghitung hari, plus H2C (harap-harap cemas). Iseng-iseng test pack, eh negatif, dan ternyata dihitungan ke 10, menstruasi itu datang berkunjung di tanggal 10 Maret.


Eh setelah H2C saya berlalu, giliran sahabat saya Ier...yang H2C. Menstruasinya nggak dateng-dateng, dan setelah di test pack...wah ternyata Ier hamil. Duh denger kabar itu, saya jadi kepengen banget hamil, hehe.

Bulan April, eh saya terlambat lagi. Berhitung lagi deh, plus tetep H2C. Iseng-iseng test pack, beli yang murmer aja, HCG test lima ribuan. Pulang dari sekolah, langsung deh ke kamar mandi, dan ngetest pake HCG test tadi. Deg....deg....ampe gemeteran. Selalu deh begitu tiap pakai test pack, dan hasilnya kali ini membuat saya takjub: dua garis. Tapi kalau dilihat, garisnya samar.

Malamnya niat ngetest lagi, pake merk sensitif, biar yakin valid. Ada keyakinan kalau nanti pagi, hasil test pasti positif deh. Siang positif apalagi pagi. Eh ternyata saya malah deg-degan, nggak bisa tidur. Asli nggak bisa tidur. Akhirnya saya nyerah, ngetest aja jam 2 pagi, dan ternyata oow....hasilnya negatif. Fiuh....kecewa pasti.

Besoknya, perasaan kok serba nggak enak, ada feeling kuat saya hamil. Beli lagi deh test pack, yang HCG test aja. Coba lagi, hasilnya dua garis lagi tapi samar. Waduh jadi bingung. Malamnya coba lagi, pake HCG test: dua garis lagi tapi samar. Wah tambah kuat niy perasaan kalau saya hamil.

Ngebrowse....chatting....buat tanya-tanya soal testpack. Di internet, dapet info kalo test pack murmer malah lebih sensitif dari yang mahal. Heu....tapi tetep ya susah juga yakin dengan test pack murah. Akhirnya dengan berjanji dalam hati, saya beli test pack sensitif lagi. Berjanji kalau ini test pack terakhir. Kalau negatif, ya udah negatif. Nggak usah feeling-feelingan. Malam itu berusaha dapat urine pagi. Yang susah memang masalah tidur, tapi berusaha banget. Hasilnya: dua garis tapi samar......

Whuaa tidak menjawab kepenasaran, cuman nambah harapan.Secara sebelumnya pake sensitif, asli negatif, sekarang rada-rada positif. Akhirnya saya turuti aja saran sahabat saya, Rena, untuk jaga-jaga aja, kali jadi katanya.

Tapi ternyata susah juga mengendalikan pikiran, terpikir terus, positif apa negatif....dan akhirnya atas motivasi sahabat saya lagi, saya memutuskan untuk ke dokter saja. Bismillah, pasrah sama hasilnya apa. Saya berniat, apapun hasilnya akan segera membuat saya produktif kembali.

Cari-cari dokter, akhirnya dapet dokter para tetangga. Perut terasa dingin dengan gel USG. Dokter berkata "ya sudah kelihatan". Heu, apanya yang kelihatan? Dokter lalu menuju kemejanya. Bertanya HPHT dan data lainnya. "Dok kantungnya dah kelihatan?" Dokter seperti menjawab seperti tidak, hehe, belakangan saya tahu nih dokter sifatnya pendiam:)

Tapi dari resepnya tentu saja meyakinkan saya kalau yang kelihatan dan ditunjukkan pada saya adalah kantung kehamilan. Alhamdulillah. Saatnya saya menunaikan janji untuk segera produktif, dengan kejelasan status ini. Banyak PR, dari mulai rumah, sekolah, dan toko, yang harus segera dikerjakan.

Sepulang dari dokter, anak-anak bertanya, apakah saya hamil atau tidak? Sesaat kemudian Hanif tersipu mendengar dia akan menjadi kakak:))

Hampir setiap bulan rasanya ada saja yang bisa dijadikan berita seru di media massa. Setelah kasus bank century yang sampai sekarang juga masih belum jelas. Sekarang ditambah lagi terungkapnya kasus markus (makelar kasus).

Saya sebenarnya tidak begitu mengikuti berita-berita tersebut. Apalagi diskusi-diskusi yang menyertainya. Cape rasanya mendengarnya, lebih baik saya mendengarkan ustadz di pengajian, narasumber di seminar/ workshop, atau apalah yang lebih produktif buat diri saya. Tapi ternyata saya tetap terpancing untuk membicarakan sedikit hal berkaitan dengan berita tersebut.


Hff, memikirkan sistem negara, sistem peradilan dan segala hal yang berkaitan dengannya terus terang tidak dalam kapasitas saya, yang hanya ibu rumah tangga. Saya hanya ingin mengkhayal, seandainya ada sekelompok tim ahli yang melakukan penelitian, tentang bagaimana pola asuh mereka di masa kecil, sehingga di usia semuda itu, sudah berani berbuat seperti itu. Walau hanya berupa wawancara, yang menggambarkan tentang pola asuh mereka. Mungkin tidak perlu fokus pada satu orang, agar tidak dituntut masalah pencemaran nama baik, yang sedang trend saat ini. Terbayang hasil penelitian tersebut bisa bermanfaat bagi ibu-ibu seperti saya.

Pola Asuh
Banyak pertanyaan melintas dalam pikiran saya tentang bagaimanakah pola asuh mereka? Karena perbuatan mereka di kala dewasa ini adalah cermin bagaimana perkembangan moral mereka ketika usia kanak-kanak. Konon menurut para ahli masa penting pembentukan moral ada di usia anak-anak,saat mereka belajar tentang sebab akibat. Hal ini berkaitan dengan pola asuh yang mereka alami.

Anak yang mengalami pola asuh demokratis, dimana perasaan dan pendapat mereka sering didengar, lebih mampu membangun pengendalian diri yang bersumber dari dalam diri mereka (internal). Hal ini dikarenakan aturan-aturan yang ditetapkan jelas, dan dibangun melalui komunikasi yang melibatkan perasaan dan pendapat mereka. Saat anak harus menjalankan konsekuensi akibat kesalahan yang dilakukan, juga disertai komunikasi, sehingga pola pikir (nalar) anak berkembang dengan sendirinya, dan kendali diri muncul dari dalam dirinya, bukan semata-mata diarahkan oleh pihak-pihak di luar mereka. Hati nurani yang berakar dari pemahaman anak terhadap sebab akibat tersebut, terbentuk kuat dalam diri mereka.

Anak yang mengalami pola asuh permisif, dimana tidak ada aturan yang berlaku dalam hidupnya. Semua keinginan, kehendak dan kesenangan anak dipenuhi. Hanya akan membentuk anak yang gagal membangun kendali diri. Anak tidak paham sebab dan akibat. Pada akhirnya anak gagal membentuk hati nurani, dan tidak memahami standar nilai yang ada di masyarakat.

Anak yang mengalami pola asuh otoriter, hanya menciptakan anak-anak yang takut hukuman. Mereka tidak berlaku salah, hanya untuk menghindari hukuman. Pola pikir seperti ini yang terbangun sampai mereka dewasa. Perilaku terbangun berdasarkan ada hukuman atau tidak. Bukan berdasarkan hati nurani, yang muncul dalam diri.


Pola Asuh seperti apa yang dialami para markus. Demokratis, Otoriter atau Permisif? Seandainya pertanyaan ini terjawab, tentu kita dapat bercermin,dan memperhatikan pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita maupun pada anak didik kita.

Ikatan Batin
Hal lain yang tidak dapat saya pahami dari para markus. Apakah mereka saat berprilaku tidak teringat pada Ayahibu mereka. Tidakkah terpikir perilaku mereka akan membuat malu keluarga?

Beberapa waktu yang lalu saat salah satu penjahat negeri ini tertangkap, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Mungkin senyuman itu untuk menutupi rasa malu yang ada dalam diri mereka. Beberapa hari kemudian, tampak seorang ibu mengunjunginya. Duuuh, saya ketika itu membayangkan bagaimana perasaan ibu tersebut. Melihat anaknya menjadi penjahat negeri. Padahal nama baik sudah ia lekatkan pada anaknya sejak lahir, dididik dalam keluarga yang lekat dengan nilai agama, sampai akhirnya anaknya menjadi politisi partai Islam. Apa yang salah?

Teringat pada keluarga, teringat pada Ayahibu. Minimal tidak mau merusak nama baik kedua orangtua kita, berasal dari ikatan batin yang terbentuk antara Anak dan Orangtua. Terbangun dari kelekatan antara Anak dan Orangtua. Hal ini terbentuk di usia dini. Gagal terbangun di usia ini, sulit di bangun di masa selanjutnya.

Ikatan batin terbentuk saat ibu menyusui anaknya. Saat Ayahibu bermain bersama anaknya. Saat Ayahibu bercanda dengan anaknya. Hal yang mungkin kini sedikit demi sedikit sudah mulai pudar, karena kesibukan Ayahibu mencari nafkah.

Bagaimanakah masa-masa pembentukan ikatan batin para markus dengan orangtuanya? Jika ini terjawab mungkin kita bisa bercermin, seperti apakah interaksi kita sekarang dengan anak-anak kita. Cukupkah interaksi kita dengan mereka? Berkualitaskah? Apakah ikatan batin kita dengan anak terbangun cukup kuat?


Pola Pikir Instant vs Pribadi yang Tangguh

Mengapa para Markus menambah hartanya melalui jalan pintas? Tidak mencari cara lain, seperti membangun bisnis misalnya. Rasa ingin cepat memenuhi keinginannya dengan cara yang cepat menghasilkan, berawal dari pola asuh di masa kecil.

Anak belajar tentang sebab akibat sejak dini. Ada orangtua yang mengajarkan anak untuk berusaha sebelum mencapai keinginannya. Ada orangtua yang langsung memberikan apa yang anak minta tanpa usaha sedikitpun.

Saya mengenal seorang ibu yang tidak memiliki daya. Setiap kali anaknya mengamuk meminta mainan, langsung ia berikan. Mainan adalah keinginan, dan keinginan ini dipenuhi dengan cara cepat, menangis.

Di sisi lain, ada seorang ibu yang menciptakan proses sebelum anak mencapai keinginannya. Saat anak menginginkan mainan, maka ibu mengajak anak menabung, atau mengajak anak membangun perilaku positif, dan mainan ini dijadikan sebagai reward (hadiah).

Sebuah proses perlu dikenalkan pada anak sejak dini. Kerap kali kita, orangtua hanya fokus pada hasil akhir. Ulangan yang kita lihat hanya hasil akhir, bukan proses. Hasil belajar yang kita lihat hanya nilai bukan proses.

Hal ini dapat kita lihat dari fenomena orangtua yang ingin anak-anaknya bernilai lebih baik dari nilai baik yang sudah diperoleh anak, dari les tambahan. Nilai 10 hasil les, tidak masalah. Nilai 8, hasil belajar mandiri, seakan tidak ada artinya.

Saya mengenal seorang ibu yang anaknya memiliki peringkat lima besar. Ibu ini merasa hasil tersebut masih kurang. Kemudian mencari guru privat bagi anaknya. Hasilnya anak memiliki peringkat satu. Sebenarnya manakah yang lebih membanggakan? Peringkat lima besar atas hasil belajar sendiri, atau peringkat satu karena belajar didampingi?

Bagaimana mencapai hasil yang diinginkan, atas hasil kerja keras diri seorang anak, perlu dibangun sejak dini. Agar anak-anak kelak lebih tangguh menghadapi hidup. Tidak bergantung pada orang lain.

Saya juga pernah melihat seorang teman yang kebetulan seorang guru. Teman saya ini merasa gemas karena anak didiknya bernilai 9,8. Kenapa gemas, padahal nilainya baik? Teman saya ini gemas karena anak didiknya tidak mencapai nilai 10. Hanya salah satu soal. Seandainya anak ini lebih teliti, katanya, sayang sekali ia salah satu. Saya termangu, melihat teman saya tersebut. Membayangkan ia fokus pada satu soal yang salah, dan lupa pada 29 soal yang benar. Belum lagi dengan hilangnya apresiasi terhadap proses belajar yang anak ini lakukan sebelum ulangan.

Mengapresiasi hasil kerja, berdasarkan proses yang dilakukan, lebih baik daripada hanya mengapresiasi hasil semata.

Bagaimanakah pola pikir yang dimiliki para markus? Apakah pola pikir instant? Apakah hanya berorientasi pada hasil yang menyenangkan, atau berorientasi pada proses yang dilakukan?

Jika ini terjawab, kembali dapat saya jadikan cermin. Bagaimana kita saat ini, apakah lebih banyak berorientasi pada hasil, atau pada proses?

Seandainya penelitian itu ada, saya kira lebih bermanfaat daripada hanya berdiskusi soal sistem negara. Paling tidak berguna bagi saya yang hanya seorang ibu. Yang ingin melakukan perubahan dari dalam diri dan keluarga.

Begitu banyak seminar membahas perlu dibangunnya karakter generasi bangsa ini. Tapi berhenti pada urgensi. Lantas bagaimanakah caranya? Tak banyak yang bisa menjawabnya. Seandainya penelitian itu ada, jawaban itu mungkin ada.

Label:

"Aku saja yang nyapu,bu"
"Aku saja yang ngepel, mba"
"Aku saja yang nyuci, bu"
"Aku saja yang nyiram bunga"
"Aku mau bersihkan kamar mandi"
"Aku saja!!!"

Begitulah Hanif sekarang, di usianya yang hampir lima tahun. Penuh inisiatif, tidak menunggu komando. Pagi tadi, dia memiliki rencana, ia ingin memakai kembali baju sepakbolanya nanti sore. Ia berpikir jika bajunya dicuci mba, dia baru bisa pakai lagi esok harinya. Karena mba, sudah selesai mencuci, dan baru akan mencuci lagi besok. Sehingga dia segera berinisiatif untuk mencuci bajunya sendiri. Diambilnya baskom kecil dan diisi air. Saya bantu ia mengambil sabun detergent. Acara mencuci baju pun dimulai, hingga selesai, dan dijemur. Siang harinya, cuaca mendung, saya masih "malas" untuk mengambil pakaian yang masih dijemur. Tak diduga, pakaian itu datang sendiri. Hoho, ternyata Hanif, yang imut-imut, sedang bersusah payah membawa pakaian-pakaian yang ia ambil dari jemuran.

Mengingat betapa pentingnya sikap penuh inisiatif pada kualitas hidupnya kelak. Maka saya lebih banyak mengikuti aktivitas pilihannya. Walau menyapu itu artinya masih banyak sampah yang tertinggal. Mengepel sama dengan lantai becek. Mencuci baju sama dengan main air, dan kurang bersih. Menyiram bunga sama dengan mandi lagi. Membersihkan kamar mandi membuatnya lebih lama di kamar mandi. Bagi saya tidak mengapa hasilnya demikian.

Saya sudah bertemu dengan anak-anak yang sangat takut salah, tidak berani menjawab persoalan yang diberikan. Tidak perlu jauh-jauh, di masa kecil, sayalah anak itu, tidak berani mengambil inisiatif karena takut melakukan kesalahan. Karena saya merasakan sekali bagaimana tidak nyamannya masa-masa kurang inisiatif dan takut salah, maka saya ingin berusaha agar sifat-sifat tersebut tidak melekat pada anak saya. Soal berhasil atau tidak, usaha tersebut, yang penting berusaha dululah....

Mengacu pada tahap perkembangan menurut Ericson, usia 4-5 tahun, adalah masa Initiative vs Guilt. Pada masa ini, anak senang berinisiatif menunjukkan kemampuan yang ia miliki. Namun tentu saja, ia masih melakukan kesalahan-kesalahan. Bagaimana sikap kita, orang dewasa terhadap kesalahan-kesalahan tersebut, yang akan menentukan apakah anak tetap berani berinisiatif atau menunda sikap inisiatif tersebut, karena takut melakukan kesalahan.

Teringat cerita seorang ibu, yang tidak bisa membiarkan anaknya mandi sendiri. Khawatir kurang bersih, katanya. Padahal anaknya, Dani yang berusia lima tahun, sudah meminta mandi sendiri. Lalu saya bertanya pada ibu Dani "Kalau air dan sabunnya, apakah sudah sampai ke seluruh badan?" Sang ibupun mengangguk, "ya sampai sih, seluruh badannya sudah kena sabun dan air, bersih sih, hanya saja kan masih licin" Owh, saya kembali bertanya karena penasaran,"Kalaupun Dani, mandinya kurang bersih, misalnya sekali-sekali, apakah Doni akan langsung jatuh sakit, bu? " Sang ibu pun menggelengkan kepala. Kekhawatiran yang berlebihan, keinginan untuk sempurna, atas dasar cinta dan sayang, menghambat anak untuk memiliki inisiaitf.

Cerita tentang Dani ini sebenarnya sedikit banyak mirip dengan pola asuh saya terhadap Akmal. Penuh kekhawatiran, kurang melepas Akmal beraktivitas sesuai pilihannya. Akhirnya, relatif Akmal kurang inisiatif. Namun, semoga tidak ada kata terlambat, saya dan gurunya sedang berusaha menumbuhkan sikap tersebut. Tampak sudah mulai ada bibit-bibitnya, semoga segera tumbuh dan berbuah:)

Sudah mampu, ingin melakukan sendiri, tapi tidak diberi kesempatan, akhirnya anak menjadi anak yang kurang inisiatif. Apakah pribadi yang kurang inisiatif, adalah harapan kita sebagai orangtua? Jawabannya, saya yakin adalah "TIDAK!"

Maka mari kita bantu mewujudkan sikap memiliki inisiatif yang sudah terbangun pada diri anak. Caranya?

Mulailah mengurangi "arahan" yang tidak perlu. Daripada mengatakan "Ayo Mandi!", lebih baik bertanya "Nak kamu rencananya mau mandi kapan?" Bagi anak yang belum paham jam, bisa dengan menggunakan tanda-tanda dari lingkungan, seperti saya mandi kalau abang bubur ayam lewat.

Biarkan anak memilih sendiri pakaian yang akan ia gunakan. Biarkan ia memilih aktivitas sendiri yang biasanya merupakan aktivitas bermain. Belajar teratur secara terstruktur, teratur dan terjadwal belum diperlukan saat ini. Usia pra sekolah, 4-5 tahun, adalah masa emas pembentukan pribadi yang penuh inisiatif, bergerak tanpa menunggu komando. Biarkan mereka memilih. Kebebasan untuk memilih, kelonggaran untuk melakukan kesalahan, akan berguna bagi mereka untuk berani berinisiatif.

Label:

Konon angka perceraian di Indonesia meningkat luar biasa. Entahlah apa yang menyebabkannya. Apakah karena wanita saat ini lebih mandiri, sehingga kapan saja ia merasa perlu melepas pasangannya, ia dapat segera melakukannya? Ataukah kemampuan para suami untuk berkomunikasi dengan baik pada pasangan semakin berkurang? Atau begitu banyaknya godaan di luar sana, karena pergaulan yang semakin permisif antara pria dan wanita? Atau keliru memilih?Karena begitu banyak pasangan yang bercerai dengan alasan: tidak cocok.

Mungkin masih banyak penyebab lain, tapi saya sedang tertarik pada alasan yang terakhir saya sebutkan. Tidak cocok. Menarik! Kenapa saya tertarik? Karena terus terang saya penasaran, bagaimana ketidakcocokan itu muncul? Apakah sejak pertama kali mengenalnya, di awal pernikahan atau di tengah jalan pernikahan?

Jika mengenal ketidakcocokan di awal, kenapa menikah? Hmmm....bisa jadi karena ketika sebelum menikah ketidakcocokan itu tidak disadari.....artinya keliru mengenal pasangan!

Ya, begitu banyak pasangan yang tidak menyadari bahwa antara dia dan pasangan mengalami ketidakcocokan yang sangat prinsip, bisa jadi karena ketika masa perkenalan, memang tidak dibicarakan hal-hal yang penting untuk dibicarakan, lebih banyak ngaler ngidul nggak karuan, atau lebih banyak membicarakan hal-hal romantis, daripada hal yang prinsip.

Lantas, bagaimanakah cara kita mengenal pasangan sebelum memutuskan untuk menikahinya?


Pertama, adalah kenalilah diri kita. Siapa kita? Apa yang kita inginkan? Apa yang membuat kita bahagia? Tahukah kita akan hal tersebut? Banyak pasangan yang menikah hanya karena cinta sesaat, bahagia karena rayuan cinta, lalu diterimalah pinangannya. Masalahnya apakah benar, setelah menikah, kita akan tetap bahagia hanya dengan rayuan cinta?

Kebahagiaan sedikit banyak tercipta dari terpenuhinya kebutuhan kita. Menurut Maslow, kebutuhan ada 5 tingkatan.

1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, hadiah, dan lain-lain

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuai dengan bakat dan minatnya


Dimanakah kita berada? Apakah pasangan kita dapat memenuhi kebutuhan tersebut?

Jadi teringat pada masa-masa ta'aruf. Ketika itu saya menyadari bahwa rasa aman dan cinta adalah kebutuhan bagi saya. Saya tidak bisa hidup dengan pasangan yang terus menerus "meneror" saya dengan kemarahan. Saya mendambakan pasangan yang lembut dalam bertutur, dan sabar dalam mendidik. Saya tidak mau hidup dengan pasangan yang kasar dan mengancam saya. Maka saya mencari informasi tentang ini, sebelum saya memutuskan untuk menikah.

Hal lain, bagi saya beraktualisasi diri, juga adalah kebutuhan. Hanya dengan pemahaman bahwa seorang istri itu sebaik-baiknya berada di rumah, maka saya sudah membuat formula bagaimana saya bisa beraktualisasi diri dari rumah. Rumah adalah pusat aktivitas saya. Namun tentunya hal ini tetap memerlukan dukungan dari pasangan. Maka saya mengecek bagaimana kesiapan pasangan untuk mendukung niatan tersebut.

Kenali dan kenali terus kebutuhan kita. Kadang suatu pernikahan tidak mencapai kebahagiaan karena ketidaksesuaian antara kebutuhan dengan pemenuhan kebutuhan. Istri senang dicurhati, suami tidak pernah curhat. Istri senang bercanda, suami serius sekali.

Semakin banyak kita mengenali kebutuhan-kebutuhan tersebut, tentu semakin banyak yang akan kita cek, kita tanyakan pada sabahat dan keluarganya, tentu dengan cara-cara yang cerdas, supaya calon pasangan kita tidak kabur:P

Kedua, bagaimana pengalaman dan pemahaman agamanya? Saat ini banyak sekali pemahaman-pemahanan yang nyeleneh dan aneh. Tentu kita akan sulit berdampingan dengan pasangan yang pemahamannya berbeda dengan kita. Karena agama adalah hal yang prinsip, yang akan mewarnai segala hal, baik ibadah maupun dalam keseharian. Mengetahui ustadz siapa yang sering menjadi tempat calon pasangan mencari ilmu, buku apa yang sering dijadikan rujukan oleh calon pasangan, dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana pemahamannya. Diskusi hal yang prinsip dari mulai pemahaman akidah, cara sholat sampai isu-isu kontemporer, juga baik untuk dilakukan.

Ketiga, bagaimana keluarganya? Kepribadian seseorang, sebagian besar terbentuk di masa kecilnya. Masa kecil berarti tercermin dari seperti apakah keluarganya? Apakah keluarga yang over convident sehingga tercipta calon pasangan yang dominan? Apakah keluarga yang permisif sehingga tercipta calon pasangan yang lebih mencari hak daripada menjalankan tanggungjawab? Apakah keluarga yang otoriter sehingga tercipta calon pasangan yang kurang inisiatif dan miskin kemampuan berkomunikasi? Walau tidak menutup mata bahwa di tengah perjalanan kehidupan, seseorang bisa berubah, karena adanya hidayah. Tapi melihat bagaimanakah pola asuh yang secara umum terjadi dalam keluarga tersebut, akan memberikan pemahaman kepada kita, seperti apakah sosok pasangan kita tersebut.

Keempat, seperti apakah sifat-sifat kita? Seperti apakah sifat pasangan kita? Apakah bisa hidup bersama?

Kelima, seperti apakah visi dan misi hidup calon pasangan ke depan? Apakah visi dan misi tersebut kita sukai? Apakah kelak kita akan dapat mendukungnya? Apakah sesuai dengan visi dan misi hidup kita?

Phew...banyak sekali ya...yang perlu dikenali, apa nggak BT tuh calon pasangan kita. Hehe, teringat pada berlembar-lembar surat perkenalan saya kepada calon suami, plus rentetan pertanyaan yang saya berikan pada calon suami. Alhamdulillah waktu itu ia mau menjawabnya, dengan baik.

Kami tidak pacaran, kami hanya ta'aruf selama tujuh hari. Tujuh hari yang melelahkan karena harus membicarakan hal-hal yang berat. Setiap harinya mengalami H2C (harap-harap cemas) yang amat sangat. Alhamdulillah tujuh hari yang melelahkan itu, terus membawa manfaat positif hingga kini.

---

Apakah pasangan akan menikah hanya jika dia cocok 100%? Bisa ya, bisa tidak, tergantung Anda? Yang saya alami adalah menilai apakah ketidak cocokan itu masih bisa saya hadapi atau tidak? Karena tentu sulit menemukan yang 100% sesuai dengan keinginan hati.

Semoga tulisan ini menambah semangat bagi Anda yang sedang mengenali pasangannya. Bukan menambah kebingungan yang sedang Anda rasakan:)