Label:

Masakan praktis, mirip2 bikin bala-bala (bakwan), tinggal aduk-aduk, dah jadi adonannya. Hasilnya jadi banyak. Bisa disimpan di freezer dan kapan2 kalo lagi mepet waktu tinggal goreng

Bahan :
300 gr Daging ayam cincang
100 ml Susu cair
2 btr Telur
3 bawang putih (haluskan)
1 bawang bombay cincang
50 gr Tepung sagu
2 sdt Garam halus
1 sdt merica bubuk
1 sdt Gula pasir
3 lbr keju lembaran potong-potong
1 btr telur kocok
100gr tepung roti
minyak untuk menggoreng

catatan:
lupa link resep aslinya, di resep aslinya nggak pake bawang puting dan bawang bombay, tapi dulu pernah nemuin resep nugget yang pake bawang bombay, jadi deh keterusan kalo bikin nugget selalu dikasih bombay.

resep aslinya pake 150 keju parut, dan 6 keju lembaran, tapi saya ganti jadi 3 lembar keju aja, biar nggak terlalu mahal bahannya hehe...

Cara membuat:

1. Campur daging ayam dengan susu, telur, bawang putih, bawang bombay, tepung sagu, garam, merica, gula pasir aduk rata.

2. Siapkan loyang tahan panas, olesi minyak goreng. Tuang adonan hingga memenuhi 1/2l oyang,tata keju lembaran diatasnya, lalu tutup dengan sisa adonan.

3. Jerang dandang berisi air diatas api, kukus nugget selama 20 menit, angkat dan dinginkan

4. Potong2 nugget berukuran 2x3cm atau sesuai selera,

5. Celupkan nugget pada telur kocok,kemudian gulirkan diatas tepung roti,simpan dalam kulkas selama 2jam

6. Keluarkan nugget dari dalam kulkas dan panaskan minyak dalam jumlah yang banyak

7. Goreng hingga matang & berwarna kekuningan, Angkat, tiriskan,hidangkan dalam keadaanpanas..



Mas Yudi, kami pertama kali mengenalnya saat beliau menjadi marbot mesjid.. Ia begitu akrab dengan anak2 murid ngajinya. Begitu ramah menyapa setiap yang ia jumpai. Senyumnya lebar, tulus, tak ada beban. Padahal berapa pendapatan duniawi seorang marbot mesjid?

Tak lama kemudian ia menikah, dengan seorang istri yang sholehah. Saya semakin terpana, karena ia dan istrinya begitu bahagia dalam kesederhanaannya. Berjualan obat-obat herbal dan mengajar privat mengaji di berbagai tempat. Kebahagiaan selalu terpancar dari wajahnya. Senyumnya selalu mengembang.

Kami selalu teringat padanya setiap kali berniat mencari guru ngaji untuk anak-anak. Ketika kami tanyakan padanya, beliau menjawab, jadwalnya sudah sangat penuh. Ya tentu saja, siapa yang tak ingin menjadikannya guru ngaji bagi anak-anaknya. Ia sosok yang ramah, sopan, memiliki sikap hormat, helpfull dan etos kerja yang tinggi.

Sifat yang dimiliki mas Yudi inilah yang mungkin yang disebut-sebut sebagai karakter, oleh para ahli pendidikan saat ini.

Karakter menjadi santer terdengar karena begitu banyak orang yang mengkhawatirkan karakter generasi saat ini.

Begitu banyak buku dan seminar mengenai hal ini. Begitu banyak pula sekolah yang menawarkan konsep pembentukan karakter bagi siswanya. Hingga akhirnya "Pembentukan Karakter" menjadi nilai tambah dari suatu lembaga pendidikan.

Jika diperhatikan, besarnya investasi pendidikan di lembaga yang menjamin pembentukan karakter murid-muridnya lebih besar daripada investasi pendidikan di lembaga pendidikan lainnya. Orangtua pun mempercayainya sebagai konsekuensi logis karena sekolah tersebut memformat ulang sistem pendidikan yang diterapkan, untuk menjamin pembentukan karakter ini tercapai. Hingga investasi yang harus ditanam di lembaga pendidikan tersebut pun berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Karena membentuk sistem pendidikan tersebut memerlukan tenaga ahli, dan guru yang kompeten untuk melaksanakannya.

Di sekitar tempat tinggal saya untuk memasukkan anak ke sekolah dengan konsep pembentukan karakter yang matang, perlu menyiapkan dana yang cukup besar baik di awal maupun bulanannya. Dimulai dari 8 juta sampai 20 jutaan. Hal ini dipastikan lebih murah daripada sekolah dengan kurikulum individual seperti High Scope:)

Mahal....hiks, begitu kadang terlintas dalam benak saya. Namun ketika pikiran saya melayang memikirkan mahalnya pendidikan bermutu, saya sering teringat pada tokoh-tokoh sederhana yang saya temukan dalam keseharian seperti Mas Yudi, yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Sosok Mas Yudi tidak tercipta dari sekolah yang mahal. Tapi kok ya dia bisa menjadi sosok berkarakter?

Setelah saya pikir-pikir, maka tumbuh harapan saya pada sebuah sistem pendidikan, yaitu pendidikan di rumah. Pendidikan pertama yang diperoleh anak-anak kita.

Apa yang bisa kita lakukan di rumah, untuk berikhtiar membentuk karakter anak-anak kita? Tentu banyak, dan saya hanya mampu menuliskan secuil saja, seingat saya.

1. Berikanlah ASI, eksklusif di 6 bulan pertama, segera setiap kali bayi kita membutuhkannya. Kenapa ASI? Karena ASI dalam logika sederhana saya, lebih cepat tersedia, dibanding susu formula yang perlu dibuat dulu. Jika kita diberi kesempatan untuk memberikannya pada buah hati kita, berikanlah. Kecepatan kita memenuhi kebutuhan bayi, akan memudahkan ia saat beradaptasi sosial kelak. Ia akan mempercayai lingkungannya sebagai sesuatu yang aman sehingga terhindar dari kecemasan bahwa ada yang mengancam dari lingkungannya. Lanjutkan ASI hingga usia yang dianjurkan yaitu 2 tahun.

2. Tidak hanya kebutuhan ASI, pahami dan penuhi segera apa kebutuhan bayi kita. Saat ia ingin digendong, gendonglah dengan segera. Saat ingin dipeluk, peluklah dengan segera dan hangat. Saat ingin diajak bicara, ajak bicaralah walau baru berupa ocehan. Konon menurut Ericson dalam teori perkembangannya, masa ini terjadi hingga 1,5 tahun.

3. Saat anak mulai bisa berjalan sendiri, dan mulai bisa melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan, yaitu sekitar usia 2-3 tahun, beri kesempatan seluas-luasnya, karena inilah masa yang penting bagi anak untuk membentuk pribadi yang percaya diri kelak, yakin akan dirinya, tidak menjadi sosok yang selalu ragu-ragu. Llepaskanlah aktivitas yang sifatnya dependent/ ketergantungan, seperti minum susu dengan menggunakan botol/ dot, atau aktivitas lain yang serupa seperti memegangi rambut ibunya saat mau tidur, memegangi tali bantal (yang biasanya ditunjukkan dengan menangis saat ia tak mungkin melakukan aktivitas tersebut)

4. Di usia 4 - 5 tahun, berikan kesempatan bagi anak untuk memilih keputusan-keputusan sederhana yang ia sudah bisa lakukan, seperti baju apa yang ia pakai, makanan apa yang ia makan, plus jadwal sehari-hari.

5. Beri porsi waktu yang cukup untuk bermain. Bermain terutama permainan kelompok adalah senjata utama untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya baik motorik, kognitif, bahasa, sosial dan emosi.

6. Fokuslah pada proses tumbuhnya minat anak untuk belajar, dimlulai dengan menjawab pertanyaan anak, menyediakan buku di sekitar anak, mengajak anak bereksplorasi. Daripada hanya sekedar mengejar "bisa" seperti memberikan flash card, mengajaknya belajar secara formal, tanpa sentuhan permainan.
Begitu banyak anak yang bisa membaca, tapi berapa banyak anak yang senang membaca. Manakah yang ia butuhkan kelak?
Begitu banyak anak yang bisa menulis, tapi berapa banyak anak yang suka menulis. Manakah yang ia butuhkan kelak?

7. Di usia sekolah, di mana inilah masa penting pembentukan rasa mampu menuntaskan tugas. Apresiasilah setiap proses penuntasan tugas yang ia telah lakukan. Hargailah proses belajarnya, sikapi dengan bijak setiap kegagalan yang anak alami. Nilai merah bukanlah kiamat. Itulah moment bagi anak untuk belajar bangkit dari kegagalan.

8. Bangunlah kemampuan anak untuk berkomunikasi. Dimulai dengan memahami perasaan mereka, saat mereka menangis, mengamuk, atau perilaku-perilaku yang mungkin menyulitkan orangtua. Bantulah mereka mengenali perasaan mereka. Kelak mereka akan memahami perasaan kita. Berilah contoh mendengar aktif, sehingga kelak mereka akan mendengar kita

9. Hindari perilaku-perilaku yang menghambat komunikasi, seperti menasihati, menilai, memotong pembicaraan, dan lain sebagainya (lupa ada 12..hehe)

10. Stop labelling pada anak.

Segitu dulu....ya...ntar ditambah sedikit-sedikit, dan silakan di tambahkan.

Seorang anak gelisah saat orangtuanya sedang mengikuti arisan keluarga. Ia terus menerus merengek minta pulang.

"Ayo Ayaaaah...pulang"
"Sebentar nak..."

Begitu berulang-ulang, sang anak merengek meminta pulang, dan sang Ayah membujuknya untuk bertahan.

Kami yang mendengar percakapan itu tentu bertanya, ada apa gerangan? Ternyata sang anak teringat pada Playstation miliknya, dan ingin memainkannya.

Berapa usia anak tersebut? Kurang lebih baru berusia 4 tahun!

Bagi saya di usia 4 tahun, usia pra sekolah, seorang anak merengek meminta pulang dari acara sosialisasi untuk permainan yang sifatnya individual, sungguh mengusik perasaan.

Bermain bagi anak adalah senjata utama untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya secara seimbang dan optimal, baik aspek perkembangan motorik, bahasa, kognitif, sosial dan emosi. Tapi permainan seperti apa?

Beberapa permainan individual, jika itu sangat dominan dilakukan justru akan mengurangi kesempatan motorik, bahasa, sosial dan emosinya berkembang. Contohnya adalah play station tadi.

Apa yang dilakukan oleh anak saat bermain playstation? Apakah ia berlari, memanjat, melompat? Apakah ia berkomunikasi dengan teman sebayanya? Apakah ia belajar untuk berbagi? Belajar menguasai emosi saat teman merebut mainannya? Sayangnya, tidak demikian! Ia hanya duduk dan berpikir, plus sedikit menggunakan otot tangannya.

Anak memang tampak cerdas. Ini yang terkadang menjadi sasaran orangtua. Anak seakan "canggih", melek teknologi dan cerdas. Tapi melihat betapa begitu banyak aspek perkembangan yang kehilangan untuk kesempatan untuk berkembang, bagi saya kecerdasan itu menjadi tidak bermakna.

Hal lain yang patut diwaspadai orangtua adalah masalah ketergantungan. Konon segala hal yang menyenangkan akan mengkondisikan otak untuk memproduksi suatu zat, yang mengakibatkan kecanduan. Kecanduan...ketergantungan
...seperti kitalah yang kecanduan fesbuk:)). Begitu kira-kira yang dirasakan anak yang sudah berkenalan dengan play station. Jika orangtua tidak cukup cerdas memberikan aturan atau batasan waktu bermain, maka anak akan teringat terus pada permainan tersebut, dan meminta untuk bermain dan bermain lagi.

Bagi saya pribadi, satu menit bagi anak adalah sangat berharga. Jika ada pilihan 1 menit itu digunakan untuk permainan yang menstimulasi seluruh aspek perkembangannya, dengan permainan yang hanya menstimulasi aspek kognitif, saya lebih memilih pilihan pertama.

Menjadi prinsip bagi saya memperkenalkan terlebih dahulu permainan yang sifatnya berkelompok, daripada permainan individual. Secerdas apapun permainan individual tersebut. Secanggih apapun permainan individual tersebut. Biarlah anak bermain bebas bersama teman-temannya terlebih dahulu, hingga kelak, jikakalau ia mengenal permainan individual pasif yang menyenangkan, minatnya tidak akan terlalu besar. Karena tubuhnya memintanya untuk lebih bergerak.


Masa kanak-kanak adalah masa singkat. Namun di masa inilah sesungguhnya masa emas untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya secara seimbang dan optimal. Bukan hanya kognitif, tetapi juga motorik, bahasa, sosial dan emosinya. Kapan lagi seseorang ingin balapan lari dengan teman-temannya, dengan penuh kesenangan, keceriaan, bukan karena kompetisi yang membebani? Kapan lagi seseorang tidak malu bermain petak jongkok, petak umpet, dan lain sebagainya. Masa kanak-kanak adalah masa emas untuk mengembangkan motoriknya. Motorik mempengaruhi banyak hal dalam perkembangan jiwa anak. Ia tumbuh menjadi sosok yang percaya diri, dan memudahkannya dalam beradaptasi di lingkungan sosial.

Di usia kanak-kanak inilah anak mulai belajar untuk berkomunikasi, untuk mendengar temannya dengan penuh keceriaan, tanpa manipulasi. Anak belajar jujur dalam bersikap. Karena teman-temannya yang masih kanak-kanak, sama-sama masih memiliki jiwa yang suci. Naluri mereka akan mengetahui siapa teman yang santun, pandai berkomunikasi dan enak diajak berteman. Anak menjadi belajar diterima dalam lingkungan sosial.

Masa emas yang jangan sampai terlewatkan karena buahnya ingin kita petik di masa depan. Sosok dewasa yang matang, bukan hanya usianya, tapi juga jiwanya. Bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga pintar secara sosial dan emosii.

Bulan Maret saya mengalami terlambat menstruasi. Karena kalau menurut siklus haid yang biasanya, saya semestinya mendapat menstruasi paling lambat 1 Maret, eh ternyata 1 maret nggak dapet juga. Mulai deh menghitung hari, plus H2C (harap-harap cemas). Iseng-iseng test pack, eh negatif, dan ternyata dihitungan ke 10, menstruasi itu datang berkunjung di tanggal 10 Maret.


Eh setelah H2C saya berlalu, giliran sahabat saya Ier...yang H2C. Menstruasinya nggak dateng-dateng, dan setelah di test pack...wah ternyata Ier hamil. Duh denger kabar itu, saya jadi kepengen banget hamil, hehe.

Bulan April, eh saya terlambat lagi. Berhitung lagi deh, plus tetep H2C. Iseng-iseng test pack, beli yang murmer aja, HCG test lima ribuan. Pulang dari sekolah, langsung deh ke kamar mandi, dan ngetest pake HCG test tadi. Deg....deg....ampe gemeteran. Selalu deh begitu tiap pakai test pack, dan hasilnya kali ini membuat saya takjub: dua garis. Tapi kalau dilihat, garisnya samar.

Malamnya niat ngetest lagi, pake merk sensitif, biar yakin valid. Ada keyakinan kalau nanti pagi, hasil test pasti positif deh. Siang positif apalagi pagi. Eh ternyata saya malah deg-degan, nggak bisa tidur. Asli nggak bisa tidur. Akhirnya saya nyerah, ngetest aja jam 2 pagi, dan ternyata oow....hasilnya negatif. Fiuh....kecewa pasti.

Besoknya, perasaan kok serba nggak enak, ada feeling kuat saya hamil. Beli lagi deh test pack, yang HCG test aja. Coba lagi, hasilnya dua garis lagi tapi samar. Waduh jadi bingung. Malamnya coba lagi, pake HCG test: dua garis lagi tapi samar. Wah tambah kuat niy perasaan kalau saya hamil.

Ngebrowse....chatting....buat tanya-tanya soal testpack. Di internet, dapet info kalo test pack murmer malah lebih sensitif dari yang mahal. Heu....tapi tetep ya susah juga yakin dengan test pack murah. Akhirnya dengan berjanji dalam hati, saya beli test pack sensitif lagi. Berjanji kalau ini test pack terakhir. Kalau negatif, ya udah negatif. Nggak usah feeling-feelingan. Malam itu berusaha dapat urine pagi. Yang susah memang masalah tidur, tapi berusaha banget. Hasilnya: dua garis tapi samar......

Whuaa tidak menjawab kepenasaran, cuman nambah harapan.Secara sebelumnya pake sensitif, asli negatif, sekarang rada-rada positif. Akhirnya saya turuti aja saran sahabat saya, Rena, untuk jaga-jaga aja, kali jadi katanya.

Tapi ternyata susah juga mengendalikan pikiran, terpikir terus, positif apa negatif....dan akhirnya atas motivasi sahabat saya lagi, saya memutuskan untuk ke dokter saja. Bismillah, pasrah sama hasilnya apa. Saya berniat, apapun hasilnya akan segera membuat saya produktif kembali.

Cari-cari dokter, akhirnya dapet dokter para tetangga. Perut terasa dingin dengan gel USG. Dokter berkata "ya sudah kelihatan". Heu, apanya yang kelihatan? Dokter lalu menuju kemejanya. Bertanya HPHT dan data lainnya. "Dok kantungnya dah kelihatan?" Dokter seperti menjawab seperti tidak, hehe, belakangan saya tahu nih dokter sifatnya pendiam:)

Tapi dari resepnya tentu saja meyakinkan saya kalau yang kelihatan dan ditunjukkan pada saya adalah kantung kehamilan. Alhamdulillah. Saatnya saya menunaikan janji untuk segera produktif, dengan kejelasan status ini. Banyak PR, dari mulai rumah, sekolah, dan toko, yang harus segera dikerjakan.

Sepulang dari dokter, anak-anak bertanya, apakah saya hamil atau tidak? Sesaat kemudian Hanif tersipu mendengar dia akan menjadi kakak:))

Hampir setiap bulan rasanya ada saja yang bisa dijadikan berita seru di media massa. Setelah kasus bank century yang sampai sekarang juga masih belum jelas. Sekarang ditambah lagi terungkapnya kasus markus (makelar kasus).

Saya sebenarnya tidak begitu mengikuti berita-berita tersebut. Apalagi diskusi-diskusi yang menyertainya. Cape rasanya mendengarnya, lebih baik saya mendengarkan ustadz di pengajian, narasumber di seminar/ workshop, atau apalah yang lebih produktif buat diri saya. Tapi ternyata saya tetap terpancing untuk membicarakan sedikit hal berkaitan dengan berita tersebut.


Hff, memikirkan sistem negara, sistem peradilan dan segala hal yang berkaitan dengannya terus terang tidak dalam kapasitas saya, yang hanya ibu rumah tangga. Saya hanya ingin mengkhayal, seandainya ada sekelompok tim ahli yang melakukan penelitian, tentang bagaimana pola asuh mereka di masa kecil, sehingga di usia semuda itu, sudah berani berbuat seperti itu. Walau hanya berupa wawancara, yang menggambarkan tentang pola asuh mereka. Mungkin tidak perlu fokus pada satu orang, agar tidak dituntut masalah pencemaran nama baik, yang sedang trend saat ini. Terbayang hasil penelitian tersebut bisa bermanfaat bagi ibu-ibu seperti saya.

Pola Asuh
Banyak pertanyaan melintas dalam pikiran saya tentang bagaimanakah pola asuh mereka? Karena perbuatan mereka di kala dewasa ini adalah cermin bagaimana perkembangan moral mereka ketika usia kanak-kanak. Konon menurut para ahli masa penting pembentukan moral ada di usia anak-anak,saat mereka belajar tentang sebab akibat. Hal ini berkaitan dengan pola asuh yang mereka alami.

Anak yang mengalami pola asuh demokratis, dimana perasaan dan pendapat mereka sering didengar, lebih mampu membangun pengendalian diri yang bersumber dari dalam diri mereka (internal). Hal ini dikarenakan aturan-aturan yang ditetapkan jelas, dan dibangun melalui komunikasi yang melibatkan perasaan dan pendapat mereka. Saat anak harus menjalankan konsekuensi akibat kesalahan yang dilakukan, juga disertai komunikasi, sehingga pola pikir (nalar) anak berkembang dengan sendirinya, dan kendali diri muncul dari dalam dirinya, bukan semata-mata diarahkan oleh pihak-pihak di luar mereka. Hati nurani yang berakar dari pemahaman anak terhadap sebab akibat tersebut, terbentuk kuat dalam diri mereka.

Anak yang mengalami pola asuh permisif, dimana tidak ada aturan yang berlaku dalam hidupnya. Semua keinginan, kehendak dan kesenangan anak dipenuhi. Hanya akan membentuk anak yang gagal membangun kendali diri. Anak tidak paham sebab dan akibat. Pada akhirnya anak gagal membentuk hati nurani, dan tidak memahami standar nilai yang ada di masyarakat.

Anak yang mengalami pola asuh otoriter, hanya menciptakan anak-anak yang takut hukuman. Mereka tidak berlaku salah, hanya untuk menghindari hukuman. Pola pikir seperti ini yang terbangun sampai mereka dewasa. Perilaku terbangun berdasarkan ada hukuman atau tidak. Bukan berdasarkan hati nurani, yang muncul dalam diri.


Pola Asuh seperti apa yang dialami para markus. Demokratis, Otoriter atau Permisif? Seandainya pertanyaan ini terjawab, tentu kita dapat bercermin,dan memperhatikan pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita maupun pada anak didik kita.

Ikatan Batin
Hal lain yang tidak dapat saya pahami dari para markus. Apakah mereka saat berprilaku tidak teringat pada Ayahibu mereka. Tidakkah terpikir perilaku mereka akan membuat malu keluarga?

Beberapa waktu yang lalu saat salah satu penjahat negeri ini tertangkap, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Mungkin senyuman itu untuk menutupi rasa malu yang ada dalam diri mereka. Beberapa hari kemudian, tampak seorang ibu mengunjunginya. Duuuh, saya ketika itu membayangkan bagaimana perasaan ibu tersebut. Melihat anaknya menjadi penjahat negeri. Padahal nama baik sudah ia lekatkan pada anaknya sejak lahir, dididik dalam keluarga yang lekat dengan nilai agama, sampai akhirnya anaknya menjadi politisi partai Islam. Apa yang salah?

Teringat pada keluarga, teringat pada Ayahibu. Minimal tidak mau merusak nama baik kedua orangtua kita, berasal dari ikatan batin yang terbentuk antara Anak dan Orangtua. Terbangun dari kelekatan antara Anak dan Orangtua. Hal ini terbentuk di usia dini. Gagal terbangun di usia ini, sulit di bangun di masa selanjutnya.

Ikatan batin terbentuk saat ibu menyusui anaknya. Saat Ayahibu bermain bersama anaknya. Saat Ayahibu bercanda dengan anaknya. Hal yang mungkin kini sedikit demi sedikit sudah mulai pudar, karena kesibukan Ayahibu mencari nafkah.

Bagaimanakah masa-masa pembentukan ikatan batin para markus dengan orangtuanya? Jika ini terjawab mungkin kita bisa bercermin, seperti apakah interaksi kita sekarang dengan anak-anak kita. Cukupkah interaksi kita dengan mereka? Berkualitaskah? Apakah ikatan batin kita dengan anak terbangun cukup kuat?


Pola Pikir Instant vs Pribadi yang Tangguh

Mengapa para Markus menambah hartanya melalui jalan pintas? Tidak mencari cara lain, seperti membangun bisnis misalnya. Rasa ingin cepat memenuhi keinginannya dengan cara yang cepat menghasilkan, berawal dari pola asuh di masa kecil.

Anak belajar tentang sebab akibat sejak dini. Ada orangtua yang mengajarkan anak untuk berusaha sebelum mencapai keinginannya. Ada orangtua yang langsung memberikan apa yang anak minta tanpa usaha sedikitpun.

Saya mengenal seorang ibu yang tidak memiliki daya. Setiap kali anaknya mengamuk meminta mainan, langsung ia berikan. Mainan adalah keinginan, dan keinginan ini dipenuhi dengan cara cepat, menangis.

Di sisi lain, ada seorang ibu yang menciptakan proses sebelum anak mencapai keinginannya. Saat anak menginginkan mainan, maka ibu mengajak anak menabung, atau mengajak anak membangun perilaku positif, dan mainan ini dijadikan sebagai reward (hadiah).

Sebuah proses perlu dikenalkan pada anak sejak dini. Kerap kali kita, orangtua hanya fokus pada hasil akhir. Ulangan yang kita lihat hanya hasil akhir, bukan proses. Hasil belajar yang kita lihat hanya nilai bukan proses.

Hal ini dapat kita lihat dari fenomena orangtua yang ingin anak-anaknya bernilai lebih baik dari nilai baik yang sudah diperoleh anak, dari les tambahan. Nilai 10 hasil les, tidak masalah. Nilai 8, hasil belajar mandiri, seakan tidak ada artinya.

Saya mengenal seorang ibu yang anaknya memiliki peringkat lima besar. Ibu ini merasa hasil tersebut masih kurang. Kemudian mencari guru privat bagi anaknya. Hasilnya anak memiliki peringkat satu. Sebenarnya manakah yang lebih membanggakan? Peringkat lima besar atas hasil belajar sendiri, atau peringkat satu karena belajar didampingi?

Bagaimana mencapai hasil yang diinginkan, atas hasil kerja keras diri seorang anak, perlu dibangun sejak dini. Agar anak-anak kelak lebih tangguh menghadapi hidup. Tidak bergantung pada orang lain.

Saya juga pernah melihat seorang teman yang kebetulan seorang guru. Teman saya ini merasa gemas karena anak didiknya bernilai 9,8. Kenapa gemas, padahal nilainya baik? Teman saya ini gemas karena anak didiknya tidak mencapai nilai 10. Hanya salah satu soal. Seandainya anak ini lebih teliti, katanya, sayang sekali ia salah satu. Saya termangu, melihat teman saya tersebut. Membayangkan ia fokus pada satu soal yang salah, dan lupa pada 29 soal yang benar. Belum lagi dengan hilangnya apresiasi terhadap proses belajar yang anak ini lakukan sebelum ulangan.

Mengapresiasi hasil kerja, berdasarkan proses yang dilakukan, lebih baik daripada hanya mengapresiasi hasil semata.

Bagaimanakah pola pikir yang dimiliki para markus? Apakah pola pikir instant? Apakah hanya berorientasi pada hasil yang menyenangkan, atau berorientasi pada proses yang dilakukan?

Jika ini terjawab, kembali dapat saya jadikan cermin. Bagaimana kita saat ini, apakah lebih banyak berorientasi pada hasil, atau pada proses?

Seandainya penelitian itu ada, saya kira lebih bermanfaat daripada hanya berdiskusi soal sistem negara. Paling tidak berguna bagi saya yang hanya seorang ibu. Yang ingin melakukan perubahan dari dalam diri dan keluarga.

Begitu banyak seminar membahas perlu dibangunnya karakter generasi bangsa ini. Tapi berhenti pada urgensi. Lantas bagaimanakah caranya? Tak banyak yang bisa menjawabnya. Seandainya penelitian itu ada, jawaban itu mungkin ada.