Showing posts with label cerita-cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita-cerita. Show all posts

Label: ,

Akmal sedang belajar Bahasa Indonesia untuk UAS. Di latihan soalnya ada pertanyaan tentang percaya diri, dan Akmal tampak sangat mengarang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya memintanya untuk membaca lagi buku paketnya. Ya sekedar untuk merecall lah, supaya ngga ngarang-ngarang amat.

A: "Bu, minder itu apa sih?"
I: "O, minder itu kebalikan dari percaya diri, artinya merasa diri tidak mampu"
A: "Oo, aku suka tuh begitu"
I: "Heu...ibu juga dulu begitu"
A: "Iya, Bu?"
I: "iya akibatnya banyak yang ingin ibu lakukan, tetapi tidak ibu lakukan karena merasa minder, takut ngga bisa"
A: "Wah Aku juga begitu"
Read more...

Label: ,

Saya diasuh oleh seorang full time mother (istilah ibu-ibu jaman sekarang, memang ada ya ibu yang nggak full time?). Setiap pulang sekolah, saya selalu disambut dengan kesiapan ibu untuk mendengarkan celoteh saya dan sepiring kudapan.

NIkmatnya memiliki ibu yang selalu di rumah, membuat saya dari sejak SMP, ketika masa-masa menciptakan identitas diri itu, bercita-cita untuk menjadi ibu seperti ibu saya, selalu berada di rumah.

Setelah menikah, ternyata tidak mudah untuk mewujudkan cita-cita itu. Ada rasa yang hilang, saat hanya di rumah. Saya yang terbiasa hanya belajar akademik dan berorganisasi plus tidak dilatih untuk mengelola urusan domestik rumah tangga, perlu waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan urusan domestik rumah tangga.
Read more...

Label:

Sejak masuk minggu ke 32, hampir setiap hari saya menatap kalender. Tigapuluh dua,berarti 6 minggu lagi. Hari-haripun berlangsung terasa lambat. Saya coba fokus untuk persiapan melahirkan, banyak-banyak browsing tentang persiapan yang perlu dilakukan. Mencari AMBAK dari semua persiapan tersebut, supaya semangat. Aktivitas jalan pagi saya pilih. Tiap pagi saya mengukur jalan komplek sekitar 30 menit. Tetapi ternyata tetap saja saya masih sering menatap kalender, dan hari-hari masih tetap berjalan lambat. Di minggu ke 34, akhirnya saya merasa harus meninggalkan aktivitas tatap menatap kalender itu. Bagaimana cara menghentikannya ya? *mikir*

Read more...

Label: , ,

Hati anak yang bening, bisa menjadi pelajaran bagi Ayah dan Ibu.

Hanif, adalah anak yang riang, jarang menangis, jarang rewel, kooperatif. Ia senang berteman, dan jarang menyakiti teman. Satu hal saja yang membuat ibu berpikir...bagaimana jika ia sekolah kelak...karena tampak cuek sekali. Beberapa kali diajak mengenal angka dan huruf...tampak tak berminat, tampak sulit memahami, tampak sulit mengingat.

Tampak tak berminat, tampak sulit memahami, tampak sulit mengingat, disimpulkan lagi-lagi dari membandingkan. Membandingkan Hanif dengan...siapa lagi kalau bukan...Akmal.
Read more...

Label: ,

Hanif, gayanya santai, tanpa beban. Cuek, senangnya berteman. Kalau ditelusuri catatan saya tentang dia waktu kecil, tampaklah ia anak yang tidak terlalu suka pada hal-hal yang berbau "belajar", seperti membaca buku sebelum tidur, dan mengerjakan buku aktivitas.

Gayanya itulah, yang membuat saya menundanya untuk sekolah. Sayang, saya pikir, karena di sisi lain ia sangat kreatif, dan menikmati masa-masa bermainnya. Kenapa sayang? Yaaa....saya pikir sayanglah anak sekreatif dia kalau langsung "dijejali" baca tulis hitung. Nanti sajalah kalau sudah mendekati usia sekolah.

Di usianya yang kelima, saya mendaftarkannya ke sekolah, dekat rumah. Pertimbangannya untuk sekolah adalah karena teman bermainnya di rumah sudah sekolah semua. Kasihan kalau tidak sekolah, dia tidak ada temannya.

Ternyata Hanif sangat semangat sekolah. Belum pernah dia bolos, atau malas. Walau saat batuk pilek mendatanginya. Selain semangat sekolah, ternyata ia juga semangat belajar! Hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Setiap kali melihat buku IQRO ataupun buku belajar membaca, ia akan meminta saya untuk mendampinginya belajar. Perkembangan minat belajarnya meningkat signifikan menurut saya. Benar-benar tidak menduga, karena dia anak yang suka loncat-loncat, bergerak ke sana kemari.

Kata Ayahnya, Hanif begini karena ia sudah kenyang main. Mungkin benar juga, ya? Puas main, tinggal belajarnya. Ngga penasaran lagi rasa bermain. Apapun penyebabnya, yang pasti si Ibu merasa bersalah karena sudah underestimate terhadap minat belajarnya. Ke depan, ingin belajar untuk tidak underestimate, kalau Allah berkehendak, seorang anak bisa menjadi seperti ini dan itu,walau tidak bisa diprediksi kapan ia bisa menjadi seperti ini dan itu. Yang pasti seorang ibu harusnya berpikir lebih positif dan optimis terhadap perkembangan anak-anaknya.

Label:

Seringkali kita baru bisa mengerti perasaan orang lain setelah kita mengalami.

Dulu saya selalu bingung, kalau sedang hamil, ditanya "ngidam apa?". Karena tidak mengalami ngidam. Selain itu suka bingung ketika ada yang cerita tentang ngidamnya. Seperti pernah di milist ada yang cerita kalau makan ingin lontong padang, ketika suaminya membeli soto betawi, jadi muntah. Hehe...ketika membaca itu saya pikir, ya ampun dah...

Sekarang di hamil yang ketiga...owh...ternyata saya mengalami. Entah karena ada keinginan untuk diperhatikan, yang pasti saya mengalami "hanya ingin makan itu". Kalau belum ketemu, penasaraaaan, laper berat.

Pernah suatu hari, ngga bisa makan, yang kebayang cuman mie ayam. Lalu saya titip suami, minta dibelikan setelah pulang kantor. Ternyata karena suami kecapean, dia ngga sempet beli dulu, pengen cepet-cepet sampai di rumah, dan makan apa adanya yang di rumah.

Saya yang dah berharap banyak, cuman bisa menelan kekecewaan. Suami juga karena sebelumnya saya tidak pernah ngidam, hanya menggoda saja dengan santai "besok aja ya, ngga akan ngiler kok".

Huaa, tapi bener-bener deh, saya ngga tahu mesti gimana, mesti sabar apa mesti maksa. Yang pasti saya laper beraaat. Demi melihat wajah istrinya yang merana, suami akhirnya mau membelikan, sambil bingung kayaknya, kok ya maksa-maksa banget, tumben, kan biasanya mah istrinya teh sabar (hoho).

Aaah mie ayam datang, dan makanlah dengan selahap-lahapnya. Ajaib deh, itu kenyang, bisa awet sampai pagi. Padahal kemarin-kemarinnya, selalu kelaperan ngga ketulungan.

Kebetulan keesokan harinya adalah waktunya ke dokter. Bu dokter berkomentar ketika melihat bayinya, wah niy bayi kelaperen, gerak-gerak banget. Hehe, ternyata komentar bu dokter yang komentar, membuat suami mengerti kalau istrinya (anaknya) bener-bener kelaperan. Langsung deh, ditraktir makan enak, sesuai permintaan mau dimana:))

Ah tapi saya pan istri yang tahu diri, kasianlah kalau seperti ini terus. Kasian si dedek yang kelaperan karena emaknya susah makan. Kasian suami kalo mesti keluar uang lebih melulu demi menghilangkan rasa laper sang istri.

Ya dengan introspeksi yang dalam, heu...heu....lebay....akhirnya saya memutuskan untuk masak sendiri ajalah makanan yang kira-kira saya suka. Hunting resep, dan semangat untuk lebih mempersiapkan diri memasak. Dapur kurapihkan dulu, biar nyaman masaknya. Bahan-bahan dah siap....masak deh. Enjoy!

Alhamdulillah dah tiga hari ini sukses. Minggu masak pepes ayam, enaaak! Senin masak bakso ayam udang, yummy! Selasa masak pepes tahu dan daging bumbu bali, sedaaap!

Besok....hmm pepes ayam kayaknya....lagi doyan pepes...

Yah gitu deh, ternyata nyaman juga punya solusi begini, karena kalo selalu menggantungkan diri ke suami, ya kasian juga, dah cape kerja disuruh ke sana kemari.

Mudah-mudahan awet aja nih enjoy di dapur:))

Label: ,

Beberapa hari ini, saya sangat penasaran dengan yang namanya "kesulitan belajar". Saya bongkar masalah kesulitan belajar ini dengan berjalan-jalan di dunia maya. Hingga menemukan sebuah slide yang menarik dari youtube. Slide ini tentang tokoh terkenal, yang di masa kecilnya mengalami kesulitan belajar, tetapi di masa dewasa bisa menjadi terkenal bahkan legenda karena kehebatannya.

Ternyata Akmal tertarik dan kemudian menghampiri...

A: "Apa itu bu?"
I: "Ini tentang orang-orang yang terkenal karena kehebatannya, padahal waktu mereka kecil mereka mengalami kesulitan waktu belajar, sampai dikatakan bodoh"
A: " Wah bisa begitu ya?"
I: Iya bisa....karena setiap orang itu memiliki cara belajar sendiri. Nah pada akhirnya orang-orang ini menemukan cara belajarnya
A: " Ooo...."

Akmal kemudian meninggalkan Saya yang masih asyik dengan slide-slide itu. Ia bermain kembali bersama adiknya.

Malam harinya, karena masih penasaran tentang kesulitan belajar ini. Saya kembali menyimak sebuah film tentang anak disleksia. Karena mendengar suara gaduh dari film tersebut, Akmal kembali menghampiri....

A: "Apa itu bu?"
I: "Ini film tentang anak yang mengalami kesulitan untuk belajar"
A: " Ooo....nanti dia kalau udah besar....bisa kan bu?"
I: "Nah ibu ngga tahu tuh, kan belum selesai nontonnya... Mas mau nonton? Yuk!"

Hanif melihat kami asyik menyimak layar, ikut menghampiri....

H: "Lagi apa? Itu apa?"
I: " Ini film anak-anak, Adek mau lihat? Yuk!"

Kami pun menyimak bersama. Tampak adegan yang menggambarkan bagaimana anak yang sulit membaca. Lalu ia di marahi habis-habisan dan kemudian diberi label bodoh oleh gurunya.

Hanif yang paling tidak suka mendengar orang dimarahi, menutup mata rapat-rapat dan menutup telinga dengan tangannya. Lalu ia berkomentar " Kalau gitu mah, gimana bisa pinter?"

Akmal, menimpali "Iya ya....padahal kata ibu kan setiap orang punya cara belajar sendiri.
Pantesan, ibu kalau mau ngajak aku belajar tuh, kayak waktu mau belajar Bahasa Inggris, ibu tanya...'mau belajar pakai cara apa?' Dulu aku ngga ngerti, sekarang aku ngerti..."

Hiks si Ibu terharu dalam hati. Mengucapkan syukur, karena itulah yang saya harapkan. Anak paham bahwa cara belajar itu banyak....banyak sekali....dan kita harus terus mencari cara belajar yang paling nyaman bagi diri kita.

Badan ini terasa lelah, ingin sekali berbaring. Saya tak kuasa menolak ajakan ini. Tak lama kemudian mata mengajak untuk beristirahat juga.

Saya sempatkan untuk mengajak anak-anak tidur, karena tampak sudah lelah.
" Hanif, Mas kalau capai tidur saja, nanti besok kan masih bisa lihat filmnya."

Seperti yang di duga, Hanif mau, Akmal enggan untuk tidur.

Saya pun sedikit terlelap, tapi berkali-kali saya mendengar ajakan Akmal untuk bicara.

"Ibu.....benar bu...akhirnya dia bisa!!!" teriak Akmal kegirangan

Saya hanya kuat untuk menganggu-angguk, sambil tersenyum, dan kemudian tertidur lelap kembali.

Label:

Jalan pagi diiringi dengan celoteh Hanif...

"Tuh bulan dek...." ujar saya sambil menunjuk bulan yang tampak jelas menghiasi langit
"Oo itu bulan Bu....sangkain yang kecil-kecil di langit itu bulan"
"Kalau yang kecil-kecil di langit itu apa bu?" tanya Hanif
"Bintang dan Planet" jawab saya
"Oo....planet Bumi ya bu ya?" Hanif menanggapi
"Planet bumi itu tempat kita tinggal sekarang, kalo yang terlihat di langit itu teman-temannya"
"Planet bumi itu punya teman-teman, ada merkurius, venus, jupiter, mars,....." saya coba menjelaskan.
Hanif tertegun...tampaknya karena dia belum paham
"Itu semua ada di ensiklopedi ya bu ya? uajrnya
"Oo ya dek, ada di buku ensiklopedi" saya tersenyum...sepertinya dia bermaksud mengatakan, aku belum ngerti tapi biarlah nanti bisa kubaca di buku. Saya tersenyum karena pola pikir seperti itu khas pola pikirnya Hanif...make it simple 'n easy.
"Bu... di bumi itu banyak negara-negara loh..." katanya
"O, iya dek...adek tinggal di negara mana?" tanya saya
"Prancis...." jawabnya
"Prancis?.." aku bertanya sambil penasaran kenapa Prancis, tapi saya duga dia sedang iseng jawab saja.
"Iya tuh menaranya " ia menunjuk menara pemancar yang terlihat dari rumah. Hoo
"Itu kan menara eiffel bu...berarti kita tinggal di Prancis..." Hi5
"Woooow menara eiffel....." serunya dramatis

:D

Label:

Pagi hari, sebelum suami ke kantor adalah salah satu waktu yang bermakna untuk saya. Sambil menemani suami minum kopi atau teh, plus sarapan. Kita ngobrol-ngobrol banyak hal di waktu yang sempit itu.

Entah kenapa ya, pagi-pagi kok bisa jadi waktu yang enak buat ngobrol padahal mah kan kalo pagi pasti suasana rada paciweuh.

Idenya biasanya dari saya, apa aja bisa diobrolin, dan biasanya saya mulai dengan ujug-ujug mengucapkan suatu kalimat....

"Yah...nih ada yang bikin status tentang apendix"

"Ooo...." katanya...he3 memang obrolan pagi biasanya adalah waktu saya untuk ngacaprak, dan waktu suami untuk menjadi pendengar yang baik:)

"Hmm kalau baca status kayak gini, jadi inget waktu Ayah sakit. Betapa bodohnya aku waktu itu, sampe nggak tahu Ayah sakit apa"

"Kalau saja pelajaran biologi nempel di kepalaku, paling nggak aku bisa ngira-ngira, organ apa yang lagi terganggu, dan nggak kecolongan kayak waktu itu"

"Perut atas, bawah, kanan, kiri, organnya apa saja yang ada di sana, kan semua dah kita pelajari waktu di SMA"

"Begitu juga kelenjar-kelenjar apa aja yang kalau bengkak itu menandakan adanya infeksi"

"Kan dah kita pelajari juga"

"Iya ya...." kata suamiku lagi..:)

"Kalau aja pertanyaan waktu sekolah dulu tuh gini, "kalau kamu sakit perut bagian kiri, kira-kira organ apa yang terganggu? Mungkin lumayan walau kita nggak masuk kedokteran, paling nggak bisa jadi bekel kita saat ini, buat dugaan awal aja"

"Toh itu harusnya jadi pengetahuan dasar, buat kita, terutama aku sebagai ibu dan istri"

"Iya bener, aku aja yang nilainya bagus-bagus nggak ada yang inget" kata suamiku lagi

Heu....kalimat yang bagus untuk penutup obrolan pagi....aku aja (suami) yang nilainya bagus nggak inget pelajaran SMA apalagi kamu yang remedial terus selama sekolah...huahahaha...heup ah...ketawa dalam hati aja...jaim:)

Label:

Hari minggu kemarin, dengan semangat saya pergi mengikuti sebuah seminar parenting yang kebetulan pembicaranya adalah seorang psikolog yang sudah cukup dikenal dengan baik oleh kita semua.

Kepergian saya ke seminar tersebut diawali dengan meminta restu pada anak dan suami saya tentu saja.

"Akmal hari Sabtu, Ibu mau pergi..." saya meminta izin jauh hari...supaya Akmal siap:)
"Pergi ke mana bu?
"Mmm...apa ya...(mau bilang seminar kok ya nanti repot lagi menjelaskan seminar itu apa)....mmh mau sekolah Mal"
"Sekolah apaan bu?"
"Sekolah buat ibu itu loh Mas, seperti yang waktu itu pernah ibu ikuti"
"Ooo iya ya bu...pergi aja bu...pergi...ntar ibu jadi baik banget kalau deh kalo dah ikut sekolah"

He3 ya...waktu itu saya pernah ikut seminar Bu Ery Sukresno...begitu saya sampai di rumah...langsung praktek..he...terus ternyata anak-anak merasakan sekali bedanya...

"Eh ibu kok jadi baik banget..." bolak balik deh anak-anak komentar.

Nah sekarang pun Akmal berharap demikian. Saya yang akhir-akhir ini berasap dan bertanduk, bisa berubah jadi "malaikat" setelah pulang sekolah nanti.

Ok lah Mal...beres...Insyaa Allah ibu jadi baik deh nanti.

Sekarang tinggal izin suami. Dengan asumsi, suami akan mengizinkan, maka saya santai aja...mepet-mepet minta izinnya...waktu mau berangkat. Kebetulan suami baru pulang subuh dari kantor...dia pulang dengan ngantuk yang amat sangat karena tidak tidur semalaman. Duh kok jadi segen ya minta izinnya...

Ntar aja deh...

"Mal. ibu kayaknya nggak jadi perginya..." kataku pada Akmal...lagi-lagi mempersiapkan Akmal kalo rencana hari ini berubah.
"Yach...kenapa bu?
"....Soalnya....Ayah baru pulang...kan kasihan kalau ibu langsung tinggal kerja..."
"Yach anti gimana donk...ibunya nanti gini-gini aja!!"

Adeuh segitunya Nak...apa segitunya ya ibumu ini, sampe kamu panik begitu.

Gimana minta izinnya...suami tidur...kupanggil pelan-pelan...

"Yah...ibu pergi ya...ke RTM sekarang"

euh bukan minta izin itu mah, tapi ngasih tahu...secara dah siap untuk pergi.

Suamiku bangun sedikit, dan mengangguk sambil malas karena ngantuk.

Yes!!...memang suamiku yang baik ini, dah sangat paham, kalo seminar parenting begitu penting bagiku, jadi kalo aku izin ikut seminar-seminar itu, selalu diizinkan.

"RTM...mau apa??? "

Oo ternyata tadi anggukan yang tidak terlalu disadari...sekarang baru deh bertanya....secara baru ngeuh istrinya mau pergi.

Akupun menjelaskan dengan cepat...meyakinkan semuanya dah siap, termasuk anak-anak ada yang jaga...

Sekarang baru mengangguk-angguk yang sebenarnya.

Siip....pergi...

"Mal...ibu jadi pergi ya...."

"Asiiiik!!!"

Deuuh Akmal segitu senengnya....memang ibumu ini gimana sih...?? Sampe segitu girangnya ibu mau belajar jadi ibu yang baik.

Sampai di tempat seminar. Subhanallah ada 400 peserta!!! Begitu kata narasumber acara ini.

Luar biasa...semangat sekali ya...

Acara dimulai...dengan games-games...dan simulasi...sampai akhirnya sampai pada materi utama.

Pembicara mengeluarkan slide-slide satu persatu. Slide-slide pertama saya masih bisa dengan tenang melihatnya, semakin lama slide semakin seru....semakin infomatif tentang kondisi anak-anak sekarang.. Lama-lama kepalaku makin terasa pusing. Peserta di sebelahku juga mengungkapkan kepusingan dan ketegangannya..

Sebegitu dahsyatnya kah zaman yang dialami anak sekarang. Pornografi begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan film kartun....komik...games...games online...PS....games di hp...sinetron...film..

Semua disajikan dengan jelas...jelas sekali. Saya yang kuper baru tahu ooo seperti itu komik, games, sinetron yang dikonsumsi anak -anak sekarang, Secara anak-anakku masih relatif kecil, dan di rumah nggak ada fasilitas apa-apa. Paling banter TV...

Cenut...cenut deh ngeliat slide-slide tersebut selama 3 jam. Apalagi diakhiri dengan efek dari sumber-sumber pencetus pornografi itu. Penyakit...kerusakan otak...huaaa...sungguh bikin merinding membayangkannya.

Ingin rasanya bertanya...jadi gimana mencegahnya Bu??? Mau di protek total anak-anakku, banyak yang kasih masukan...jangan katanya...nanti malah mainnya atau nontonnya di rumah orang....Mau dikasih jalan...takut sama efek negatif yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh pembicara.

Tapi ternyata selama 3 jam itu....baru bisa sampai ke data. Belum sampe ke solusinya....katanya teknisnya ada di pelatihan yang sudah disiapkan sekian sessi....

Fiuh...aku pulang hanya membawa kepala yang pusing. Pusing karena anak-anak pasti selama kutinggal, memilih tv sebagai hiburan,dan aku nggak tahu apa yang mereka tonton. Pusing...karena nggak tahu apa yang mestinya dilakukan.

Aku bertanya dalam hati: "Segitu sulitkah menjadi orangtua?" Sampe aku pusing begini.

Kok rasa yang didapet beda ya...dengan seminar yang aku ikuti sebelumnya, bersama Ery Sukresno...Pulang dari seminar bu Ery, mah pikiran teh jadi seger gitu....punya segudang tips praktis buat ngadepin anak-anak.


Sampai rumah, Akmal juga bisa nangkep kalo harapannya tidak tercapai. Ibunya biasa aja, nggak berubah...

"Bu, kok pulang sekolah, ibu biasa-biasa aja sih"

Aaaarrgh....Sulitkah menjadi orangtua??? Kok malah jadi tambah bingung pulang dari seminar teh....


Tantangan jadi jelas di depan mata...rasanya kanan kiri semua ancaman....

Label:

Ini bukan tulisan politik sebenernya, cuman tulisan iseng hasil obrolan sama suami.

Dari mengamati gaya bicara...bahasa tubuh... dan pernyataan2 mereka, banyak yang menyimpulkan bahwa SBY adalah sosok yang slowly but sure (CMIW), sedang JK adalah sosok yang serba cepat seperti slogannya lebih cepat lebih baik. Nggak tahu kenapa, kami malah menjadikannya sebagai guyonan ketika melihat pola tingkah anak-anak kami.

Ma'af sebelumnya ya buat pak SBY dan pak JK. Kami tak begitu mengenal beliau berdua. Tapi kami iseng aja menjadikan beliau berdua label personality, mudah-mudahan tidak tersinggung ya. Untuk tim sukses juga jangan tersinggung loh:)

Akmal adalah anak yang penuh perhitungan. Dari sejak dalam kandungan, terasa banget niy anak slowly but sure:), gerakan dalam perutku terasa tenang, tak terasa ada gejolak yang berarti. Proses kelahirannya juga begitu lambat. Dua hari dua malam, kontraksi selama 5 menit sekali, nggak ada perkembangan. kadang dia bergerak, kadang tidak. Apa Akmal tidur...heu...heu...nggak tau deh. Alhamdulillah akhirnya lahir juga.

Di masa balita, dalam kesehariannya, dia slowly juga. Selalu serba penuh perhitungan. Berjalan dengan tenang atau terkesan lambat. Tekun menyelesaikan pekerjaannya, walau dah keluar dari waktu yang diberikan. Hasil pekerjaannya, seperti mewarnai sangat bagus. Walau dia harus kehilangan waktu bermain dengan temannya ketika istirahat, karena belum selesai mewarnai,dia tetap tenang dan terus tekun menyelesaikan pekerjaannya, karena dia bahagia dan senang jika pekerjaannya selesai. Guru TK nya sempat khwatir kalau nanti di SD dia akan mengalami kesulitan, karena di SD kan, waktu menjadi ukuran prestasi juga.

Kemarin di usianya yang sudah hampir 7,5 th, kami sekeluarga mengikuti acara famgath kantor Ayahnya. Di sana ada flying fox. Hmm, seperti yang kami duga, dia mengamati lama tali flying fox itu, dan dia memilih tidak naik. Benar-benar penuh perhitungan :)

Kadang kami gemas melihat perilakunya. Tapiii kemarin kami hanya tergelak tertawa...ketika aku bilang: "Yah, Akmal, SBY banget ya? Slowly (mudah-mudahan) but sure :) Ya inilah personality yang aku rasa perlu kita pahami dan kita terima dari Akmal. Karena pada perkembangannya nanti, siapa tahu dia akan menjadi tokoh besar dengan personality seperti itu.

Walau memiliki personality Slowly (mudah-mudahan) but Sure itu, bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Alhamdulillah secara akademik, dia cukup berprestasi, nilai-nilainya bagus. Walau memang feedback dari gurunya,s eandainya dia lebih cepat dan lebih konsentrasi, prestasinya bisa jauh lebih baik.

Secara sosial juga, dia cukup nyaman, walau memerlukan waktu lama beradaptasi dalam lingkungan baru, tapi teman-temannya cukup merasa aman berteman dengannya, karena jarang dia menyakiti teman-temannya. Sebagai kakak, dia juga bisa dipercaya menjaga adik.

Bageurlah pokokna mah...(anak baik gituloh)

Hanif...sebaliknya dari Akmal.
Hanif dalam melakukan segala hal, nggak pake mikir. Action dulu baru mikir, atau nggak "mikir" sampe akhir:). Nggak mikir ini bukan berarti dia tidak cerdas. Maksudnya lebih kepada nggak mikirin resiko. Atau selalu menganggap gampang sesuatu.

Sering banget kehilangan sandal, karena pergi pake sandal, pulang nggak pake, dan lupa di mana dia taruh. Dia lebih senang jalan nggak pake sandal. Kalau lagi jalan-jalan, sering banget baru ketahuan di jalan kalau dia pake sandal jepit. Anaknya nggak mau repot. Nggak mau juga pake baju yang bikin ribet. Dia senang menggulung celananya. Males pake kaos dalem.

Anak yang santai, senang bercanda, dan senang membuat orang tertawa.

Ketika Famgath kemarin. Hanif minta naik Flying Fox. Flying Fox yang dirancang untuk orang dewasa, tinggi dan panjang. Hanif santai aja, kita, orangtuanya yang mikir. Di matanya tercermin, "apa sih yang menakutkan, cuman flying fox:). Hanif selalu menganggap gampang segala hal. Jarang sekali dia bilang sesuatu itu susah. Tapi memang dia bisa menyelesaikannya sih. Seperti waktu Flying fox, dia sampai dengan tenang, tak ada tangisan atau ketakutan.

Hanif, orangnya konsekuen dan konsisten. Kalau dia bilang mau, akan terus mau. Walau dia melihat ada anak yang jauh lebih besar menangis setelah naik flying fox, dia tidak gentar (padahal masnya dah nakut-nakutin sambil nujukin anak yang nangis itu).

Karena keberaniannya dalam mencoba, kadang-kadang ada resiko yang harus diambil, tapi dia tidak pernah mengeluh, karena dia tahu itulah resiko yang harus diterima:)

Dan kamipun kembali tergelak ketika menyimpulkan kalo Hanif itu JK banget, Serba cepat, nggak terlalu dipikirin, nanti gimana-nanti gimana. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan lincah.

Akhir kata, saya mau menyimpulkan. Kalo itulah gaya Akmal dan Hanif, yang perlu kami terima dengan baik, dan memahami dengan baik. Tidak ada yang jelek diantara keduanya.Insyaa Allah mereka akan berprestasi dengan warna personality masing-masing, yang membuat mereka akan unik dan saling melengkapi. Membuat dunia menjadi dinamis:)

Label:

Bener nggak ya...istilahnya, maksudnya waktu untuk diri sendiri.
Akhir-akhir ini begitu kehilangan waktu untuk diri sendiri, karena tugas bertambah...sebagai konsekuensi dari memberhentikan asisten rumah tangga. Mau nulis juga jadi susah banget. Niy mumpung long weekend, "terpaksa" sekarang mendelete jadwal membacakan buku anak-anak. Hanya sekarang kok, besok ya sudah balik lagi ke rutinitas biasanya. Soalnya dah "kebelet" banget pengen nulis, pengen melepas energi, pengen cari inspirasi, pengen melepas kepenatan...

Kadang yang namanya ibu-ibu, waktunya habis terkuras untuk orang lain. Bahkan saking terkurasnya sering melupakan kondisi dirinya. Saya mengenal seorang Ummi, yang akhir-akhir ini jarang terlihat. Ternyata Ummi ini sedang sakit, sudah cukup lama, dan yang bikin saya sedih dan berpikir, Ummi ini belum ke dokter. Padahal dokter ada yang deket, mudah sebenernya kalo niat. Hmm sebegitunyakah pengorbanan seorang ibu?


Sekali lagi saya menjerit dalam hati: "sebegitulah pengorbanan seorang ibu??"
Sampe harus terseok-seok, mengurus orang lain dan melupakan diri sendiri.
Kadang bukan karena orang sekitar tak memperhatikan, seringkali karena kita merasa tak layak mengurus diri sendiri. Padahal menurut saya sih,harus dipaksakan memiliki waktu untuk diri sendiri. Baik itu berkaitan dengan kesehatan, kesenangan, hobi. Kita layak dan berhak kok untuk mengurus diri kita. Karena kalo kita ambruk secara fisik dan psikologis, kan anak-anak dan suami juga kena imbasnya.

("bu...bu lagi apa sih, kok dari tadi nyalain komputer aja? lagi ceting ya?" Akmal nanya nih...paling gatel ya anak-anak kalo liat ibunya lagi asik sendirian:)

("bu nggak jadi bikin kopi ya? sekarang Ayah yang nanya...hmm...nggak bisa liat ibu-ibu nganggur ye...)

Yah begitu deh, susah memang punya Me Time, tapi harus dipaksakan, biar seger lagi, fresh lagi, nyelip-nyelip nggak pa2,yang penting Me Time, asik dengan dunia kita sendiri!

Egois??? Kadang berasa begitu ya, suami dan anak nggak keurus...tapi sekali-kali boleh donk....

Label:

Akhir-akhir ini saya sering menyalakan radio dan mendengarkan kajian Islam yang disiarkan radio tersebut terus menerus, maklum mereka menjadikan radio ini sebagai radio dakwah. Jadi sambil kita beraktivitas sambil mendengar kajian atau tilawah Al Qur'an.

Anak-anak bermain seperti biasa, mereka tak terpengaruh dengan radio ini, tak merasa terganggu juga tentu saja tidak merasa tertarik, kan mereka belum ngerti pada apa yang dikaji.

Tapi ternyata jangan salah, walau terkesan radio ini tidak nyambung dengan mereka, ternyata mereka rekam juga.

Akmal dan Hanif seperti biasa, main, robot-robotan, bikin kado-kadoan, segala macam rupa deh permainannya, lalu tibalah Mas waktunya makan siang. Akhirnya sambil makan siang mereka ngobrol. Entah bagaimana awalnya, karena saya juga sedang setrika, nggak begitu memperhatikan, Akmal jadi bergaya seperti seorang ustadz, nada bicaranya plek keteplek nada ustadz di radio, begitu pula topik pembicaraannya.

"Jadi Nif, semua yang ada di dunia ini, ciptaan Allah SWT, jadi Allah itu Maha Besar, De, Besar sekali"

"O, gitu ya mas"

bla...bla..bla

" Iya, jadi nanti kita itu harus bermanfaat, kita harus bisa bikin robot transformer untuk mempertahankan negara ini, kalau bisa lebih hebat lagi dari transformer"

"untuk melawan musuh-musuh ya, mas?"

"Iya, negara lain dah maju De, kita harus menjadikan negara ini maju" (ooo itu maksudnya mempertahankan,saya mengangguk-angguk sambil setrika)

"Nanti De ada hari kiamat, bumi berguncang-guncang, gempa semua hancur"

"Bentar Mas. Hanif mau ngomong"

"Iya De"

"Gempa itu nggak berhenti-berhenti ya?"

"Emh, gempa berhenti De, tapi susah berhentinya"

"Tapi jangan takut De, sebelum hari kiamat orang-orang sholeh dah dimatikan dulu oleh Allah SWT, jadi nggak lihat kiamat, makanya harus jadi orang sholeh, jangan ada dosa-dosa itu"

"Bentar mas, Hanif mau ngomong"

"Iya De"

"Kenapa orang sholehnya dimatikan Allah?"

"Memang dimatikan De, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyelamatkan,nanti kita kalo dah mati, pahala nya dihitung kalo pahala kita seratus...seribu...kita masuk surga de"

"Pahala itu De, bintang dari Allah"

"Jadi De, kalo kita salah sama teman, kita harus minta ma'af"

"Kalo temannya nggak mau minta ma'af gimana, kaya X, waktu itu gak mau minta ma'af"

"Kalo teman kita nggak mau minta ma'af,kitanya aja De yang minta ma'af, kita nanti dapat pahala)

"Kalo kita salah nggak minta ma'af De, nanti pahala kita habis dipakai sama orang yang disakiti"

"Kita juga tidak boleh mematikan, yang hanya boleh dimatikan domba, kambing, sapi, unta (wah semuanya hewan kurban_red) ikan juga boleh buat digoreng" (topik terakhir ini sepertinya berkaitan dengan materi ustadz di radio itu tentang tidak boleh hukumnya, haram seorang muslim membunuh muslim lainnya. Orang muslim yang membunuh orang kafir saja tidak akan mencium bau surga)

Banyak banget yang mereka dialogkan, nggak cukup kuat deh memori ibunya untuk bisa menuliskan semuanya.

Hua, terharu deh...seperti ngeliat seminar tunggal (kayak konser tunggal gitu),narasumbernya tunggal anak 7 tahun, pesertanya juga tunggal 3,5 tahun. Nggak nyangka Akmal menyerap ilmu sedemikian filosofis seperti itu. Nggak nyangka juga Hanif, bisa bertanya layaknya murid seperti itu.

Alhamdulillah pertolongan Allah, yang sudah menjaga anak-anak ini.
Ketika menyaksikan kekuasaan Allah seperti ini, kita merasa kecil sekali. Pendidikan dan pengasuhan yang tak seberapa, bisa berbuah manis seperti ini. Kalo hitung-hitungan kemampuan manusia saja jelas tidak mungkin.

Anak mudah sekali merekam apa yang ada disekitarnya. Sering tidak kita sadari. Mereka benar-benar peniru ulung. So, tinggal pilihan kita mau menyuguhkan tontonan apa? cuplikan perilaku seperti apa?

Label:

Kemarin adalah hari pertama penyelenggaraan Taman Pendidikan Al Qur’an Cimanggis Greesn Residence I. Sebenarnya TPA ini sudah pernah diselenggarakan sebelumnya, hanya berlokasi di rumah Bunda Azka atau Ibu Dian, dan kemarin kala pertama TPA ini diselenggarakan di mesjid (karena mesjid baru saja selesai), so berasanya lebih resmi gitchu.

Walau kondisi kesehatan sedang kurang prima, jadi agak low bat, tetep TPA ini saya niatkan untuk jadi dilaksanakan. Apalagi melihat Akmal dan Hanif yang sudah semangat dan bertanya-tanya dari pagi, jam berapa TPA mulai. Begitu jam 3 mereka dah niat mandi, supaya siap TPA tepat waktu, tapi karena adzan Ashar sudah terdengar, niat mandi ditunda dulu. Akmal dan Hanif ingin sholat Ashar dulu di mesjid. Sepulang dari mesjid, mereka langsung mandi.

Tak lama kemudian, datang dengan semangat sekali, Sarah bersama Nina dan diikuti adiknya Sarah_Hafsah yang digendong Ummi. Sarah terlihat sangat ceria, begitupun Nina. Duh, melihat anak-anak ini semangat, jadi ikut semangat juga. He3 kebalik ya, kok ibunya yang mencontoh anak-anak

Akmal dan Hanif memanggil Azzam. Ternyata Azzam masih siap-siap. Kemudian Akmal dan Hanif menjemput Adit, ternyata Adit masih tidur. Mereka bingung karena kebanyakan yang ikut TPA anak perempuan, kugoda aja supaya mereka nyamar jadi anak perempuam, pake jilbab. Eh, Akmal menjawab: kan dalam Islam nggak boleh bu, laki-laki niru-niru perempuna. Hmmh, anak-anak sekarang, kecil-kecil dah berilmu.

Menuju mesjid, melihat Lala, langsung saja saya ajak ikut TPA. Alhamdulillah langsung mau. Hebat sekali anak-anak CGR I ini Alhamdulillah. Lala saya titipi untuk mengajak Najwa, Nadia, Nuha, Gian, dan Abi. Lala mengangguk-ngangguk, trus dia bilang “tapi Abi belum bisa ngaji”, saya jawab “nggak apa-apa, Hanif juga belum bisa!” Eh kita teriak-teriakan loh, soalnya Lala posisinya di depan rumah Nuha, dan saya di depan rumah Adiya, ah nggak pa2 ya…biar seru!

Sampai di mesjid. Sarah dan Nina sudah di sana, siap-siap sama Ummi dan Hafsah gelar tiker. Ummi Sarah dan Hafsah udah pasti satu paketlah. Baru duduk, Hanif dah tanya,”bu, bawa bekel nggak?” Yah, begitulah Hanif, setiap sampe ke tempat baru, dia pasti nanya makanan.

“Sarah nyamper Gian ya? Tadi Lala dah mau. Eh coba deh samperin dari Adit, Najwa, Nuha, Gian sampe Abi ya?” Eh, Sarah mengiyakan loh, Subhanallah, ya? Semangat sekali. Akmal diminta mengikuti Sarah dan Nina, tapi Akmal biasa lagi dateng M (males) nya, halangan deh dia…he3. Jadi cuman Sarah dan Nina yang bergerak. Hanif melanjutkan rengekannya mencari makanan

Sarah dan Nina datang bersama Safa, Danis. Lalu Lala datang bersama Nuha. “Gian kemana?” “lagi sakit” kata mereka bersamaan. Wah, sakit apa ya? Hanif terus merengek, ya sudah saya dan anak-anak pulang dulu ambil makanan.Sampe di mesjid ternyata TPA sudah dimulai, dengan membaca Al Fatihah dan do’a sebelum belajar. Hanif saya bujuk untuk ngaji dulu, makannya nanti aja di luar mesjid, khawatir mengotori mesjid, melihat TPA dah mulai Hanif tidak bersedia.
Karena Akmal dan Hanif baru datang, Ummi berkata sebaiknya Al Fatihah dan do’anya di ulang. Ternyata Anak-anak mau aja tuh, Subhanallah ya, betapa semangat dan bening hati anak-anak.

Lalu anak-anak dikelompokkan berdasarkan usia dan kemampuan ngajinya. Dan dilihat dari kelompoknya lalu ditentukanlah pengajarnya. Caranya dengan mengusahakan setiap anak belajarnya tidak bersama ibunya, biar mandiri. Ternyata Matching, Pas.

Akmal, Lala, Nuha bersama Ummi (Umminya Sarah)
Safa, Sarah, Nina bersama Ibu (Ibunya Akmal)
Hanif, Azzam, dan Danis bersama Bunda (Bundanya Safa)

Alhamdulillah, lancar. Anak-anak semangat belajar, demikian pula dengan Ummi, Ibu dan Bunda.
Ternyata cepet juga belajar ngaji, menulis, dan hafalan. Masih ada waktu, mau apa lagi ya. Save by the Bell: Bunda Masada datang! Alhamdulillah. Bu guru datang, langsung ditembak deh, diminta dongeng dan ngajarin nyanyi. Alhamdulillah Bunda bersedia. Senangnya. Karena tadinya saya yang diminta dongeng, sayangnya saya lagi nggak fit, jadi lagi nggak ada ide. Berasa terselamatkan deh he3

Eh Abi datang bersama ibunya, senangnya, tapi Abi belum siap, masih belum On, hari ini Insyaa Allah ya Abi mulai ngaji

Begitu denger Bunda Masada mau dongeng, langsung deh Bunda dikerubutin…kaya gula dicari semut he3, maklum ya guru dari semut2… Subhanallah deh Bunda Masada, dongengnya menarik dan atraktif, plus sabar….mendengar celetukan atau jawaban anak-anak yang sering nggak nyambung, ha3.

Alhamdulillah ngaji, nulis, hafalan, dongeng dah selesai, ditutup menyanyi Nama Malaikat dan Rukun Islam. TPA kali ini ditutup dengan mengucapkan Hamdalah dan do’a Akhir Majlis.

Riang, gembira belajar di TPA kemarin. Alhamdulillah, semoga hari ini lebih bersemangat lagi.
Buat temen-temen yang belum ikut, cepet gabung deh, Insyaa Allah selalu menyenangkan.

Label:

Duh gubrags banget nih bulan ini, bulan dengan berbagai ujian. Anak-anak aja ada ujian akhir semester ya, apalagi kita yang udah deket-deket akhir kehidupan...

Ujian pertama: Komputer Ngehang + speedy mati
Sepele, terkesan ecek-ecek tapi ngenganggu banget soalnya komputer saat ini menjadi benda kesayangan. Karena dengannya aku bisa nulis, cari info, cari ilmu,cari teman dan tentu saja cari duit.He3! Kerusakannya jadi bikin aku BT banget. Eh udah gitu jejak kerusakannya diikuti oleh speedy, dah lengkap banget deh rasanya.

Hmmmh, dalam setiap ujian pasti ada pelajaran. Merenung...merenung, ya, akhir-akhir ini aku merasa sudah naik status jadi "addict" dengan yang namanya OL alias online. Ada waktu senggang langsung OL, chatting berlama-lama, browsing, ah sagala rupa sampai melebihi kuota waktu yang ditetapkan. Saking santainya OL, banyak yang terheran-heran, kok bisa OL berlama-lama. Akhirnya mungkin banyak yang terbengkalai, urusan anak, suami dan diri. Sadar...sadar...mohon diampuni atas segala kesalahan.

Menata diri lagi, menata waktu, membaca buku, eh kok jadi nikmat:) Setelah semua terasa nyaman kembali, mulai deh merajuk kepada misua tercinta untuk memperbaiki komputer, sedangkan masalah speedy aku selesaikan sendiri dengan mengontak 147. Urusan speedy langsung beres, petugas telkom langsung datang dan memperbaikinya. Tinggal misua nih, yang kurang semangat mengoprek-oprek, yah diriku pasrah sajalah. Sempet tergoda untuk membeli laptop baru saja, tapi ngitung-ngitung manfaat dan dalamnya dompet yang harus kugali...ah tidak deh karena prediksiku komputer masih bisa diperbaiki dengan budget yang jauuuh banget dari beli baru, kebutuhanku juga masih dipenuhi dengan komputer lawas ini, hik.

Sambil menikmati rutinitas yang lain. Setelah beberapa weekend terlewati begitu saja (padahal ngarep-ngarep kalo weekend beliau membereskan urusan komputer ini), akhirnya dia menemukan penyebabnya (dengan cepat) setelah ada keinginan mengoprek dengan serius. Pffh kenapa juga mesti menunda-nunda...ah sudah...sudah...maklum saja:)

Akhirnya komputerpun sudah prima kembali, dan ternyata untuk memulai kembali aktivitasku seperti semula perlu energi besar sekali, ditambah lagi alasannya karena ujian lain di bulan ini:(

Ujian kedua: asisten menyita pikiran
Asisten adalah sebutanku untuk pihak yang membantuku dalam urusan teknis rumah tangga. Setelah mengalami berbagai kesulitan ketika memiliki asisten yang menginap. Saya coba asisten yang pulang pergi. Usianya sudah cukup senior, sudah punya cucu. Sempet ragu-ragu di awal karena biasanya kalo sudah berkeluarga begitu, bermasalah di masalah finansial, dan buntutnya suka cash bon, tapi ya sudahlah coba saja dulu.

Awalnya jobdesknya hanya setrika saja, tapi karena ternyata diriku ngos-ngosan beberes dan mencuci (mungkin karena baru pindah), akhirnya kutawari penambahan jobdesk dan tentu saja penambahan salary. Jobdesknya jadi full, beres-beres, cuci,setrika. Dilakukan dari pagi sampai selesai, kalo dah selesai dia bisa langsung pulang. Awalnya dia santai, lama-lama dia terkesan buru-buru bayangkan dengan jobdesk demikian dia bisa selesaikan dalam 2 jam saja, gak ada ngelap-ngelap, atau nata2 apa. Ya akhirnya saya maklum sajalah, tapi dasar penyakit yang punya asisten, untuk turun ke lapangan rasanya males sekali. Jadi ada pikiran kalo dah bayar orang ngapain diriku susah. Akibatnya rumah lebih terlihat sering berantakannya daripada rapinya.

Tetangga-tetanggaku yang cukup perhatian pernah mengungkapkan keheranannya, kenapa saya mau-maunya gaji orang yang pekerjaannya, berdasarkan pengamatan para tetangga kurang kualified. Tapi saya pikir punya asisten cuman buat back up,jaga-jaga kalo aku sakit, atau anak-anak sakit, secara saya di depok pendatang, kalo ada apa-apa mau minta tolong ke siapa.

Tapi ternyata asistenku kali ini terlalu memanfaatkan "kebaikanku', lama-lama dia minta kesabaran lebih, mulai sering nggak datang,ada saja alasannya. Awalnya saya maklum, karena alasannya reasonable. Di sisi lain karena dia sering tidak datang, sayapun jadi sering turun lapangan. Ternyata kok rumah lebih kinclong ditangani sendiri dan ternyata kok tidak terlalu cape, masih sempet Ol, masih sempet nemenin anak, masih sempet packing-packing pesanan.

Sampai akhirnya masalah bertambah karena kebiasaannya cash bon jadi intensif, dan puncaknya adalah ketika di permintaannya yang terakhir ini, jumlahnya cukup besar bagi saya. Dengan kualitas kerja yang demikian dan dengan permintaan pinjaman uang yang demikian besar, saya jadi berpikir untuk memberhentikannya. Tapi bingung mau rasanya kok tidak manusiawi,lagi susah gini masa menghilangkan pekerjaan oranglain. Konsul dulu deh ke teman-teman yang saya anggap paham Islam dengan bagus, ya ikhtiar aja. Dari masukan yang ada ya apa boleh buat dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada akhitnya diputuskanlah untuk memberhentikan asisten ini, dengan disertai pemberian gaji dan pemberian bantuan, karena nggak tega aja. Alhamdulillah, ternyata reaksinya biasa-biasa aja, nggak ada wajah kaget,shock, atau sedih. Mungkin kata bapakku dia juga dah pengen berhenti kerja. Iya juga ya, duh ngapain atuh aku kemaren pusing-pusing, secara dia juga mungkin nggak betah. Ya, dia suka cerita kalo pengen kerja di tempat yang gajinya lebih tinggi dan bisa dapet pinjaman uang. He3 dia nyesel kali ya punya majikan kere. Padahal salarynya dah di atas standar para tetanggaku, kerja juga cuman dua jam, yah namanya manusia ya.

Alhamdulilllah nikmat juga ternyata mengurus pekerjaan rumah tangga ini, apalagi disertai ilmu yang cukup setelah membaca salah satu buku Yusuf Qurdowi tentang tugas-tugas istri dan ibu. Ya selama hati ikhlas, ternyata tugas-tugas ini bisa dikerjakan dengan santai saja tanpa beban dan tanpa stress. Apalagi ditambah suami sangat membantu. Duh, Ayah dirimu tambah mature saja. Di saat gubrakan ketiga terjadi, dirimu benar-benar luar biasa. I L.v. y.o lah... (sensor ah)



Ujian ketiga, Hanif Masuk Rumah Sakit
Ketika saya memutuskan untuk memberhentikan asisten,sebenarnya Hanif dan saya sudah ada gejala akan sakit. Suhu badan Hanif meningkat, dan saya merasa pusing dan tidak enak badan. Dua hari panas tinggi. Tapi bismillah saja, karena meneruskan assisten ini rasanya sudah tidak memungkinkan.

Seperti biasa awalnya aku hanya memberi madu + habbatussauda. Biasanya kalo flu-flu biasa ditangani dengan cara begitu, hanif dah bisa sembuh. Tapi kali ini Hanif tampak kesusahan sekali,lemes, tak semangat. Wah feeling niy bukan sakit biasa. Karena panas banget sampe 39 dan hanif dah mulai ngigau, saya beri parasetamol, besoknya suhu badan dah ok. Dah lega, berarti panasnya cuman 1 1/2 hari. Tapi kok hanif tetep lesu dan sakit di bagian perut, jangan-jangan tipes, tapi malamnya suhu normal, cuman hanif seperti gelisah.

Subuhnya, hanif muntah-muntah semua yang masuk dikeluarkan lagi. Karena muntah terus-terusan kita memutuskan untuk membawanya ke UGD. Masalahnya UGD mana ya? Karena kita baru pindah ke sini, mau ke Hermina, rasanya terlalu jauh, apalagi kondisi Hanif yang muntah-muntah. Ada feeling, Hanif akan diminta di rawat, soalnya ada tetangga juga muntah-muntah lagi dirawat. Mempertimbangkan berbagai kondisi, termasuk tidak adanya asisten, yang otomatis harus dekat dari rumah biar kalo mondar mandir RS - rumah mudah, kami pilih RS Swasta X terdekat. Di UGD kami dilayani dengan baik,walau terkesan lambat, tapi nggak terlalu masalah. Benar feeling saya, hanif diminta rawat inap. Walau hanif tidak panas, ada indikasi dehidrasi, saya nurut saja daripada ambil resiko. Sayangnya waktu itu karena saya juga sakit, nggak bisa terlalu konsentrasi, hanya pilih kelas saja, lalu selanjutnya suami yang urus, tidak terpikir untuk pindah rumah sakit, untuk pilih dokterpun tidak terpikir. Bener-bener kondisi saya sedang tidak fit, low bat.

Proses pasang infus, tenyata berjalan mulus, Hanif nggak nangis sama sekali, luar biasa anak ini. Mature...Karena proses pasang infus nggak masalah, saya dah sreg aja deh sama RS ini.

Lagi mikir-mikir gitu, lagi sendirian saja nunggu hanif, saya disuruh ke lab, ngurus pemeriksaan darah hanif, saya heran, bukannya dah ngasih jaminan ke rumah sakit dengan jumlah yang tidak sedikit, biasanya semua dah All in, jadi kita bisa konsentrasi ke anak. Sempet bertanya, tapi diyakinkan suster, kalo saya harus urus dulu. Sampe lab, saya baru nyadar nggak bawa uang sepeserpun, ya, saya berangkat buru-buru, dan terbiasa dengan sistem asuransi yang bikin nggak kepikir mesti bawa uang ke rumah sakit. Tanya lagi deh, apa nggak termasuk uang yang dah saya simpen di rumah sakit,dijawab tidak, haduh, bingung...mana suami dah pulang...mana hanif ditinggal di UGD sendirian. Telp suami minta balik lagi...suami yakin kalo dah include uang jaminan, akhirnya saya tanya kasir. Ternyata kata kasir, ya bu, dah include. Haaaa rasanya pengen....dezig...dezig. Segera deh ke lab, nunjukkin kwitansi yang dah dicap kasir. "Oh, bisa ya bu" Heuuh, saya cepet-cepet balik ke UGD, pffh syukurlah Hanif, dia anak yang sabar, nggak ngeluh ditinggal ibunya.

Lammma sekali menunggu ruang disiapkan, membandingkan dengan kesigapan suster di Hermina waktu Hanif rawat inap di sana, jauhlah, tapi lagi-lagi saya tidak mempermasalahkan, mungkin karena saking ruwetnya saya memikirkan manajemen rumah tangga kala kondisinya seperti ini, plus badan yang makin berat aja terasa tidak enaknya, membuat saya pasrah.

Akhirnya kamar siap, dan Hanif saya gendong dengan memegang infusannya, dan dengan atribut bawaan ke rumah sakit seadanya tapi lumayan ribet, dibantu seorang perawat pria. Lumayan cape...sampe ruang rawat saya surprise karena suasananya berbeda banget dengan Hermina, lebih rame, terlihat banyak orang berbaju putih, yang akhirnya saya tahu mereka dokter coas. Saya baru tahu kalo di RS Swasta ada dokter koas seperti ini. Terus terang rada trauma dengan dokter coas. Pernah punya pengalaman buruk waktu Akmal DB di bandung, di rumah sakit negeri di sana, ditangani oleh sekelompok dokter coas, pasien bagaikan kelinci percobaan. Berusaha mendelete pengalaman buruk itu. Kondisi Hanif membaik, secara sudah tidak dehidrasi. Berharap bisa cepet pulang.

Ternyata menjelang malam, Hanif susah makan, suhu badannya naik. Orang yang masuk ke ruang rawat berganti-ganti, bukan hanya suster, tapi juga dokter coas. Jadwal pemberian obat panas yang terakhir jam berapa, selalu ditanyakan kepada saya. Saya cukup heran, bukannya mereka yang harusnya tahu, kan ada catatannya. Saya mulai stress dan panik, ganjil dengan pelayanan di RS ini. Pemberian sanmol bisa 3 jam sekali, tanpa selang-seling dengan obat penurun panas lainnya. Saya awam tentang kesehatan tapi tidak lugu dan awam banget, tapi hal ini malah bikin saya was-was. Urine diambil, tanpa kita tahu itu keputusan siapa. Pengalaman menemani anak di RS Hermina dan Bunda, membuat layanan RS ini terasa ganjil sekali, kalo di Hermina atau Bunda, semua decison tindakan kita tahu itu adalah keputusan dokter, hasil konsultasi by phone.

Sempet terpikir untuk pindah rumah sakit, tapi akhirnya saya putuskan untuk menunggu visit dokter yang ternyata tak datang-datang. Ternyata di rumah sakit ini, visit hanya satu, dokter spesialis, tidak ada visit dokter jaga. Hal ini bikin kesel juga, soalnya panas hanif belum ada perbaikan. Menjelang sore, Alhamdulillah panas hanif saya amati ada kecenderungan turun, tapi entah kenapa suster terus saja menjejali obat penurun panas, padahal suhu sudah 37,5.

Dokter datang jam 8 malam,sungguh penantian yang panjang kao anak lagi panas begini. Nggak kebayang kalo misalnya sakit penyakit yang dah jelas membahayakan jiwa, duh jangan dirawat di sini deh. Dokter datang dengan didampingi sekelompok dokter coas. Pemandangan seperti ini pernah bikin Hanif nangis, waktu pemeriksaan pertama di rawat inap. Hanif yang biasanya nggak rewel kalo diperiksa dokter, kaget melihat dokter datang kaya pasukan perang, apalagi ditambah Hanif dipaksa dibaringkan untuk diperiksa, pemeriksaan tampak terburu-buru, tidak ada komunikasi. Di pemeriksaan kedua ini Hanif sudah kami siapkan, ia sudah tenang,walau dokter datang berkelompok, dokter memeriksa dan dokter tidak bilang apa-apa, kecuali kita tanya. Setelah kita tanya barulah kita tahu kalo dari urine ada infeksi, berarti infeksi kemih, Hanif boleh pulang setelah kondisi suhu badan stabil

Karena kurus dengan BB jauh dibawah normal, dokter menduga kuat Hanif kena TB, dan ia minta Hanif di test mantoux sebelum pulang, saya mengiyakan saja, walau sebenarnya dalam hati keberatan kalo Hanif di screening dalam kondisi kurang fit di sini, dalam pikiran saya yang awam, takutnya hasilnya nggak valid.

Alhamdulillah Hanif pulang. O,ya hikmahnya dari episode Hanif masuk rumah sakit, plus sakitnya saya, plus tidak adanya asistem adalah Ayah menjadi sangat matang, dan mandiri. Ayah jadi bisa mencuci, menstrika dan menanak nasi. Tidak mengeluh dengan pekerjaan rumah tanggga, dan sangat Helpfull....wuiii layak dapat Award: Suami dan Ayah teladan lah pokoknya, Alhamdulillah kami bisa melewati ini semua tanpa asisten dan tanpa merepotkan keluarga terdekat.

Gubrakan keempat: Berikhtiar Mencari Diagnosis yang Tepat.
Tiga hari setelah test mantoux, saya dan hanif kembali datang ke dokter SpA X ini. Saya tenang saja karena Hanif dah dua kali test mantoux dengan hasil negatif, karena tak ada bentolan atau kemerahan di lengannya, dan kali inipun demikian. Tapi ternyata dokter ini punya cara membaca mantoux yang berbeda. Ia arsir lengan hanif di buletan bekas mantoux, dengan menggunakan ballpoint dan menekan lengan hanif. Hanif kesakitan, tapi saya nggak bisa menolak, sambil mikir, ni dokter lagi apa. Setelah selesai mengarsir, dokter bilang, ini positif bu. Wah, saya langsung bengong. Ooo, selanjutnya dokter mengatakan,untuk mengambil foto paru dan test darah. Saya hanya mengiyakan, tapi lalu saya teringat kalo saya mungkin tidak membawa cukup uang,dan juga tidak membawa kartu debet dan bertanya apa bisa rotgen dan test darah hari sabtu saja. Dokter bilang ok, gak masalah, sambil bilang "nanti sabtu kartunya bawa ya bu (maksudnya kartu asuransi,padahal mah saya nggak pake kartu), soalnya saya mau kasih obat yang bagus, yang mahal, sambil menunjukkan sebuah
brosur, nanti saya jelaskan, begitu katanya. Saya mulai termangu: mahal? Walaupun pengobatan ini diganti oleh kantor, tapi saya nggak mau kalo obat asal mahal, semua harus reasonable.

Sampe rumah, setelah ada waktu saya browsing tentang TB, dan pengetahuan pun bertambah, ternyata saking sulitnya diagnosa TB, banyak yang diagnosanya salah. So, ambil diagnosa TB harus hati-hati, nggak bisa sembarangan. Kontak ke sepupu yang berprofesi dokter, dan menurutnya cara memeriksa mantoux seperti SpA tadi adalah hasil modifikasi beliau saja, dan bisa jadi hasilnya mis, disarankan second opinion. Akhirnya hati mantap untuk second opinion, tapi kemana. Alhamdulillah silaturahmi dengan para tetangga dipermudah dengan adanya milist, dan dari sana ternyata saya dapet info kalo dokter yang saya percayai, dr.Alan Tumbelaka,SpA, ternyata rumahnya dan buka praktek di klinik tidak jauh dari rumah saya. Hanya jadwal prakteknya yang pas dengan saya saat ini adalah jadwal praktek di Hermina, ya sudah nggak apa-apa, kami pun menuju ke sana.

Sampai di Hermina, penanganan suster memang terasa berbeda ya, sigap dan profesional. Hal yang sepele juga seperti timbangan pengaruhnya signifikan juga, ternyata hasilnya selisih satu kilo lebih banyak dibanding di RS swasta X itu, untuk anak yang bermasalah berat badannya hasil beda sekilo lebih banyak tentu saja sangat menyenangkan.

Masuk ke ruang periksa dr Alan. Setelah mendengarkan maksud kami, dokter menyatakan bahwa cara periksa seperti yang dilakukan SpA X, adalah salah, tidak benar. Glek. Andai....Hanif meneruskan pemeriksaan di sana. Lalu foto rontgen pun dinyatakan paru-parunya baik-baik saja. LEDnya tinggi, tapi kalo LED tidak bisa menyatakan ada TB. Kesimpulan sementara Hanif bukan TB. Duuuh kok bisa beda? Hanya ada benjolan pembengkakan kelenjar di leher sebelah kanan, kenapa bisa bengkak? Nah untuk jaga-jaga supaya diagnosa tidak meleset, dokter memutuskan untuk melengkapi data kami dan akan mendiskusikan data tersebut ke rekan-rekan dokter di RSCM. Pffh lega deh, bertemu dengan dokter yang hati-hati dalam mendiagnosa. Karena TB memang bukan hanya penyakitnya yang tidak sepele, pengobatannya pun demikian, perlu jangka waktu lama. Apapun hasilnya kalo sudah dengan prosedur yang lebih hati-hati, Insyaa Allah hati ini lebih mantap, mudah-mudahan hasil terbaik yang kami peroleh.

Begitu deh ujian-ujian di bulan ini, bikin gubraggs banget, tapi mudah-mudahan bisa kita dilewati dengan baik.

Label:

Paling asik kalo weekend, diem di rumah. Nyaman banget, istirahat, bercengkrama,berkebun,main sama anak-anak...

Apalagi kalo weekend gini, Akmal kan libur,plus temen-temen Akmal dan Hanif yang juga lagi libur. Jadinya heboh banget, ancur-ancuran deh rumah, dijadiin basecamp. Crayon ke mana-mana. Kertas Origami sebungkus langsung habis, bertebaran dimana-mana. Yah, biarlah, prinsipnya ASA (Asal Anak Senang). Kan tidak hanya kita yang butuh refreshing, anak-anak juga, apalagi Akmal yang sudah sekolah, sudah merasakan hidup perlu perjuangan.

Tapi yang paling males kalo lagi liburan gini, apa coba? KE DAPUR. Bosen euy, karena dah tiap hari kerja, masak pagi-pagi sebelum Akmal dan Ayah berangkat, karena mereka bawa bekel. Biar homemade ceritanya mah. Jadi kalo weekend pengennya LIBUR. Padahal kalo ibu-ibu lain banyak tuh yang biasanya weekend bikin sesuatu yang spesial. Kalau aku sekarang kok ya muales ya.

Pagi-pagi dah nawarin. Hayoh mau sarapan apa? Hanif milih sarapan bubur ayam, ya udah nyegat abang bubur ayam yang lewat. Terus Ayah, Akmal? Nasi Uduk. Ya,wis belilah nasi uduk, plus cemilan khas betawi_ketan,dan timus singkong. Jadi kalo weekend, agenda pertama adalah wisata kuliner.

Sampe menjelang makan siang, Ayah baru nyadar dan nanya,kok belon keliatan masak? Hmh, diriku hanya tersenyum simpul dan muka mohon maklum sambil bilang kalo lagi bosen ke dapur. Eh Ayah hanya tersenyum dan memaklumi, ya udah beli aja,katanya.

Ya udah, nyobain beli ke warung nasi terdekat. Bingung juga ternyata kalo beli mateng. Gak semua makanannya menggiurkan, padahal ini warung rekomendasi tetangga yang dah langgan beli ke situ tiap hari. Pilih…pilih…pilih,hmm, bener kata tetangga efisien beli, kalo ngitung-ngitung beli mentahannya,kok jadi murahan beli mateng ya. Mudah-mudahan enak.

Sampe rumah. Ayo makan. Icip-icip, yah ternyata rasanya nggak mak nyus….
Duh kok bisa-bisanya ya tetanggaku lebih milih beli dari pada masak, apalagi tiap hari, kebayang deh bosennya.

Tanya Ayah, dan benar menurut Ayah rasanya kurang nendang. Jadi kesimpulannya mending masak sendiri. Tapi gimana ya…kalo lagi malesss, dan udah ketebak deh kalo tiap weekend bawaannya selalu bosen, jenuh, dan males ke dapur.

Label: ,

Di hari pertama setelah libur panjang lebaran, ternyata Akmal masih mogok:(. Saya dan suami sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, karena sepertinya sudah semua jurus dikeluarkan.
Akhirnya karena tahu bahwa sifatnya yang serba harus direncanakan itu yang sangat menghambat dirinya untuk pergi sekolah, saya hanya bisa berkata:"mas, santai saja, nanti di sekolah seperti apa anggap saja kejutan yang akan menyenangkan"
Saya berkata begitu karena Akmal paling senang kalo saya bilang ada kejutan untuknya. Kejutan ini biasanya berupa hadiah.
Tapi ternyata teteup, dia belum bisa menghadapi yang namanya sekolah. So, tarik-tarikan deh ngajak dia sekolah.

Ternyata di sekolah juga bukan belajar, melainkan acara halal bihalal. Setelah berusaha membujuk dan dia masih tidak mau masuk arena, dengan terpaksa kami meninggalkan dia yang nangis kenceng banget.

Di jalan menuju pulang, saya hanya bilang kepada suami:"ya sudah, Yah, mungkin memang ini ujian kita, anggap saja setiap hari kita akan menghadapinya dan melakukan ini rutin setiap pagi, toh dia di sekolahnya sih nyaman, kita ajak-ajak ngobrol aja, nggak usah tegang"
Berusaha menghibur diri dan suami, hanya itu yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah saya dan suami adalah tim yang kompak, jadi suami sepakat pada apa yang katakan. Karena kalo mengikuti hawa nafsu mah suami pasti kesel banget liat anak laki-lakinya punya sifat yang kata orang "cengeng".

Pulang sekolah seperti biasa, akmal ceria. Kali ini saya sudah tak menyimpan harap, kecuali do'a (masih berharap berarti:), ya iyalah namanya juga orangtua).
"Gimana mas?"
"Wah asyik bu, tadi aku dikasih ketupat"
"O,ya?"
"I,ya bener kata ibu, di sekolah banyak kejutan, aku tuh pengen banget lebaran lagi, makan ketupat, eh ternyata di sekolah ada"
"Nah,kan,jadi gimana besok"
"Aku mau sekolah"
Alhamdulillah....
Bagaimana besok deh, yang penting dia dah bilang mau

Alhamdulillah kali ini benar, esoknya dia benar-benar mau sekolah, nggak usah dibujuk-bujuk...
Hmmh perjalanan panjang episode ini cukup melelahkan, tapi begitu indah untuk diingat.
Semua ujian pasti ada hikmahnya.

Label: ,

Selama masa Akmal mogok ini, Ia minta dijemput oleh saya. Dia bertanya
berulang-ulang dari pintu rumah sampe pintu kelas," ya bu ya? jemput
Mas, ya?" dan saya pun (walau hampir bosan) selalu menjawab "Ya"

Di siang hari saat matahari tepat berada di atas kepala, saya dan hanif
bersama-sama menjemput Akmal. Ia selalu tampak ceria ketika keluar
kelas, dan bercerita kalo kelasnya menyenangkan. Setiap kali melihat dia
keluar kelas dengan ceria begitu, saya selalu berharap esok dia akan
sekolah dengan ceria juga. Tapi apa mau di kata. Harapan tinggal
harapan. Sudah job desk harian: membujuk Akmal sekolah, mengantarkan,
dan meninggalkannya dalam keadaan menangis

Seminggu sudah masa ulangan dijalani sambil menangis, Alhamdulillah
nilainya masih tergolong bagus. Sebenarnya saya dan suami tak
menargetkan nilai, hanya kita khawatir kalo nilai jelek, Akmal jadi
tambah mogok.

Setelah masa ulangan, masih ada seminggu masa sekolah sebelum libur
lebaran. Job desk: membujuk, mengantar, meninggalkan sambil mendengarkan
teriakan dan raungan tangisnya, menjemput, masih harus tetap dijalankan.
Akmal belum bisa dinego.

Berbagai cara sudah kami lakukan, tapi teuteup sampai liburan lebaran,
Akmal masih susah sekolah.

Save by the bell....

Alhamdulillah ada libur panjang, lumayan buat kita untuk break, tidak
membujuk-bujuk sekolah. Tarik nafas dulu.....

Selama masa Akmal mogok, kami juga mengevaluasi pola asuh yang kami
lakukan, karena kami melihat mogoknya Akmal ini dipengaruhi juga oleh
sifat -sifat Akmal

Akmal yang sulit beradaptasi dengan hal baru, membuat dia pernah minta
pulan duluan dari sekolah,ketika agenda hari itu adalah berenang.
Gara-garanya dia merasa bingung, bagaimana nanti mandinya (karena waktu
TK dimandiin bu guru), di mana ganti bajunya, kolam renangnya seperti
apa,dlsb. Aktivitas SD yang lebih menuntut kemandirian membuatnya
bingung, bukan karena dia belum mandiri, hanya karena hal itu baru,
setting lingkungannya baru.

Akmal adalah tipe perencana, dan teratur. Semua harus direncanakan, dan
tidak boleh keluar rencana. Hal ini menjadi menyulitkan karena tak semua
hal di sekolah bisa dia ketahui dan direncanakan kan?

So kami atur strategi selanjutnya. Untuk sifatnya yang sulit beradaptasi
dengan hal baru,teratur dan perencana (status quo) ini, saya coba atasi
dengan banyak memberikan pengalaman baru yang tak begitu direncanakan.
Saya ajak ke setting lingkungan baru, dan arena bermain yang menantang
dan baru.

Kebetulan di masa lebaran tahun ini ada film laskar pelangi. Nonton di
bioskop adalah hal yang belum pernah dia alami. Kami ajak dia nonton,
kebetulan juga tema filmnya cocok. Keluar bioskop selain senang karena
itu hal baru, dia juga jadi paham kalo banyak orang yang ingin sekolah
tapi tidak semudah dirinya bersekolah.

Berenang di berbagai kolam renang yang belum dia temui, ternyata juga
membuahkan hasil yang lumayan, derajat stress yang dia rasakan
sepertinya berkurang, Ada sarana menyalurkan energi dan emosi. Kami
memang sudah lama tidak memfasilitasi dirinya untuk melepas emosi
seperti senang, terkejut, dan takut.

Mengintensifkan waktu bersama, menghindari pertengkaran dengannya,
menciptakan kehangatan dan memenuhi kebutuhan emosinya. Kami all out
memperbaiki kualitas emosi Akmal, sampai masa libur selesai.

H2C alias harap-harap cemas di hari pertama masuk sekolah setelah liburan lebaran. Tapi ada keyakinan 100% kami akan berhasil, lha wong kita sudah All Out.

Eng...ing....eng.....
"Aku belum siap sekolah!" kata Akmal...
Wua gubrak! Aduuuuh harus bagaimana lagi...
"Kenapa?"
"Nanti gimana, pelajarannya...bla...bla...bla"
Duh sifat perencananya dan sifat tidak siap dengan sesuatu yang tidak terprediksi ternyata masih melekat.
Blank deh saya, nggak bisa mikir!

Label:

Curhat....

Susah banget untuk nggak senewen kalo ngeliat Akmal makan...
Lamma banget!

Susah banget untuk nggak ngomel ngeliat dia slow motion....melakukan
hal-hal yang nggak perlu ketika makan

Gampangnya kusuapin aja ya....wah sampe umur berapa, secara dia dah
hampir 7 tahun, dah kelewat 3-4 tahun dari usia yang harusnya dia dah
makan sendiri

Akmal yang pintar, mandiri dalam banyak hal, bisa berkeping-keping
konsep dirinya gara-gara makan. Bahasa tubuhku dan omelanku bisa bikin
konsep dirinya jadi negatif

Tapi ya gimannnnaaa....

TIME OUT!

$%#Q&^*&(*()*@!)*!!!

Label: ,

Episode ini berawal dari Akmal yang tiba-tiba mengeluh perut melilit,
mual dan kemudian nggak mau sekolah. Dua minggu, saya dan suami mondar mandir ke sekolah Akmal. Konfirmasi ini itu...nyari apa penyebabnya,stressnya minta ampun. Sampai nyari alternatif sekolah, karena nggak yakin masalah-masalah yang ada bisa
diselesaikan.

Dari mogoknya Akmal, saya menyadari kalo sekolah yang kami pilih
tidaklah ideal, jangankan anak, untuk beberapa hal saya merasa kurang
sreg, dan hal-hal itu luput dari observasi waktu milih sekolah.

Beberapa fakta seperti guru yang gampang banget kasih konsekuensi,
pelajaran yang cepat sekali,PR yang menumpuk kala weekend, soal ujian
yang luar biasa "berat" menurut saya....bikin perut saya juga ikut melilit.

Konsep "Homeschooling" sudah berseliweran di benak saya...tapi buat anak
saya yang sosialisasinya nggak bagus, HS kayaknya malah akan memperburuk
kemampuan sosialisasinya itu (walau banyak pihak yang menyatakan HS
tidak berhubungan dengan sosialisasi)

Dua minggu saya mengintesifkan komunikasi dengan Akmal.
Ngobrol...ngobrol...ngobrol.
Kami juga manusia (duh alasan yang tidak perlu yak), tidak mudah menjaga
ketenangan hati ketika ngobrol atau membujuknya sekolah.

Akhirnya ketemulah penyebabnya dan solusinya. Guru yang suaranya terlalu
keras dan sering ngancem kasih konsekuensi, diselesaikan dengan
berkomunikasi, memberi feedback,dan saran.

PR yang tiba-tiba jadi banyak (sampai sepuluh halaman!), apalagi
diberikan di akhir pekan, ternyata terjadi atas saran orangtua yang
kebetulan nggak mau anaknya tertinggal dari anak-anak sekolah
lain...halagh...ampyun deh! Masalah ini diselesaikan dengan
berkomunikasi dan berdialog dengan guru.

Alhamdulillah gurunya open minded,lapang hati, mau menerima saran.

Perasaan merasa tertinggal pelajaran, diselesaikan dengan belajar di
malam hari, belajar sekedar menumbuhkan keyakinan kalo dia bisa.

Setelah akmal diyakinkan tentang perubahan-perubahan yang akan ia temui
disekolahnya, akmal mau sekolah. Tapi minta ditungguin di dalem kelas.
Duh....mallu banget euy nungguin anak laki-laki di kelas 1....hik...tapi
apa mau dikata kutemenin juga. No Choice.....

Eh besoknya dia malah sakit...keterusan deh nggak sekolah...mogok lagi
deh walau dah sembuh....akhirnya setelah bujuk membujuk, dan meyakinkan
akan pentingnya sekolah dan sekolah yang begitu mengasyikkan, Akmal mau
sekolah.

Gubraknya pas dia mau sekolah bertepatan dengan waktu ulangan harian.
Adduh, menjanjikan kelasnya bakal lebih santai malah masuk pas ulangan.

Alhamdulillah gurunya support banget, jadi suasana kelas yang terlalu
menegangkan buat dia...diselesaikan dengan cara ada foreplay dulu
sebelum bertanding:), gambar-gambar dulu sebelum masuk kelas. Hal ini
cukup nyaman, tapppiii teuteup belum bikin dia merasa aman. Masih pengen
ditungguin.

Karena semua permasalahan hampir sudah diselesaikan, dan saya menilai
kondisi cukup...maka..kami (saya dan gurunya) memutuskan inilah saatnya
untuk melepas Akmal sekolah. Say good bye, and see you...

Akmal meraung raung menangis kenceng-kenceng
Sehari...dua hari...tiga hari...nggak keliatan akan ada perkembangan...