Monday, July 14, 2008
13:41
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Dalam tabloid nova edisi minggu lalu, saya membaca artikel favorit saya yaitu artikel psikologi asuhan ibu Rieny Hasan. Dalam artikel tersebul bu Rieny memberi sedikit penjelasan dan motivasi untuk memperbanyak rekening bank emosi. Beliau menjelaskan bahwa:
"Tabungan emosional yang positif adalah buah dari interaksi yang dilandasi sikap saling menyayangi,menghormati,dan penuh kasih sayang. Kita perlu memiliki investasi ini karena dalam perjalanan hidup kemudian hari bisa saja terjadi ketaksepahaman, perbedaan kepentingan, atau rasa marah, yang bila kembali ke pengalaman-pengalaman sebelumnya akan membuat kita punya banyak ma'af,pemahaman, toleransi,dan yang terpenting adalah rasa percaya....."Terinspirasi tulisan tersebut, saya jadi teringat pada bapak. Bapak saya orangnya senang menolong, sebisa mungkin akan menolong baik tetangga maupun saudara yang kesusahan. Saat ini bapak sudah mulai menua, di rumah tinggal dengan mamah + adik dan suaminya. Akhir-akhir ini beliau sering sakit-sakitan, dan dengan rekening bank emosi yang beliau miliki,saat-saat yang sulit bisa beliau lewati karena datangnya pertolongan Allah SWT melalui tetangga, saudara atau kerabat.
Lalu juga jadi teringat.....bagaimana dengan rekening bank emosi miliki. Adakah? Kosong? Atau masih sedikit? Ya rekening bank emosi saya masih sedikit. Silaturahmi dengan kerabat, saudara dan tetangga masih minim, even by phone juga masih sangat jarang. Padahal hidup pasti tak selamanya mampu kita hadapi sendiri. Lalu apa lagi yang ditunggu. Yuk segera rencanakan dan lakukan silaturahmi,minimal lewat telpon...
Thursday, April 17, 2008
03:59
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Perjalanan cintaku dimulai ketika hormon pubertas itu menguat dalam diri. Di masa itu sangat kuat keinginan untuk berjumpa.....menggelora...mencari yang namanya cinta.
Masa itu begitu giat mempercantik diri. Berkaca di depan cermin. Memberikan yang terbaik buat seseorang. Menyambut baik perhatian seseorang. Terkadang mencinta walau tidak dicinta. Kadang juga dicinta walau tak mencinta.
Sampe hidayah itu datang...bahwa pacaran tak diperbolehkan....stop....kujaga gejolak yang diciptakan hormon tersebut....walau cukup sulit...tapi paling tidak aku tak pacaran lagi hingga sampai tibalah masanya cukup umurku untuk mengenal seseorang yang akan menjadi belahan jiwa. Kubaca suratnya...kupandang fotonya...kujalani prosesnya...ternyata dialah yang kemudian menjadi suamiku tercinta.
Masa-masa awal pernikahan...ternyata betapa membingungkan...apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan belahan jiwaku ini. Bagaimanapun kami belum saling mengenal....Begitu banyak yang mengejutkan bagi kami berdua. Ternyata ada sifat-sifat yang tak terduga. Ternyata ada harapan-harapan yang tak terpenuhi. Sering muncul pertanyaan: Apakah engkau mencintaiku...atau hanya sekedar menjalani apa yang sudah dipilih.......
Sampe akhirnya buah cinta kami hadir...anak pertama lahir dengan selamat. Inilah pertolongan Allah SWT yang kurasakan. Inilah yang menyelamatkan cinta kami. Kami menjadi kuat setelah ia hadir. Cinta itu menjadi hadir. Akupun merasa telah mencinta. Tapi apakah kau sudah mencintaiku. Entahlah aku tak yakin. Tapi kau suami yang baik, bertanggungjawab, selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga. Tapi apakah kau mencintaiku...entahlah.
Kemudian buah cintaku yang kedua lahir. Kami pun semakin kuat. Kami menjadi keluarga yang kuat. Utuh. Tak ada konflik yang berarti. Bahagia ditengah celoteh-celoteh buah hati kami. Selalu ada cerita bahagia di setiap hari. Aku mencintaimu...tapi apakah kau mencintaiku? Entahlah....
Cinta selalu terucap dari bibirmu...tapi benarkah itu keluar dari lubuk hati yang paling dalam...entahlah....atau hanya sekedar menjalankan kewajiban....entahlah...entahlah....
Hari berganti hari....bulan berganti bulan...tahun berganti tahun. Tujuh tahun sudah aku bersamanya,belahan jiwaku. Banyak hal yang kita jalani bersama. Banyak masalah yang berhasil kita lalui. Banyak cerita bahagia yang kita alami. Diri kita sudah jauh lebih matang, lebih dewasa, tidak meledak-ledak,terkendali, saling bahu membahu, saling membantu, saling mendukung, menguatkan satu sama lain....inikah cinta?
Monday, March 24, 2008
08:32
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Andrea Hirata memang dahsyat! Setelah Laskar Pelangi dan dan Sang Pemimpi,Edensor benar-benar menguatkan keyakinanku akan mimpi. 3 jam bersama edensor, tak terasa! Tertawa, menangis silih berganti ketika membaca buku tersebut. Sampai selesai....dan aku semakin yakin aku pun bisa menggapai mimpi.
Sudah lama sebenarnya aku mendengar bahwa Bermimpilah.....Bermimpilah....Jangan takut bermimpi....Bermimpi itu gratis....Nggak ada ruginya bermimpi....
Tapi aku pernah merasakan dan berpikir bahwa ungkapan itu non sense....omong kosong!
Sampai aku takut untuk bermimpi....takut malu pada diri sendiri ketika gagal...
Aku merasa apa pantas aku bermimpi A...B...C
Siapa aku.....tak realistis....bermimpi A...B...C.
Bukankah kita dilarang untuk berangan-angan panjang.....kurasa pendapat ini yang benar.
Tenggelam dalam realita....ternyata membuatku BOSAN! Aku merasa tidak dinamis....merasa hampa...merasa tak nyaman....merasa sedih....sampai membuncah air mataku ketika berdialog denganNya
Ku merenung....tentang hidup....tentang mimpi....
Hmmh, kulist apa-apa yang sudah kucapai....
Eh bukankah ini mimpi-mimpiku?
Ada mimpi ketika aku masih kecil.....
Ada mimpi ketika aku SMP
Ada mimpi ketika aku kuliah
Ada banyak mimpi yang sudah terwujud....
Jadi KENAPA AKU TAKUT BERMIMPI lagi???
Friday, March 14, 2008
00:18
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Akmal dan Hanif....2 jagoanku ini memang sungguh berbeda. Bagaikan kepingan puzzle yang klop saling melenggkapi. Akmal yang pandai, serius dan bertanggungjawab. Hanif yang humoris, santai, dan supel. Kesimpulan sementara, berdasarkan pengamatanku, Akmal kuat di logika matematika, sedang hanif di logika verbal.
Hari ini kubelikan mereka mainan. Keduanya mendapatkan mainan robot transformer, hanya berbeda jenis. Katanya robot ini bisa berubah-rubah, jadi mobil, pesawatm bahkan jadi singa. Mainan seharga 5000 rupiah ini, sangat menggembirakan mereka ketika masih dalam kemasan. Tetapi ketika dibuka, O...ow...ternyata tidak seperti yang mereka harapkan. Mainan Hanif terutama, yang ternyata mainan puzzle 3D, tercerai berai, hingga tersisa sedikit saja badan robot yang utuh. Hanif kecewa, apalagi ditambah diejek-ejek masnya.
Tapi hanif terdiam hanya sebentar, setelah itu dia mengoceh seru sekali, katanya mainannya ini bisa jadi spiderman, bisa jadi pesawat, bisa jadi mobil. ditambah dongeng yang seru banget. Hanif bermain + bercerita dengan heboh!
Masnya yang semula asyik bermain dengan mainannya dan merasa mainannya lebih mendingan dari hanif, sedikit-sedikit mulai tertarik pada ocehan hanif....lama-lama dia bilang :"kayaknya bagusan punya hanif, hanif! mas pinjem donk"
"Ha...ha...ha" aku tak kuasa menahan tawa.
"Mas....mas..., hanif mainnya seru bukan karena mainannya, tapi ocehannya aja yang seru..."
"Oh...." begitu kata masnya dengan serius :)
Ayo de ada berapa langkah kita dari rumah sampai ke rumah dhiya?
SATU! katanya dengan kencang....
DUA!
....3....4...9...10....11....12...13....14...21....22.....23...24....44....55....66....77....88....99
Begitu deh hasil berhitung hanif....:)
Berbeda dengan Akmal masnya yang bawaannya serius_yang pada usia 3 th sudah hafal angka dan huruf, Hanif masih santai saja....santai dalam berhitung....santai dalam belajar....santai dalam segala hal!
Tapi di sisi lain, yang paling aku suka adalah PD nya. Ya, dia PD banget, berani menjawab apa saja jika ditanya, mau salah atau benar ....dia tidak begitu peduli....
Mungkin demikianlah seharusnya ya seorang anak, bebas lepas, tak banyak beban.
Hmmm, tapi kadang-kadang deg-degan juga, kadang terpikir....bisa nggak ya dia seperti masnya....yang lancar banget ketika belajar membaca dan berhitung. Tapi sering kuhapus tuh pikiran itu dengan....pertanyaan:kenapa harus sama dengan masnya?
Kenapa ya harus sama.....kenapa pikiran itu suka terlintas ya....
Sepertinya karena...tuntutan sistem pendidikan sekarang yang mengharuskan anak sudah bisa calistung menjelang masuk SD.
Memang dilematis sebagai orangtua zaman sekarang di Indonesia. Satu sisi pengen mengikuti dunia anak: BERMAIN, sisi lain khawatir anak mengalami kesulitan di sekolahnya kelak.
Sementara ini kuambil jalan tengah saja, tetap bermain sambil diselip-selip sedikit belajar berhitung/ membaca....