Thursday, November 13, 2008
10:14
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Curhat....
Susah banget untuk nggak senewen kalo ngeliat Akmal makan...
Lamma banget!
Susah banget untuk nggak ngomel ngeliat dia slow motion....melakukan
hal-hal yang nggak perlu ketika makan
Gampangnya kusuapin aja ya....wah sampe umur berapa, secara dia dah
hampir 7 tahun, dah kelewat 3-4 tahun dari usia yang harusnya dia dah
makan sendiri
Akmal yang pintar, mandiri dalam banyak hal, bisa berkeping-keping
konsep dirinya gara-gara makan. Bahasa tubuhku dan omelanku bisa bikin
konsep dirinya jadi negatif
Tapi ya gimannnnaaa....
TIME OUT!
$%#Q&^*&(*()*@!)*!!!
Episode ini berawal dari Akmal yang tiba-tiba mengeluh perut melilit,
mual dan kemudian nggak mau sekolah. Dua minggu, saya dan suami mondar mandir ke sekolah Akmal. Konfirmasi ini itu...nyari apa penyebabnya,stressnya minta ampun. Sampai nyari alternatif sekolah, karena nggak yakin masalah-masalah yang ada bisa
diselesaikan.
Dari mogoknya Akmal, saya menyadari kalo sekolah yang kami pilih
tidaklah ideal, jangankan anak, untuk beberapa hal saya merasa kurang
sreg, dan hal-hal itu luput dari observasi waktu milih sekolah.
Beberapa fakta seperti guru yang gampang banget kasih konsekuensi,
pelajaran yang cepat sekali,PR yang menumpuk kala weekend, soal ujian
yang luar biasa "berat" menurut saya....bikin perut saya juga ikut melilit.
Konsep "Homeschooling" sudah berseliweran di benak saya...tapi buat anak
saya yang sosialisasinya nggak bagus, HS kayaknya malah akan memperburuk
kemampuan sosialisasinya itu (walau banyak pihak yang menyatakan HS
tidak berhubungan dengan sosialisasi)
Dua minggu saya mengintesifkan komunikasi dengan Akmal.
Ngobrol...ngobrol...ngobrol.
Kami juga manusia (duh alasan yang tidak perlu yak), tidak mudah menjaga
ketenangan hati ketika ngobrol atau membujuknya sekolah.
Akhirnya ketemulah penyebabnya dan solusinya. Guru yang suaranya terlalu
keras dan sering ngancem kasih konsekuensi, diselesaikan dengan
berkomunikasi, memberi feedback,dan saran.
PR yang tiba-tiba jadi banyak (sampai sepuluh halaman!), apalagi
diberikan di akhir pekan, ternyata terjadi atas saran orangtua yang
kebetulan nggak mau anaknya tertinggal dari anak-anak sekolah
lain...halagh...ampyun deh! Masalah ini diselesaikan dengan
berkomunikasi dan berdialog dengan guru.
Alhamdulillah gurunya open minded,lapang hati, mau menerima saran.
Perasaan merasa tertinggal pelajaran, diselesaikan dengan belajar di
malam hari, belajar sekedar menumbuhkan keyakinan kalo dia bisa.
Setelah akmal diyakinkan tentang perubahan-perubahan yang akan ia temui
disekolahnya, akmal mau sekolah. Tapi minta ditungguin di dalem kelas.
Duh....mallu banget euy nungguin anak laki-laki di kelas 1....hik...tapi
apa mau dikata kutemenin juga. No Choice.....
Eh besoknya dia malah sakit...keterusan deh nggak sekolah...mogok lagi
deh walau dah sembuh....akhirnya setelah bujuk membujuk, dan meyakinkan
akan pentingnya sekolah dan sekolah yang begitu mengasyikkan, Akmal mau
sekolah.
Gubraknya pas dia mau sekolah bertepatan dengan waktu ulangan harian.
Adduh, menjanjikan kelasnya bakal lebih santai malah masuk pas ulangan.
Alhamdulillah gurunya support banget, jadi suasana kelas yang terlalu
menegangkan buat dia...diselesaikan dengan cara ada foreplay dulu
sebelum bertanding:), gambar-gambar dulu sebelum masuk kelas. Hal ini
cukup nyaman, tapppiii teuteup belum bikin dia merasa aman. Masih pengen
ditungguin.
Karena semua permasalahan hampir sudah diselesaikan, dan saya menilai
kondisi cukup...maka..kami (saya dan gurunya) memutuskan inilah saatnya
untuk melepas Akmal sekolah. Say good bye, and see you...
Akmal meraung raung menangis kenceng-kenceng
Sehari...dua hari...tiga hari...nggak keliatan akan ada perkembangan...
Wednesday, November 12, 2008
17:01
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
Pendidikan dan Pengasuhan
Kalau anak lagi melakukan perilaku "sulit" salah satu yang efektif untuk
menghentikannya adalah dengan menerapkan time out. Anak diberi ruang dan
waktu untuk diam selama waktu yang cukup untuk menenangkan dirinya dan
memikirkan perilakunya itu.
Biasanya saya berlakukan time out kalo anak dah berkelahi,
tonjok-tonjokan, atau tendang-tendangan yang membahayakan.
Saya juga berlakukan time out kalo anak ngamuk.
Dan ternyata time out juga bisa loh diberlakukan pada diriku sendiri?
Ketika aku sudah merasa kalo diriku sudah bertaring, bertanduk, dan
berasap karena melihat kelakukan anak-anakku :-(
Seperti tadi pagi, yang satu teriak begini, yang satu menjengkelkan
dengan rengekan begitu....begini...begitu....eugh rasanya mau menghilang
saja. TRING! Tapi kan nggak bisa...
Akhirnya karena perasaan kepala udah ngebul, aku memutuskan untuk TIME
OUT....minggir dari kancah pertempuran....ngiuhan di bawah pohon mangga
rumahku...wuiiih enak apalagi sambil ngeliatin senyuman suami yang super
manis duh serasa embun menetes di hati...
Tidak sampai 5 menit hati kembali tenang, bisa berpikir jernih, dan
menghadapi anak-anak dengan tenang :-)
Thursday, November 06, 2008
08:29
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Karena jadi pengacara (Pengangguran Banyak Acara) di rumah, jadi suka
berkesempatan memperhatikan perilaku mba-mba pengasuh anak-anak
tetangga, yang ibunya kerja.
Anggap aja laporan pandangan mata:)
Suatu hari Hanif mau nyamper temennya Ali. Kita ketok-ketok pintunya.
Assalamu'alaikum....Ali!
Tak terdengar sahutan. Oh Ali mungkin sedang tidur. Tapi masa pagi-pagi
tidur ya. Ali! Aku dan Hanif memanggil Ali.
Kreet,pintu rumahnya Ali di buka.
Eh Ali...lho kok Ali berair mata, dan kok rumahnya sepi sekali...
"Ali sendiri?"
"Iya" jawab Ali pelan
Oh kasihan sekali anak 3 tahun sendirian di rumah,nggak tahu apa aku
protektif atau bagaimana ya, tapi aku belum tega ninggalin anak 3 th
sendirian di rumah.
"kemana mbanya?"
"jalan-jalan"
"Jalan-jalan?"
Karena tidak tega, aku ajak Ali ke rumah, kebetulan ketemu Bunda
tetanggaku yang juga ada di rumah, Aku cerita. Bunda tak heran, rupanya
mba ini punya kebiasaan tebar pesona di gerbang komplek, deket gardu
satpam. Oaalaaa!
Singkat cerita,aku tahu dari Ali,kalo dia tadi sedang tidur,ketika
mbanya meninggalkannya...
Di lain hari
Terdengar suara tangis kencang di rumah Ali.
Siapa yang nangis? aku bertanya pada mbanya Ali yang sedang berada di luar
"Ali" jawabnya
"lagi di kamar mandi...biar ajalah...habis Ali nakal..."
Duh diapain tuh ya...kasian amat...sering banget disebut Nakal dan
sepertinya Ali sedang dikunci di kamar mandi
Di lain hari..
Ali sedang bermain di rumah.
Dah dzuhur kok nggak diajak pulang:(. Padahal Hanif waktunya makan
siang, baca buku dan tidur.
"Ali...Ali.."
Panggil Mbanya.
"Ali ayo pulang, ini jagain ade...mba mau ke warung"
Ngong...bengong deh saya...anak 3 tahun suruh jaga anak 1 tahun?
Ali menolak, tapi lama-lama ia, mau juga karena dipaksa-paksa
Selang berapa waktu kemudian
Ada suara pintu dibuka
"Eh Ali"
"Sini de...mau tunggu mba di sini aja"
Selang berapa waktu yang cukup lama
"Ali...mba suruh di rumah"
"Abis mba lama...."
Di lain hari
Hujan deras. Ali sedang bermain di rumah bersama Hanif dan Akmal. Saya
heran...kok hujan deras begini, Ali nggak ada yang nyari, apa nggak ada
yang khawatir padanya.
"Ali kalo hujan begini apa nggak dicari Ummi" (kebetulan hari
minggu,biasanya ummi di rumah
"Ummi,nggak ada lagi ngaji sama Abi"
Oooh pantas,mba nya mana peduli....
Wednesday, November 05, 2008
08:17
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
Pendidikan dan Pengasuhan
Banyak cara anak menunjukkan bahwa dirinya sudah besar. Biasanya dengan
cara meniru perilaku orang yang lebih besar dari dirinya. Begitupun
dengan Hanif. Akhir-akhir ini ia berusaha menunjukkan kalau ia sudah
besar dengan meniru Mas nya, Akmal.
Akmal yang cepat sekali meluapkan emosinya, ditangkap Hanif sebagai
itulah perilaku anak besar.
So, sudah dua hari ini Hanif punya kebiasaan baru TERIAK.
Menolak dengan berteriak. Meminta dengan berteriak.
Reaksiku??? Santai saja,karena sudah hafal sebenarnya itu bukan dirinya:)
Dia adalah anak yang tak bisa berlama-lama marah. Ngambeknya hanya
"rekayasa" untuk dihargai, untuk diperhatikan.
Aku hanya menghampiri, meraihnya, menggendong, memeluknya, dan
menawarinya hal-hal yang sebenarnya ia butuhkan,sambil memintanya untuk
tenang dulu. Tidak lupa jika ia berteriak dalam rangka meminta, aku
tetapi mengingatkannya untuk mengulangi permintaannya dengan kata "tolong".
Dan tak lama...seperti yang kuduga ia akan tersenyum lebar. Ia memang
anak yang manis, tak bisa berlama-lama marah.
Namanya juga Hanif :)