Sunday, November 30, 2008
05:23
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
Paling asik kalo weekend, diem di rumah. Nyaman banget, istirahat, bercengkrama,berkebun,main sama anak-anak...
Apalagi kalo weekend gini, Akmal kan libur,plus temen-temen Akmal dan Hanif yang juga lagi libur. Jadinya heboh banget, ancur-ancuran deh rumah, dijadiin basecamp. Crayon ke mana-mana. Kertas Origami sebungkus langsung habis, bertebaran dimana-mana. Yah, biarlah, prinsipnya ASA (Asal Anak Senang). Kan tidak hanya kita yang butuh refreshing, anak-anak juga, apalagi Akmal yang sudah sekolah, sudah merasakan hidup perlu perjuangan.
Tapi yang paling males kalo lagi liburan gini, apa coba? KE DAPUR. Bosen euy, karena dah tiap hari kerja, masak pagi-pagi sebelum Akmal dan Ayah berangkat, karena mereka bawa bekel. Biar homemade ceritanya mah. Jadi kalo weekend pengennya LIBUR. Padahal kalo ibu-ibu lain banyak tuh yang biasanya weekend bikin sesuatu yang spesial. Kalau aku sekarang kok ya muales ya.
Pagi-pagi dah nawarin. Hayoh mau sarapan apa? Hanif milih sarapan bubur ayam, ya udah nyegat abang bubur ayam yang lewat. Terus Ayah, Akmal? Nasi Uduk. Ya,wis belilah nasi uduk, plus cemilan khas betawi_ketan,dan timus singkong. Jadi kalo weekend, agenda pertama adalah wisata kuliner.
Sampe menjelang makan siang, Ayah baru nyadar dan nanya,kok belon keliatan masak? Hmh, diriku hanya tersenyum simpul dan muka mohon maklum sambil bilang kalo lagi bosen ke dapur. Eh Ayah hanya tersenyum dan memaklumi, ya udah beli aja,katanya.
Ya udah, nyobain beli ke warung nasi terdekat. Bingung juga ternyata kalo beli mateng. Gak semua makanannya menggiurkan, padahal ini warung rekomendasi tetangga yang dah langgan beli ke situ tiap hari. Pilih…pilih…pilih,hmm, bener kata tetangga efisien beli, kalo ngitung-ngitung beli mentahannya,kok jadi murahan beli mateng ya. Mudah-mudahan enak.
Sampe rumah. Ayo makan. Icip-icip, yah ternyata rasanya nggak mak nyus….
Duh kok bisa-bisanya ya tetanggaku lebih milih beli dari pada masak, apalagi tiap hari, kebayang deh bosennya.
Tanya Ayah, dan benar menurut Ayah rasanya kurang nendang. Jadi kesimpulannya mending masak sendiri. Tapi gimana ya…kalo lagi malesss, dan udah ketebak deh kalo tiap weekend bawaannya selalu bosen, jenuh, dan males ke dapur.
Thursday, November 27, 2008
10:59
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
Pendidikan dan Pengasuhan
Teringat waktu Akmal TK, saya suka ngobrol dengan ibu-ibunya teman Akmal, mereka
concern banget dengan perkembangan akademik anak-anak mereka. Rata-rata semangat sekali mengajari anak membaca, menulis dan menghitung, walau anaknya masih Play Group atau TK A. Bahkan banyak yang wara wiri cari tempat les baca.
Tapi kalo main ke rumah mereka, tengak tengok (ih nggak sopan ya di rumah orang kok...) liat-liat isi rumah, hmmmh tak terlihat ada buku!
Lah jadi apa maksud para ibu nih ngajarin baca. Apalagi cara ngajarinnya juga dijejel-jejel (halagh apa bener nih istilahnya), ada yang sampe menjadwalkan tiap malam digilir, belajar baca, dikte, hitung...
Mereka lebih kepada mengejar BISA baca daripada MINAT baca. Katanya supaya di SD nanti tidak ketinggalan pelajaran. Soalnya pelajaran SD sudah menuntut anak bisa baca. Tanpa disadari sasarannya menjadi benar-benar akademik jangka pendek.
Padahal kalo kita telusuri, kompetensi mendasar yang bisa jadi bekal survivenya anak-anak kita di masa depan,lebih pada kompetensi MINAT baca, BUKAN hanya sekedar BISA baca,kan?
Demikian halnya pun dengan BELAJAR. Mana yang lebih penting? BISA BELAJAR atau MINAT BELAJAR?
Bisa Belajar bisa diperoleh dengan memberikan reward atau punishment, sesuai pilihan orangtua. Via misalnya, dijadwalkan oleh mamanya untuk belajar tiap malam. Via masih berusia 3 tahun. Ia diajak belajar oleh ibunya dengan berbagai cara. Ya, Via bisa belajar, perkembangan akademiknya pun pesat. Tapi apakah minat belajarnya turut serta tumbuh dalam dirinya? Perlu dicek kembali. Jangan sampai karena kita concern pada bisa belajar, kita lupa memperhatikan menumbuhkan minatnya.
Banyak orangtua yang tidak peduli pada menumbuhkan minat belajar anak. Saya sering dengar para ibu yang harus bertengkar dengan anak, karena anak tak mau belajar. Padahal anaknya masih prasekolah loh.
Menumbuhkan Minat Belajar atau Motivasi Belajar sejak dini,sebenarnya sangat sederhana, dan tak perlu energi + biaya yang banyak. Menumbuhkan minat belajar pada anak prasekolah cukup dengan satu jurus saja: BERMAIN
Apapun melalui bermain anak akan senang. Memberi ruang dan waktu yang cukup untuk bermain bukan berarti anak menjadi tidak belajar. Hal ini bahkan akan membentuk Minat Belajar yang kuat pada anak.
Kalau minat belajar sudah tumbuh, selanjutnya kita sebagai orangtua tidak akan menemukan banyak kesulitan ketika anak memasuki sekolah dasar. Kalau basa sundanya sih istilahnya "tos hideng nyalira"...:)
Wednesday, November 26, 2008
17:02
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
Pendidikan dan Pengasuhan
Berbeda dengan AKMAL KECIL yang...
...minta baca paling nggak 10 buku baru bisa tidur
... sangat sayang sama buku-buku yang dia miliki (dari sejak bayi nggak ada sejarahnya Akmal ngerobek/mgerusak buku)
...selalu menyelesaikan bacaannya sampai tuntas
HANIF....
...nggak pernah minta baca buku sebelum tidur (gayanya pelor:)
...nggak merasa perlu ngerawat buku, sobek ya sobek...kalo perlu digunting ya gunting aja
...walau baru sehalaman, kalau Hanif ngantuk, Hanif pasti milih tidur daripada baca:),langsung pules lagi tidurnya...zzzzz
Perbedaan ini membuat saya tidak begitu banyak berharap:). Saya sudah menerima karakter Hanif sepenuhnya, dan mengapresiasi begitu banyak kelebihan dia, Hanif yang penuh ide, kreatif,suka ngobrol,pendengar yang baik, banyak bergaul, ramah dan tidak sombong ha3...berlebihan kali ya...eh tapi bener kok:)
Gayanya Hanif ini ternyata mempengaruhi semangatku untuk mengajaknya membaca. Jauh lebih kendorlah dibanding waktu Akmal kecil.
Namun ternyata walaupun klop antara minat Hanif yang kurang dan semangatku yang kendor, tidak menjadi sama dengan Hanif terus-terusan tidak minat baca.
Akhir-akhir ini minat baca Hanif meningkat tajam. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas membaca sebelum tidur. Minta tambah buku dan tambah buku lagi sampai dia puas. Hanif juga bisa protes kalau aku ketiduran pas ngebacain buku:).
Kemajuan lainnya, dia sudah bisa bergaya baca, seakan-akan baca, padahal sih baca gambar. Tapi kata-kata yang diucapkan persis dengan yang ada di buku jadi kaya beneran baca.
Hmmh, jadi mikir kok dia bisa berubah.Padahal tidak ada perubahan cara mengasuh. Kenapa jadi suka baca?
Jawabannya adalah...sepertinya karena suasana "suka baca" ada disekelilingnya. Saya suka baca buku, Masnya juga. Buku juga ada di mana-mana. Lama-lama dia nyadar kali ya kalo baca itu asik. Plus rutinitas membaca buku sebelum tidur sebisa mungkin memang selalu dijalankan. Jadi akhirnya Hanif pun suka membaca. Alhamdulillah.
Pada dasarnya memang hanya minat baca yang saya tumbuhkan pada anak-anak. Saya tidak menstimulasi anak agar bisa cepat membaca. Minat,saya pikir lebih penting daripada mampu. Dan minat ini sepertinya seringkali luput dari "incaran" orangtua.
Padahal bisa terobservasikan, kalau begitu banyak orang yang bisa baca, tapi berapa banyak sih yang suka baca. Juga bisa terobservasi apakah orang-orang hebat yang berguna bagi ummat adalah orang yang sebatas bisa baca atau orang yang suka baca?
Friday, November 14, 2008
12:29
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
,
Pendidikan dan Pengasuhan
Di hari pertama setelah libur panjang lebaran, ternyata Akmal masih mogok:(. Saya dan suami sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, karena sepertinya sudah semua jurus dikeluarkan.
Akhirnya karena tahu bahwa sifatnya yang serba harus direncanakan itu yang sangat menghambat dirinya untuk pergi sekolah, saya hanya bisa berkata:"mas, santai saja, nanti di sekolah seperti apa anggap saja kejutan yang akan menyenangkan"
Saya berkata begitu karena Akmal paling senang kalo saya bilang ada kejutan untuknya. Kejutan ini biasanya berupa hadiah.
Tapi ternyata teteup, dia belum bisa menghadapi yang namanya sekolah. So, tarik-tarikan deh ngajak dia sekolah.
Ternyata di sekolah juga bukan belajar, melainkan acara halal bihalal. Setelah berusaha membujuk dan dia masih tidak mau masuk arena, dengan terpaksa kami meninggalkan dia yang nangis kenceng banget.
Di jalan menuju pulang, saya hanya bilang kepada suami:"ya sudah, Yah, mungkin memang ini ujian kita, anggap saja setiap hari kita akan menghadapinya dan melakukan ini rutin setiap pagi, toh dia di sekolahnya sih nyaman, kita ajak-ajak ngobrol aja, nggak usah tegang"
Berusaha menghibur diri dan suami, hanya itu yang bisa saya lakukan. Alhamdulillah saya dan suami adalah tim yang kompak, jadi suami sepakat pada apa yang katakan. Karena kalo mengikuti hawa nafsu mah suami pasti kesel banget liat anak laki-lakinya punya sifat yang kata orang "cengeng".
Pulang sekolah seperti biasa, akmal ceria. Kali ini saya sudah tak menyimpan harap, kecuali do'a (masih berharap berarti:), ya iyalah namanya juga orangtua).
"Gimana mas?"
"Wah asyik bu, tadi aku dikasih ketupat"
"O,ya?"
"I,ya bener kata ibu, di sekolah banyak kejutan, aku tuh pengen banget lebaran lagi, makan ketupat, eh ternyata di sekolah ada"
"Nah,kan,jadi gimana besok"
"Aku mau sekolah"
Alhamdulillah....
Bagaimana besok deh, yang penting dia dah bilang mau
Alhamdulillah kali ini benar, esoknya dia benar-benar mau sekolah, nggak usah dibujuk-bujuk...
Hmmh perjalanan panjang episode ini cukup melelahkan, tapi begitu indah untuk diingat.
Semua ujian pasti ada hikmahnya.
Thursday, November 13, 2008
11:45
Diposting oleh
Lita Edia
Label:
cerita-cerita
,
Pendidikan dan Pengasuhan
Selama masa Akmal mogok ini, Ia minta dijemput oleh saya. Dia bertanya
berulang-ulang dari pintu rumah sampe pintu kelas," ya bu ya? jemput
Mas, ya?" dan saya pun (walau hampir bosan) selalu menjawab "Ya"
Di siang hari saat matahari tepat berada di atas kepala, saya dan hanif
bersama-sama menjemput Akmal. Ia selalu tampak ceria ketika keluar
kelas, dan bercerita kalo kelasnya menyenangkan. Setiap kali melihat dia
keluar kelas dengan ceria begitu, saya selalu berharap esok dia akan
sekolah dengan ceria juga. Tapi apa mau di kata. Harapan tinggal
harapan. Sudah job desk harian: membujuk Akmal sekolah, mengantarkan,
dan meninggalkannya dalam keadaan menangis
Seminggu sudah masa ulangan dijalani sambil menangis, Alhamdulillah
nilainya masih tergolong bagus. Sebenarnya saya dan suami tak
menargetkan nilai, hanya kita khawatir kalo nilai jelek, Akmal jadi
tambah mogok.
Setelah masa ulangan, masih ada seminggu masa sekolah sebelum libur
lebaran. Job desk: membujuk, mengantar, meninggalkan sambil mendengarkan
teriakan dan raungan tangisnya, menjemput, masih harus tetap dijalankan.
Akmal belum bisa dinego.
Berbagai cara sudah kami lakukan, tapi teuteup sampai liburan lebaran,
Akmal masih susah sekolah.
Save by the bell....
Alhamdulillah ada libur panjang, lumayan buat kita untuk break, tidak
membujuk-bujuk sekolah. Tarik nafas dulu.....
Selama masa Akmal mogok, kami juga mengevaluasi pola asuh yang kami
lakukan, karena kami melihat mogoknya Akmal ini dipengaruhi juga oleh
sifat -sifat Akmal
Akmal yang sulit beradaptasi dengan hal baru, membuat dia pernah minta
pulan duluan dari sekolah,ketika agenda hari itu adalah berenang.
Gara-garanya dia merasa bingung, bagaimana nanti mandinya (karena waktu
TK dimandiin bu guru), di mana ganti bajunya, kolam renangnya seperti
apa,dlsb. Aktivitas SD yang lebih menuntut kemandirian membuatnya
bingung, bukan karena dia belum mandiri, hanya karena hal itu baru,
setting lingkungannya baru.
Akmal adalah tipe perencana, dan teratur. Semua harus direncanakan, dan
tidak boleh keluar rencana. Hal ini menjadi menyulitkan karena tak semua
hal di sekolah bisa dia ketahui dan direncanakan kan?
So kami atur strategi selanjutnya. Untuk sifatnya yang sulit beradaptasi
dengan hal baru,teratur dan perencana (status quo) ini, saya coba atasi
dengan banyak memberikan pengalaman baru yang tak begitu direncanakan.
Saya ajak ke setting lingkungan baru, dan arena bermain yang menantang
dan baru.
Kebetulan di masa lebaran tahun ini ada film laskar pelangi. Nonton di
bioskop adalah hal yang belum pernah dia alami. Kami ajak dia nonton,
kebetulan juga tema filmnya cocok. Keluar bioskop selain senang karena
itu hal baru, dia juga jadi paham kalo banyak orang yang ingin sekolah
tapi tidak semudah dirinya bersekolah.
Berenang di berbagai kolam renang yang belum dia temui, ternyata juga
membuahkan hasil yang lumayan, derajat stress yang dia rasakan
sepertinya berkurang, Ada sarana menyalurkan energi dan emosi. Kami
memang sudah lama tidak memfasilitasi dirinya untuk melepas emosi
seperti senang, terkejut, dan takut.
Mengintensifkan waktu bersama, menghindari pertengkaran dengannya,
menciptakan kehangatan dan memenuhi kebutuhan emosinya. Kami all out
memperbaiki kualitas emosi Akmal, sampai masa libur selesai.
H2C alias harap-harap cemas di hari pertama masuk sekolah setelah liburan lebaran. Tapi ada keyakinan 100% kami akan berhasil, lha wong kita sudah All Out.
Eng...ing....eng.....
"Aku belum siap sekolah!" kata Akmal...
Wua gubrak! Aduuuuh harus bagaimana lagi...
"Kenapa?"
"Nanti gimana, pelajarannya...bla...bla...bla"
Duh sifat perencananya dan sifat tidak siap dengan sesuatu yang tidak terprediksi ternyata masih melekat.
Blank deh saya, nggak bisa mikir!