Label:

Pagi hari, sebelum suami ke kantor adalah salah satu waktu yang bermakna untuk saya. Sambil menemani suami minum kopi atau teh, plus sarapan. Kita ngobrol-ngobrol banyak hal di waktu yang sempit itu.

Entah kenapa ya, pagi-pagi kok bisa jadi waktu yang enak buat ngobrol padahal mah kan kalo pagi pasti suasana rada paciweuh.

Idenya biasanya dari saya, apa aja bisa diobrolin, dan biasanya saya mulai dengan ujug-ujug mengucapkan suatu kalimat....

"Yah...nih ada yang bikin status tentang apendix"

"Ooo...." katanya...he3 memang obrolan pagi biasanya adalah waktu saya untuk ngacaprak, dan waktu suami untuk menjadi pendengar yang baik:)

"Hmm kalau baca status kayak gini, jadi inget waktu Ayah sakit. Betapa bodohnya aku waktu itu, sampe nggak tahu Ayah sakit apa"

"Kalau saja pelajaran biologi nempel di kepalaku, paling nggak aku bisa ngira-ngira, organ apa yang lagi terganggu, dan nggak kecolongan kayak waktu itu"

"Perut atas, bawah, kanan, kiri, organnya apa saja yang ada di sana, kan semua dah kita pelajari waktu di SMA"

"Begitu juga kelenjar-kelenjar apa aja yang kalau bengkak itu menandakan adanya infeksi"

"Kan dah kita pelajari juga"

"Iya ya...." kata suamiku lagi..:)

"Kalau aja pertanyaan waktu sekolah dulu tuh gini, "kalau kamu sakit perut bagian kiri, kira-kira organ apa yang terganggu? Mungkin lumayan walau kita nggak masuk kedokteran, paling nggak bisa jadi bekel kita saat ini, buat dugaan awal aja"

"Toh itu harusnya jadi pengetahuan dasar, buat kita, terutama aku sebagai ibu dan istri"

"Iya bener, aku aja yang nilainya bagus-bagus nggak ada yang inget" kata suamiku lagi

Heu....kalimat yang bagus untuk penutup obrolan pagi....aku aja (suami) yang nilainya bagus nggak inget pelajaran SMA apalagi kamu yang remedial terus selama sekolah...huahahaha...heup ah...ketawa dalam hati aja...jaim:)

Label:

Bermain bagi Bunda Zaki adalah kesempatan emas bagi anak untuk belajar bagaimana bersikap pada orang lain. Awalnya Bunda Zaki berpikir adalah hal yang bagus untuk membiarkan anak bermain dengan siapa saja.

Namun suatu ketika Bunda Zaki melihat tangan kanan dan kiri Zaki, masing-masing membawa sebuah tas besar. Badan mungil Zaki terlihat oleng beberapa kali, karena terbawa beratnya tas tersebut. Sementara di depan Zaki, tampak temannya, Budi sedang berjalan dengan gagahnya.

"Wah....sedang apa Zaki?" pikir Bunda. Membantu teman? Tapi tampaknya Budi sangat gagah. Tidak tampak kesakitan atau tanda-tanda kesusahan lainnya.

Waktu yang lain, Bunda Zaki juga mendengar bagaimana Budi ini berteriak...meneriaki teman-temannya, memerintah ini dan itu.

Hmm, entah kenapa, Bunda Zaki tidak bisa menerima itu. Bermain sambil diperintah-perintah. Diminta tolong, tidaklah masalah. Tetapi diperintah-perintah seperti seorang anak buah oleh atasannya...mmm....Bunda Zaki tidak menyenanginya. Apalagi gaya Zaki yang baik hati, senang membantu teman. Apapun akan dia lakukan untuk temannya.

Bunda mengajak Zaki berbicara mengenai hal ini. Zaki yang masih berumur hampir 5 tahun, memang masih lugu, dalam pandangannya Zaki galak, itu saja. Namun kakaknya Ahmad, sangat paham kalau Zaki sudah bersikap Bossy pada adiknya.

Diminta tolong dan diperintah dengan kasar, adalah sesuatu yang berbeda. Bunda Zaki merasa perlu memberikan pemahaman tersebut, dan membimbing Zaki untuk bersikap.

Bunda Zaki berpikir, suatu saat anaknya akan berhadapan dengan berbagai karakter manusia, dan anaknya perlu belajar bagaimana bersikap yang tepat. Bagaimana berkomunikasi untuk mengatakan TIDAK, pada ajakan atau perintah yang tidak baik baginya.

Permasalahan ini selesai. Zaki sudah dapat bersikap, paling tidak, ia bisa menolak ajakan atau perintah Budi yang terlalu kasar dalam pandangannya.

Namun Bunda Zaki masih prihatin dengan anak-anak lain. Yang terus saja mau diperintah ini dan itu oleh Budi. Memerintah dengan sopan, mungkin ciri pemimpin masa depan. Tapi jika memerintah dengan kasar, dan tidak mau tahu kondisi teman, apapun harus menurutinya, Bunda Zaki pikir ini bukanlah sifat yang perlu dipertahankan. Misalnya saja, suatu hari, Bunda Zaki melihat Ali, temannya Zaki ditarik-tarik (diseret) untuk mengikuti kemanapun Budi pergi, termasuk keluar komplek perumahan. Hal yang sebenarnya jarang dilakukan oleh anak-anak lain di komplek tempat Zaki tinggal, terutama oleh anak seumur Zaki dan Ali. Biasanya mereka keluar bersama orangtuanya.

Adapun mengenai Budi, ya Bunda Zaki juga prihatin, tapi permasalahan Budi yang Bossy tentu tidaklah mudah untuk mengurai dan mengatasinya, dan Bunda Zaki pikir itu diluar wewenangnya. Tapi untuk anak-anak lain sebenarnya Bunda Zaki ingin sekali memberitahu Bunda mereka untuk membimbing anaknya bersikap kepada anak yang Bossy seperti Budi.

Sisi lain Bunda Zaki berpikir, sikap tegas dari teman-teman Budi akan memberikan umpan balik yang mungkin berguna bagi Budi. Sikap penerimaan positif terhadap sikap Bossy yang ditunjukkan Budi, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Budi saat ini,hanya akan memperkuat sikap tersebut.

Tapi Bunda Zaki sendiri sebenarnya masih kurang yakin apakah memang benar bahwa anak perlu dibimbing oleh orangtuanya untuk dapat bersikap pada anak-anak Bossy? Atau dibiarkan sajakah?

Label:

Selama saya belum menikah, saya hanya mengenal sakit flu, maag dan masuk angin plus demam berdarah karena pernah sakit waktu saya kecil. Tidak ada pengalaman menemani anggota keluarga operasi atau sakit berat lainnya Alhamdulillah. Jika saya mengeluh sakit perut, maka saya akan mendapat olesan kayu putih atau kerokan bawang merah, masuk angin katanya. Panas cukup diberi b*dr*x*n. Kalau agak kompleks dalam arti campur-campur gejalanya sama batuk pilek, tinggak ke puskesmas dan diberi obat standar...obat anti mual warna hijau, penambah nafsu makan, antibiotik:)

Begitulah bekal pengetahuan standar saya tentang kesehatan ketika saya mulai menjalani kehidupan baru, sebagai istri dan ibu. Sakit perut selalu dihubungkan dengan masuk angin. Mual selalu dihubungkan dengan maag.

Namun ternyata dalam kehidupan rumah tangga saya, pengetahuan standar itu tidak cukup. Beberapa kali anak saya masuk rumah sakit dan harus dirawat karena mengalami sakit yang tidak saya kenal sebelumnya, seperti Infeksi Saluran Kencing (ISK), Infeksi Telinga, dan Usus Buntu. Ada juga penyakit yang pernah dituduhkan pada anak saya sehingga saya harus mencari second opinion berkali-kali karena konsekuensinya tidak ringan alias berobat rutin tiap hari selama 6 bulan, penyakit itu adalah TB Paru pada anak.

Dari beberapa penyakit tersebut, ada yang gejalanya tidak langsung nyata, hanya karena saya tidak menyadarinya sebagai gejala yang perlu diwaspadai. Seperti sakit infeksi saluran kencing yang pernah dialami Hanif, saya menyadarinya ya setelah berobat ke dokter, karena Hanif menjerit-jerit tengah malam, lalu buang air kecil dengan urin berwarna putih seperti susu. Setelah Hanif sembuh dengan solusi khitan, barulah saya menyadari bahwa dia kesulitan buang air kecil sudah lama, sejak bayi. Hanif jika mau buang air kecil, selalu terdiam dulu, konsentrasi, baru buang air kecil. Saya dengan lugu mengiranya hal tersebut karena gaya kyang khas untuk setiap anak.

Ternyata proses belajar untuk menyadari gejala lebih dini belumlah cukup sampai di situ. Saya perlu menjalani episode belajar berikutnya. Suatu malam suami mengeluh sakit perut, dengan entengnya saya menyimpulkan itu masuk angin, dan saya kembali tertidur karena hari itu memang begitu melelahkan. Ternyata sakit perut itu berkepanjangan, kayu putih tak cukup mengatasinya. Pergilah suami ke dokter, seorang diri. Kenapa ya, saya nggak ikut? Padahal biasanya sayalah yang akan berhadapan dengan dokter, mendengarkan secara seksama diagnosanya dan bertanya ini dan itu. Ini bagian episode yang masih disesali sampai sekarang. Waktu itu suami memutuskan pergi sendiri.

Pulang dari rumah sakit, membawa obat seplastik...banyak sekali obatnya. "Kenapa katanya Yah?" "Maag" kata suami. Oo maag...tuh benar kan maag.....

Ternyata sakit terus berlanjut walau sudah meminum obat...dan episode ini terus bergulir seperti yang pernah saya ceritakan di catatan sebelumnya, ternyata suami saya mengalami kebocoran usus dan harus dioperasi. Usus bocor kemungkinan karena radang usus buntu yang pecah.

Benar-benar yang saya sesali adalah sikap menyepelekan yang saya lakukan. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan, yang hampir saja membuat saya kehilangan suami tercinta. Maut memang sudah ditakdirkan, namun prosesnya tentu jangan sampai konyol, pffh.

Belakangan, beberapa waktu setelah episode operasi perut suami. Saya mulai merasa perlu mempelajari masalah kesehatan. Saya menyadari ada kalanya, seorang istri atau ibu menjadi "dokter" pertama bagi suami dan anak-anak. Saya menjadi rajin membaca artikel kesehatan. Apalagi di internet banyak dokter baik dokter umum hingga spesialis yang mau berbagi ilmu kepada masyarakat. Dari sanalah saya mengerti bahwa kasus yang suami alami itu adalah kasus yang umum terjadi, hanya saya tidak tahu. Kasus radang usus buntu yang pecah, sampe membuat rusak usus yang lain, dan menyebarkan kuman ke perut..

Enam bulan setelah suami operasi, Akmal anak pertama kami, mengeluh sakit perut. Duh, terus terang deg-degan sekali saya, masih trauma mengingat penderitaan yang dialami Ayahnya. Saya biasanya menasihatinya agar makan teratur, dan pola hidup lainnya yang masih saja belum Akmal jalankan. Saya juga menduga-duga kalau sakitnya ini berhubungan dengan sekolahnya yang stressfull. Untuk memastikannya, saya periksakan Akmal ke klinik terdekat, dan hasilnya ternyata sama, tidak ada gangguan di perutnya, mungkin karena stress saja dan kurang teraturnya pola makan.

Tapi ternyata sakit perut itu berulang-ulang dikeluhkan, walau tidak intensif. Terutama di kelas dua ini jarang sekali. Hanya saja dalam selang 3 minggu terakhir, sudah dua kali dia mengeluh kesakitan. Yang terakhir hanya mengeluh: seperti mual, tapi sepertinya tersiksa sekali, persis ekspresinya seperti ekspresi Ayahnya tahun lalu.

Kamis malam dia mengeluh sakit perut seperti mual. Lalu muntah. Ditengah-tengah erangan dia, saya buka google dan membuka link situs2 yang menjelaskan gejala sakit perut pada anak. Dari situs tersebut saya mengetahui, jika ada yang mengeluh sakit perut, kita perlu segera mencari tahu di lokasi mana sakit itu berada, perut atas, kanan, kiri, tengah, kanan bawah atau kiri bawah? Itulah langkah pertama yang perlu dicari tahu jika ada yang mengeluh sakit perut. Jangan mengidentikan perut perih sama dengan maag!!! Ahh itu dokter yang mendiagnosa Ayahnya juga ya...bisa-bisanya mendiagnosa maag, sekolah di kedokteran apa bukan??? Padahal waktu Ayahnya periksa, sakitnya masih terlokalisir, hingga diberi obat anti nyeri sakit oleh dokter, sehingga sakitnya menjadi tidak jelas di mana. Diagnosa semakin sulit tegak.


Saya nggak mau kesalahan diagnosa terulang lagi untuk Akmal. Saya bertanya pada Akmal, "sakitnya dimana?" Akmal menunjukkan di puser dia sakit, perut bagian tengah. Saya cari lagi di situs mengenai keluhan di perut bagian tengah. Inna lillahi wa inna illaihi roji'un, lemas saya karena menurut situs tersebut, sakit perut di tengah yang sifatnya timbul tenggelam adalah gejala awal usus buntu kronis. Sementara di jelaskan lebih lanjut bahwa usus buntu hanya bisa diatasi dengan membuangnya, dan terlambat bisa menyebabkan usus buntu pecah.

Keesokan harinya, jum'at pagi. Akmal terlihat lebih segar. Walau demikian saya mengizinkan dia untuk tidak sekolah, dan bermain bersama Hanif di rumah. Saya mulai berharap dia hanya gangguan pencernaan, karena melihat dia seperti semakin membaik keadaannya. Ternyata sorenya dia mengeluh lagi, badannya lemas, wajahnya pucat. Walau keluhan itu berkurang ketika perutnya saya olesi dengan kayu putih, tetapi perasaan saya mengatakan kalau ia harus segera saya bawa saja dia ke dokter. Saya pergi mengantarkan Akmal ke rumah sakit sambil dibayangi mimpi buruk penderitaan usus buntu pecah yang dialami Ayahnya.

Saya pilih dr Huda Hilman,dokter spesialis anak yang cukup terkenal di depok, dengan harapan diagnosa tidak meleset. Hanya beberapa menit saja yang dibutuhkan beliau untuk menegakkan diagnosa usus buntu pada Akmal. Karena saya sudah membaca situs kesehatan tadi malam, saya sudah siap mendengarnya, dan siap juga mendengar kalau Akmal dirujuk ke dokter bedah anak. Diperiksa ulang oleh dokter bedah anak, disimpulkan dengan diagnosa yang sama.

Dalam waktu yang terbatas, saya memotivasi Akmal, yang ketakutan. Akmal meminta operasi dilakukan besoknya. Tapi saya takut kalo harus menunda-nunda, karena Ayahnya tertunda sehari saja sudah semakin parah keadaaannya. Saya bujuk Akmal. Mengajaknya bersyukur karena operasi yang dilakukan termasuk operasi sedang bukan operasi besar seperti Ayahnya. Bersyukur karena dari gejala yang terdeteksi lebih dini, membuatnya "hanya" mengalami operasi sedang. Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dijalani jika tertunda operasinya.

Alhamdulillah akhirnya Akmal mau juga di bawa ke ruang operasi. Operasi berjalan lancar, dan kita Akmal sudah sehat, tinggal istirahat beberapa hari lagi. Alhamdulillah.

Dari pengalaman tersebut, saya ingin berbagi,
- Jangan sepelekan keluhan sakit pada anak, pasangan ataupun diri kita
- Pilihlah dokter yang tepat, karena saya sudah mengalami beberapa kali kesalahan diagnosa
- Rajinlah berkenalan dengan dokter, paling tidak bisa menjadi second opinion bagi kita.
- Bersikap kritislah pada dokter.
- Pelajari anatomi sedikit-sedikit, ya mengulang pelajaran biologi, untuk pengetahuan kita memahami sakit yang anak alami
- Berdo'alah, itu senjata utama kita

Mudah-mudahan kita semua senantia diberi nikmat kesehatan dan keselamatan. Amiin

Label:

Hari minggu kemarin, dengan semangat saya pergi mengikuti sebuah seminar parenting yang kebetulan pembicaranya adalah seorang psikolog yang sudah cukup dikenal dengan baik oleh kita semua.

Kepergian saya ke seminar tersebut diawali dengan meminta restu pada anak dan suami saya tentu saja.

"Akmal hari Sabtu, Ibu mau pergi..." saya meminta izin jauh hari...supaya Akmal siap:)
"Pergi ke mana bu?
"Mmm...apa ya...(mau bilang seminar kok ya nanti repot lagi menjelaskan seminar itu apa)....mmh mau sekolah Mal"
"Sekolah apaan bu?"
"Sekolah buat ibu itu loh Mas, seperti yang waktu itu pernah ibu ikuti"
"Ooo iya ya bu...pergi aja bu...pergi...ntar ibu jadi baik banget kalau deh kalo dah ikut sekolah"

He3 ya...waktu itu saya pernah ikut seminar Bu Ery Sukresno...begitu saya sampai di rumah...langsung praktek..he...terus ternyata anak-anak merasakan sekali bedanya...

"Eh ibu kok jadi baik banget..." bolak balik deh anak-anak komentar.

Nah sekarang pun Akmal berharap demikian. Saya yang akhir-akhir ini berasap dan bertanduk, bisa berubah jadi "malaikat" setelah pulang sekolah nanti.

Ok lah Mal...beres...Insyaa Allah ibu jadi baik deh nanti.

Sekarang tinggal izin suami. Dengan asumsi, suami akan mengizinkan, maka saya santai aja...mepet-mepet minta izinnya...waktu mau berangkat. Kebetulan suami baru pulang subuh dari kantor...dia pulang dengan ngantuk yang amat sangat karena tidak tidur semalaman. Duh kok jadi segen ya minta izinnya...

Ntar aja deh...

"Mal. ibu kayaknya nggak jadi perginya..." kataku pada Akmal...lagi-lagi mempersiapkan Akmal kalo rencana hari ini berubah.
"Yach...kenapa bu?
"....Soalnya....Ayah baru pulang...kan kasihan kalau ibu langsung tinggal kerja..."
"Yach anti gimana donk...ibunya nanti gini-gini aja!!"

Adeuh segitunya Nak...apa segitunya ya ibumu ini, sampe kamu panik begitu.

Gimana minta izinnya...suami tidur...kupanggil pelan-pelan...

"Yah...ibu pergi ya...ke RTM sekarang"

euh bukan minta izin itu mah, tapi ngasih tahu...secara dah siap untuk pergi.

Suamiku bangun sedikit, dan mengangguk sambil malas karena ngantuk.

Yes!!...memang suamiku yang baik ini, dah sangat paham, kalo seminar parenting begitu penting bagiku, jadi kalo aku izin ikut seminar-seminar itu, selalu diizinkan.

"RTM...mau apa??? "

Oo ternyata tadi anggukan yang tidak terlalu disadari...sekarang baru deh bertanya....secara baru ngeuh istrinya mau pergi.

Akupun menjelaskan dengan cepat...meyakinkan semuanya dah siap, termasuk anak-anak ada yang jaga...

Sekarang baru mengangguk-angguk yang sebenarnya.

Siip....pergi...

"Mal...ibu jadi pergi ya...."

"Asiiiik!!!"

Deuuh Akmal segitu senengnya....memang ibumu ini gimana sih...?? Sampe segitu girangnya ibu mau belajar jadi ibu yang baik.

Sampai di tempat seminar. Subhanallah ada 400 peserta!!! Begitu kata narasumber acara ini.

Luar biasa...semangat sekali ya...

Acara dimulai...dengan games-games...dan simulasi...sampai akhirnya sampai pada materi utama.

Pembicara mengeluarkan slide-slide satu persatu. Slide-slide pertama saya masih bisa dengan tenang melihatnya, semakin lama slide semakin seru....semakin infomatif tentang kondisi anak-anak sekarang.. Lama-lama kepalaku makin terasa pusing. Peserta di sebelahku juga mengungkapkan kepusingan dan ketegangannya..

Sebegitu dahsyatnya kah zaman yang dialami anak sekarang. Pornografi begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan film kartun....komik...games...games online...PS....games di hp...sinetron...film..

Semua disajikan dengan jelas...jelas sekali. Saya yang kuper baru tahu ooo seperti itu komik, games, sinetron yang dikonsumsi anak -anak sekarang, Secara anak-anakku masih relatif kecil, dan di rumah nggak ada fasilitas apa-apa. Paling banter TV...

Cenut...cenut deh ngeliat slide-slide tersebut selama 3 jam. Apalagi diakhiri dengan efek dari sumber-sumber pencetus pornografi itu. Penyakit...kerusakan otak...huaaa...sungguh bikin merinding membayangkannya.

Ingin rasanya bertanya...jadi gimana mencegahnya Bu??? Mau di protek total anak-anakku, banyak yang kasih masukan...jangan katanya...nanti malah mainnya atau nontonnya di rumah orang....Mau dikasih jalan...takut sama efek negatif yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh pembicara.

Tapi ternyata selama 3 jam itu....baru bisa sampai ke data. Belum sampe ke solusinya....katanya teknisnya ada di pelatihan yang sudah disiapkan sekian sessi....

Fiuh...aku pulang hanya membawa kepala yang pusing. Pusing karena anak-anak pasti selama kutinggal, memilih tv sebagai hiburan,dan aku nggak tahu apa yang mereka tonton. Pusing...karena nggak tahu apa yang mestinya dilakukan.

Aku bertanya dalam hati: "Segitu sulitkah menjadi orangtua?" Sampe aku pusing begini.

Kok rasa yang didapet beda ya...dengan seminar yang aku ikuti sebelumnya, bersama Ery Sukresno...Pulang dari seminar bu Ery, mah pikiran teh jadi seger gitu....punya segudang tips praktis buat ngadepin anak-anak.


Sampai rumah, Akmal juga bisa nangkep kalo harapannya tidak tercapai. Ibunya biasa aja, nggak berubah...

"Bu, kok pulang sekolah, ibu biasa-biasa aja sih"

Aaaarrgh....Sulitkah menjadi orangtua??? Kok malah jadi tambah bingung pulang dari seminar teh....


Tantangan jadi jelas di depan mata...rasanya kanan kiri semua ancaman....

Label:

Ini bukan tulisan politik sebenernya, cuman tulisan iseng hasil obrolan sama suami.

Dari mengamati gaya bicara...bahasa tubuh... dan pernyataan2 mereka, banyak yang menyimpulkan bahwa SBY adalah sosok yang slowly but sure (CMIW), sedang JK adalah sosok yang serba cepat seperti slogannya lebih cepat lebih baik. Nggak tahu kenapa, kami malah menjadikannya sebagai guyonan ketika melihat pola tingkah anak-anak kami.

Ma'af sebelumnya ya buat pak SBY dan pak JK. Kami tak begitu mengenal beliau berdua. Tapi kami iseng aja menjadikan beliau berdua label personality, mudah-mudahan tidak tersinggung ya. Untuk tim sukses juga jangan tersinggung loh:)

Akmal adalah anak yang penuh perhitungan. Dari sejak dalam kandungan, terasa banget niy anak slowly but sure:), gerakan dalam perutku terasa tenang, tak terasa ada gejolak yang berarti. Proses kelahirannya juga begitu lambat. Dua hari dua malam, kontraksi selama 5 menit sekali, nggak ada perkembangan. kadang dia bergerak, kadang tidak. Apa Akmal tidur...heu...heu...nggak tau deh. Alhamdulillah akhirnya lahir juga.

Di masa balita, dalam kesehariannya, dia slowly juga. Selalu serba penuh perhitungan. Berjalan dengan tenang atau terkesan lambat. Tekun menyelesaikan pekerjaannya, walau dah keluar dari waktu yang diberikan. Hasil pekerjaannya, seperti mewarnai sangat bagus. Walau dia harus kehilangan waktu bermain dengan temannya ketika istirahat, karena belum selesai mewarnai,dia tetap tenang dan terus tekun menyelesaikan pekerjaannya, karena dia bahagia dan senang jika pekerjaannya selesai. Guru TK nya sempat khwatir kalau nanti di SD dia akan mengalami kesulitan, karena di SD kan, waktu menjadi ukuran prestasi juga.

Kemarin di usianya yang sudah hampir 7,5 th, kami sekeluarga mengikuti acara famgath kantor Ayahnya. Di sana ada flying fox. Hmm, seperti yang kami duga, dia mengamati lama tali flying fox itu, dan dia memilih tidak naik. Benar-benar penuh perhitungan :)

Kadang kami gemas melihat perilakunya. Tapiii kemarin kami hanya tergelak tertawa...ketika aku bilang: "Yah, Akmal, SBY banget ya? Slowly (mudah-mudahan) but sure :) Ya inilah personality yang aku rasa perlu kita pahami dan kita terima dari Akmal. Karena pada perkembangannya nanti, siapa tahu dia akan menjadi tokoh besar dengan personality seperti itu.

Walau memiliki personality Slowly (mudah-mudahan) but Sure itu, bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Alhamdulillah secara akademik, dia cukup berprestasi, nilai-nilainya bagus. Walau memang feedback dari gurunya,s eandainya dia lebih cepat dan lebih konsentrasi, prestasinya bisa jauh lebih baik.

Secara sosial juga, dia cukup nyaman, walau memerlukan waktu lama beradaptasi dalam lingkungan baru, tapi teman-temannya cukup merasa aman berteman dengannya, karena jarang dia menyakiti teman-temannya. Sebagai kakak, dia juga bisa dipercaya menjaga adik.

Bageurlah pokokna mah...(anak baik gituloh)

Hanif...sebaliknya dari Akmal.
Hanif dalam melakukan segala hal, nggak pake mikir. Action dulu baru mikir, atau nggak "mikir" sampe akhir:). Nggak mikir ini bukan berarti dia tidak cerdas. Maksudnya lebih kepada nggak mikirin resiko. Atau selalu menganggap gampang sesuatu.

Sering banget kehilangan sandal, karena pergi pake sandal, pulang nggak pake, dan lupa di mana dia taruh. Dia lebih senang jalan nggak pake sandal. Kalau lagi jalan-jalan, sering banget baru ketahuan di jalan kalau dia pake sandal jepit. Anaknya nggak mau repot. Nggak mau juga pake baju yang bikin ribet. Dia senang menggulung celananya. Males pake kaos dalem.

Anak yang santai, senang bercanda, dan senang membuat orang tertawa.

Ketika Famgath kemarin. Hanif minta naik Flying Fox. Flying Fox yang dirancang untuk orang dewasa, tinggi dan panjang. Hanif santai aja, kita, orangtuanya yang mikir. Di matanya tercermin, "apa sih yang menakutkan, cuman flying fox:). Hanif selalu menganggap gampang segala hal. Jarang sekali dia bilang sesuatu itu susah. Tapi memang dia bisa menyelesaikannya sih. Seperti waktu Flying fox, dia sampai dengan tenang, tak ada tangisan atau ketakutan.

Hanif, orangnya konsekuen dan konsisten. Kalau dia bilang mau, akan terus mau. Walau dia melihat ada anak yang jauh lebih besar menangis setelah naik flying fox, dia tidak gentar (padahal masnya dah nakut-nakutin sambil nujukin anak yang nangis itu).

Karena keberaniannya dalam mencoba, kadang-kadang ada resiko yang harus diambil, tapi dia tidak pernah mengeluh, karena dia tahu itulah resiko yang harus diterima:)

Dan kamipun kembali tergelak ketika menyimpulkan kalo Hanif itu JK banget, Serba cepat, nggak terlalu dipikirin, nanti gimana-nanti gimana. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan lincah.

Akhir kata, saya mau menyimpulkan. Kalo itulah gaya Akmal dan Hanif, yang perlu kami terima dengan baik, dan memahami dengan baik. Tidak ada yang jelek diantara keduanya.Insyaa Allah mereka akan berprestasi dengan warna personality masing-masing, yang membuat mereka akan unik dan saling melengkapi. Membuat dunia menjadi dinamis:)