Label: ,

Beberapa hari ini, saya sangat penasaran dengan yang namanya "kesulitan belajar". Saya bongkar masalah kesulitan belajar ini dengan berjalan-jalan di dunia maya. Hingga menemukan sebuah slide yang menarik dari youtube. Slide ini tentang tokoh terkenal, yang di masa kecilnya mengalami kesulitan belajar, tetapi di masa dewasa bisa menjadi terkenal bahkan legenda karena kehebatannya.

Ternyata Akmal tertarik dan kemudian menghampiri...

A: "Apa itu bu?"
I: "Ini tentang orang-orang yang terkenal karena kehebatannya, padahal waktu mereka kecil mereka mengalami kesulitan waktu belajar, sampai dikatakan bodoh"
A: " Wah bisa begitu ya?"
I: Iya bisa....karena setiap orang itu memiliki cara belajar sendiri. Nah pada akhirnya orang-orang ini menemukan cara belajarnya
A: " Ooo...."

Akmal kemudian meninggalkan Saya yang masih asyik dengan slide-slide itu. Ia bermain kembali bersama adiknya.

Malam harinya, karena masih penasaran tentang kesulitan belajar ini. Saya kembali menyimak sebuah film tentang anak disleksia. Karena mendengar suara gaduh dari film tersebut, Akmal kembali menghampiri....

A: "Apa itu bu?"
I: "Ini film tentang anak yang mengalami kesulitan untuk belajar"
A: " Ooo....nanti dia kalau udah besar....bisa kan bu?"
I: "Nah ibu ngga tahu tuh, kan belum selesai nontonnya... Mas mau nonton? Yuk!"

Hanif melihat kami asyik menyimak layar, ikut menghampiri....

H: "Lagi apa? Itu apa?"
I: " Ini film anak-anak, Adek mau lihat? Yuk!"

Kami pun menyimak bersama. Tampak adegan yang menggambarkan bagaimana anak yang sulit membaca. Lalu ia di marahi habis-habisan dan kemudian diberi label bodoh oleh gurunya.

Hanif yang paling tidak suka mendengar orang dimarahi, menutup mata rapat-rapat dan menutup telinga dengan tangannya. Lalu ia berkomentar " Kalau gitu mah, gimana bisa pinter?"

Akmal, menimpali "Iya ya....padahal kata ibu kan setiap orang punya cara belajar sendiri.
Pantesan, ibu kalau mau ngajak aku belajar tuh, kayak waktu mau belajar Bahasa Inggris, ibu tanya...'mau belajar pakai cara apa?' Dulu aku ngga ngerti, sekarang aku ngerti..."

Hiks si Ibu terharu dalam hati. Mengucapkan syukur, karena itulah yang saya harapkan. Anak paham bahwa cara belajar itu banyak....banyak sekali....dan kita harus terus mencari cara belajar yang paling nyaman bagi diri kita.

Badan ini terasa lelah, ingin sekali berbaring. Saya tak kuasa menolak ajakan ini. Tak lama kemudian mata mengajak untuk beristirahat juga.

Saya sempatkan untuk mengajak anak-anak tidur, karena tampak sudah lelah.
" Hanif, Mas kalau capai tidur saja, nanti besok kan masih bisa lihat filmnya."

Seperti yang di duga, Hanif mau, Akmal enggan untuk tidur.

Saya pun sedikit terlelap, tapi berkali-kali saya mendengar ajakan Akmal untuk bicara.

"Ibu.....benar bu...akhirnya dia bisa!!!" teriak Akmal kegirangan

Saya hanya kuat untuk menganggu-angguk, sambil tersenyum, dan kemudian tertidur lelap kembali.

Label:

Bahan:

2 bungkus agar-agar
1 kaleng susu kental manis coklat
4 sdm coklat bubuk
100 gr gula pasir
1400 ml air

Cara membuat
Campur susu kental manis, air,dan gula pasir aduk.
Tambahkan agar, coklat bubuk dan garam, aduk hingga coklat larut.
Rebus sambil diaduk hingga mendidih, angkat dan tuang ke dalam cetakan

Vla:
250 ml susu
50 gr gula pasir
3 sdm maizena
1 kuning telur

Cara membuat:
Aduk susu, gula, dan tepung, lalu masak sambil diaduk hingga mendidih. Masukkan kuning telur sambil diaduk hingga masak. Angkat dan dinginkan.
Jika terlalu kental, tambahkan air sesuai selera.

Label:

Seperti biasa, resep yang saya pilih selalu mudah dalam arti cepat membuatnya dan ngga ribet menyiapkan bahan, murah, dan enaaak tentu saja. Sudah diuji di dapur dan dipuji oleh para juri yang terdiri dari suami dan anak-anak....hehe....terlepas apakah benar-benar enak atau cuman menghibur ibunya yang haus pujian kqkqkq.

Resep ini di peroleh dari:
http://budiboga.blogspot.com/2007/07/resep-brownies-panggang-irit-telur.html

Bahan:
120 g tepung terigu
200 g margarin
3 butir telur, kocok hingga mengembang
200 g dark cooking chocolate, potong-potong
150 g gula pasir halus/gula bubuk
60 g potongan kacang almond/kenari
¼ sdt garam halus
Cara Membuat:
1.
Campur tepung terigu dengan gula halus, aduk rata. sisihkan.
2. Panaskan margarine hingga meleleh. Masukkan potongan cokelat, dan garam, aduk hingga cokelat meleleh. Angkat, dinginkan hingga hangat.
3. Di tempat terpisah, kocok telur menggunakan mixer hingga mengembang. Masukkan campuran tepung terigu dan gula halus ke dalam kocokan telur sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan spatula plastik hingga rata.
4. Tuang margarin, cokelat dan gula yang telah dilelehkan ke dalam adonan telur. aduk rata. Tambahkan potongan kacang almond/kenari. Aduk rata. Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah dialas dengan kertas roti dan diolesi margarin, ratakan. Taburi atasnya dengan irisan kacang almond.
5. Panggang di dalam oven bertemperatur 170 derajat celcius selama 45 menit atau hingga kue matang. Angkat. Potong-potong. atur di dalam piring saji, hidangkan.
Untuk 12 potong
Tip:
Warna kue brownies yang cokelat susah untuk mengetahui apakah kue sudah matang atau belum. Caranya dengan menusuk kue dengan lidi/kawat. Jika lidi diangkat sudah tidak ada adonan yang menempel/kering berarti kue sudah matang.

Catatan: Ketika pertama kali mencoba, sebenarnya gagal loh, karena terlalu cepat mengangkat. Dalamnya ternyata masih basah...fiuh, dipanggang lagi deh, jadi saja bentuknya tak indah. Tapi yakin deh, kalau di percobaan kedua akan sukses, karena mudah kok tinggal mengikuti apa kata resep 45 menit!

Label:

Masakan praktis, mirip2 bikin bala-bala (bakwan), tinggal aduk-aduk, dah jadi adonannya. Hasilnya jadi banyak. Bisa disimpan di freezer dan kapan2 kalo lagi mepet waktu tinggal goreng

Bahan :
300 gr Daging ayam cincang
100 ml Susu cair
2 btr Telur
3 bawang putih (haluskan)
1 bawang bombay cincang
50 gr Tepung sagu
2 sdt Garam halus
1 sdt merica bubuk
1 sdt Gula pasir
3 lbr keju lembaran potong-potong
1 btr telur kocok
100gr tepung roti
minyak untuk menggoreng

catatan:
lupa link resep aslinya, di resep aslinya nggak pake bawang puting dan bawang bombay, tapi dulu pernah nemuin resep nugget yang pake bawang bombay, jadi deh keterusan kalo bikin nugget selalu dikasih bombay.

resep aslinya pake 150 keju parut, dan 6 keju lembaran, tapi saya ganti jadi 3 lembar keju aja, biar nggak terlalu mahal bahannya hehe...

Cara membuat:

1. Campur daging ayam dengan susu, telur, bawang putih, bawang bombay, tepung sagu, garam, merica, gula pasir aduk rata.

2. Siapkan loyang tahan panas, olesi minyak goreng. Tuang adonan hingga memenuhi 1/2l oyang,tata keju lembaran diatasnya, lalu tutup dengan sisa adonan.

3. Jerang dandang berisi air diatas api, kukus nugget selama 20 menit, angkat dan dinginkan

4. Potong2 nugget berukuran 2x3cm atau sesuai selera,

5. Celupkan nugget pada telur kocok,kemudian gulirkan diatas tepung roti,simpan dalam kulkas selama 2jam

6. Keluarkan nugget dari dalam kulkas dan panaskan minyak dalam jumlah yang banyak

7. Goreng hingga matang & berwarna kekuningan, Angkat, tiriskan,hidangkan dalam keadaanpanas..



Mas Yudi, kami pertama kali mengenalnya saat beliau menjadi marbot mesjid.. Ia begitu akrab dengan anak2 murid ngajinya. Begitu ramah menyapa setiap yang ia jumpai. Senyumnya lebar, tulus, tak ada beban. Padahal berapa pendapatan duniawi seorang marbot mesjid?

Tak lama kemudian ia menikah, dengan seorang istri yang sholehah. Saya semakin terpana, karena ia dan istrinya begitu bahagia dalam kesederhanaannya. Berjualan obat-obat herbal dan mengajar privat mengaji di berbagai tempat. Kebahagiaan selalu terpancar dari wajahnya. Senyumnya selalu mengembang.

Kami selalu teringat padanya setiap kali berniat mencari guru ngaji untuk anak-anak. Ketika kami tanyakan padanya, beliau menjawab, jadwalnya sudah sangat penuh. Ya tentu saja, siapa yang tak ingin menjadikannya guru ngaji bagi anak-anaknya. Ia sosok yang ramah, sopan, memiliki sikap hormat, helpfull dan etos kerja yang tinggi.

Sifat yang dimiliki mas Yudi inilah yang mungkin yang disebut-sebut sebagai karakter, oleh para ahli pendidikan saat ini.

Karakter menjadi santer terdengar karena begitu banyak orang yang mengkhawatirkan karakter generasi saat ini.

Begitu banyak buku dan seminar mengenai hal ini. Begitu banyak pula sekolah yang menawarkan konsep pembentukan karakter bagi siswanya. Hingga akhirnya "Pembentukan Karakter" menjadi nilai tambah dari suatu lembaga pendidikan.

Jika diperhatikan, besarnya investasi pendidikan di lembaga yang menjamin pembentukan karakter murid-muridnya lebih besar daripada investasi pendidikan di lembaga pendidikan lainnya. Orangtua pun mempercayainya sebagai konsekuensi logis karena sekolah tersebut memformat ulang sistem pendidikan yang diterapkan, untuk menjamin pembentukan karakter ini tercapai. Hingga investasi yang harus ditanam di lembaga pendidikan tersebut pun berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Karena membentuk sistem pendidikan tersebut memerlukan tenaga ahli, dan guru yang kompeten untuk melaksanakannya.

Di sekitar tempat tinggal saya untuk memasukkan anak ke sekolah dengan konsep pembentukan karakter yang matang, perlu menyiapkan dana yang cukup besar baik di awal maupun bulanannya. Dimulai dari 8 juta sampai 20 jutaan. Hal ini dipastikan lebih murah daripada sekolah dengan kurikulum individual seperti High Scope:)

Mahal....hiks, begitu kadang terlintas dalam benak saya. Namun ketika pikiran saya melayang memikirkan mahalnya pendidikan bermutu, saya sering teringat pada tokoh-tokoh sederhana yang saya temukan dalam keseharian seperti Mas Yudi, yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Sosok Mas Yudi tidak tercipta dari sekolah yang mahal. Tapi kok ya dia bisa menjadi sosok berkarakter?

Setelah saya pikir-pikir, maka tumbuh harapan saya pada sebuah sistem pendidikan, yaitu pendidikan di rumah. Pendidikan pertama yang diperoleh anak-anak kita.

Apa yang bisa kita lakukan di rumah, untuk berikhtiar membentuk karakter anak-anak kita? Tentu banyak, dan saya hanya mampu menuliskan secuil saja, seingat saya.

1. Berikanlah ASI, eksklusif di 6 bulan pertama, segera setiap kali bayi kita membutuhkannya. Kenapa ASI? Karena ASI dalam logika sederhana saya, lebih cepat tersedia, dibanding susu formula yang perlu dibuat dulu. Jika kita diberi kesempatan untuk memberikannya pada buah hati kita, berikanlah. Kecepatan kita memenuhi kebutuhan bayi, akan memudahkan ia saat beradaptasi sosial kelak. Ia akan mempercayai lingkungannya sebagai sesuatu yang aman sehingga terhindar dari kecemasan bahwa ada yang mengancam dari lingkungannya. Lanjutkan ASI hingga usia yang dianjurkan yaitu 2 tahun.

2. Tidak hanya kebutuhan ASI, pahami dan penuhi segera apa kebutuhan bayi kita. Saat ia ingin digendong, gendonglah dengan segera. Saat ingin dipeluk, peluklah dengan segera dan hangat. Saat ingin diajak bicara, ajak bicaralah walau baru berupa ocehan. Konon menurut Ericson dalam teori perkembangannya, masa ini terjadi hingga 1,5 tahun.

3. Saat anak mulai bisa berjalan sendiri, dan mulai bisa melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan, yaitu sekitar usia 2-3 tahun, beri kesempatan seluas-luasnya, karena inilah masa yang penting bagi anak untuk membentuk pribadi yang percaya diri kelak, yakin akan dirinya, tidak menjadi sosok yang selalu ragu-ragu. Llepaskanlah aktivitas yang sifatnya dependent/ ketergantungan, seperti minum susu dengan menggunakan botol/ dot, atau aktivitas lain yang serupa seperti memegangi rambut ibunya saat mau tidur, memegangi tali bantal (yang biasanya ditunjukkan dengan menangis saat ia tak mungkin melakukan aktivitas tersebut)

4. Di usia 4 - 5 tahun, berikan kesempatan bagi anak untuk memilih keputusan-keputusan sederhana yang ia sudah bisa lakukan, seperti baju apa yang ia pakai, makanan apa yang ia makan, plus jadwal sehari-hari.

5. Beri porsi waktu yang cukup untuk bermain. Bermain terutama permainan kelompok adalah senjata utama untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangannya baik motorik, kognitif, bahasa, sosial dan emosi.

6. Fokuslah pada proses tumbuhnya minat anak untuk belajar, dimlulai dengan menjawab pertanyaan anak, menyediakan buku di sekitar anak, mengajak anak bereksplorasi. Daripada hanya sekedar mengejar "bisa" seperti memberikan flash card, mengajaknya belajar secara formal, tanpa sentuhan permainan.
Begitu banyak anak yang bisa membaca, tapi berapa banyak anak yang senang membaca. Manakah yang ia butuhkan kelak?
Begitu banyak anak yang bisa menulis, tapi berapa banyak anak yang suka menulis. Manakah yang ia butuhkan kelak?

7. Di usia sekolah, di mana inilah masa penting pembentukan rasa mampu menuntaskan tugas. Apresiasilah setiap proses penuntasan tugas yang ia telah lakukan. Hargailah proses belajarnya, sikapi dengan bijak setiap kegagalan yang anak alami. Nilai merah bukanlah kiamat. Itulah moment bagi anak untuk belajar bangkit dari kegagalan.

8. Bangunlah kemampuan anak untuk berkomunikasi. Dimulai dengan memahami perasaan mereka, saat mereka menangis, mengamuk, atau perilaku-perilaku yang mungkin menyulitkan orangtua. Bantulah mereka mengenali perasaan mereka. Kelak mereka akan memahami perasaan kita. Berilah contoh mendengar aktif, sehingga kelak mereka akan mendengar kita

9. Hindari perilaku-perilaku yang menghambat komunikasi, seperti menasihati, menilai, memotong pembicaraan, dan lain sebagainya (lupa ada 12..hehe)

10. Stop labelling pada anak.

Segitu dulu....ya...ntar ditambah sedikit-sedikit, dan silakan di tambahkan.