Label:

Seringkali kita baru bisa mengerti perasaan orang lain setelah kita mengalami.

Dulu saya selalu bingung, kalau sedang hamil, ditanya "ngidam apa?". Karena tidak mengalami ngidam. Selain itu suka bingung ketika ada yang cerita tentang ngidamnya. Seperti pernah di milist ada yang cerita kalau makan ingin lontong padang, ketika suaminya membeli soto betawi, jadi muntah. Hehe...ketika membaca itu saya pikir, ya ampun dah...

Sekarang di hamil yang ketiga...owh...ternyata saya mengalami. Entah karena ada keinginan untuk diperhatikan, yang pasti saya mengalami "hanya ingin makan itu". Kalau belum ketemu, penasaraaaan, laper berat.

Pernah suatu hari, ngga bisa makan, yang kebayang cuman mie ayam. Lalu saya titip suami, minta dibelikan setelah pulang kantor. Ternyata karena suami kecapean, dia ngga sempet beli dulu, pengen cepet-cepet sampai di rumah, dan makan apa adanya yang di rumah.

Saya yang dah berharap banyak, cuman bisa menelan kekecewaan. Suami juga karena sebelumnya saya tidak pernah ngidam, hanya menggoda saja dengan santai "besok aja ya, ngga akan ngiler kok".

Huaa, tapi bener-bener deh, saya ngga tahu mesti gimana, mesti sabar apa mesti maksa. Yang pasti saya laper beraaat. Demi melihat wajah istrinya yang merana, suami akhirnya mau membelikan, sambil bingung kayaknya, kok ya maksa-maksa banget, tumben, kan biasanya mah istrinya teh sabar (hoho).

Aaah mie ayam datang, dan makanlah dengan selahap-lahapnya. Ajaib deh, itu kenyang, bisa awet sampai pagi. Padahal kemarin-kemarinnya, selalu kelaperan ngga ketulungan.

Kebetulan keesokan harinya adalah waktunya ke dokter. Bu dokter berkomentar ketika melihat bayinya, wah niy bayi kelaperen, gerak-gerak banget. Hehe, ternyata komentar bu dokter yang komentar, membuat suami mengerti kalau istrinya (anaknya) bener-bener kelaperan. Langsung deh, ditraktir makan enak, sesuai permintaan mau dimana:))

Ah tapi saya pan istri yang tahu diri, kasianlah kalau seperti ini terus. Kasian si dedek yang kelaperan karena emaknya susah makan. Kasian suami kalo mesti keluar uang lebih melulu demi menghilangkan rasa laper sang istri.

Ya dengan introspeksi yang dalam, heu...heu....lebay....akhirnya saya memutuskan untuk masak sendiri ajalah makanan yang kira-kira saya suka. Hunting resep, dan semangat untuk lebih mempersiapkan diri memasak. Dapur kurapihkan dulu, biar nyaman masaknya. Bahan-bahan dah siap....masak deh. Enjoy!

Alhamdulillah dah tiga hari ini sukses. Minggu masak pepes ayam, enaaak! Senin masak bakso ayam udang, yummy! Selasa masak pepes tahu dan daging bumbu bali, sedaaap!

Besok....hmm pepes ayam kayaknya....lagi doyan pepes...

Yah gitu deh, ternyata nyaman juga punya solusi begini, karena kalo selalu menggantungkan diri ke suami, ya kasian juga, dah cape kerja disuruh ke sana kemari.

Mudah-mudahan awet aja nih enjoy di dapur:))

Sejak awal pernikahan, relatif tidak ada yang disembunyikan dari kami. Ya tentu tidak seratus persen. Tapi 99% semua sudah diceritakan pada pasangan. 1 % nya? Yah adalah beberapa hal yang ngga penting.

Keterbukaan ini menyentuh beberapa hal berkaitan degan rumah tangga, diantaranya cara kami mengelola uang. Yang belakangan saya ketahui, bahwa ternyata begitu banyak cara pengelolaan keuangan dalam rumah tangga.

Suami sangat terbuka terhadap kondisi keuangan yang kami hadapi. Dari mulai zaman pahit sampai sekarang ketika sudah mulai longgar. Jumlah uang di rekening, sampai nominal terkecilnya, saya tahu persis. Berapa yang masuk, berapa yang keluar. Sistem pengelolaannya juga bersama-sama, saya bisa mengambil sesuai dengan keperluan, tentu saja atas sepengetahuan dan persetujuan suami. Plus suami sangat menghormati, dengan selalu memberitahukan setiap pengeluaran yang akan dilakukan. Padahal sebenarnya tidak perlu kan?

Selain masalah keuangan, keterbukaan juga terjadi dalam arus komunikasi. Semua password baik blog, email, fesbuk, semuanya diketahui suami. Hal yang saya tahu belakangan juga, ternyata ada yang semua password diketahui masing-masing. Ya itu mah hak setiap orang ya, tidak perlu sama. Begitupun dengan isi hp, semua sms saya selalu dibaca suami. Namun jika ada yang privasi dalam arti sms curhat dari teman, saya biasanya hapus lebih dulu. YM, juga saya tutup, jika ada curhat-curhat yang sangat pribadi. Itu untuk menjaga privasi teman-teman saja, dan suami saya yakin sangat paham akan hal itu.Tapi kalau obrolan biasa, atau obrolan pekerjaan, ya saya biarkan saja.

Keterbukaan dalam dua hal ini saja, rasanya saya sudah nyaman sekali, dan menambah rasa cinta pada suami. Mudahan-mudahan bisa tetap seperti ini.

Kemarin seorang sahabat pagi-pagi dah melow, sekarang giliran saya, dan mungkin besok giliran?

Begitulah dalam kehidupan rumah tangga, ngga ada yang mulus, lapang, seperti jalan tol.

Wanita kadang membayangkan, apresiasi yang tinggi atas performa yang diberikan. Membayangkan toleransi yang tinggi atas performa yang menurun.

Laki-laki? Entahlah....karena saya wanita, hanya perasaan wanita yang saya pahami.

Apa yang dibayangkan? Apa yang Terjadi? Seringkali jauh berbeda.

Kecewa itu pasti. Bingung itu pasti. Menangis....yah itu senjata terakhir untuk mengeluarkan kekecewaan dan kebingungan.

Bosan dengan kata ma'af, mungkin itu yang sering dirasakan.

Ma'af dan berulang.

Tapi lebih baik ada ma'af, daripada tidak bukan?

Jika tidak? Artinya tak dipahami sama sekali jika kita kecewa

Berulang? Mungkin demikianlah adanya dinamika yang perlu dijalani.

Hiyaa!!! Gemas sekali saya, sampai begitulah judul catatan ini. Saya gemas sekali dengan diri saya saat ini.

Entahlah apa saya adalah orang dewasa yang mengalami gangguan konsentrasi, atau apa tepatnya. Yang jelas, gangguan konsentrasi itu memang sangat terasa oleh saya sendiri.

Laptop saya jika bisa bicara, dia pasti akan banyak bercerita. Hah, tak usahlah laptop bicara. Cukup dilihat, sudah jelas di depan mata. Betapa banyak layar yang terbuka dengan berbagai topik yang berbeda-beda. Dari mulai urusan dapur, sampai urusan berita terkini.

Terbiasa dengan multitasking atau gangguan konsentrasi? Ah rasanya pilihan kedua yang lebih tepat. Tak betah mengerjakan suatu pekerjaan saja di satu waktu. Rapat sambil fesbukan. Ngasuh anak sambil mikirin kerjaan. Kerja sambil mikirin anak. Baca sambil ngelamun.

Huaaa parah...parah...

Banyak hal yang parah sekali, dan nggak mungkinlah saya buka di sini, cukup suami saja yang tahu betapa parahnya saya...hoho...masa mau bongkar aib sendiri. Yang pasti sudah berkali-kali suami menggelengkan kepala karena seringkali saya mengerjakan sesuatu tidak fokus sehingga melahirkan keteledoran yang fatal.

Tidak hanya menghasilkan keteledoran, tapi juga mempengaruhi banyak hal, termasuk efektifitas menemukan solusi dari permasalahan yang dialami.

Ketika saya melihat peta persaingan usaha online yang semakin ketat. Saya malah memikirkan kompetitor daripada memikirkan apa yang perlu saya lakukan agar survive.

Ketika saya melihat begitu banyak catatan-catatan menarik yang dibuat teman-teman fb. Saya lebih banyak memikirkan catatan-catatan tersebut, terkagum-kagum, lalu menilai bahwa tulisan saya buruk. Sudah berhenti di situ. Bukan fokus pada bagaimana membuat catatan saya lebih baik dan manfaat.

Hari ke hari saya lalui dengan mengalir apa adanya, sambil sibuk memikirkan hal-hal yang sepatutnya tidak perlu mendominasi pikiran saya.

Hidup menjadi tidak efektif, dalam arti semakin jauh dari target-target yang diharapkan.

Hal ini semakin terhayati saat kemarin saya disodori berlembar-lembar indikator mengenai hal-hal yang perlu dilakukan jika ingin bisnis berkembang. Glek....nol....dan nol...angka yang saya tulis. Artinya nol, saya belum melakukan hal tersebut.

Sudah lama tidak berorganisasi, teori manajemen diri berlepasan dari diri saya. Begitu banyak hal mudah dan sederhana sudah tidak saya lakukan lagi. Hiks, teringat zaman kuliah, ketika saya masih melakukannya. Ternyata kemampuan manajemen diri saya belum menjadi karakter yang mengakar. Bisa terhapus begitu saja.

Sebagai orang yang mengalami gangguan konsentrasi, day to day, saya harus punya job list. Kalau tidak saya pasti lupa apa yang perlu saya kerjakan. Semuanya hanya ingin....dan ingin.... Ingin mengerjakan ini....ingin mengerjakan itu....tapi tak ada yang dikerjakan. hiks...hiks

Aaah semoga lebih baiklah diri ini. Bisa lebih fokus pada apa yang mesti dilakukan, bukan fokus pada hal-hal lain di luar itu.

Label:

Liburan....artinya si Ibu harus banyak gaya...mulai pasang gaya di dapur...sampe pasang gaya jadi guru TK alias memfasilitasi anak-anak menyalurkan kreativitas.

Hari ini kami membuat playdough, murah, meriah, menyenangkan!

Bahannya:

2 cup terigu
1 cup air
Garam secukupnya
Minyak secukupnya
Pewarna Makanan (merah, hijau, kuning)

Cara membuat:

Campur terigu dan garam
Tuangkan Air, aduk rata
Tambahkan minyak sedikit-sedikit sampai adonan kalis
Bagi menjadi tiga bagian, lalu diberi pewarna makanan.
Siap untuk dibentuk sesuai dengan kreatifitas anak