Label:

Apa respon saya ketika Hanif menjadi manusia pasir?
Marah! Walau masih terkendali, tapi sempet juga ngomel-ngomel
Yang mendorong diri untuk marah adalah kekhawatiran akan kesehatan utamanya sih.
Membayangkan kuman-kuman yang di pasir itu masuk ke perut. Terus gimana kalo mencret.
Gimana kalo abis mencret nanti dehidrasi...wah rawat inap nanti.

Itu ya...mikir dah jauh amat. Akhirnya tarik nafas aja dan berdo'a mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa.
Terus setelah hanif mandi, kita sepakat (Atau maksa Hanif sepakat?), kalo sampe besok pagi Hanif bermain di dalam rumah dulu. Cooling down.Mengajak anak belajar berpikir dulu. Soalnya kemarennya dah dibilangin bahayanya maen pasir kok ya dilakukan lagi. Ada keinginan untuk... jangan diulang lagi deh De...

Dari beberapa keinginan anak untuk berekspresi...seperti melempar genteng rumah tetangga pake batu. Saya jadi mikir kayaknya tidak semuanya keinginan anak perlu kita iyakan. Karena bagaimanapun anak perlu memahami mana yang benar atau salah...tepat atau tidak.

Lantas bagaimana dengan hasratnya bereksplorasi. Apakah dengan melarangnya kita sudah menghambat keinginannya?

Ya! selama kita tidak memberikan alternatif bentuk eksplorasi lainnya.

Ketika anak melemparkan batu...di mana sensasinya....batunya atau melemparnya?
Maka saya pun berteriak pada mereka (hanif dan kelompok mainnya hanif): "Teman-teman ibu punya bola!"
Selembar kertas bekas saya remas dan menjadi bola kertas. Mata mereka berbinar-binar, antusias. Meremas kertas. Wah seru banget. Begitu mata mereka bicara.
Lalu "Teman-teman seberapa tinggi kamu bisa melempar!" teriak semangatku.
Wah mata mereka semakin berbinar-binar.
"Bisa sampe ke langit nggak???"
Semakin berbinar-binarlah mata mereka
Lalu mereka menghampiri, mengambil kertas bekas, meremasnya, menjadi bola kertas, dan melemparnya. Hore! Seru!
Setelah puas! Bermain seberapa tinggi dan seberapa jauh. Kita istirahat sambil ngobrol.
"Teman-teman, kalo batu itu berat atau tidak? Keras atau tidak?"
"Berat!" "Keras!"
"Kalau kertas? ringan atau tidak?"
"Ringan"
"Kalau menurut teman-teman, bagaimana jika batu dilempar dan terkena kepala orang lain?"
Begitulah terus sampe mereka paham benda apa yang boleh dilempar dalam permainan.
Demikian pula dengan kertas, sehingga mereka paham kertas bekaslah yang boleh diremas-remas.

Karena itu saya kurang bisa memahami ketika ada ibu yang bercerita, kalo ia baru saja bersama anaknya melukis sprei. Sprei???? Dengan alasan anaknya ingin melukis sprei. Sprei yang masih dipakai.
Demikian pula dengan dinding rumahnya yang penuh dengan coretan.

Orangtua biasanya beralasan bahwa itulah dunia anak. Apakah benar dunia anak adalah mencoret-coret dinding? Sebenarnya yang mana yang menjadi dunia anak-anak, mencoret dinding atau mencoret-coret?.

Bagaimana jika yang kita lakukan adalah mengajak mereka untuk mencoret-coret...baik yang menggunakan alat tulis, atau finger pai ting, melukis dengan sedotan, dll di media yang layak untuk digunakan, seperti kertas karton besar, dan lain-lain

Bermain pasir...kalo pasirnya bersih ok. Tapi saya mencoba berempati pada sensasinya adalah di menaburkan. Kalau diganti terigu gimana ya? Dikasih judul bermain salju? Atau menyobek kertas sampe kecil-kecil lalu berpesta dengan kertas-kertas kecil itu.

Bermain tanah...bagaimana jika disubsitusi dengan bermain adonan. Campuran terigu, air dan minyak goreng. Uh anak-anak seneng banget kalo dah diajak maen begitu.

Banyak permainan yang akan memenuhi anak untuk mengeksplorasi, tapi tetap aman.

Jika mereka berinisiatif mencoba hal yang beresiko, idealnya kita tidak berkata "Jangan!" tapi bertanyalah "De senang ya kamu....., menurutmu bermain apa ya yang kamu senangnya sama dengan ketika.....tapi tidak bahaya."

Begitu kata buku yang pernah saya baca:). Kalau saya kadang praktek kadang tidak, masih seingetnya dan gimana mood. Tapi ketika itu dipraktekan...bener loh dialog yang efektif, dan Insyaa Allah tidak merusak dunia anak. karena kebutuhan mereka tetap berusaha terpenuhi.

Comments (2)

iya mbak.. anak emang lagi seneng bereksplorasi dengan byk hal.

sy mencoba u/ gak terlalu byk melarang jug. paling hy membatasi.. seperti mencorat-coret dinding atau sprei, sy gak melarang mereka asalkan mereka hanya boleh mencoret dinding atau sprei di kamar sendiri. tidak di tempat lain..

sy tidak melarang, karena sy pikir mereka hanya ingin tau spt apa sih rasanya corat-coret selain di kertas. Tp di sisi lain mereka juga hrs ngerti u/ tdk mencoret2 di ruangan lain krn akan merusak pemandangan..

Biasanya sih stlh mereka merasakan sensasinya itu mereka juga ikut aturan sy u/ gak corat-coret di tmp lain. bahkan corat-coret di kamar pun berhenti..

ya mba, setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik pada anaknya:). Standar nilai tentu berbeda2 untuk setiap keluarga. Pas banget kalo kita memberikan kebebasan di rumah plus memberikan penjelasan kapan suatu hal bisa dilakukan. Soalnya aku suka ketemu anak yang nggak bisa bedain situasi jadi di manapun kapanpun dia suka2..sopan atau tidak...merusak atau tidak...dia tidak paham. Thanx for sharing ya mba...