Label:

Pagi hari, sebelum suami ke kantor adalah salah satu waktu yang bermakna untuk saya. Sambil menemani suami minum kopi atau teh, plus sarapan. Kita ngobrol-ngobrol banyak hal di waktu yang sempit itu.

Entah kenapa ya, pagi-pagi kok bisa jadi waktu yang enak buat ngobrol padahal mah kan kalo pagi pasti suasana rada paciweuh.

Idenya biasanya dari saya, apa aja bisa diobrolin, dan biasanya saya mulai dengan ujug-ujug mengucapkan suatu kalimat....

"Yah...nih ada yang bikin status tentang apendix"

"Ooo...." katanya...he3 memang obrolan pagi biasanya adalah waktu saya untuk ngacaprak, dan waktu suami untuk menjadi pendengar yang baik:)

"Hmm kalau baca status kayak gini, jadi inget waktu Ayah sakit. Betapa bodohnya aku waktu itu, sampe nggak tahu Ayah sakit apa"

"Kalau saja pelajaran biologi nempel di kepalaku, paling nggak aku bisa ngira-ngira, organ apa yang lagi terganggu, dan nggak kecolongan kayak waktu itu"

"Perut atas, bawah, kanan, kiri, organnya apa saja yang ada di sana, kan semua dah kita pelajari waktu di SMA"

"Begitu juga kelenjar-kelenjar apa aja yang kalau bengkak itu menandakan adanya infeksi"

"Kan dah kita pelajari juga"

"Iya ya...." kata suamiku lagi..:)

"Kalau aja pertanyaan waktu sekolah dulu tuh gini, "kalau kamu sakit perut bagian kiri, kira-kira organ apa yang terganggu? Mungkin lumayan walau kita nggak masuk kedokteran, paling nggak bisa jadi bekel kita saat ini, buat dugaan awal aja"

"Toh itu harusnya jadi pengetahuan dasar, buat kita, terutama aku sebagai ibu dan istri"

"Iya bener, aku aja yang nilainya bagus-bagus nggak ada yang inget" kata suamiku lagi

Heu....kalimat yang bagus untuk penutup obrolan pagi....aku aja (suami) yang nilainya bagus nggak inget pelajaran SMA apalagi kamu yang remedial terus selama sekolah...huahahaha...heup ah...ketawa dalam hati aja...jaim:)

Label:

Bermain bagi Bunda Zaki adalah kesempatan emas bagi anak untuk belajar bagaimana bersikap pada orang lain. Awalnya Bunda Zaki berpikir adalah hal yang bagus untuk membiarkan anak bermain dengan siapa saja.

Namun suatu ketika Bunda Zaki melihat tangan kanan dan kiri Zaki, masing-masing membawa sebuah tas besar. Badan mungil Zaki terlihat oleng beberapa kali, karena terbawa beratnya tas tersebut. Sementara di depan Zaki, tampak temannya, Budi sedang berjalan dengan gagahnya.

"Wah....sedang apa Zaki?" pikir Bunda. Membantu teman? Tapi tampaknya Budi sangat gagah. Tidak tampak kesakitan atau tanda-tanda kesusahan lainnya.

Waktu yang lain, Bunda Zaki juga mendengar bagaimana Budi ini berteriak...meneriaki teman-temannya, memerintah ini dan itu.

Hmm, entah kenapa, Bunda Zaki tidak bisa menerima itu. Bermain sambil diperintah-perintah. Diminta tolong, tidaklah masalah. Tetapi diperintah-perintah seperti seorang anak buah oleh atasannya...mmm....Bunda Zaki tidak menyenanginya. Apalagi gaya Zaki yang baik hati, senang membantu teman. Apapun akan dia lakukan untuk temannya.

Bunda mengajak Zaki berbicara mengenai hal ini. Zaki yang masih berumur hampir 5 tahun, memang masih lugu, dalam pandangannya Zaki galak, itu saja. Namun kakaknya Ahmad, sangat paham kalau Zaki sudah bersikap Bossy pada adiknya.

Diminta tolong dan diperintah dengan kasar, adalah sesuatu yang berbeda. Bunda Zaki merasa perlu memberikan pemahaman tersebut, dan membimbing Zaki untuk bersikap.

Bunda Zaki berpikir, suatu saat anaknya akan berhadapan dengan berbagai karakter manusia, dan anaknya perlu belajar bagaimana bersikap yang tepat. Bagaimana berkomunikasi untuk mengatakan TIDAK, pada ajakan atau perintah yang tidak baik baginya.

Permasalahan ini selesai. Zaki sudah dapat bersikap, paling tidak, ia bisa menolak ajakan atau perintah Budi yang terlalu kasar dalam pandangannya.

Namun Bunda Zaki masih prihatin dengan anak-anak lain. Yang terus saja mau diperintah ini dan itu oleh Budi. Memerintah dengan sopan, mungkin ciri pemimpin masa depan. Tapi jika memerintah dengan kasar, dan tidak mau tahu kondisi teman, apapun harus menurutinya, Bunda Zaki pikir ini bukanlah sifat yang perlu dipertahankan. Misalnya saja, suatu hari, Bunda Zaki melihat Ali, temannya Zaki ditarik-tarik (diseret) untuk mengikuti kemanapun Budi pergi, termasuk keluar komplek perumahan. Hal yang sebenarnya jarang dilakukan oleh anak-anak lain di komplek tempat Zaki tinggal, terutama oleh anak seumur Zaki dan Ali. Biasanya mereka keluar bersama orangtuanya.

Adapun mengenai Budi, ya Bunda Zaki juga prihatin, tapi permasalahan Budi yang Bossy tentu tidaklah mudah untuk mengurai dan mengatasinya, dan Bunda Zaki pikir itu diluar wewenangnya. Tapi untuk anak-anak lain sebenarnya Bunda Zaki ingin sekali memberitahu Bunda mereka untuk membimbing anaknya bersikap kepada anak yang Bossy seperti Budi.

Sisi lain Bunda Zaki berpikir, sikap tegas dari teman-teman Budi akan memberikan umpan balik yang mungkin berguna bagi Budi. Sikap penerimaan positif terhadap sikap Bossy yang ditunjukkan Budi, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Budi saat ini,hanya akan memperkuat sikap tersebut.

Tapi Bunda Zaki sendiri sebenarnya masih kurang yakin apakah memang benar bahwa anak perlu dibimbing oleh orangtuanya untuk dapat bersikap pada anak-anak Bossy? Atau dibiarkan sajakah?

Label:

Selama saya belum menikah, saya hanya mengenal sakit flu, maag dan masuk angin plus demam berdarah karena pernah sakit waktu saya kecil. Tidak ada pengalaman menemani anggota keluarga operasi atau sakit berat lainnya Alhamdulillah. Jika saya mengeluh sakit perut, maka saya akan mendapat olesan kayu putih atau kerokan bawang merah, masuk angin katanya. Panas cukup diberi b*dr*x*n. Kalau agak kompleks dalam arti campur-campur gejalanya sama batuk pilek, tinggak ke puskesmas dan diberi obat standar...obat anti mual warna hijau, penambah nafsu makan, antibiotik:)

Begitulah bekal pengetahuan standar saya tentang kesehatan ketika saya mulai menjalani kehidupan baru, sebagai istri dan ibu. Sakit perut selalu dihubungkan dengan masuk angin. Mual selalu dihubungkan dengan maag.

Namun ternyata dalam kehidupan rumah tangga saya, pengetahuan standar itu tidak cukup. Beberapa kali anak saya masuk rumah sakit dan harus dirawat karena mengalami sakit yang tidak saya kenal sebelumnya, seperti Infeksi Saluran Kencing (ISK), Infeksi Telinga, dan Usus Buntu. Ada juga penyakit yang pernah dituduhkan pada anak saya sehingga saya harus mencari second opinion berkali-kali karena konsekuensinya tidak ringan alias berobat rutin tiap hari selama 6 bulan, penyakit itu adalah TB Paru pada anak.

Dari beberapa penyakit tersebut, ada yang gejalanya tidak langsung nyata, hanya karena saya tidak menyadarinya sebagai gejala yang perlu diwaspadai. Seperti sakit infeksi saluran kencing yang pernah dialami Hanif, saya menyadarinya ya setelah berobat ke dokter, karena Hanif menjerit-jerit tengah malam, lalu buang air kecil dengan urin berwarna putih seperti susu. Setelah Hanif sembuh dengan solusi khitan, barulah saya menyadari bahwa dia kesulitan buang air kecil sudah lama, sejak bayi. Hanif jika mau buang air kecil, selalu terdiam dulu, konsentrasi, baru buang air kecil. Saya dengan lugu mengiranya hal tersebut karena gaya kyang khas untuk setiap anak.

Ternyata proses belajar untuk menyadari gejala lebih dini belumlah cukup sampai di situ. Saya perlu menjalani episode belajar berikutnya. Suatu malam suami mengeluh sakit perut, dengan entengnya saya menyimpulkan itu masuk angin, dan saya kembali tertidur karena hari itu memang begitu melelahkan. Ternyata sakit perut itu berkepanjangan, kayu putih tak cukup mengatasinya. Pergilah suami ke dokter, seorang diri. Kenapa ya, saya nggak ikut? Padahal biasanya sayalah yang akan berhadapan dengan dokter, mendengarkan secara seksama diagnosanya dan bertanya ini dan itu. Ini bagian episode yang masih disesali sampai sekarang. Waktu itu suami memutuskan pergi sendiri.

Pulang dari rumah sakit, membawa obat seplastik...banyak sekali obatnya. "Kenapa katanya Yah?" "Maag" kata suami. Oo maag...tuh benar kan maag.....

Ternyata sakit terus berlanjut walau sudah meminum obat...dan episode ini terus bergulir seperti yang pernah saya ceritakan di catatan sebelumnya, ternyata suami saya mengalami kebocoran usus dan harus dioperasi. Usus bocor kemungkinan karena radang usus buntu yang pecah.

Benar-benar yang saya sesali adalah sikap menyepelekan yang saya lakukan. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan, yang hampir saja membuat saya kehilangan suami tercinta. Maut memang sudah ditakdirkan, namun prosesnya tentu jangan sampai konyol, pffh.

Belakangan, beberapa waktu setelah episode operasi perut suami. Saya mulai merasa perlu mempelajari masalah kesehatan. Saya menyadari ada kalanya, seorang istri atau ibu menjadi "dokter" pertama bagi suami dan anak-anak. Saya menjadi rajin membaca artikel kesehatan. Apalagi di internet banyak dokter baik dokter umum hingga spesialis yang mau berbagi ilmu kepada masyarakat. Dari sanalah saya mengerti bahwa kasus yang suami alami itu adalah kasus yang umum terjadi, hanya saya tidak tahu. Kasus radang usus buntu yang pecah, sampe membuat rusak usus yang lain, dan menyebarkan kuman ke perut..

Enam bulan setelah suami operasi, Akmal anak pertama kami, mengeluh sakit perut. Duh, terus terang deg-degan sekali saya, masih trauma mengingat penderitaan yang dialami Ayahnya. Saya biasanya menasihatinya agar makan teratur, dan pola hidup lainnya yang masih saja belum Akmal jalankan. Saya juga menduga-duga kalau sakitnya ini berhubungan dengan sekolahnya yang stressfull. Untuk memastikannya, saya periksakan Akmal ke klinik terdekat, dan hasilnya ternyata sama, tidak ada gangguan di perutnya, mungkin karena stress saja dan kurang teraturnya pola makan.

Tapi ternyata sakit perut itu berulang-ulang dikeluhkan, walau tidak intensif. Terutama di kelas dua ini jarang sekali. Hanya saja dalam selang 3 minggu terakhir, sudah dua kali dia mengeluh kesakitan. Yang terakhir hanya mengeluh: seperti mual, tapi sepertinya tersiksa sekali, persis ekspresinya seperti ekspresi Ayahnya tahun lalu.

Kamis malam dia mengeluh sakit perut seperti mual. Lalu muntah. Ditengah-tengah erangan dia, saya buka google dan membuka link situs2 yang menjelaskan gejala sakit perut pada anak. Dari situs tersebut saya mengetahui, jika ada yang mengeluh sakit perut, kita perlu segera mencari tahu di lokasi mana sakit itu berada, perut atas, kanan, kiri, tengah, kanan bawah atau kiri bawah? Itulah langkah pertama yang perlu dicari tahu jika ada yang mengeluh sakit perut. Jangan mengidentikan perut perih sama dengan maag!!! Ahh itu dokter yang mendiagnosa Ayahnya juga ya...bisa-bisanya mendiagnosa maag, sekolah di kedokteran apa bukan??? Padahal waktu Ayahnya periksa, sakitnya masih terlokalisir, hingga diberi obat anti nyeri sakit oleh dokter, sehingga sakitnya menjadi tidak jelas di mana. Diagnosa semakin sulit tegak.


Saya nggak mau kesalahan diagnosa terulang lagi untuk Akmal. Saya bertanya pada Akmal, "sakitnya dimana?" Akmal menunjukkan di puser dia sakit, perut bagian tengah. Saya cari lagi di situs mengenai keluhan di perut bagian tengah. Inna lillahi wa inna illaihi roji'un, lemas saya karena menurut situs tersebut, sakit perut di tengah yang sifatnya timbul tenggelam adalah gejala awal usus buntu kronis. Sementara di jelaskan lebih lanjut bahwa usus buntu hanya bisa diatasi dengan membuangnya, dan terlambat bisa menyebabkan usus buntu pecah.

Keesokan harinya, jum'at pagi. Akmal terlihat lebih segar. Walau demikian saya mengizinkan dia untuk tidak sekolah, dan bermain bersama Hanif di rumah. Saya mulai berharap dia hanya gangguan pencernaan, karena melihat dia seperti semakin membaik keadaannya. Ternyata sorenya dia mengeluh lagi, badannya lemas, wajahnya pucat. Walau keluhan itu berkurang ketika perutnya saya olesi dengan kayu putih, tetapi perasaan saya mengatakan kalau ia harus segera saya bawa saja dia ke dokter. Saya pergi mengantarkan Akmal ke rumah sakit sambil dibayangi mimpi buruk penderitaan usus buntu pecah yang dialami Ayahnya.

Saya pilih dr Huda Hilman,dokter spesialis anak yang cukup terkenal di depok, dengan harapan diagnosa tidak meleset. Hanya beberapa menit saja yang dibutuhkan beliau untuk menegakkan diagnosa usus buntu pada Akmal. Karena saya sudah membaca situs kesehatan tadi malam, saya sudah siap mendengarnya, dan siap juga mendengar kalau Akmal dirujuk ke dokter bedah anak. Diperiksa ulang oleh dokter bedah anak, disimpulkan dengan diagnosa yang sama.

Dalam waktu yang terbatas, saya memotivasi Akmal, yang ketakutan. Akmal meminta operasi dilakukan besoknya. Tapi saya takut kalo harus menunda-nunda, karena Ayahnya tertunda sehari saja sudah semakin parah keadaaannya. Saya bujuk Akmal. Mengajaknya bersyukur karena operasi yang dilakukan termasuk operasi sedang bukan operasi besar seperti Ayahnya. Bersyukur karena dari gejala yang terdeteksi lebih dini, membuatnya "hanya" mengalami operasi sedang. Menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dijalani jika tertunda operasinya.

Alhamdulillah akhirnya Akmal mau juga di bawa ke ruang operasi. Operasi berjalan lancar, dan kita Akmal sudah sehat, tinggal istirahat beberapa hari lagi. Alhamdulillah.

Dari pengalaman tersebut, saya ingin berbagi,
- Jangan sepelekan keluhan sakit pada anak, pasangan ataupun diri kita
- Pilihlah dokter yang tepat, karena saya sudah mengalami beberapa kali kesalahan diagnosa
- Rajinlah berkenalan dengan dokter, paling tidak bisa menjadi second opinion bagi kita.
- Bersikap kritislah pada dokter.
- Pelajari anatomi sedikit-sedikit, ya mengulang pelajaran biologi, untuk pengetahuan kita memahami sakit yang anak alami
- Berdo'alah, itu senjata utama kita

Mudah-mudahan kita semua senantia diberi nikmat kesehatan dan keselamatan. Amiin

Label:

Hari minggu kemarin, dengan semangat saya pergi mengikuti sebuah seminar parenting yang kebetulan pembicaranya adalah seorang psikolog yang sudah cukup dikenal dengan baik oleh kita semua.

Kepergian saya ke seminar tersebut diawali dengan meminta restu pada anak dan suami saya tentu saja.

"Akmal hari Sabtu, Ibu mau pergi..." saya meminta izin jauh hari...supaya Akmal siap:)
"Pergi ke mana bu?
"Mmm...apa ya...(mau bilang seminar kok ya nanti repot lagi menjelaskan seminar itu apa)....mmh mau sekolah Mal"
"Sekolah apaan bu?"
"Sekolah buat ibu itu loh Mas, seperti yang waktu itu pernah ibu ikuti"
"Ooo iya ya bu...pergi aja bu...pergi...ntar ibu jadi baik banget kalau deh kalo dah ikut sekolah"

He3 ya...waktu itu saya pernah ikut seminar Bu Ery Sukresno...begitu saya sampai di rumah...langsung praktek..he...terus ternyata anak-anak merasakan sekali bedanya...

"Eh ibu kok jadi baik banget..." bolak balik deh anak-anak komentar.

Nah sekarang pun Akmal berharap demikian. Saya yang akhir-akhir ini berasap dan bertanduk, bisa berubah jadi "malaikat" setelah pulang sekolah nanti.

Ok lah Mal...beres...Insyaa Allah ibu jadi baik deh nanti.

Sekarang tinggal izin suami. Dengan asumsi, suami akan mengizinkan, maka saya santai aja...mepet-mepet minta izinnya...waktu mau berangkat. Kebetulan suami baru pulang subuh dari kantor...dia pulang dengan ngantuk yang amat sangat karena tidak tidur semalaman. Duh kok jadi segen ya minta izinnya...

Ntar aja deh...

"Mal. ibu kayaknya nggak jadi perginya..." kataku pada Akmal...lagi-lagi mempersiapkan Akmal kalo rencana hari ini berubah.
"Yach...kenapa bu?
"....Soalnya....Ayah baru pulang...kan kasihan kalau ibu langsung tinggal kerja..."
"Yach anti gimana donk...ibunya nanti gini-gini aja!!"

Adeuh segitunya Nak...apa segitunya ya ibumu ini, sampe kamu panik begitu.

Gimana minta izinnya...suami tidur...kupanggil pelan-pelan...

"Yah...ibu pergi ya...ke RTM sekarang"

euh bukan minta izin itu mah, tapi ngasih tahu...secara dah siap untuk pergi.

Suamiku bangun sedikit, dan mengangguk sambil malas karena ngantuk.

Yes!!...memang suamiku yang baik ini, dah sangat paham, kalo seminar parenting begitu penting bagiku, jadi kalo aku izin ikut seminar-seminar itu, selalu diizinkan.

"RTM...mau apa??? "

Oo ternyata tadi anggukan yang tidak terlalu disadari...sekarang baru deh bertanya....secara baru ngeuh istrinya mau pergi.

Akupun menjelaskan dengan cepat...meyakinkan semuanya dah siap, termasuk anak-anak ada yang jaga...

Sekarang baru mengangguk-angguk yang sebenarnya.

Siip....pergi...

"Mal...ibu jadi pergi ya...."

"Asiiiik!!!"

Deuuh Akmal segitu senengnya....memang ibumu ini gimana sih...?? Sampe segitu girangnya ibu mau belajar jadi ibu yang baik.

Sampai di tempat seminar. Subhanallah ada 400 peserta!!! Begitu kata narasumber acara ini.

Luar biasa...semangat sekali ya...

Acara dimulai...dengan games-games...dan simulasi...sampai akhirnya sampai pada materi utama.

Pembicara mengeluarkan slide-slide satu persatu. Slide-slide pertama saya masih bisa dengan tenang melihatnya, semakin lama slide semakin seru....semakin infomatif tentang kondisi anak-anak sekarang.. Lama-lama kepalaku makin terasa pusing. Peserta di sebelahku juga mengungkapkan kepusingan dan ketegangannya..

Sebegitu dahsyatnya kah zaman yang dialami anak sekarang. Pornografi begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan film kartun....komik...games...games online...PS....games di hp...sinetron...film..

Semua disajikan dengan jelas...jelas sekali. Saya yang kuper baru tahu ooo seperti itu komik, games, sinetron yang dikonsumsi anak -anak sekarang, Secara anak-anakku masih relatif kecil, dan di rumah nggak ada fasilitas apa-apa. Paling banter TV...

Cenut...cenut deh ngeliat slide-slide tersebut selama 3 jam. Apalagi diakhiri dengan efek dari sumber-sumber pencetus pornografi itu. Penyakit...kerusakan otak...huaaa...sungguh bikin merinding membayangkannya.

Ingin rasanya bertanya...jadi gimana mencegahnya Bu??? Mau di protek total anak-anakku, banyak yang kasih masukan...jangan katanya...nanti malah mainnya atau nontonnya di rumah orang....Mau dikasih jalan...takut sama efek negatif yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh pembicara.

Tapi ternyata selama 3 jam itu....baru bisa sampai ke data. Belum sampe ke solusinya....katanya teknisnya ada di pelatihan yang sudah disiapkan sekian sessi....

Fiuh...aku pulang hanya membawa kepala yang pusing. Pusing karena anak-anak pasti selama kutinggal, memilih tv sebagai hiburan,dan aku nggak tahu apa yang mereka tonton. Pusing...karena nggak tahu apa yang mestinya dilakukan.

Aku bertanya dalam hati: "Segitu sulitkah menjadi orangtua?" Sampe aku pusing begini.

Kok rasa yang didapet beda ya...dengan seminar yang aku ikuti sebelumnya, bersama Ery Sukresno...Pulang dari seminar bu Ery, mah pikiran teh jadi seger gitu....punya segudang tips praktis buat ngadepin anak-anak.


Sampai rumah, Akmal juga bisa nangkep kalo harapannya tidak tercapai. Ibunya biasa aja, nggak berubah...

"Bu, kok pulang sekolah, ibu biasa-biasa aja sih"

Aaaarrgh....Sulitkah menjadi orangtua??? Kok malah jadi tambah bingung pulang dari seminar teh....


Tantangan jadi jelas di depan mata...rasanya kanan kiri semua ancaman....

Label:

Ini bukan tulisan politik sebenernya, cuman tulisan iseng hasil obrolan sama suami.

Dari mengamati gaya bicara...bahasa tubuh... dan pernyataan2 mereka, banyak yang menyimpulkan bahwa SBY adalah sosok yang slowly but sure (CMIW), sedang JK adalah sosok yang serba cepat seperti slogannya lebih cepat lebih baik. Nggak tahu kenapa, kami malah menjadikannya sebagai guyonan ketika melihat pola tingkah anak-anak kami.

Ma'af sebelumnya ya buat pak SBY dan pak JK. Kami tak begitu mengenal beliau berdua. Tapi kami iseng aja menjadikan beliau berdua label personality, mudah-mudahan tidak tersinggung ya. Untuk tim sukses juga jangan tersinggung loh:)

Akmal adalah anak yang penuh perhitungan. Dari sejak dalam kandungan, terasa banget niy anak slowly but sure:), gerakan dalam perutku terasa tenang, tak terasa ada gejolak yang berarti. Proses kelahirannya juga begitu lambat. Dua hari dua malam, kontraksi selama 5 menit sekali, nggak ada perkembangan. kadang dia bergerak, kadang tidak. Apa Akmal tidur...heu...heu...nggak tau deh. Alhamdulillah akhirnya lahir juga.

Di masa balita, dalam kesehariannya, dia slowly juga. Selalu serba penuh perhitungan. Berjalan dengan tenang atau terkesan lambat. Tekun menyelesaikan pekerjaannya, walau dah keluar dari waktu yang diberikan. Hasil pekerjaannya, seperti mewarnai sangat bagus. Walau dia harus kehilangan waktu bermain dengan temannya ketika istirahat, karena belum selesai mewarnai,dia tetap tenang dan terus tekun menyelesaikan pekerjaannya, karena dia bahagia dan senang jika pekerjaannya selesai. Guru TK nya sempat khwatir kalau nanti di SD dia akan mengalami kesulitan, karena di SD kan, waktu menjadi ukuran prestasi juga.

Kemarin di usianya yang sudah hampir 7,5 th, kami sekeluarga mengikuti acara famgath kantor Ayahnya. Di sana ada flying fox. Hmm, seperti yang kami duga, dia mengamati lama tali flying fox itu, dan dia memilih tidak naik. Benar-benar penuh perhitungan :)

Kadang kami gemas melihat perilakunya. Tapiii kemarin kami hanya tergelak tertawa...ketika aku bilang: "Yah, Akmal, SBY banget ya? Slowly (mudah-mudahan) but sure :) Ya inilah personality yang aku rasa perlu kita pahami dan kita terima dari Akmal. Karena pada perkembangannya nanti, siapa tahu dia akan menjadi tokoh besar dengan personality seperti itu.

Walau memiliki personality Slowly (mudah-mudahan) but Sure itu, bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Alhamdulillah secara akademik, dia cukup berprestasi, nilai-nilainya bagus. Walau memang feedback dari gurunya,s eandainya dia lebih cepat dan lebih konsentrasi, prestasinya bisa jauh lebih baik.

Secara sosial juga, dia cukup nyaman, walau memerlukan waktu lama beradaptasi dalam lingkungan baru, tapi teman-temannya cukup merasa aman berteman dengannya, karena jarang dia menyakiti teman-temannya. Sebagai kakak, dia juga bisa dipercaya menjaga adik.

Bageurlah pokokna mah...(anak baik gituloh)

Hanif...sebaliknya dari Akmal.
Hanif dalam melakukan segala hal, nggak pake mikir. Action dulu baru mikir, atau nggak "mikir" sampe akhir:). Nggak mikir ini bukan berarti dia tidak cerdas. Maksudnya lebih kepada nggak mikirin resiko. Atau selalu menganggap gampang sesuatu.

Sering banget kehilangan sandal, karena pergi pake sandal, pulang nggak pake, dan lupa di mana dia taruh. Dia lebih senang jalan nggak pake sandal. Kalau lagi jalan-jalan, sering banget baru ketahuan di jalan kalau dia pake sandal jepit. Anaknya nggak mau repot. Nggak mau juga pake baju yang bikin ribet. Dia senang menggulung celananya. Males pake kaos dalem.

Anak yang santai, senang bercanda, dan senang membuat orang tertawa.

Ketika Famgath kemarin. Hanif minta naik Flying Fox. Flying Fox yang dirancang untuk orang dewasa, tinggi dan panjang. Hanif santai aja, kita, orangtuanya yang mikir. Di matanya tercermin, "apa sih yang menakutkan, cuman flying fox:). Hanif selalu menganggap gampang segala hal. Jarang sekali dia bilang sesuatu itu susah. Tapi memang dia bisa menyelesaikannya sih. Seperti waktu Flying fox, dia sampai dengan tenang, tak ada tangisan atau ketakutan.

Hanif, orangnya konsekuen dan konsisten. Kalau dia bilang mau, akan terus mau. Walau dia melihat ada anak yang jauh lebih besar menangis setelah naik flying fox, dia tidak gentar (padahal masnya dah nakut-nakutin sambil nujukin anak yang nangis itu).

Karena keberaniannya dalam mencoba, kadang-kadang ada resiko yang harus diambil, tapi dia tidak pernah mengeluh, karena dia tahu itulah resiko yang harus diterima:)

Dan kamipun kembali tergelak ketika menyimpulkan kalo Hanif itu JK banget, Serba cepat, nggak terlalu dipikirin, nanti gimana-nanti gimana. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan lincah.

Akhir kata, saya mau menyimpulkan. Kalo itulah gaya Akmal dan Hanif, yang perlu kami terima dengan baik, dan memahami dengan baik. Tidak ada yang jelek diantara keduanya.Insyaa Allah mereka akan berprestasi dengan warna personality masing-masing, yang membuat mereka akan unik dan saling melengkapi. Membuat dunia menjadi dinamis:)

Hati ini rasanya kering, mungkin karena terlalu banyak bicara tanpa ilmu. Terlalu banyak maksiat. Terlalu.....

Ingin rasanya hati ini disentuh, supaya lebih lembut.

"Bun, panggilan sayangku pada tetangga, hatiku kok rasanya kering ya..."
"Sini kubasahin..."katanya dengan nada bercanda
"Kuguyur ya...."

Hm, aku hanya tersenyum. Duh, tetangga, memang nikmat punya tetangga orang beriman, berada di dekatnya rasanya nikmat.

"Iya, Bun, pengennya sih dibasahin, diguyur, tapi nggak mau juga nih dikasih yang nggak enak2 (musibah/ujian)" Yach namanya manusia pengen enaknya ajah.

Tak lama berselang. Bunda, tetanggaku nelfon. Walau rumah kita sebelahan, dia suka berkomunikasi by phone juga. Yah hari hini, yang praktis2 aja kali ya, daripada ngetok pintu.

Akupun masuk sambil berpikir, apa ya yang bisa bikin hati ini basah.

Tak lama berselang, telfon berbunyi. Ow, ternyata Bunda. Ya, walau bersebelahan, Bunda sesekali menelfonku. Hari gini, praktis2 aja kali ya, dari pada ngetuk pintu:)

"Teh," sapanya. "Teh Eka nelfon, dia cerita, kalo dia kan suka ngisi pengajian ibu2. Katanya keempat ibu-ibu itu belum punya Al Qur'an Terjemahan, barangkali teteh punya lebih?"

Aku termangu. Ya, Rabb, beginilah kondisi umat saat ini. Kita bisa berkoar-koar ini dan itu. Tentang peradaban Islam, tentang penegakan syari'at, tentang politik, tentang kemenangan, tentang segala rupa yang ideal.

Tapi....nyatanya...di sini...di kampung ini....Al Qur'an pun mereka tidak punya. Bagaimana mereka bisa mengenal Rabbnya. Bagaimana mereka bisa mengenal Dienul Islam.

Ya Rabb....Hatiku basah....mengetahui secuplik mozaik kehidupan seperti ini.. Ketika di dalam pikiranku penuh dengan urusan dunia. Ternyata disekitarku sedang haus menanti ilmu tentang Islam. Ternyata mereka yang rindu pada Rabbnya ini tidak memiliki Al Qur'an. Ternyata mereka dengan serba keterbatasan, lebih semangat daripadaku. Tidak malukah kamu?

Label:

Apa respon saya ketika Hanif menjadi manusia pasir?
Marah! Walau masih terkendali, tapi sempet juga ngomel-ngomel
Yang mendorong diri untuk marah adalah kekhawatiran akan kesehatan utamanya sih.
Membayangkan kuman-kuman yang di pasir itu masuk ke perut. Terus gimana kalo mencret.
Gimana kalo abis mencret nanti dehidrasi...wah rawat inap nanti.

Itu ya...mikir dah jauh amat. Akhirnya tarik nafas aja dan berdo'a mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa.
Terus setelah hanif mandi, kita sepakat (Atau maksa Hanif sepakat?), kalo sampe besok pagi Hanif bermain di dalam rumah dulu. Cooling down.Mengajak anak belajar berpikir dulu. Soalnya kemarennya dah dibilangin bahayanya maen pasir kok ya dilakukan lagi. Ada keinginan untuk... jangan diulang lagi deh De...

Dari beberapa keinginan anak untuk berekspresi...seperti melempar genteng rumah tetangga pake batu. Saya jadi mikir kayaknya tidak semuanya keinginan anak perlu kita iyakan. Karena bagaimanapun anak perlu memahami mana yang benar atau salah...tepat atau tidak.

Lantas bagaimana dengan hasratnya bereksplorasi. Apakah dengan melarangnya kita sudah menghambat keinginannya?

Ya! selama kita tidak memberikan alternatif bentuk eksplorasi lainnya.

Ketika anak melemparkan batu...di mana sensasinya....batunya atau melemparnya?
Maka saya pun berteriak pada mereka (hanif dan kelompok mainnya hanif): "Teman-teman ibu punya bola!"
Selembar kertas bekas saya remas dan menjadi bola kertas. Mata mereka berbinar-binar, antusias. Meremas kertas. Wah seru banget. Begitu mata mereka bicara.
Lalu "Teman-teman seberapa tinggi kamu bisa melempar!" teriak semangatku.
Wah mata mereka semakin berbinar-binar.
"Bisa sampe ke langit nggak???"
Semakin berbinar-binarlah mata mereka
Lalu mereka menghampiri, mengambil kertas bekas, meremasnya, menjadi bola kertas, dan melemparnya. Hore! Seru!
Setelah puas! Bermain seberapa tinggi dan seberapa jauh. Kita istirahat sambil ngobrol.
"Teman-teman, kalo batu itu berat atau tidak? Keras atau tidak?"
"Berat!" "Keras!"
"Kalau kertas? ringan atau tidak?"
"Ringan"
"Kalau menurut teman-teman, bagaimana jika batu dilempar dan terkena kepala orang lain?"
Begitulah terus sampe mereka paham benda apa yang boleh dilempar dalam permainan.
Demikian pula dengan kertas, sehingga mereka paham kertas bekaslah yang boleh diremas-remas.

Karena itu saya kurang bisa memahami ketika ada ibu yang bercerita, kalo ia baru saja bersama anaknya melukis sprei. Sprei???? Dengan alasan anaknya ingin melukis sprei. Sprei yang masih dipakai.
Demikian pula dengan dinding rumahnya yang penuh dengan coretan.

Orangtua biasanya beralasan bahwa itulah dunia anak. Apakah benar dunia anak adalah mencoret-coret dinding? Sebenarnya yang mana yang menjadi dunia anak-anak, mencoret dinding atau mencoret-coret?.

Bagaimana jika yang kita lakukan adalah mengajak mereka untuk mencoret-coret...baik yang menggunakan alat tulis, atau finger pai ting, melukis dengan sedotan, dll di media yang layak untuk digunakan, seperti kertas karton besar, dan lain-lain

Bermain pasir...kalo pasirnya bersih ok. Tapi saya mencoba berempati pada sensasinya adalah di menaburkan. Kalau diganti terigu gimana ya? Dikasih judul bermain salju? Atau menyobek kertas sampe kecil-kecil lalu berpesta dengan kertas-kertas kecil itu.

Bermain tanah...bagaimana jika disubsitusi dengan bermain adonan. Campuran terigu, air dan minyak goreng. Uh anak-anak seneng banget kalo dah diajak maen begitu.

Banyak permainan yang akan memenuhi anak untuk mengeksplorasi, tapi tetap aman.

Jika mereka berinisiatif mencoba hal yang beresiko, idealnya kita tidak berkata "Jangan!" tapi bertanyalah "De senang ya kamu....., menurutmu bermain apa ya yang kamu senangnya sama dengan ketika.....tapi tidak bahaya."

Begitu kata buku yang pernah saya baca:). Kalau saya kadang praktek kadang tidak, masih seingetnya dan gimana mood. Tapi ketika itu dipraktekan...bener loh dialog yang efektif, dan Insyaa Allah tidak merusak dunia anak. karena kebutuhan mereka tetap berusaha terpenuhi.

Label:

"Bu...Badanku penuh sama pasir...."
Pfh....Hanif...again?

"Ayo mandi!"

Kemaren dia dah maen pasir sama temennya. Penuh dari ujung rambut sampe ujung kaki sama pasir. Hari ini lebih parah lagi. Pasirnya lebih tebel....jadi manusia pasir deh dia.

Marah...dah pastilah. Bohong banget deh kalo aku bilang saat itu bisa nggak marah
Yang bikin marah itu karena khawatir dia sakit. Apalagi setelah menyadari kalo di giginya juga ada pasir.

"Hanif...kamu makan pasir????" setengah berteriak...(atau teriak yah...ah sama ajalah teriak2 juga)

Setiap ada kesempatan alias sedang maen tidak didampingi, ada-ada saja tingkahnya , maen pasir, masuk got, manjat pohon mangga sampe atas, ngelempar genteng rumah orang sama batu, nyebur ke kolam ikan di rumah tetangga. Hu...hu... nggak pernah kebayang kalo anakku bisa gitu.

Mau didampingi terus juga, rasanya kasian anak, kurang eksplorasi. Karena setiap gerakan biasanya akan memancing teriakan: JANGAN!

NAKAL? Lazimnya tingkah laku anak seperti itu dianggap begitu ya...

Mungkin kita sering menjudge anak yang lagi seru-serunya itu dengan sebutan NAKAL. Tapi sering denger kan Orang Sukses yang cerita masa kecilnya yang penuh dengan hal-hal seru

Maka akhirnya aku pikir, biarlah dia dengan keseruannya. Dan kelak dia akan bercerita tentang masa kecilnya yang seru.

Apa salahnya? Selama aku tetap konsisten menerapkan nilai-nilai yang perlu diterapkan seperti perlunya menjaga kesehatan, tidak mengambil barang punya orang, dll

Ya nggak sih?

Label:

"Baca buku? Ah saya sih ibu rumah tangga tulen, kalau saya nambah aktivitas, pekerjaan rumah bisa terbengkalai"

Eng, saya bengong, asli terpana dan tersindir mendengar ucapan itu. Kena banget! Bener juga ya, apa karena saya masih nyempet-nyempetin buat baca, jadi keteter urusan teknis rumah tangga. Heu...bukan ibu rumah tangga sejatikah saya? Tapi mau gimana lagi, karena dengan baca saya bisa enjoy dan happy. Begitupun dengan menulis.

Hmm, sempet merasa bersalah. Tapiii, akhirnya mah teuteup yang muncul adalah defence.
Begini defence saya...

Di saat sekarang ini kan ilmu cepet sekali berkembang. Misalnya saja sederhana tentang susu. Dulu kita dikenalkan dengan menu sehat, 4 sehat 5 sempurna, yang ke 5 susu. Dan dari dulu yang populer adalah susu bubuk. So, tugas kita nih, ibu-ibu nyediain susu dong, buat anak-anak dan suami (kalo buat ibu...ya ntar ye itung budget dulu...begitu deh biasanya ibu-ibu:). Walaupun istilahnya pelengkap, nggak tau kenapa ya, susu memang jadi penyempurna menu,so susu jadi prioritas, ada budget khususlah buat susu, dan kita akan khawatir anak akan kurang gizi karena susu.
Tapi ternyata oh...ternyata...dengan semakin terbukanya arus informasi, sekarang niy diketahui kalo yang bagus tuh bukan susu bubuk, gizinya dah kegerus proses pengeringan, minimal-minimalnya pake susu tuh yang UHT, kalo bisa yang asli alias susu murni langsung dari sapi.

Nah loh kalo nggak "ngapdet" ilmu lewat baca piye toh? Bisa-bisa kita salah kasih menu, salah satu tugas utama seorang ibu.

Setelah mengalihkan susu dari bubuk ke UHT, yang perlu proses menjelaskan ke anak-anak dan memotivasi anak-anak untuk mau minum UHT, ternyata ada kesempatan berlangganan susu sapi mentah, langsung deh ganti lagi jadi konsumsi susu murni. Walau berasa jadul karena susunya harus direbus dulu. Tapi memang begitulah yang terbaik, dijalani saja.

Pfhh lega rasanya sudah memberikan yang terbaik.

Eh baru juga merasa lega, si Ibu sudah baca ilmu yang lainnya kalo ternyata susu sapi tidak diperlukan oleh manusia,alias nggak perlu minum susu...waaa,pendapat apa lagi tuh.Kalo yang terakhir ini masih polemik dan saya belum menjatuhkan pilihan, walau dari penjelasan pendapat itu make sense, dan menggoda saya untuk berganti aliran:), tapi belum deh,untuk saya sendiri dah ganti susu jadi susu kedelai, anak-anak masih UHT dan susu murni.

Repot bener memang ibu yang satu ini, suami aja sampe suka keder, karena pulang kantor suka diadvokasi ini itu sesuai dengan perkembangan ilmu yang ada,ha...ha..ha.
Alhamdulillah misua orangnya pengertian dan percaya penuh deh, jadi sip...sip...sip, bisa langsung nerapin ilmu-ilmu baru.

Begitu juga dalam hal pendidikan dan pengasuhan, banyak banget perkembangan baru, kalo kita nggak belajar, hanya meniru cara orangtua atau menerapkan pola asuh yang merupakan koreksi dari pola asuh orangtua kita, rasanya kurang pas.

So, akhirnya saya keukeuh untuk selalu belajar dengan membaca dan menulis, hi..hi..seperti anak kelas 1 SD...calistung! Membaca buat update ilmu, menulis buat refreshing dan berbagi, dan tak lupa menghitung anggaran (teu nyambung dengan topik ini mah)

Lewat defence saya kali ini juga mau memberi apresiasi kepada para ibu yang mau update ilmunya sebagai Ibu Pembelajar..ke..ke..ke...gaya sekali. Boleh donk sekali-kali biar ibu-ibu percaya diri dan memiliki penghargaan diri. Kalo ibu sudah memiliki penghargaan diri yang bagus dan kemudian menjadi happy, siapa lagi yang mendapat cipratan kebahagiaan itu kalo bukan anak dan suami, ya tidak? Heu...heu maksa...

Dengan menjadi ibu pembelajar, maka itulah ikhtiar para ibu untuk memberikan yang terbaik pada anak dan suaminya, dan mudah-mudahan menjadi jalan untuk menjalankan amanahnya dengan baik. Dengan menjadi ibu pembelajar juga mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk menjadi manusia-manusia pembelajar. Ya masa kita dorong-dorong anak buat belajar, tapi kitanya dah nggak mau belajar. Padahal cara paling efektif untuk mendidik anak adalah melalui contoh konkrit.

Menjadi ibu pembelajar selain diperlukan motivasi juga diperlukan support yang kuat dari pasangan dan juga anak-anak. Maka komunikasi adalah hal yang mutlak dilakukan.

So, yuk ah jadi ibu pembelajar!

Label:

Ketika kedua anak saya sakit panas tinggi secara bersamaan, dan saya kebetulan nggak ada asisten rumah tangga, sempet bingung bagaimana agar anak-anak mau istirahat tenang di kamar. Saya nggak bisa nemenin karena banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, so akhirnya apa solusinya?

Dengan sangat….sangat…terpaksa TV menjadi solusinya. Padahal, sebelum mereka sakit , mereka juaraaaang banget inget sama TV, mereka lebih seneng main dengan teman-teman, atau berkreasi dengan menggunakan kertas, crayon, gunting, lem, isolasi. Yah apa mau dikata, saya pikir nggak apa-apalah untuk sementara.

Tapi ternyata oh ternyata, setelah sembuh, TV teuteup menarik buat mereka. Bangung tidur, nonton,kalo lagi bosen nonton…duh bikin,,,gimana gitu ya liat mereka pasif begitu, apalagi kalo baru bangun tidur, kayanya nggak sehat banget, mending kan mereka ada aktivitas motorik biar sehat dan tambah lincah.

Gimana ini…mikir….mikir….mana kalo pagi begini, lagi puncak-puncaknya sibuk, masak buat bekel dan sarapan, sekaligus sambil ini itu lainnya. Nemenin anak maen nggak mungkin banget!

Eh Alhamdulillah ada ide…

“Akmal mau jadi detektif nggak?”

“Apa bu?”

(Hmm, penasaran kan nak???)

“Jadi detektif !!!” seruku

“Mau…mau”

(He, padahal dia belum ngerti tuh apaan jadi detektif tuh maksudnya)

“Nif, mau jadi detektif nggak?”

“Nggak mau, Hanif mau nonton”

(Wah…Hanif dah nyangkut nih mata dan hatinya ke TV,tapi tenang ia akan cepat tergoda, tunggu saja)

“Gini Mal, coba kamu cari mobil merah ada di rumah no berapa di kompleks ini”

(Akmal bengong…ooo. Itu toh maksud ibu)

“Ah gampang bu!”

Terus Akmal keluar rumah. Alhamdulillah

“Tuh bu, E1, avanza merah, tulisannya Telkom”

(Deu itu sih gak perlu bergerak, lha dah keliatan dari pintu rumah)

“Maksudnya cari di seluruh kompleks ini (sebagai bayangan kompleksnya hanyalah kompleks kecil dengan jumlah rumah: 50 rumah saja)”

“Ooo, yuk Nif”
“Ayo Nif nanti ibu kasih hadiah”

“Apa bu hadiahnya?”

“ Mmm, kita beli cemilan ya”

”Asik, ayo Nif…”

Akhirnya mereka keluar rumah juga, keliling komplek, lumayan olahraga

“Bu udah bu, rumahnya Lala ada mobil Kuda merah)

“Ada lagi…” kataku “dah nyampe gerbang belon?”

“Belum…cape”

“Ya udah nggak pa2, yuk kita beli cemilan”

Pfhh Alhamdulillah, mereka bisa lepas dari kebengongan dan kepasifan dari TV

“Bu, besok aku mau jadi detektif lagi”

“Ok deh”

“Tapi hadiahnya beda lagi ya bu”

“Iya deh”

Besoknya…

“Bu apa tugas detektif hari ini bu?”

Oh iya, ya…apa ya…

“Cari motor H*nd* yang ada di kompleks ini”

“Ah gampang, ayo Nif”

Dua detektif itu pergi keluar rumah menjalankan misinya.

Alhamdulillah hari ini mereka dah nggak inget sama TV

“Bu, udah bu, di rumah ini…dan ini…(lupa tadi no berapa rumahnya kata mereka,maklum ibu-ibu memorinya dah tulalit)”

“Ok deh, hadiahnya playdough ya…”

“Asik!!!”

Jadilah kami mencampurkan terigu, sedikit air dan sedikit minyak goreng, siap untuk dimainkan…cetak…cetak…cetak…membuat ini…itu, permainan favorit mereka

Label:

Ketika kita dilamar oleh calon suami, duh rasanya seperti terbang ke langit, bahagiaaaaa banget. Sejuta cita-cita digantungkan juga di langit…hmmm. Menikah, lalu punya anak, wiiih bahagia banget deh kebanyangnya.

Hari pernikahan tiba, bener loh ternyata bahagia banget. Apalagi sebulan setelah menikah, Alhamdulillah langsung positif hamil, benar-benar nikmat yang tak terkira, benar-benar luar biasa, bahagia.

Setelah anak pertama lahir, banyak sekali tamu yang berdatangan, mengucapkan selamat,lagi-lagi rasa bahagia itu menyelusup dalam jiwa. Apalagi Alhamdulillah bisa juga menyusui setelah berusaha keras karena tidak tahu bagaimana caranya, bahagia melihatnya menghisap ASI dengan semangat. Lega rasanya, bahagia karena haknya tertunaikan.

Memasuki bulan-bulan berikutnya, senang sekali melihat perkembangannya. Tengkurap pertamanya, duduk pertamanya, merangkak dan berjalan, tak lama kemudian ia bicara. Alhamdulillah…bahagia melihatnya.

Dua tahun pertama rasanya “mudah” menjadi ibu, memasuki tahun kedua…eng…ing…eng…pfhh ternyata perlu energi yang cukup besar untuk “bahagia” menjadi seorang ibu. Temper tantrum, merengek, memaksa, cerewet, mengacak-ngacak rumah,nggak mau diatur, melawan,dan lain sebagainya-dan lain sebagainya bisa bikin kita takjub plus stress. Ditambah tugas kita sebagai istri dan ibu yang kebanyakan multitasking penuh tuntutan dan miskin penghargaan, gubrak dah, ternyata “tidak mudah” menjadi ibu. (Deu buat yang belum jadi ibu, jangan ngeper ye…ntar kan dikasih tips-tips untuk melewati masa-masa seperti ini, he3 sok tau juga nih

Ketika kita misalnya merasa kelelahan, tertekan, dan sering BT, harus segera ditangani donk. Jangan dibiarkan bisa blunder,…anak-anak bisa kena damprat padahal nggak salah-salah amat. Kebutuhan-kebutuhan mereka juga sering jadi terbengkalai.

Bagaimana caranya?
1. Menyadari kalo kita sedang tidak nyaman dan kenapa sampe tidak nyaman. Apakah bosan dengan rutinitas, terlalu lelah, kurang waktu akan diri sendiri, atau bermasalah dengan suami, atau malah ternyata sedang kurang sehat? Hmm, temukan akar permasalahannya
2. Setelah ketemu akarnya, pikirkan donk bagaimana solusinya. Jenuh berarti bikin variasi aktivitas. Jadwal aktivitas kita setiap harinya kan nggak mesti sama. Bisa kita tukar-tukar, atau kita hilangkan, diganti dengan aktivitas yang lain. Biasanya OL malam, sekali-kali OL siang-siang, atau biasa baca buku malam ya sekali-kali siang dipakai baca, rumah terlihat absurd karena diporak poranda anak-anak, nyantei aja lagi, sekali-kali aja kok.
3. Rencanakan cara untuk memanjakan diri sendiri. Kalau saya kadang mulai dengan hal yang sederhana seperti mandi dengan air hangat, hmm lumayan loh buat relaksasi, atau tidur siang bareng anak-anak, setrikaan numpuk, ya sekali-kali nggak apa-apa kan bisa dikerjakan besok. Luangkan waktu untuk santai sejenak…
4. Setelah kita charge energi, waktunya kita untuk merenung sejenak. Memberikan Nilai (value) pada apa yang sedang kita lakukan sekarang, Ketika kita merasa aktivitas kita memiliki Nilai, kita secara fitrah akan merasa bahagia, ya tidak? Di rumah bukan berarti tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Mengasuh anak sebenarnya adalah investasi kita dunia dan akhirat, kalau kita kesulitan untuk memberikan nilai positif terhadap aktivitas mengasuh anak, baca atikel atau buku yang mendukung hal ini, dijamin deh mak nyess, hati akan menjadi lembut,karena kita merasa bahagia kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan amanah ini. Kalo masih kurang mak nyess, cari lagi bacaan tentang pasangan yang masih kesulitan memperoleh buah hati atau kehilangan buah hati. Dijamin deh kita akan merasa bermakna kembali. Kalo berminat dan memungkinkan, isi hari-hari kita dengan aktivitas lainnya yang bermakna bagi diri kita, misalnya aktivitas sosial. Jika kita merasa hidup kita bermakna, kita akan bahagia, Insyaa Allah
5. Ciptakan lingkungan yang mendukung.
Bicarakan dengan pasangan, apa yang sedang kita alami, dan dukungan seperti apa yang kita perlukan dari mereka. Bukan hanya dukungan psikologis loh,kalo memang merasa perlu dukungan secara fisik juga dikomunikasikan. Misal kita akan merasa teringankan sekali,jika suami membantu memandikan anak-anak. Bicarakan….bicarakan…kenali apa kebutuhan kita dan komunikasikan, seperti halnya pasangan juga ketika ada kebutuhan mengkomunikasikannya pada kita. Maksudnya ibu juga punya hak loh untuk meminta Ayah untuk membantu memenuhi kebutuhannya.
Tidak hanya pasangan, anak-anak juga bisa diminta dukungannya. Komunikasikan secara baik-baik pada anak misalnya ketika kita memerlukan waktu untuk istirahat, atau perlu waktu untuk diri sendiri, dengan bahasa sederhana tentu saja. Jika perlu dukungan secara fisik (yang wajar), bisa dikomunikasikan juga. Misal meminta mereka untuk membantu membereskan rumah. Jangan heran kalo ternyata kemampuan mereka membantu kita akan menimbulkan kebanggan pada diri mereka, kenapa?karena mereka menjadi merasa bermakna, selama kita berkomunikasi dengan cara yang enak bukan menyuruh sambil marah-marah, coba aja deh…
6. Menyadari bahwa kemampuan kita mengelola emosi ini akan menjadi contoh bagi anak-anak kita. So, semangat ya, jangan biarkan emosi kita terlunta-lunta, terabaikan dan tak terurus. Anak akan melihat bagaimana emosi yang sedang melekat pada kita. Anak saya tuh tau kalo saya cape saya akan lebih cepat terpancing untuk marah. Jangan heran deh kalo anak saya juga cepat terpancing marah kalo lagi cape. Tapi dengan membiasakan mengelola emosi dengan baik, ternyata anak juga menirunya loh. Kita adalah role model demikian pula dalam area Emotional Intellegence. Baik buruknya EI kita, akan mempengaruhi EInya anak-anak, so berusahalah….latihlah kemampuan kita mengelola emosi.


Begitu deh, semoga bermanfaat ya dan kita jadi bahagia selalu. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan loh, ditunggu...

Kebahagian kita sebagai seorang ibu ini menjadi sangat penting karena ketika kita bahagia, anak akan bahagia juga. Anak bahagia? Bukankah itu yang kita harapkan.

Coba deh kita ingat-ingat ya bagaimana pengasuhan kita ketika kita bahagia dengan ketika kita lagi BT...hemm sungguh berbeda bukan? Kalo anak ngambek, kita lagi BT kita akan ngomel panjang lebar, tapi kalo kita lagi bahagia? Kita akan memeluknya dengan hangat dan berkomunikasi dengan penuh cinta.

Happy Mom, Happy Children

Tetap semangat!

Label:

Sudah menjadi kebiasaan di hari-hari terakhir ini, setiap pagi terjadi kehebohan. Bangun tidur Hanif menangis kencang sekali, mencari ibu. Ibu sudah pergi ke warung. Pulang dari warung, Hanif masih menangis dan dan selanjutnya meminta ibu MENGULANG secara kronologis semua kejadian ketika dia masih tidur tadi.:(
Jadi Hanif “pura-pura” tidur kembali dan ibu harus izin dulu ke hanif mau pergi ke warung, lalu pergi ke warung lagi.

Males banget deh apalagi waktunya sempit karena harusnya cepet-cepet ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekel Ayah plus Akmal. Kalau saya perginya pura-pura juga, keluar rumah padahal bukan ke warung melainkan menyiram bunga, terus ketahuan, wah tambah rame deh nangisnya. Hanif akan cek apa saya pergi ke warung beneran apa bohongan, nggak kaci dia tidur “pura-pura”nya cuman sebentar terus ngecek deh.

Semua apa yang ia inginkan harus dituruti. Kalo ngggak langkah pertama dia manyun, kalo belum cukup dia akan nyungsep di kasur, kalo perlu dia akan banting pintu. Sering juga dia tidak peduli saya bilang apa, pokoknya kalo kata dia, dia pengen A maka dia akan berusaha A tercapai, alias ngotot.

Semua bisa jadi masalah, hal-hal sepele, bisa jadi panjang urusannya. Kondisi seperti ini bisa berulang-ulang dari pagi sampe malam. Hiks, perlu kesabaran sesabar-sabarnya menghadapinya.

Padahal Hanif tadinya anak baik, nggak bermasalah, jarang memancing marah, yang ada dia lucu dan lucu, tapi sekarang…toloooooong!!!! Pfuh teuteup saya nggak bisa marah. Yang sering adalah saya atau Hanif melakukan atau diminta TIME OUT. Terutama saya memisahkan diri untuk menghindari berkata yang tak perlu, bersikap berlebihan dan emosional.

Tapi lama-lama kalo keseringan Time Out juga khawatir anak merasa diacuhkan. So, saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Pertama adalah dengan memahami bahwa di usianya yang sekarang adalah wajar dia bersikap demikian. Masa egosentris (yang penting AKU) semakin memuncak.

Di usia batita, kemandirian anak mulai terbentuk, sehingga ia berkeinginan untuk mengambil keputusan sendiri. Yang sering menimbulkan masalah adalah pilihannya sering tidak cocok dengan pilihan kita sebagai orangtua. Hal ini menyebabkan “keributan-keributan”.

Kedua yang saya lakukan adalah dengan memahami bahwa stimulus untuk marah ini adalah godaan dari syetan. Jadi berdo’a…berdo’a….dilindungi dari godaan syetan yang terkutuk, dan saya mengkomunikasikan hal ini pada anak-anak.

“Akmal sebenernya kalo ibu rasakan, setiap hari gantian, kalo Mas lagi baik, ade rewel, kalo Ade lagi baik, Mas rewel. Kayaknya tuh syetan cari celah biar ibu marah, nah tinggal diliat aja nih siapa yang menang ibu atau syetan”

Kalo dah begini Akmal akan mendukung sepenuh hati ibunya supaya menang dari syetan seperti sedang ada dalam perlombaan “Ayo bu! Ibu tuh sabar banget kok, pasti menang dari syetan”

Berkomunikasi dengan anak kita yang satu lagi, yang sedang tidak bermasalah, lumayan banyak memberikan energi untuk sabar. Karena ajaibnya anak-anak suka mengeluarkan nasihat-nasihat bijak dari mereka

Ketiga, meluruskan niat, ikhlas…berusaha ikhlas, inget sama Allah SWT membuat hati tenang.

Keempat, walau berat seberat-beratnya, jika saya sudah punya energi karena sudah menjalankan tiga step sebelumnya, saya akan menghampiri dan mengajaknya bicara. Menggendong atau memeluk akan mempercepat komunikasi yang enak antara kami berdua.

Kalau sudah begini….Alhamdulillah selesai….beres!.

Label:

Bener nggak ya...istilahnya, maksudnya waktu untuk diri sendiri.
Akhir-akhir ini begitu kehilangan waktu untuk diri sendiri, karena tugas bertambah...sebagai konsekuensi dari memberhentikan asisten rumah tangga. Mau nulis juga jadi susah banget. Niy mumpung long weekend, "terpaksa" sekarang mendelete jadwal membacakan buku anak-anak. Hanya sekarang kok, besok ya sudah balik lagi ke rutinitas biasanya. Soalnya dah "kebelet" banget pengen nulis, pengen melepas energi, pengen cari inspirasi, pengen melepas kepenatan...

Kadang yang namanya ibu-ibu, waktunya habis terkuras untuk orang lain. Bahkan saking terkurasnya sering melupakan kondisi dirinya. Saya mengenal seorang Ummi, yang akhir-akhir ini jarang terlihat. Ternyata Ummi ini sedang sakit, sudah cukup lama, dan yang bikin saya sedih dan berpikir, Ummi ini belum ke dokter. Padahal dokter ada yang deket, mudah sebenernya kalo niat. Hmm sebegitunyakah pengorbanan seorang ibu?


Sekali lagi saya menjerit dalam hati: "sebegitulah pengorbanan seorang ibu??"
Sampe harus terseok-seok, mengurus orang lain dan melupakan diri sendiri.
Kadang bukan karena orang sekitar tak memperhatikan, seringkali karena kita merasa tak layak mengurus diri sendiri. Padahal menurut saya sih,harus dipaksakan memiliki waktu untuk diri sendiri. Baik itu berkaitan dengan kesehatan, kesenangan, hobi. Kita layak dan berhak kok untuk mengurus diri kita. Karena kalo kita ambruk secara fisik dan psikologis, kan anak-anak dan suami juga kena imbasnya.

("bu...bu lagi apa sih, kok dari tadi nyalain komputer aja? lagi ceting ya?" Akmal nanya nih...paling gatel ya anak-anak kalo liat ibunya lagi asik sendirian:)

("bu nggak jadi bikin kopi ya? sekarang Ayah yang nanya...hmm...nggak bisa liat ibu-ibu nganggur ye...)

Yah begitu deh, susah memang punya Me Time, tapi harus dipaksakan, biar seger lagi, fresh lagi, nyelip-nyelip nggak pa2,yang penting Me Time, asik dengan dunia kita sendiri!

Egois??? Kadang berasa begitu ya, suami dan anak nggak keurus...tapi sekali-kali boleh donk....