Label:

Bermain bagi Bunda Zaki adalah kesempatan emas bagi anak untuk belajar bagaimana bersikap pada orang lain. Awalnya Bunda Zaki berpikir adalah hal yang bagus untuk membiarkan anak bermain dengan siapa saja.

Namun suatu ketika Bunda Zaki melihat tangan kanan dan kiri Zaki, masing-masing membawa sebuah tas besar. Badan mungil Zaki terlihat oleng beberapa kali, karena terbawa beratnya tas tersebut. Sementara di depan Zaki, tampak temannya, Budi sedang berjalan dengan gagahnya.

"Wah....sedang apa Zaki?" pikir Bunda. Membantu teman? Tapi tampaknya Budi sangat gagah. Tidak tampak kesakitan atau tanda-tanda kesusahan lainnya.

Waktu yang lain, Bunda Zaki juga mendengar bagaimana Budi ini berteriak...meneriaki teman-temannya, memerintah ini dan itu.

Hmm, entah kenapa, Bunda Zaki tidak bisa menerima itu. Bermain sambil diperintah-perintah. Diminta tolong, tidaklah masalah. Tetapi diperintah-perintah seperti seorang anak buah oleh atasannya...mmm....Bunda Zaki tidak menyenanginya. Apalagi gaya Zaki yang baik hati, senang membantu teman. Apapun akan dia lakukan untuk temannya.

Bunda mengajak Zaki berbicara mengenai hal ini. Zaki yang masih berumur hampir 5 tahun, memang masih lugu, dalam pandangannya Zaki galak, itu saja. Namun kakaknya Ahmad, sangat paham kalau Zaki sudah bersikap Bossy pada adiknya.

Diminta tolong dan diperintah dengan kasar, adalah sesuatu yang berbeda. Bunda Zaki merasa perlu memberikan pemahaman tersebut, dan membimbing Zaki untuk bersikap.

Bunda Zaki berpikir, suatu saat anaknya akan berhadapan dengan berbagai karakter manusia, dan anaknya perlu belajar bagaimana bersikap yang tepat. Bagaimana berkomunikasi untuk mengatakan TIDAK, pada ajakan atau perintah yang tidak baik baginya.

Permasalahan ini selesai. Zaki sudah dapat bersikap, paling tidak, ia bisa menolak ajakan atau perintah Budi yang terlalu kasar dalam pandangannya.

Namun Bunda Zaki masih prihatin dengan anak-anak lain. Yang terus saja mau diperintah ini dan itu oleh Budi. Memerintah dengan sopan, mungkin ciri pemimpin masa depan. Tapi jika memerintah dengan kasar, dan tidak mau tahu kondisi teman, apapun harus menurutinya, Bunda Zaki pikir ini bukanlah sifat yang perlu dipertahankan. Misalnya saja, suatu hari, Bunda Zaki melihat Ali, temannya Zaki ditarik-tarik (diseret) untuk mengikuti kemanapun Budi pergi, termasuk keluar komplek perumahan. Hal yang sebenarnya jarang dilakukan oleh anak-anak lain di komplek tempat Zaki tinggal, terutama oleh anak seumur Zaki dan Ali. Biasanya mereka keluar bersama orangtuanya.

Adapun mengenai Budi, ya Bunda Zaki juga prihatin, tapi permasalahan Budi yang Bossy tentu tidaklah mudah untuk mengurai dan mengatasinya, dan Bunda Zaki pikir itu diluar wewenangnya. Tapi untuk anak-anak lain sebenarnya Bunda Zaki ingin sekali memberitahu Bunda mereka untuk membimbing anaknya bersikap kepada anak yang Bossy seperti Budi.

Sisi lain Bunda Zaki berpikir, sikap tegas dari teman-teman Budi akan memberikan umpan balik yang mungkin berguna bagi Budi. Sikap penerimaan positif terhadap sikap Bossy yang ditunjukkan Budi, seperti yang dilakukan oleh teman-teman Budi saat ini,hanya akan memperkuat sikap tersebut.

Tapi Bunda Zaki sendiri sebenarnya masih kurang yakin apakah memang benar bahwa anak perlu dibimbing oleh orangtuanya untuk dapat bersikap pada anak-anak Bossy? Atau dibiarkan sajakah?

Comments (0)