Label:

Sudah menjadi kebiasaan di hari-hari terakhir ini, setiap pagi terjadi kehebohan. Bangun tidur Hanif menangis kencang sekali, mencari ibu. Ibu sudah pergi ke warung. Pulang dari warung, Hanif masih menangis dan dan selanjutnya meminta ibu MENGULANG secara kronologis semua kejadian ketika dia masih tidur tadi.:(
Jadi Hanif “pura-pura” tidur kembali dan ibu harus izin dulu ke hanif mau pergi ke warung, lalu pergi ke warung lagi.

Males banget deh apalagi waktunya sempit karena harusnya cepet-cepet ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekel Ayah plus Akmal. Kalau saya perginya pura-pura juga, keluar rumah padahal bukan ke warung melainkan menyiram bunga, terus ketahuan, wah tambah rame deh nangisnya. Hanif akan cek apa saya pergi ke warung beneran apa bohongan, nggak kaci dia tidur “pura-pura”nya cuman sebentar terus ngecek deh.

Semua apa yang ia inginkan harus dituruti. Kalo ngggak langkah pertama dia manyun, kalo belum cukup dia akan nyungsep di kasur, kalo perlu dia akan banting pintu. Sering juga dia tidak peduli saya bilang apa, pokoknya kalo kata dia, dia pengen A maka dia akan berusaha A tercapai, alias ngotot.

Semua bisa jadi masalah, hal-hal sepele, bisa jadi panjang urusannya. Kondisi seperti ini bisa berulang-ulang dari pagi sampe malam. Hiks, perlu kesabaran sesabar-sabarnya menghadapinya.

Padahal Hanif tadinya anak baik, nggak bermasalah, jarang memancing marah, yang ada dia lucu dan lucu, tapi sekarang…toloooooong!!!! Pfuh teuteup saya nggak bisa marah. Yang sering adalah saya atau Hanif melakukan atau diminta TIME OUT. Terutama saya memisahkan diri untuk menghindari berkata yang tak perlu, bersikap berlebihan dan emosional.

Tapi lama-lama kalo keseringan Time Out juga khawatir anak merasa diacuhkan. So, saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Pertama adalah dengan memahami bahwa di usianya yang sekarang adalah wajar dia bersikap demikian. Masa egosentris (yang penting AKU) semakin memuncak.

Di usia batita, kemandirian anak mulai terbentuk, sehingga ia berkeinginan untuk mengambil keputusan sendiri. Yang sering menimbulkan masalah adalah pilihannya sering tidak cocok dengan pilihan kita sebagai orangtua. Hal ini menyebabkan “keributan-keributan”.

Kedua yang saya lakukan adalah dengan memahami bahwa stimulus untuk marah ini adalah godaan dari syetan. Jadi berdo’a…berdo’a….dilindungi dari godaan syetan yang terkutuk, dan saya mengkomunikasikan hal ini pada anak-anak.

“Akmal sebenernya kalo ibu rasakan, setiap hari gantian, kalo Mas lagi baik, ade rewel, kalo Ade lagi baik, Mas rewel. Kayaknya tuh syetan cari celah biar ibu marah, nah tinggal diliat aja nih siapa yang menang ibu atau syetan”

Kalo dah begini Akmal akan mendukung sepenuh hati ibunya supaya menang dari syetan seperti sedang ada dalam perlombaan “Ayo bu! Ibu tuh sabar banget kok, pasti menang dari syetan”

Berkomunikasi dengan anak kita yang satu lagi, yang sedang tidak bermasalah, lumayan banyak memberikan energi untuk sabar. Karena ajaibnya anak-anak suka mengeluarkan nasihat-nasihat bijak dari mereka

Ketiga, meluruskan niat, ikhlas…berusaha ikhlas, inget sama Allah SWT membuat hati tenang.

Keempat, walau berat seberat-beratnya, jika saya sudah punya energi karena sudah menjalankan tiga step sebelumnya, saya akan menghampiri dan mengajaknya bicara. Menggendong atau memeluk akan mempercepat komunikasi yang enak antara kami berdua.

Kalau sudah begini….Alhamdulillah selesai….beres!.

Comments (0)