Label:

"Ah males banget dia sih buat belajar, susah sekali, maunya main terus"
"Begitu mungkin ya kalau anak laki-laki, beda sama anak perempuan. Kalau anak perempuan tekun-tekun, mau belajar. Anak laki-laki sih heeeuuuuh susah!"
"Wah kalau kita ngga ngomel-ngomel sih, kayaknya ngga akan belajar-belajar tuh anak-anak"
"Saya sibuk, ngga sempat menemani anak belajar, lagi pula kalau belajar dengan anak saya yang ada berantem melulu, ya sudah saya panggil guru privat saja"

---

Kerap kali kita mendengar keluhan orangtua mengenai motivasi belajar putra putri mereka. Jika kita berdialog lebih lanjut dan menyamakan persepsi tentang apa yang dimaksud belajar, menurut versi orangtua, kurang lebih beginilah hasilnya:

Belajar adalah membuka buku, membaca dengan tekun, membuat rangkuman dari buku, mengerjakan soal-soal latihan.

"Ayo belajar kamu, baca! Baca dong bukunya! Main terus!"
"Belajar apa kamu tadi di sekolah, halaman berapa? Ayo dibaca-baca lagi...diulang lagi di rumah!"
"Kamu sedang belajar apa sekarang di sekolah? Oo...itu...nih ibu sudah siapkan soal-soal untuk latihan, kamu kerjakan ya no 1-10. Nanti kita periksa bersama!"

Ketika anak enggan melakukan semua intruksi itu, bisa jadi orangtua kemudian menyimpulkan anaknya tidak mau belajar, lebih jauh lagi sampai memberikan label "malas" pada anak.

Sesungguhnya apakah belajar itu?

Berikut ini pendapat para ahli psikologi dalam memandang Belajar:
1.Skinner (1958) memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Disamping itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu untuk mencapai suatu hasil.
2.McGeoch (1956) memberikan definisi belajar “learning is a change in performance as a result of practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, yang disebabkan oleh proses latihan.
3.Kimble memberikan definisi belajar “Learning is a relative permanent change in behavioral potentiality occur as a result of reinforced practice. Dalam definisi tersebut terlihat adanya sesuatu hal baru yaitu perubahan yang bersifat permanen, yang disebabkan oleh reinforcement practice.
4.Horgen (1984) memberikan definisi mengenai belajar “learning can be defined as any relatively, permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience” suatu hal yang muncul dalam definisi ini adalah bahwa perilaku sebagai akibat belajar itu disebabkan karena latihan atau pengalaman.

Kesimpulan pertama dari sederet definisi tersebut adalah belajar adalah perubahan perilaku. Artinya yang menjadi sasaran utama dari proses belajar adalah perubahan perilaku, bukan sekedar penambahan pemahaman teori-teori/ materi pelajaran.

Uniknya, dengan beragamnya karakter manusia, cara manusia belajar (dengan definisi sesungguhnya) ternyata berbeda-beda.

Saya mengenal seorang anak yang penuh semangat mengoperasikan berbagai software di komputer. Kemampuannya sudah setara dengan orang-orang dewasa. Hasil karyanya sehubungan dengan software-software tersebut, menimbulkan decak kagum orang sekitarnya. Bagaimana tidak, ia baru saja duduk di bangku sekolah dasar. Ia belajar mengoperasikan software-software tersebut hanya dengan melihat orang lain melakukannya, dan kemudian mengeksplorasi sendiri software tersebut. Belajar dengan melihat dan melakukan.


Cerita sederhana lainnya, saya pernah berdecak kagum karena keponakan saya yang masih imut-imut di bawah usia 2 tahun. Mengetahui tombol untuk menyalakan hp, hanya dengan melihat bagaimana saya mematikannya.

Artinya terdapat individu-individu yang cepat belajar, hanya dengan melihat bagaimana oranglain melakukannya, kemudia mencoba melakukannya.

Lain lagi cerita tentang saya sendiri. Ketika sekolah, saya lebih senang mendengarkan penjelasan orang lain dan berdiskusi dengan mereka. Saya tidak terlalu suka membaca buku-buku dengan teks panjang-panjang. Baru satu halaman juga saya sudah tertidur. Hmm mungkin cerita seperti ini juga begitu banyak dialami orang lain. Seperti cerita salah seorang orangtua yang sedang mengeluhkan bagaimana sulitnya anaknya belajar (enggan membuka buku dan mengerjakan soal-soal). Di tengah cerita terlontar ungkapan jujur dari orangtua tersebut bahwa iapun tidak terlalu suka membaca. Seketika saya tersenyum. Ya beginilah kita orangtua, suka lupa masa kecil. Selalu menuntut perilaku A pada anak, padahal kita sendiri pun adalah C.

Terdapat juga cerita, bagaimana seorang individu yang mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan secara lisan, tetapi lebih mudah memahami dengan tampilan-tampilan gambar, tabel atau lebih mudah memahami dengan membaca langsung penjelasan tersebut.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Menurut para ahli, terdapat 3 macam gaya belajar, yaitu:

1. Gaya Belajar Visual

Orang yang memiliki gaya belajar Visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham. Ciri-ciri orang yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, mereka memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya mereka memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Beberapa karakteristik Visual adalah :
  • Senantiasa melihat memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya
  • Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu
  • Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
  • Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan
  • Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan
  • Biasanya orang yang Visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu
Biasanya seorang anak dengan gaya belajar visual, mereka perlu untuk melihat bahasa tubuh dan ekspresi wajah guru mereka untuk memahami isi dari pelajaran yang diberikan. Mereka juga cenderung memilih duduk di depan, untuk menghindari gangguan seperti gerakan kepala teman di depannya. Mereka lebih memahami dengan adanya tampilan gambar, ilustrasi di buku teksnya, video, presentasi dengan menggunakan tampilan visual (seperti transparasi OHP). Dalam diskusi kelas biasanya ia lebih memilih untuk mencatat secara detil isi diskusi, agar ia dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya.

2. Gaya Belajar Auditory

Orang yang memiliki gaya belajar Auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Beberapa ciri seorang Auditory antara lain
    • Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok
    • Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV,
    • Suka berbicara.
    • Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik.
    • Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
    • Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
    • Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya.
Seorang anak yang memiliki gaya belajar ini biasanya lebih banyak belajar dengan mendengarkan penjelasan lisan dari gurunya, berdiskusi, berbicara tentang suatu topik dan mendengar pendapat orang lain. Informasi tertulis sangat sedikit dipahami, jika tidak dikatakan sulit untuk dipahami. Anak-anak ini biasanya terbantu untuk memahami dengan membaca nyaring (reading aloud) atau dengan mendengarkan rekaman pelajaran dari tape recorder.

3. Gaya belajar kinestetik
Orang yang memiliki gaya belajar kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian informasi. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik. Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.Beberapa karakteristiknya adalah

Orang yang memiliki gaya belajar kinestetik biasanya memiliki karakteristik :
    • Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya
    • Sulit untuk berdiam diri
    • Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan
    • Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik
    • Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar
    • Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit

Seorang anak dengan gaya belajar kinestetik, biasanya sulit untuk duduk tenang di kelas. Ia lebih senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

---

Dengan ketiga gaya belajar ini, jika kita cermati maka gaya belajar visual sepertinya lebih banyak diajarkan pada saat kita kecil dahulu, seperti: menggaris bawahi tulisan-tulisan dengan spidol berwarna, atau membuat rangkuman dari teks yang sudah kita baca. Maka tidaklah mengherankan jika terdapat orangtua atau guru yang "memaksa" anaknya untuk belajar dengan cara tekun membaca, menggaris bawahi dengan spidol warna, mencatat, dan membuat rangkuman dari teks yang sudah anak-anak baca.

Lebih jauh lagi, sangat disayangkan ketika anak-anak dengan gaya belajar auditory dan kinestetik dikatakan malas belajar. Padahal yang terjadi adalah bukan malas belajar, tapi kurang difasilitasi gaya belajarnya. Untuk gaya belajar auditory dan kinestetik, orangtua dan guru memang perlu lebih kreatif, meluangkan waktu untuk membuat berbagai cara untuk memfasilitasi anak-anak tersebut untuk belajar.

Seandainya kita sebagai orangtua ataupun guru bisa lebih peka terhadap gaya belajar apa yang dimiliki oleh anak-anak kita maka Insyaa Allah anak-anak akan lebih semangat dalam belajar. Anak-anak dengan gaya belajar visual kita latih mereka untuk menyimpulkan teks dengan cara membuat mind mapping yang menarik penuh warna, memberikan buku dengan ilustrasi yang menarik atau menggunakan video untuk memperjelas materi pelajaran. Anak-anak dengan gaya belajar auditory kita ajak mereka untuk cerdas cermat, diskusi, bercerita, merekam materi pelajaran dan mendengarkannya. Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik kita ajak untuk mempraktekkan materi yang diajarkan, atau menjadikan mereka peer teacher (mengajarkan kembali pada teman-temannya).

Namun pemahaman tentang kecenderungan gaya belajar yang anak miliki bukan berarti kemudian kita menghalang-halangi mereka untuk mencoba berbagai gaya belajar. Terkadang bisa saja terjadi dikemudian hari terkuasainya dua gaya belajar sekaligus, dan itu tidak menjadi masalah bukan? Yang terpenting adalah memahami bahwa setiap individu itu unik, memiliki karakter dan potensi yang berbeda-beda. Memahami karakter setiap anak, dan memfasilitasi sesuai dengan karakter mereka, Insyaa Allah akan melejitkan potensi mereka.


sumber:
http://www.ldpride.net/learningstyles.MI.htm#Learning%20Styles%20Explained
http://www.masbow.com/2009/07/pendapat-para-ahli-psikologi-dalam.html
http://www.youtube.com/watch?v=cX0teReijUk
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Kenalilah%20Tipe%20Gaya%20Belajar%20Kita%20%28Learning%20Style%29&&nomorurut_artikel=213


















Menikah di usia cukup muda....tak ada yang saya siapkan...kecuali koleksi buku-buku tebal bertemakan keluarga sakinah.

Sebagai anak sekolahan, dengan nilai yang tak memalukan, merasa siap lahir batin menghadapi pernikahan.

Uuuh ternyata....dalam pernikahan ...yang ada hanyalah belajar dan belajar. Belajar menghadapi persoalan. Ngga ada itu kepintaran :(

Termasuk belajar...bagaimana menjadi ibu....

Ketika saya masih anak-anak....terbayang menjadi ibu itu mudah. Sederhananya berpikir...begitu banyak yang sudah menjadi ibu...dan tidak ada masalah berarti dengan anak-anaknya.

Saya masih ingat bayangan saya ketika masih jadi anak sekolahan, bagaimana jika saya menjadi ibu:)...melamun ceritanya sih....
Saya membayangkan bahwa kelak kalau saya menjadi ibu maka saya akan duduk manis membaca sambil memandangi anak-anak bermain...santai....kqkqkq
Ketika itu, saya berpikir... tidak mau menjadi ibu seperti ibu saya....yang sibuk dari sejak pagi-pagi sekali, sampai malam hari, memasak, mencuci, menata rumah tak ada habis-habisnya..:((

Namun ternyata kenyataannya...di usia pernikahan sekitar sembilan tahun ini, jika saya evaluasi, saya semakin menyadari memang begitulah ibu yang semestinya...seperti ibu saya...

Jika saya ngotot menjadi ibu dengan gaya saya...selama sembilan tahun pernikahan ini...ya kasihan anak dan suami saya....

Saya masih saja panik di pagi hari, pak pik pek riweuh dan stress menyiapkan anak ke sekolah dan pergi ke kantor. Lupa menyiapkan ini dan itu...sehingga anak dan suami pergi seadanya:(.

Jika saya merenung, membandingkan dengan ibu-ibu lain, ya minimal ibu saya sendiri, rasanya jauuuuh sekali. Seandainya ada nilai raport seorang ibu....nilai saya jauuuuh sekali dengan nilai ibu saya.

Saya coba belajar...melihat sekeliling....ibu-ibu di sekitar saya. Tidak ada ibu yang sempurna, namun pasti ada yang istimewa....saya tuliskan...satu persatu...

Ibu yang baik itu...ibu yang menjaga do'a untuk anak-anaknya
Ibu yang baik itu...ibu yang menjaga Aqidah anak-anaknya
Ibu yang baik itu...ibu yang menjaga sholat anak-anaknya, minimal lima waktu
Ibu yang baik itu...ibu yang menyediakan waktu khusus untuk membaca Al Qur'an dan mengkajinya bersama anak-anaknya.
Ibu yang baik itu...ibu yang menjadikan rumah sebagai "surga dunia", rapi bersih, indah di pandang
Ibu yang baik itu...bu yang memperhatikan nutrisi yang diperlukan anak-anaknya, memasak dengan hati senang dan ikhlas.
Ibu yang baik itu...ibu yang tahu keperluan anak-anaknya, apakah ada yang tidak lengkap? Baju mana yang sobek, dan perlu dijahit? Mana yang kancingnya lepas? Apakah perlengkapan sekolahnya lengkap? dll.
Ibu yang baik itu..ibu yang disiplin dan melatih anaknya untuk disiplin, kapan sholat, kapan mandi, kapan makan, kapan belajar dan kapan bermain
Ibu yang baik itu...ibu yang tutur katanya lembut, dan ramah
Ibu yang baik itu...ibu yang terkendali emosinya
Ibu yang baik itu....

Pastinya masih panjang daftar yang bisa ditulis....
Tak akan bosan tuk belajar dari ibu-ibu yang lain, yang sudah bisa menjadi ibu yang baik.

Lalu saya? Emmmh...masih jauh....hikz
Lantas? Apakah merasa gagal?

Aaaah janganlah....lebih baik berpikir positif...saja ....bukan?

Tak ada ibu yang sempurna, tapi tak mengapa bukan, jika kita terus belajar untuk menjadi lebih baik?

Bertambah umur, bertambah amanah. Bertambah atau menambah-nambah?:)

Berpacu dengan waktu, ingin semua bisa dilakukan. Semua cita-cita. Kebetulan kesempatan ada.

23 tahun hanya menjadi anak, dan diri sendiri. Diri sendiri bercabang dalam beberapa peran. Tapi semua sebagian besar hanya berhubungan dengan diri sendiri, pun ada yang berhubungan dengan orang lain. Orang lain itu sosok dewasa yang berdaya, artinya kalau saya lalai dan berefek pada mereka, mereka punya cara untuk berkelit dari imbas kelalaian saya.

Di usia 23 tahun saya menikah, dan langsung diberi amanah seorang anak. Efeknya belum begitu terasa. Rasanya masih seperti 23 tahun sebelumnya. Jika saya lalai maka yang kena adalah diri sendiri, karena suami adalah orang dewasa yang bisa berkelit dari imbas kelalaian saya. Saya ngga sempat setrika, dia bisa setrika sendiri. Ngga sempet masak, dia bisa beli sendiri. So? Masih selamatlaaah...

9 bulan setelah menikah, lahir anak pertama. Barulah terasa, ada orang lain. Orang lain yang tidak berdaya. Tidak punya daya untuk berkelit dari kelalaian saya. Ya iyalah, karena masih bayi...gimana cara dia lari. Jadi mengalamilah masa-masa seorang ibu ngga boleh cape, kalau ngga mau anaknya terlantar. Tapiiii, karena masih tinggal bersama orangtua, jadinya sangat terbantu. Ngga sempet masak, bisa nebeng di dapur sebelah. Pengen jalan-jalan, bisa nitip anak.

3 tahun berikutnya. Mulailah kehidupan baru. Tinggal terpisah dari orangtua. Hidup terasa lebih hidup:) Karena tanggungjawabnya terasa berbeda. Baru mengerti pekerjaan itu ternyata banyak, dan kalau saya lalai, maka kenalah semua anggota keluarga. Anak sudah mandi, eh baju belum disetrika, sayangnya mereka belum bisa nyetrika sendiri...:))

Merasa hidup begitu pagujud, berantakan, tampillah asisten rumah tangga. Alhamdulillah. Masih ada kemudahan.

Episode baru dimulai ketika anak sekolah. Saya yang biasa hidup untuk diri sendiri, merasa bahwa saat itu bukan anak yang tidak siap sekolah, tapi sayanya yang belum siap punya anak sekolah. Saya yang spontan, kurang perencanaan, selalu pakpikpek di pagi hari. Anak terlambat, atau salah kostum, lupa bawa tugas...fiuh..

Lucunya saya lama sadarnya kalau itu karena saya. Saya yang ngga punya perencanaan, tapi malah berharap banyak kepada anak untuk mampu mengelola dirinya. Hayaaa...ibu yang aneh...meminta anak yang beradaptasi bukannya si ibu yang beradaptasi.

Sementara Akmal adalah anak yang "kiri" banget (istilah saya, bukan istilah ilmiah). Dia ngga bisa untuk keluar aturan. Sedikit melakukan kesalahan, akan membuatnya tidak nyaman. Semua harus sesuai dengan apa yang seharusnya. Jadilah dia sering cemas, karena punya ibu yang serba ngga pasti. Ngga pasti apa sudah benar atau tidak memberikan informasi, karena suka cuek dengan surat-surat dari sekolah. Si ibu yang pandai berkelit dari situasi sulit, memiliki banyak alternatif ketika menghadapi suatu kesalahan, memaksa anak untuk menjadi sosok yang sama....sosok yang bisa toleran dengan kesalahan. Hayaaa...ibu yang aneh. Jadi kepengen si ibu mah, yaa...kalau salah kostum mah cuek ajalah....santai aja...ya kalau ada yang ketinggalan...ngga usah dipikir lah..pakai aja apa yang ada :(


Menjelang anak kedua sekolah, terus terang, saya khawatir lagi-lagi saya belum siap. Bukan anaknya yang belum siap sekolah, tapi sayanya khawatir tidak bisa me-manage dua anak yang sekolah.

Duuh atuh si ibu teh riweuh-riweuh teuing, pirage punya anak dua...hoho...

Ya beginilah...

Saya mau tidak mau harus belajar. Kasihan anak dan suami, kalau saya tidak mau belajar. Belajar untuk mengelola waktu dan energi. Karena jika tidak ada perkembangan, tentu saja, akan banyak korban...yaitu suami dan anak-anak.

Saya banyak belajar dari ibu-ibu lain. Sedikit atau banyak saya tanya mereka bagaimana cara mereka mengurus rumah tangga. Ngga perlu malulah...

Ternyata banyak cara, dan mereka memang ibu-ibu supertelaten....zuper....

Saya paksakan untuk lebih baik, agar hidup lebih efisien.

Tapii tentu saja tidak mudah...gaya hidup 30-an tahun, harus dirubah. Dari orang yang "mengalir" menjadi orang yang punya "perencanaan"

Berhenti sejenak...itu biasanya yang saya lakukan....agar saya bisa punya rencana...apa yang penting mendesak dilakukan, apa yang penting tidak mendesak. Memilah-milah mana yang prioritas.

Berharap di area penting dan tidak mendesak, karena berada di area penting dan mendesaklah yang akan membuat saya pakpikpek in the morning. Hah heh hoh...ngos-ngosan.

Dulu waktu Akmal kecil, ketika saya punya kesempatan untuk beraktualisasi diri, saya sangat bisa lupa sama anak dan suami. Merasa itu adalah hak saya untuk berkembang. Bisa bergadang sampe malam, yang konsekuensinya ngantuk di sianghari, sehingga banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan. Ceritanya...mengerjakan malam hari, bukan supaya anak dan suami (yang sudah tidur) tidak terganggu oleh aktivitas saya, tapi lebih karena saya ngga mau diganggu!

Merubah dari diri sentris...menjadi keluarga sentris...perlu waktu lama kalau untuk saya. Sembilan tahun mungkin, saya baru merasa keluarga adalah sama dengan saya, saya adalah keluarga. Sehingga saat ini, setiap kali ada pilihan saya sebisa-bisanya memilih keluarga, dan berusaha ikhlas kehilangan beberapa kesempatan.

Dulu kalau melihat sebuah informasi, ada pelatihan atau suatu aktivitas sabtu minggu tentang hal yang sangat menarik bagi saya, maka saya akan berusaha untuk mengikutinya. Siap atau tidak siap keluarga saya. Saya merasa punya hak untuk berkembang. Bahagia atau tidak. Senang atau tidak mereka. Saya merasa punya hak untuk diri sendri. Sekarang....saya lebih banyak memilih....bukan b erdasarkan mana yang saya inginkan, tapi mana yang tidak mengganggu dinamika keluarga terutama dari segi waktu. Yakin, Allah akan mengganti jalan datangnya ilmu yang saya inginkan dari jalan yang lain.


Seringkali karena asik...bahagia dengan diri...lupa akan prioritas, lupa pada apa yang penting. Saat itulah saya biasanya memutuskan untuk berhenti sejenak. Off.

Sesibuk apapun...saya akan berhenti. Berhenti satu menit...satu jam...atau satu hari. Berhenti untuk berpikir sejenak...memilih mana yang penting dari yang penting. Lagi-lagi keluarga adalah pilihan saat ini.

Melepas hal-hal yang mengganggu keluarga, ternyata bisa membuat saya bahagia. Karena kebahagiaan keluarga adalah kebahagiaan saya. Saya tidak akan bahagia jika keluarga tidak bahagia.

Label:

Pagi yang cerah, bertemu dengan seorang bunda yang cantik. Ia mengajak berbincang-bincang tentang buah hati tercinta yang sekarang baru duduk di bangku kelas 1.

"Saya lagi bingung nih...."
"Kenapa Bun?"

"Iya Kakak kan sekarang pulang jelang sore,karena dia sekolah full day, terus dia TPA. Selain itu, dia ikut kursus matematika seminggu dua kali. Nah kursusnya ini ada PR tiap hari, jadi bingung kapan dia belajar untuks sekolah"

Yap, saya pernah mendengar kursus matematika yang sangat terkenal itu. Konon kursus matematika ini membuat anak senang matematika, dan tumbuh menjadi anak percaya diri. Saya juga membaca testimoni di situsnya seperti itulah kira-kira.

"Oo...sudah level berapa Bun?"

"Kakak sekarang ini setingkat kelas 2, jadi dia sudah mampu mengerjakan soal-soal untuk kelas 2"

Ow, iya...saya pernah dengar kalo kursus ini membuat anak bisa mengerjakan soal-soal yang tingkat pelajarannya lebih tinggi dari sekolah. Anak kelas 1 bisa saja sudah mampu mengerjakan persoalan di kelas 3 atau lebih tinggi dari itu.

"Nah yang aku bingung. ..PRnya nih...."

PR...pernah dengar juga kalo kursus ini memberikan PR setiap hari. Menarik...saya dari dulu ingin tahu tentang kursus yang begitu terkenal ini. Sekarang ada bunda yang mau berbagi.

"Berapa soal PRnya Bun?"

"200 soal..."

"Waaaa...." benar-benar saya tak bisa menahan mata yang terbelalak mendengarnya.

"200 soal Bunda??....serius Bun? 200 soal sehari? Atau seminggu?"

200 soal....membayangkan anak saya ketika kelas 1, saat itu saya perlu pasang strategi jitu agar dia mau mengerjakan soal demi soal yang jumlahnya tentu saja bukan 200 soal.

"Mmm...berapa lama dia mengerjakannya Bunda?"

"Dulu sih, ketika dia masih TK, dia waktunya luang, soal itu selesai dalam 10 menit...sekarang ya lama...karena dia mengeluh capek"

Waw, ...200 soal diselesaikan dalam 10 menit. Berarti dia hanya perlu 3 detik untuk mengerjakan setiap soal. 1...2...3....hebat!!!! ck....ck...ck (bener kan 3 detik ya? Hehe...kalo dah urusan hitung menghitung saya suka minder:P)

Cepat sekaliii....wuzzz

"Gimana ya bu?'

"Mmm saya sih tidak bisa bilang ini jelek atau bagus Bun. Setiap orangtua punya perencanaan pendidikan sendiri untuk anaknya, dan saya yakin setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Plus saya belum pernah secara khusus mempelajari kursus ini"

"Iya sih..."

"Tapi boleh-boleh ajalah kita sharing...siapa tahu bunda bisa punya gambaran hal apa yang pas untuk kakak"

"Sip....!!"

"200 soal dalam sehari, itu berarti tersaji dalam berlembar-lembar kertas ya Bun?"

"Iya sekitar 10 lembar"

"Ngga pake gambar atau ...hiasan apa gitu? " heu...heu pertanyaan lugu.

"Ngga...ya isinya cuma soal, ngga bergambar"

"200 soal dikerjakan 10 menit, pake cara apa tuh? Ada cara cepatnya ya Bun?"

"Iyaaa...."

"Hmmm....cara cepat....Bun...coba bayangkan...di sekolahnya...anak kan belajar konsep. Biasanya ketika dia belajar konsep, maka dia akan diberikan proses berhitung yang cukup panjang. Untuk mengerjakan misalnya 15 tambah 5. Anak akan diminta dulu menghitung benda sebanyak 15 kemudian ditambah 5. Baru deh menjawab 15 tambah 5. Atau ketika belajar penjumlahan bilangan yang terdiri dari dua angka, 54 tambah 72, dia akan belajar dulu tentang nilai tempat. Dia akan belajar jika 54 buah jeruk itu, adalah 5 bungkus jeruk, yang tiap bungkusnya terdiri dari sepuluh jeruk.
Sebuah proses yang panjang untuk menjawab soal, yang di tempat kursusnya hanya perlu 3 detik untuk menyelesaikannya.
Kira-kira apa yang bisa dipikirkan dan dirasakan anak itu?"

"mmm....mungkin saja dia jadi tidak tertarik untuk belajar di sekolah..."

"betul...bisa jadi dia tidak tertarik untuk mempelajari konsep dengan proses panjang dan detil seperti tadi. Untuk apa? Toh dia sudah bisa mengerjakan soal itu dengan cepat. Ini kalau di tempat kursus tidak diajarkan dulu konsep. Saya tidak tahu, sangat mungkin kursus itu mengajarkan konsep dulu baru cara cepat. Kalau misalnya kursus ini mengajarkan. Apa yang akan dirasakan dan dipikirkan oleh anak, saat di kelas ia bertemu dengan pelajaran matematika seperti tadi, sementara dia sudah mampu menyelesaikan soal tersebut dengan cepat. Bahkan sudah mampu menyelesaikan soal yang lebih sulit lagi?"

"mungkin bosan..."

"Yap, ini efek samping yang bisa terjadi. Anak bosan dengan pelajaran di sekolah, terasa lambat. Efek ini bisa terjadi, bisa juga tidak. Diamati saja dulu. Karena ini kan bukan rumus matematika, kondisi A pasti menyebabkan kondisi B. Tergantung proses yang menyertainya, dan proses yang menyertai ini yang berbeda-beda untuk setiap anak"

"Hal lain mungkin yang bisa terjadi adalah...saat anak terbiasa dengan metode cepat. Dia selalu ingin cepat-cepat. Cepat ingin selesai, atau selalu ingin menggunakan metode cepat. Kecuali metode cepat ini dia temukan sendiri, hasil proses panjang mempelajari konsep. Kelak suatu hari nanti, SMP atau SMA (zaman kita), ada saatnya anak harus sabar menurunkan rumus dasar. Mau tidak anak bersusah payah menurunkan rumus-rumus ini, sementara dia sudah terbiasa mengerjakan sesuatu dengan super cepat."

"Iya tuuuuh....saya kok sudah merasakan ya..jadi Kakak, ketika mengerjakan soal bahasa Indonesia misalnya, dia ngga mau baca dengan tenang wacananya, pengen langsung ngerjain soal, itu juga pengennya cepat-cepat. Ingin segera beralih ke soal lain, dan ingin cepat selesai."

"Ya itu..mungkin saja seperti itu...diamati saja Bun...karena ini sekali lagi bukan hal yang pasti...hanya ada beberapa hal yang perlu diamati...lalu silakan bunda pilih yang terbaik menurut bunda

"Hal lain...yang saya tahu, salah satu yang menarik dari kursus ini adalah cepat menguasai satu topik, sehingga katakan topik yang mungkin 'normalnya' bisa dikerjakan di waktu kuliah. Dia sudah bisa mengerjakannya ketika SMP. Saya pribadi pernah terpikir...apakah kecepatan menguasai ini akan signifikan dirasakan manfaatnya saat anak bekerja nanti. Bukankah secepat-cepatnya dia menguasai, dia tetap harus menuntaskan pendidikan formal? Kecuali pendidikan yang dijalani adalah homeschooling. Apa bedanya dia dengan anak-anak yang menguasainya lewat jalur formal. Saya kok berpikir akan sama saja. Sama-sama bisa, maksudnya.
Lebih cerdas? Hmm banyak orang cerdas, yang bisa berkarya tanpa mengikuti kursus seperti ini. Banyak cara menuju cerdas. Lalu apa yang signifikan?"

"Kalau saya sih tadinya memasukkan anak ke sana, lebih karena...pertama anak minta karena temannya ikut. Kedua katanya dengan anak menguasai pelajaran yang lebih tinggi di sekolahnya, anak akan tumbuh menjadi anak percaya diri"

"Ow...iya ya...benar juga...percaya diri..., bisa...tapi sisi lain saya pernah bertemu dengan anak yang sangat sombong dengan kemampuannya menyelesaikan persoalan dengan cepat dibanding teman-temannya. Ia juara dimana-mana. Ia memang mengikuti kursus dari TK. Dia mengejek, merasa paling benar, paling pintar dan menganggap teman-temannya bodoh. Menyedihkan. ..Sementara di dunia kerja, kita sangat tahu betapa orang yang sombong, sok tahu, merasa paling benar, tidak menghargai rekan kerja, adalah orang yang paling tidak menyenangkan, baik ia menjadi bawahan maupun menjadi atasan"

"betul....betul..."

"Lagi-lagi efek samping yang tidak bisa digeneralisir. Karena efek samping seperti ini bisa saja tidak terjadi, dengan pengasuhan yang tepat dari Ayah Bundanya. Efek samping negatif tidak selalu terjadi. Efek samping positif dari kursus ini pun tidak selalu terjadi. Tergantung kejelian Ayah Bunda. Kalau saya masih optimis anak percaya diri bisa dicapai tanpa 200 soal setiap hari. 5 soal pun akan menciptakan anak percaya diri. Jika dengan 5 soal itu kita memberikan 200% apresiasi:). Saya pikir, yang menentukan anak percaya diri, bukanlah dari berapa banyak soal yang dia bisa kerjakan. Tapi berapa banyak apresiasi yang kita berikan. Mengerjakan 200 soal tanpa apresiasi, menjadikannya rutinitas yang dianggap biasa, atau malah dijadikan kewajiban, tidak akan melebihi hasil dari seorang anak yang menuntaskan 5 soalnya dengan penuh apresiasi dari Ayah Bundanya. Persoalan di sini bukan hanya matematika, matematika hanyalah secuil persoalan dari keseluruhan persoalan dalam hidup. Apresiasi adalah kunci dari anak percaya diri."

"Iya yaaa...bener juga..."

"Siip, silakan ditimbang-timbang deh...saya yakin Bunda tahu yang terbaik untuk Kakak:)"

"Aah masih ada satu lagi nih, ngomong-ngomong tentang percaya diri. Sudahkah kita tahu bahwa ketrampilan motorik kasar, adalah salah satu bekal pembangkit kepercayaan diri?"

"O, ya? Seperti apa?"

"Ya bermain sepeda, berlari, memanjat, berenang, semua ketrampilan motorik ini akan membangkitkan rasa percaya diri. Amati saja anak-anak yang pandai "bergerak" seperti apa rasa percaya diri mereka...murah meriah...tapi yakin menghasilkan rasa percaya diri:)"

"Ooo begitu...."

"Iya bun, olahraga juga akan mempersiapkan anak-anak kita menghadapi masa pubertas kelak. Olahraga bisa menjadi sarana mereka melepas ketegangan saat mereka diserang oleh ketidakseimbangan hormon."

Obrolanpun berlanjut pada persiapan anak dan orangtua jelang pubertas. Ahaha, wanita (saya maksudnya)...kalau sudah ngobrol bisa sampai kemana-mana, dari curhat, percaya diri, sampai masalah pubertas:P

Fiuh...matahari semakin meninggi. Walau obrolan seru...akhirnya perlu mengalah pada matahari...kalau tak ingin kulit semakin legam..:). Kami pun saling berpamitan untuk kembali beraktivitas.

Label:

Seringkali kita baru bisa mengerti perasaan orang lain setelah kita mengalami.

Dulu saya selalu bingung, kalau sedang hamil, ditanya "ngidam apa?". Karena tidak mengalami ngidam. Selain itu suka bingung ketika ada yang cerita tentang ngidamnya. Seperti pernah di milist ada yang cerita kalau makan ingin lontong padang, ketika suaminya membeli soto betawi, jadi muntah. Hehe...ketika membaca itu saya pikir, ya ampun dah...

Sekarang di hamil yang ketiga...owh...ternyata saya mengalami. Entah karena ada keinginan untuk diperhatikan, yang pasti saya mengalami "hanya ingin makan itu". Kalau belum ketemu, penasaraaaan, laper berat.

Pernah suatu hari, ngga bisa makan, yang kebayang cuman mie ayam. Lalu saya titip suami, minta dibelikan setelah pulang kantor. Ternyata karena suami kecapean, dia ngga sempet beli dulu, pengen cepet-cepet sampai di rumah, dan makan apa adanya yang di rumah.

Saya yang dah berharap banyak, cuman bisa menelan kekecewaan. Suami juga karena sebelumnya saya tidak pernah ngidam, hanya menggoda saja dengan santai "besok aja ya, ngga akan ngiler kok".

Huaa, tapi bener-bener deh, saya ngga tahu mesti gimana, mesti sabar apa mesti maksa. Yang pasti saya laper beraaat. Demi melihat wajah istrinya yang merana, suami akhirnya mau membelikan, sambil bingung kayaknya, kok ya maksa-maksa banget, tumben, kan biasanya mah istrinya teh sabar (hoho).

Aaah mie ayam datang, dan makanlah dengan selahap-lahapnya. Ajaib deh, itu kenyang, bisa awet sampai pagi. Padahal kemarin-kemarinnya, selalu kelaperan ngga ketulungan.

Kebetulan keesokan harinya adalah waktunya ke dokter. Bu dokter berkomentar ketika melihat bayinya, wah niy bayi kelaperen, gerak-gerak banget. Hehe, ternyata komentar bu dokter yang komentar, membuat suami mengerti kalau istrinya (anaknya) bener-bener kelaperan. Langsung deh, ditraktir makan enak, sesuai permintaan mau dimana:))

Ah tapi saya pan istri yang tahu diri, kasianlah kalau seperti ini terus. Kasian si dedek yang kelaperan karena emaknya susah makan. Kasian suami kalo mesti keluar uang lebih melulu demi menghilangkan rasa laper sang istri.

Ya dengan introspeksi yang dalam, heu...heu....lebay....akhirnya saya memutuskan untuk masak sendiri ajalah makanan yang kira-kira saya suka. Hunting resep, dan semangat untuk lebih mempersiapkan diri memasak. Dapur kurapihkan dulu, biar nyaman masaknya. Bahan-bahan dah siap....masak deh. Enjoy!

Alhamdulillah dah tiga hari ini sukses. Minggu masak pepes ayam, enaaak! Senin masak bakso ayam udang, yummy! Selasa masak pepes tahu dan daging bumbu bali, sedaaap!

Besok....hmm pepes ayam kayaknya....lagi doyan pepes...

Yah gitu deh, ternyata nyaman juga punya solusi begini, karena kalo selalu menggantungkan diri ke suami, ya kasian juga, dah cape kerja disuruh ke sana kemari.

Mudah-mudahan awet aja nih enjoy di dapur:))